
Reza tengah menemani dini memilih kebaya yang akan dia pakai untuk acara akad nikah, dini terlhat lebih cantik kini, aura elegan nya terpancar sempurna ketika ia berdiri di samping Reza.
"Apakah ini cocok dengan ku". Dini menatap dirinya di cermin, baju kebaya itu memperlihatkan bentuk tubuh dini yang semakin lama semakin berisi saja.
"Ya, itu sangat cocok denganmu". Ujar Reza, pria itu mengangkat kedua ibu jarinya. Dini terlihat sangat bahagia, Reza sangat pengertian, ia bahkan menuruti segala apa yang dini inginkan, apalagi mengenai pernikahan ini. Reza tak meminta bantuan agung atau Cindy , ia mengelontorkan uangnya sendiri. Dini merasa bangga bisa mendapatkan pria seperti Reza, Reza pria yang sangat bertanggung jawab.
Setelah memilih kebaya, mereka kembali berkeliling mall untuk mencari barang yang lain. Mereka menuju toko sepatu, namun tanpa mereka sadari sepasang mata selalu mengikuti kemanapun mereka melangkah pergi.
"Apa kita akan melihat cincinnya hari ini". Dini mengenakan sepatu pertama yang ia pilih, namun ia merasa sepatu itu lebih cocok di kenakan Fajrina.
"Apa menurutmu sepatu ini cocok untuk Fajrina". Dini memperlihatkan sepatu itu pada Reza.
"Belilah satu untuknya". Ujar Reza, dini terseyum.
Kini mereka berada di toko perhiasan, dini tengah mencoba cincin pernikahan nya. Cincin itu terlihat sangat indah di jari manis dini.
"terimakasih ".Ujar dini pada salah satu karyawan toko perhiasan itu sambil memasuk kan cincin nya ke dalam tas.
"Apa kau bahagia?". Dini menatap Reza, pria itu langsung mengangkat kepalanya dan tersenyum.
"Tentu saja, sekarang habiskan makanan mu.. kita harus segera pulang sayang, aku harus mendatangi pihak wedding organizer". Ujar Reza, mereka sedang makan dan beristirahat di salah satu restoran favorit dini di salah satu lantai di dalam pusat perbelanjaan itu.
"Aku sudah kenyang, kau bisa melanjutkan makan mu, dan aku akan ke toilet sebentar". Reza mengangguk kemudian meneruskan acara makan nya. Dini berjalan dengan santai sebelum seseorang menariknya secara paksa dan membawanya ke balik pintu tangga darurat.
Dini shock, Joyo menyeringai ke arahnya. Dini berusaha memberontak, ia sekuat tenaga melepaskan dirinya dari Joyo.
"Kau pikir kau bisa lepas dariku begitu saja hah!". Joyo meneriaki dini, dini merasa ketakutan, ia tak mau menatap Joyo. Pria itu merampas tas dini dan mengeluarkan isinya , ia mengambil uang tunai yang ada di tas dini kemudian mengambil kartu kredit serta kartu debit milik dini.
__ADS_1
Dini membiarkan hal itu, ia tak mau kembali terluka dengan mempertahan kan apa yang ia punya.
"Aku butuh uang tunai sebanyak-banyaknya". Ujar Joyo ambil mengacak-acak tas dini. Ia sangat beruntung ketika ia menemukan sepasang cincin di tas itu.
"Kau mau menikah lagi hah". Ujar Joyo, ia menatap dini, ia terlihat sangat marah.
Dini masih berdiri, kakinya gemetaran. Ia tak sanggup melarikan diri, ia sangat takut oleh Joyo. Pria itu bahkan sanggup melakukan apapun untuk mendapatkan apapun yang ia ingin kan.
Setelah memasuk kan semua uang itu ke tas nya, pria itu kembali menatap dini. Ia terseyum menakutkan kemudian memaksa dini agar berciuman dengan nya.
"Buka mulutmu sayang, apa kau tak merindukan ku". Dini menangis ketika lidah Joyo dengan memasuki rongga dini, ia bahkan meremas bokong dini dengan kasar, dini mengalami pelcehan seksual siang itu.
Reza bingung , ia berkeliling mall mencari keberadaan dini. Ia berlari ke segala penjuru mall, namun hasilnya nihil. Kemudian kehebohan terjadi, petugas ke amanan menemukan seorang wanita tak sadarkan diri di salah tangga darurat. Reza berlari ke tempat kejadian itu berada, ia terkejut melihat dini yang tengah di angkat oleh salah satu petugas keamanan itu.
"Biar aku saja". Ujar Reza, tubuhnya bergetar hebat, ia mengangkat dini dengan sisa tenaga yang ia miliki.
"Kami tak bisa menyerahkan wanita itu pada anda, ini merupakan tanggung jawab kami sebagai keamanan kantor ini"
Reza menghentikan langkah nya kemudian menatap para petugas keamanan itu.
"Aku akan menuntut kalian semua, aku akan menuntut pihak pengelola mall ini, rupanya mall ini sangat tidak aman untuk pengunjung wanita". Reza kembali melangkahkan kakinya.
"Ada apaa ini". Fajrina menatap dini, ia menutup mulutnya seketika. Tubuh dini penuh dengan luka dan memar.
"Ia mengalami kekerasan seksual serta tindakan perampokan, hasil yang aku dapat dari kamera pengawasan di pusat perbelanjaan itu, dini dintarik secara paska oleh Joyo, dan sangat amat di sayang kan, tak ada seorang pun yang membantunya , orang-orang itu seperti tak perduli". Reza mengacak ràmbutnya frustasi.
"Keadaan sudah tak aman untuk kak dini, sebaiknya kita harus segera memberikan pengawalan ekstra untuknya". Fajrina memasangkan jarum infus di tangan dini, kemudian perlahan mengoleskan cream pereda nyeri di wajah dini.
__ADS_1
Pernikahan mereka tinggal menghitung hari, namun ke adaan dini sangat mengenaskan itu lah mengapa Reza semakin stress menghadapi kelakuan Joyo. Entah apa yang di lakukan pihak kepolisian, mengapa sampai saat ini mereka tak kunjung menangkap pria bajingan itu.
"Aku akan merawatnya sampai pernikahan kalian di langsung kan".
Suara sepatu elang memcahkan keheningan rumah sakit pada sore hari itu. Elang berusaha berlari secepat mungkin aga ia bisa dengan cepat sampai ke kamar rawat inap dini.
Elang menahan nafasnya melihat keadaan sang kakak,
"Apakah ini Joyo". Elang bertanya kepada Reza, amarah telah menguasai dirinya
"Iya". Ujar Reza.
"Apa saja yang kau lakukan, kau bahkan tak bisa melindungi kakakku". Bogem mentah telak mendarat di pipi Reza, mendapatkan serangan yang tiba-tiba membuat tubuh Reza tersungkur. Namun ketika elang mau memberikan pukulan lagi pada Reza, Fajrina dengan cepat memeluk suaminya itu.
"Tenang lah, tenang.. ini bukan salah Reza, kau tak bisa melakukan itu padanya, jangan lampiaskan kemarahan mu pada orang lain". Fajrina berusaha menyadarkan elang,
"Seharusnya kau bisa menjaga kakak ku". Elang berteriak, dan teriakan nya sukses membangun kan dini.
"mengapa kalian berisik sekali, apa kalian tidak tau tubuhku sakit semua.. aku butuh waktu untuk istirahat". dini membuka matanya.
"sayang". Reza langsung berlari mendekati dini, wanita itu tersenyum.
"Jangan menyalahkan nya". Ujar dini, ia menggenggam jemari Reza kemudian melihat ke arah elang. setelah dini bangun perasaan Reza sedikit lebih tenang, kemudian pemuda itu memberikan waktu pada elang untuk berbicara dengan dini.
Reza menatap Fajrina dan berjalan ke arahnya sambil memberikan sebuah paperbags pada fajrinà .
"Untuk mu, dini khusus membelinya untuk dirimu". dokter cantik itu menerima paperbags itu dari tangan Reza, kemudian membukanya.
__ADS_1
"ini untuk ku".