
Lusi hamil sudah 3 Minggu, menurut Vivian saat sedang berhubungan Dengan elang Lusi dalam masa suburnya.
Lusi terseyum menatap elang.
"Kita akan menjadi orang tua sayang, kita harus menikah agar kelak anak kita tidak di cemooh orang". Lusi sangat bahagia.
Elang tertawa.
"Kita? Anak kita? Aku bahkan tak ingat pernah melakukan itu dengan mu". Elang langsung menarik Fajrina kedalam pelukan nya." Aku hanya anak menjadi ayah dari anak yang di lahir kan istriku".
Lusi tak mau kalah, ia malah ikut tertawa.
"Bagaimanapun kau harus menikahi aku elang, aku tak masalah meskipun jadi yang kedua , aku akan mengalah pada Fajrina".
Fajrina tak sanggup menahan tawanya.
"Kau Mau mengalah dengan ku?, Benarkah?". Fajrina berjalan mendekati Lusi, kemudian menatap wanita itu.
Lusi berdiri dan tanpa takut mendorong kasar bahu Fajrina,
"Kau harus menerimaku Fajrina, jika kau tidak menikahkan aku dengan suamimu, maka aku pastikan, aku akan menyebar hasil pemeriksaan ku hari ini". Lusi mengancam Fajrina.
"Lakukan lah". Fajrina tak gentar. Kemudian ia berjalan mendekati elang, lalu menarik lengan suaminya.
"Aku belum selesai bicara". Lusi berteriak.
Namun elang tak bergeming, apalagi fajrina. Fajrina
"Aku lapar sayang, ayo kita makan". Lusi merasa tak senang di perlakukan seperti itu, kemudian ia berlari ke arah Fajrina dan hendak menarik kerudung yang bertakhta di kepala Fajrina dengan indah itu. Ketika jemarinya hampir menyentuh kerudung itu, tangan Reza dengan cepat menangkap Lusi.
"Jangan kurang ajar, jaga jarak mu dari nyonyaku, jika kau berani menyentuhnya, maka aku akan lupa bahwa kau seorang wanita,apa kau mengerti". Reza langsung menghempaskan lengan Lusi
"Kau seperti anjing penjaga " Lusi terseyum sinis menatap Reza.
"Aku lebih baik dari pada dirimu". Kemudian Reza berjalan mengikuti elang.
Di dalam mobil elang bisa merasakan bahwa Reza tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Kau kenapa?". Ujar elang.
"Aku baik-baik saja". Reza terseyum sambil tetap menatap lurus ke arah jalan.
"Apa kau merindukan kak dini". Fajrina menyeka percakapan kedua pria itu.
Wajah Reza memerah menahan malu, sebenarnya ia hampir setiap malam menemui dini diam-diam. Namun tak pernah lama bercengkrama dengan nya. Reza sebenarnya sangat ingin bertemu dini lebih lama, namun apa daya . Ia tak bisa melakukan hal itu.
"Antar kami ke rumah orang tuaku". Elang berkata sambil menatap Fajrina, dan Fajrina mengerti akan hal itu.
"Baik ". Reza langsung mengikuti keinginan elang. Ketika sampai Reza tak berani keluar dari mobil, elang dan Fajrina meninggalkan Reza di sana.
Elang melangkah masuk , di dalam rumah tak ada orang satupun, ayahnya sedang bekerja dan ibunya sedang keluar . Joyo pun tak ada, elang sudah bisa memastikan keberadaan Joyo di mana saat ini
Elang menaiki tangga, menuju kamar dini dan membukanya. Ia melihat sang kakak sedang membaca buku di sofa.
Dini mengangkat wajahnya, ia melihat sang adik kemudian berdiri dan berlari memeluk elang. Dini sangat merindukan adiknya
"Mengapa kau ada disini ". Dini bertanya kepada elang
"Tak perlu terlalu banyak basa-basi kak, ganti baju mu, aku ingin mengajak mu ke suatu tempat ". Dini bingung, mengapa tiba-tiba elang mengajaknya keluar.
"Ayo , aku sudah siap". Dini terseyum. Dini tak tau bahwa Reza ada di dalam mobil, Reza pun tak tau kejutan apa yang akan di berikan elang dan Fajrina untuk nya.
Elang melangkah keluar rumah di ikuti elang dan Fajrina. elang membuka pintu depan mobilnya agar dini bisa masuk, betapa kagetnya dini ketika melihat Reza tengah menatap foto dirinya di ponsel. Reza yang tak menyadari jika dini sudah duduk di samping nya. Langsung bertanya
"Sekarang kita kemana lagi". Reza menoleh, ia terpaku melihat dini sudah berada di sana, ia menetap Reza.
Meraka saling tatap , tak ada kata yang keluar dari bibir mereka.
"Ayo jalan". Elang memecah keheningan itu, Reza salah tingkah
"Baik". Ujar Reza sambil menjalan kan mobilnya.
Fajrina tersenyum sambil memeluk lengan elang. Dalam perjalanan Reza dan dini saling diam, itu membuat elang dan Fajrina tersenyum-senyum sendiri. Mereka terlihat sangat manis , seperti anak ABG yang baru saja merasakan cinta.
"Apa kalian sudah berubah menjadi bisu, aku mengajak kak dini agar kalian bisa leluasa mengobrol tanpa ada gangguan apapun, namun kalian malah diam satu sama lain ". Fajrina menggoda mereka berdua.
__ADS_1
"Kau jangan menggoda mereka, itu tak baik sayang ". Elang menyentuh hidung mancung Fajrina.
Mobil itu memasuki sebuah restoran yang sangat mewah. Mereka makan siang di sana. Fajrina dan elang mengobrol dengan serius, namun kedua manusia di depan mereka hanya terdiam saja . Namun jari mereka bertautan di bawah meja.
"Bagaimana jika kita ke pantai setelah ini". Fajrina menatap elang, elang mengangguk setuju.
Mereka melanjutkan acara makan siang mereka. Reza terlihat telaten menlayani dini, ia mengambilkan makanan bahkan sampai minuman untuk dini. Reza terseyum bahagia setelah sekian lama ia bisa bebas menatap sang kekasih, bahkan terseyum dan tertawa. Elang dan Fajrina sangat bahagia melihat mereka berdua. Ternyata yang membuat Reza tak tenang adalah keadaan kakaknya. Namun hari ini Reza terlihat sangat bahagia, mereka berdua sangat manis.
Kini mereka telah sampai di pantai itu, mereka tertawa bersama sampai elang menangkap moment bahagia kakaknya. Reza membersihkan kaki dini yang terkena serpihan pasir.
"Kalian sangat lucu ". Di tegur seperti itu Reza menjadi gugup.
"Sudahlah, jangan terus menggodanya". Fajrina memukul bahu elang.
"Mereka sangat lucu ". Ujar elang.
"Elang, aku ingin bercerai dari Joyo". Dini angkat bicara.
Elang langsung menoleh ke arah dini, mata dini berkaca-kaca. Dini sudah tak sanggup di perlakukan seperti binatang oleh Joyo. Sudah sebulan ini ia tertidur di lantai tanpa alas juga bantal. Joyo sepertinya sengaja menyiksa dini, ia tak di perkenankan memegang ponsel dan juga keluar dari kamar.
"Aku akan. Mengusahakan nya kak, secepatnya, kau bersabarlah dulu". Dini akhirnya tak sanggup menahan Air matanya .
"Reza mengusap lembut punggung dini". Reza terlihat sangat khawatir akan keadaan dini, itu membuat elang percaya bahwa Reza benar-benar mencintai kakaknya .
"Apa sebaiknya kita membawa kak dini ke suatu tempat yang aman ". Fajrina berdiri dan kemudian memeluk dini, ia begitu rapuh. Dini harus segera di bawa pergi agar menjauh dari Joyo
"Tidak bisa, kita akan berhadapan dengan ayah , ia pasti akan sangat marah, ayah dan bunda sangat percaya pada Joyo sekarang".$ sebenarnya sangat mudah bagi elang untuk membawa kakaknya, namun ia tak mau orang tuanya marah .
"Kita bisa melakukan nya dengan cara diam-diam". Fajrina berusaha meyakinkan elang. Ia tak tega melihat dini yang semakin alam semakin kurus dan semakin tertekan.
"Baiklah". Elang menyetujui saran Fajrina.
"Kita buat seakan-akan kak dini melarikan diri". Ujar Fajrina.
Elang berfikir sejenak, kemudian menatap Reza.
"Aku akan membawanya pergi dari rumah itu malam ini jika kalian tak keberatan, untuk tempat tinggal , aku punya rumah di salah satu kota , dan aku yakin temat itu sangat aman". Reza berusaha meyakin kan elang. Namun belum selesai mereka membicarakan hal itu, telepon elang berdering.
__ADS_1
Nama sayang ayah tertera di sana. Elang mengangkatnya
"Dimana kau".