
Fajrina memasuki kamarnya , ia tak melihat elang di sana. Tubuhnya sangat lelah, sepertinya ia demam. Kemudian ia meminum obat yang telah ia bawa dari rumah sakit.
Perlahan matanya tertutup , ia tertidur. Di tempat lain, elang tengah berhadapan dengan Hendrik.
"Apa mau mu". Ujar elang
"Aku menginginkan istri palsu mu". Hendrik menatap , menyeringai pada elang
"Kau pikir semudah itu mengambil apa yang telah menjadi milik ku". Elang tertawa terbahak.
"Suka atau tidak, aku akan merebutnya dari mu". Rahang elang mengeras. Ia sangat marah.
"Lancangnya". Elang mendekati Hendrik.
"Kenapa? Sepertinya kau sangat tidak percaya diri".
"Hentikan ". Capung mulai merelai
"Jangan ikut campur". Tatapan mata elang sanggup membuat semua orang terdiam.
"Kalian berdua kenapa, kalian bersahabat bukan". Capung menambahkan
Kini Hendrik yang mulai tertawa
"Dia bukan lagi sahabatku, ketika tanpa ampun membunuh adik ku". Hendrik mengepalkan tinju nya dan mulai menyerang elang. Baku hantam tak terelak kan.
Hendrik dan elang sudah bersahabat sejak Meraka menduduki bangku kelas 11 , mereka sangat kompak. Namun persahabatan Mereke pecah ketika Luna, adik Hendrik memutuskan untuk menjatuhkan dirinya dari lantai 10 sebuha hotel di jkarta .
Luna, ia sangt mencintai elang. Namun elang yang hanya menganggapnya sebagai adik membuat Luna putus asa. Namun dengan cara yang di luar nalar, Luna berhasil menjebak elang dalam permainan nya.
"Aku sakit kak". Elang yang mendengar bahwa Luna sakit langsung bergegas menemui Luna di hotel yang sebelumnya Luna katakan.
Elang mengetuk pintu, namun elang sadar pintu itu tak terkunci. Dengan cepat elang msuk namun ketika elang memesuki kamar ,ia dengan jelas menatap tubuh luna yang polos berdiri di hadapannya.
Elang berjalan mundur , dan ingin melangkah pergi
"Jika kak elang pergi, aku akan lompat dari sini". Elang berbalik
"Pakai pakaian mu Luna". Ujar elang setenang mungkin dan berjalan mendekati Luna, elang mengambil selimut untuk menutupi tubuh polos Luna
"Aku mencintaimu kak elang". Luna terisak
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu Luna, kau adik ku". Luna menatap mata elang tak percaya. Kemudian ia melepas seleimut itu dan memeluk elang. Elang tak membalas pelukan itu.
"Aku rela melakukan apapun kak, agar kau menerima ku". Luna menatap mata elang penuh harap.
"Lepskan aku Luna". Adam mendorong Luna . Kemudian dengan cepat Luna berlari ke arah balkon kamar.
"Kak elang, ini bukti cintaku padamu".
"Luna , jangan bodoh". Ujar elang sambil mencoba menenangkan Luna
"Kak elang tidak pernah menganggap ku ada". Luna terisak
"De, denger Abang de.. masuk de, turun dari situ ya sayang". Hendrik muncul dari belakang tubuh elang dan mencoba menenangkan adik nya.
"Aku sangat mencintai kak elang, bang". Luna maratapi keputusan nya.
"Abang tau de, jadi ade turun ya, nanti kalau Ade jatuh kesana , Abang sedih loh, trus gimana sama mamah dan papah, Ade memang ga sayang sama mereka". Hendrik perlahan mendekati Luna
"Aku tak peduli bang, aku hanya menginginkan kak elang". Hendrik memandang sahabatnya
"Katakan kau mencintainya, cepat elang". Hendrik memohon pada sahabatnya
"Kali ini saja, yang penting ia tak melompat dari sana".
"Aku tak bisa". Selang beberapa saat Hendrik melihat sang adik mundur dan menjatuhkan dirinya ke bawah.
Sejak saat itu, Hendrik sangat membenci elang.
Merak masih saling pukul ketika Fajrina memasuki club malam itu. Dengan cepat ia menarik lengan Hendrik yang ingin memukul suaminya, namun karna elang tak melihat, akhirnya pukulan elang yang tadi nya ingin di berikan ke Hendrik malah mengenai pipi cantik Fajrina.
Fajrina terjatuh bersama Hendrik. Dengan cepat Hendrik memegang bahu Fajrina.
"Kau tak apa-apa?". Hendrik panik melihat ada lebam di pipi Fajrina. Sudut bibirnya berdarah.
"Aku tak apa-apa" ujar fajrina. Elang yang menyaksikan kejadian itu mendekat dan menarik lengan Fajrina.
"Apa masalahmu". Fajrina berteriak. Elang menatap wajah istrinya, lebam itu adalah perbuatan nya
Hendrik berdiri dan menarik tangan Fajrina dari genggaman elang.
"Jangan sentuh istriku". Amarah elang yang tadi telah padam kembali lagi.
__ADS_1
Hendrik tertawa. "Istrimu?".
Fajrina menatap mata elang, berharap sang suami berhenti membuat kegaduhan.
"Hentikan.. elang". Elang menoleh . Fajrina mendekati elang dan memukul wajahnya
"Kau beraninya ". Elang membentak fajrina
Hendrik tak bisa menahan diri , ia berjalan mendekati Fajrina menarik lengan Fajrina dan mengajak nya keluar.
"Tak kan ku maafkan jika kau berani meninggalkan tempat ini dengan peria lain". Elang meninggukan suaranya. Hingga membuat semua orang yang berada di sana memandang ngeri padanya . Hendrik dan Fajrina berhenti.
Fajrina berbalik dan dengan angkuhnya berjalan mendekati elang
"Kau bilang pernikahan kita hanya di atas kertas, dan kau bersumpah atas nyawamu sampai matipun kau tak kan menyentuhku, makan dengarkan aku baik-baik tuan elang yang terhormat , aku Fajrina putri Jasmin akan segera menceraikan mu, tak perduli bertapa murka nya orang tua ku atau bahkan betapa sakit nya orang tua mu". Fajrina tersenyum setelah mengatakan hal itu.
Namun elang tak mau begitu saja melepas Fajrina, bukan karna ia takut kehilangan aset nya , hanya saja Fajrina adalah sitrinya, miliknya dan kepunyaannya , maka ia tak kan membiarkan apa yang sudah ia miliki di rebut oleh pria lain.
"Tak kan ku biarkan kau pergi dari ku Fajrina, aku tak kan melepaskan apa yang sudah menjadi milik ku". Dengan kasar elang menarik tangan Sabrina. Ketika Hendrik ingin menyusulnya dengan cepat elang menghalangi.
Satu jam yang lalu, capung menghubungi Fajrina, ia takut akan terjadi perkelahian antara kedua sahabat itu. Sebenarnya Fajrina enggan, hanya saja ia tak ingin oragtua dan mertuanya kecewa atas kelakuan elang.
Elang begitu marah namun Fajrina hanya erdiam.
"Kenapa kau datang?". Elang menoleh menatap Fajrina
"Kalau bukan karna orang tua kita, aku tak kan datang". Ujar Fajrina.
"Mengapa kau mau saja di ajak prgi oleh Hendrik".
"Karna dia lebih baik darimu". Fajrina menjawab secara cepat semua pertanyaan elang, ia masih memandang keluar jendela. Elang murka. Ia menarik gadis berhijab itu dan langsung mencium nya kasar
Fajrina berusaha melapaskan diri. Ia terus memukul dada elang, air matanya mengalir. Kemudian ia menggigit bibir elang .
"Apa yang kau lakukan" elang berteriak , bibirnya berdarah
"Aku hanya membela diri dari pria sepertimu". Fajrina membuka pintu, ia berjalan keluar mobil, namun elang mengajarnya. Fajrina tak terlalu konsentrasi ketika ia akan menyebrangi jalan itu, tiba-tiba sebuah mobil datang dan hampir saja menabraknya andai saja elang tak menarik lengannya
"Ayo pulang". Elang menarik Sabrina kasar
"Lepaskan aku". Namun bukan elang namanya jika ia melepaskan Fajrina begitu saja ,akhirnya ià berhasil memaksa Fajrina masuk ke dalam mobil.
__ADS_1