
Dini masih duduk di pojok kamar itu, bibir dan hidung nya berdarah, tubuhnya penuh dengan memar. Bajunya robek Joyo mengoyak nya semalam
Joyo seperti kerasukan setan, ia terus menyiksa dini semalaman. Joyo sangat marah pada elang , ia tak berani berhadapan langsung dengan elang, jadi ia melampiaskan segalanya pada dini
Pintu kamar terbuka, Lusi berjalan masuk. Pakaian nya sangat seksi, ia mengenakan baju tidur transparan yang dengan sangat sukses memperlihatkan tubuhnya di balik baju itu.
"Ah kak dini, lihat keadaan mu". Lusi pura-pura khawatir, kemudian meletakan sarapan di nakas kamar itu dan dengan cepat merubah ekspresi nya ia tertawa.
"Kenapa Lusi?" Dini bertanya sambil menatap tak percaya gadis itu.
"Adikmu mencampakkan aku, aku sangat menginginkan dia, tapi karna aku tak mendapatkan nya, maka aku harus mendapatkan pria lain, dan pria yang ku pilih suamimu, kau yang menyerahkan dia padaku kak dini, jadi jangan salahkan aku". Lusi duduk di ranjang ia mengangkat sebelah kakinya.
"Tapi mengapa harus suamiku".
"Suamimu sangat sempurna, ia tampan dan manis, sentuhan nya membuat ku melayang, kau juga pasti tau itu, ya kan". Lusi menatap dini penuh rasa iba
"Teganya kau Lusi, aku menganggapnya sebagai adikku". Lusi mulai terisak
"Aku bukan adikmu". Kemudian Lusi berdiri
"Lusi". Dini berteriak
"Maaf kak Lusi, aku tak ada waktu untuk menemani mu mengobrol, suami mu menungguku, kau tau dia tak pernah puas jika bermain dengan ku, kau lebih baik makan, dan jangan bunuh diri ya". Lusi terseyum kemudian meninggalkan dini, ia mengunci kamar itu
"Keluarkan aku". Dini berlari ke arah pintu mencoba membukanya.
"Kau tenang saja di sana sayang, setelah urusan ku dengan Lusi selesai aku akan menemui mu". Ujar Joyo. Lusi terseyum sambil memeluk Joyo, Joyo langsung mengangkat tubuh Lusi ke atas sofa.
Suara-suara semalam kembali terdengar. Dini berteriak.ia menyesal tak mendengarkan kata-kata orang tuanya.
"Keluarkan aku bajingan ". Dini berteriak sekuat tenaga.
Setelah 3 jam, akhirnya suara itu menghilang, di gantikan dengan pintu yang terbuka. Joyo dengan kasar menarik rambut dini dan melemparkan nya ke lantai
Tubuh dini mati rasa kini, ia menatap Joyo yang belum berpakaian, ia hanya memakai celana boxer nya, pun Lusi , wanita itu masih terkulai lemas di atas sofa dan tanpa pakaian
"Apa yang kau lihat?" Ujar joyo. Kemudian Joyo mengangkat kaki Lusi dan di letak kan di pahanya.
"Apa mau mu" dini meradang,
kedua orang ini sangat tidak tau malu . ucap dini dalam hati
__ADS_1
"Aku akan memberimu dua pilihan, jika kau setuju maka kau bisa keluar dari sini hidup2, jika tidak maka aku akan melemparkan mayat mu ke dasar laut" tatapan mata Joyo sangat tajam. Seperti nya sudah sangat siap membunuh dini kapan pun dia mau.
"Katakan". Dini sangat takut menatap suaminya. ia akan melakukan apapun agar bisa keluar dari tempat itu secepatnya.
"Turuti segala mau ku, jangan ada bantahan, dan jangan sampai keluarga mu tau soal ini". Joyo terseyum
"Orang tua ku pasti curiga melihat keadaanku". Dini berkilah
"Kau akan tetap disini selama luka-lukamu belum sembuh, sebaiknya kau telepon ibu mu bilang padanya kau dan aku berlibur keluar kota". Joyo melemparkan gadget nya ke arah dini.
Dini mengikuti kemauan Joyo.
"Sudah". Joyo meminta dini mengantarkan gadget itu padanya
Dini membuang muka ketika ia tanpa sengaja melihat tubuh Lusi yang masih terengah-engah itu.
Dini berjalan meninggalkan Joyo dan Lusi, namun langkahnya di cegah oleh Joyo.
"Kau mau kemana?" Ujar Joyo
"Ke kamar".
"Enak saja, sekarang kau harus masak makan siang untuk kami, kami lelah.." dini tak bergerak, ia sangat marah. "Apa kau tuli". Joyo melempar sepotong kue yang semalam ia beli. Kue itu tepat mengenaik wajah dini
Makanan telah seselai ia buat, namun dua insan itu masih berada di dalam permainan yang telah mereka mulai sejak satu jam lalu. Lusi menutup mulut nya, ia sangat jijik.
"Mau kemana". Lusi bertanya, ia tengah menduduki Joyo.
"Aku mau ke kamar". Lusi terseyum
"apa pekerjaan mu sudah selesai kak dini ?". Lusi mulai memprovokasi dini
"sudah" dini tak mau menatap mereka lama-lama, itu akan semakin membuatnya tersiksa
Dini masuk ke kamar itu, kemudian ia berlari ke kamar mandi, ia memuntahkan isi perutnya . Ia menangis di kamar mandi. Hingga tertidur
"Kau tega sekali". Ujar Lusi sambil memeluk Joyo
"Aku ingin membuatnya gila, itu sangat menyenangkan". Ujar Joyo.
Sementara itu di kantor terjadi kegaduhan. Rupanya sebelum Joyo pergi siang itu, ia terlebih dahulu membawa uang perusahaan sebesar 3 milyar . Ia sangat pintar, setelah tau posisinya terancam ia buru-buru mengalihkan uang 3 milyar itu kentabubgan nya.
__ADS_1
"Sial". Elang berteriak.
"Maaf kan kesalahan saya pak". Elang tak menggubris kata-kata bawahan nya. Kemudian ia menyambar jas nya dan berlari. Ia akan mencari Joyo ke rumah orang tuanya
Namun seperti perkataan dini, ibunya bilang dini dan Joyo pergi keluar kota sejak kemarin sore. Namun ada yang janggal, dini bahkan tak membawa baju sehelai pun.
"Apa bunda yakin?" Elang menatap bundanya
"Bunda yakin, di MK i menghubungi bunda pakai no telepon Joyo". Cindy balik menatap putranya
"Berapa banyak yang ia curi". Agung ikut berkomentar.
"3 miliar". Agung menghempaskan nafasnya dengan berat
"Jadi apa yang akan kau lakukan". Ujar agung
"Aku tak ingin aib ini mencoreng nama baik ayah dan aku, aku akan menyelesaikan nya dengan caraku". elang kemudian menghubungi ponsel dini
berkali-kali elang menghubungi sang kakak, namun tak ada jawaban
"tak di angkat ya?" Cindy merasa khawatir sekarang.
"mungkin dia sedang sibuk, apa yang kau takutkan, ia bersama suaminya". agung berusaha agar istrinya tak terlalu khawatir.
di unit apartemen Lusi, dini mendengar dering ponselnya, Namun ia tak bisa menjawabnya karna ponselnya berada di tas yang ia bawa kemarin malam.
"untuk apa dia menghubungi istriku " Joyo mengambil ponsel dini dari tasnya.
"mungkin untuk mengecek apa dia sedang bersama mu atau tidak". Lusi tengah bersiap untuk berbelanja makanan saat itu
"kau ingin di antar?". Joyo menawarkan diri
"tidak perlu, kau harus menjaganya.. jika dia berteriak sangat keras, habis riwayat kita". Lusi mencium Joyo kemudian pergi keluar.
sepeninggal Lusi, Joyo berjalan dan membuka pintu kamar tamu, kemudian melempar sepasang pakaian ke wajah dini.
"pakai itu, kau sangat bau". Joyo memandang jijik istrinya
"kenapa kau melakukan ini padaku, aku istrimu". dini menatap Joyo, suami yang sangat ia cintai
"untuk seminggu ini, istriku adalah Lusi , kau hanya lah pembantu kami, kau ingat itu". Joyo kembali menutup pintu itu dan menguncinya
__ADS_1
dini meraih baju yang terjatuh kelantai. kemudia memakainya. ya, iya sudah sangat mirip dengan pelayan di rumah nya