
"dia putrimu elang". Fajrina menyerahkan hasil tes DNA itu pada elang. mata elang terbelalak, ia meraih kertas itu dan membacanya. ia tak tau harus berkata apa, namun memang hasilnya 99% bayi itu milik elang dan Lusi.
"tak mungkin". elang menggelangkan kepalanya kemudian menatap istrinya.
"tapi hasil nya benar". Fajrina tersenyum kemudian menepuk pundak suaminya.
"tapi aku tidak pernah melakukan itu dengan nya sayang, percayalah". elang kembali menatap hasil lab itu.
"tapi semua terlihat jelas di sana".
"apa ada yang terlewat". elang kembali mengingat segalanya, namun memang iya tak bisa mengingat apapu meskipu ia sekeras tenaga untuk mengingat apa yang terjadi waktu itu.
"sudah elang, tak perlu kau ingat lagi, bagaiamapun juga sekarang kita akhirnya tau siapa ayah dari bayi ini, ia bayimu.. terimalah". agung melemparkan hasil tes DNA itu ke wajah elang. elang merasa sangat bersalah pada keluarga besarnya, ia sangat yakin jika anak itu bukan miliknya namun kenyataan telah menamparnya.
"bunda sangat percaya padamu elang, bahkan kami semua mempercayaimu, tapi mana buktinya?.. ternyata anak itu putrimu". Cindy meneriaki elang, ia sangat malu atas apa yang di lakukan putra kesayangan nya itu. dini berjalan mendekati ibunya dan dengan lembut membelai punggung wanita itu.
"sudah, bunda.. sudahlah.. lagipula apa lagi yang kalian pikirkan, jika memang bayi itu cucu dari keluarga ini bukan kah kita harus menerimanya, apalagi ibunya sudah meninggal, benarkan ayah". ujar dini
"entah aku harus bahagia atau sedih, memang bayi itu bagian dari keluarga ini, namun cara dia lahir kedunia itu salah". Cindy menatap dini.
"sudah lupakan bagaimana anak itu bisa ada, kalian harusnya bahagia bukan, maafkan lah kesalahan suamiku, di sini yang seharusnya yang merasa paling kecewa adalah aku, karna diriku mendapati suami ku telah memiliki anak dari wanita lain,". Fajrina yang sejak tadi duduk di belakang elang, kini berdiri dan berjalan kemudian berdiri tegak di depan suaminya. ia menatap kedua mertuanya, ia bahkan siap sebagai garda terdepan untuk melindungi suaminya itu.
"Fajrina". cindy menatap menantunya itu, ia tak menyangka bahwa dokter muda itu bahkan bisa menerima kehadiran bayi yang di hasilkan suaminya dengan wanita lain.
elang tertunduk sedih juga malu kemudian meraih jemari Fajrina. ia menggenggam jemari itu, yang elang tau sekarang tubuh Fajrina bergetar, wanita itu sedang menahan tangisnya. ia tengah berperang melawan rasa amarah dan egois yang tengah bersarang di hatinya.
perlahan Fajrina menerima genggaman tangan elang, ia berbalik ke arah elang dan menatap sendu suaminy kemudian tersenyum.
"kami akan membesarkan anak ku ayah, bunda". Fajrina mengatakan itu dengan lantang, semua mata mengarah ke arah nya, mereka menatap tak percaya.
__ADS_1
"apa kau yakin sayang, anak itu milik Lusi". Cindy kemudian berdiri dan berjalan ke arah Fajrina.
"aku yakin bunda, aku yakin aku bisa menjadi ibu yang baik untuk anak itu". Fajrina tersenyum.
malam harinya elang masih belum bisa memejamkan matanya.
"bayi itu, sangat tidak mungkin bayi itu milik ku". di bawah indahnya bulan dan bintang elang mencoba menutup matanya, ia kembali mengingat apa yang telah terjadi antara dia dan juga Lusi.
dahi elang bergerak. akhirnya ia mengingatnya. ia ingat , sebenarnya sebelum ia kehilangan kesadarannya, elang dan Lusi lebih dahulu melakukan hubungan suami istri kala itu.
elang menatap sendu mata Lusi ketika gadis itu berjalan mendekati nya, elang bahkan menerima semua sentuhan Lusi meskipun tubuhnya hampir tak dapat ia gerak kan.
"apa kau merindukan ku, sayang". ujar Lusi sambil ******* bibir elang rakus, namun anehnya elang malah menerimanya. efek obat yang di berikan sangat kuat, lagipula saat ini bukan lah Lusi yang berada di hadapan elang.
elang terseyum, karena ia melihat wajah Fajrina bukan wajah Lusi. itulah mengapa elang menerima segala sentuhan lusi. Lusi melucuti pakaian elang, Lusi bahkan tertawa saat melihat bahwa elang sudah begitu siap.
namun hal itu bukan masalah bagi Lusi, yang terpenting sore itu ia bisa menikmati tubuh elang yang sejak lama ia ingin kan.
"apa aku hebat sayang". Lusi mendesah tepat di depan wajah elang.
"kau selalu hebat Fajrina ku, sayang". Lusi kembali tertawa dan mempercepat permainan nya.
"jika begitu, maka berikan anak padaku". bisik Lusi
"aku akan memberikan anak yang cantik untuk mu". Lusi tersenyum.
elang tersentak kaget, ia langsung terbangun kemudian mengusap dahinya. ternyata ia melewatkan hal itu, nafasnya terengah.
"kau kenapa?". Fajrina menatap elang,
__ADS_1
"aku, tidak apa-apa". elang langsung berjalan meninggalkan Fajrina kemudian dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi. ia menatap wajahnya di cermin, ia merasa sangat kotor dan menjijikan.
"aku bahkan berjanji memberikan anak perempuan padanya, oh tuhan ..". elang menusap wajahnya dengan kasar, kemudian memukul kaca di depannya hingga hancur berkeping-keping.
Fajrina langsung berlari ke arah kamar mandi kemudian memukul pintu itu dengan keras.
"sayang, kau tidak apa-apa?". Fajrina berteriak, mencoba memanggil elang. tak ada jawaban, namun pintu itu telah terbuka.
elang berjalan mendekati Fajrina kemudian berlutut di kaki wanita itu, kemudian memeluk nya.
"maafkan aku, sayang.. aku khilaf". elang menangis tersedu, tangan nya berdarah, Fajrina mencoba melepaskan tangan elang dari kakaknya, ia panik melihat begitu banyak darah yang menetes dari tangan suaminya.
"aku telah memaafkan mu, sekarang bangun lah, tangan mu berdarah". Fajrina panik.
"tidak, aku berdosa". elang terisak.
"aku memaafkan mu, tapi tolong lepaskan kaki ku elang" . Fajrina mendorong elang, hingga pria itu terjungkal kebelakang. Fajrina dengan cepat mengambil kotak P3k di atas lemarinya lalu meraih tangan elang kemudian mencoba mengobatinya
"kenapa?". ujar elang
"aku mencintaimu elang, kau pria pertama yang bisa membuat ku jatuh cinta, jadi lupakan lah masalah kemarin". jawab Fajrina, ia masih fokus pada lengan elang. elang mendekat kemudian mencium Fajrina mesra. ia ingin tau apakah istrinya akan menolaknya, namun Fajrina malah menerima ciuman itu .
"aku sangat mencintaimu Fajrina". tanpa memikirkan rasa sakit di tangan nya, elang langsung meraih tubuh Fajrina kemudian memeluknya, ia bahkan dengan sangat cepat melucuti pakaian istri cantiknya itu.
"apa yang kau lakukan, tangan mu belum selesai aku obati ". Fajrina kaget ketika elang tiba-tiba menyerangnya.
"aku akan memberikan putra yang tangguh dan kuat untuk mu, dia akan menjadi pria yang paling bertanggung jawab yang akan kau miliki". ujar elang sambil berbisik mesra di telingan Fajrina.
"sayang". Fajrina tersenyum.
__ADS_1