
"Tahan sedikit, mungkin ini terasa sakit". Ujara elang sambil mengompres bibi Fajrina yang sedikit bengkak, bahkan ia tak menyadari jika bibirnya pun bengkak karna ulah Fajrina.
Fajrina terus memandangi bibir indah suaminya.
"Sudah". Sabrina mundur dan mengalihkan pandangan nya dari bibir sang suami.
"Tapi pipimu masih bengkak". Elang kembali memaksa Fajrina untuk menghadap ke arah nya. Fajrina tak mau, ia merasa ketika berhadapan dengan elang debaran di dadanya semakin meningkàt, ia tak mau terkena serangan jantung.
"Obati saja bibirmu, kau juga berdarah". Fajrina berdiri. Elang terseyum.
"Bagaimana jika kau yang mengobatinya ". Fajrina berbalik melihat ke arah elang yang sedang cengegesan.
"Baik, kemarilah". Fajrina meminta agar elang mendekatinya. Kemudian dengan cepat Fajrina mengoleskan obat ke bibir elang
"Hanya itu?". Elang terlihat kecewa
"Iya hanya itu".
"Aku fikir cara mengobatinya berbeda". Fajrna bingung .
"Berbeda maksudnya bagaimana?".
"Ya dengan cara yang berbeda, kau tau kan". Elang salah tingkah, elang merasa kalau ciuman Sabrina sangat manis, dan ia menginginkan nya lagi. Namun ia malu untuk mengatakan nya.
"Aku dokter, aku tau apa yang harus aku lakukan, nah pengobatan yang lain yang mana yang kau maksud". Ujar Sabrina sambil menatap elang.
"Tidak.. tidak jadi.. hemm sebaiknya kita jangan dulu sarapan di rumah besok pagi, aku takut bunda melihat lebam di pipimu". Elang menatap mengiba pada istrinya , ia berharap istrinya mau di ajak kerja sama
"Baiklah ". Fajrina kemudian membersihkan dirinya, lalu dengan cepat menaiki kasur dan tertidur di samping elang
"Hey.." ulang mencoba membangunkan Fajrina
"Hemm".
"Apa kau sudah tidur". Elang bertanya
"Aku sudah di alam mimpi ". Fajrina menoleh melihat ke arah elang." Apalagi?".
Elang terdiam kemudian membalas tatapan sang istri .
"Beri aku kesempatan kedua, aku akan memperbaiki segalanya". Sabrina terpaku. Lalu menutup matanya
__ADS_1
"Sepertinya aku sedang bermimpi". Ujar Sabrina
"Hey, kau belum tertidur, bagaimana bisa kau bermimpi". Elang mengguncang lengan Fajrina
"Sebenarnya apa maumu". Fajrina bangun dan memukul lengan elang
"Aw.. kau kasar sekali". Elang ikut terbangun
"Kau mengganggu istrirahat ku". Fajrina melengos,
"Ya maka dari itu dengarkan aku, jika tidak aku akan membuatmu begadang semalaman". Fajrina kembali menatap elang.
"Lalu, kau mau apa?". Fajrina kembali bertanya
"Berikan aku kesempatan kedua, aku mohon padamu". Elang menatap fajrina, ada aura menyedihkan dalam ucapannya
"Kesempatan seperti apa yang kau mau". Sikap angkuh Fajrina akhir nya keluar juga, elang paling tidak suka sikap Fajrina yang ini
"Ya memperbaiki hubungan kita, ya meskipun kita tidak saling mencintai, setidak nya kita bisa memulai hubungan kita sebagai teman baik". Elang memperlihatkan gigi-giginya yang rapi.
"Baiklah, sudah selesaikan". Fajrina akan merebahkan tubuhnya ketika elang kembali menariknya
"Tunggu dulu".
"Maaf atas pukulan dan...ciuman yang tadi".
Blussh, wajah Sabrina memerah
"Sudah lupakan ,kedua hal itu merupakan sebuah kecelakaan dan ketidak sengajaan".
"Kecelakaan?? Ciuman yang tadi bagaimana?" Elang berharap banyak pada Fajrina. Ciuman itu sangat manis, ia sebenarnya ingin mengulang nya.
"Iya, buktinya bibirmu berdarah, itu kan sama sja sebuah kecelakaan, sudah ya aku mau tidur". Elang melongo . Menatap Fajrina yang sudah merebahkan tubuhnya dan menutup matanya.
"Bisa-bisanya dia bilang ke kecelakaan, padahal jantung ku hampir loncat ketika aku menyentuh bibirnya". Elang memaki dalam hati. Ia tidak tau saja jika Fajrina mengalami hal yang sama.
"Kita harus cepat pergi, agar bunda tak melihat memar di pipimu". Fajrina mengangguk setuju
Namun ketika mereka menuruni tangga, Cindy memanggil mereka berdua
"Kalian mau kemana". Dengan cepat elang merangkul pundak Sabrina
__ADS_1
"Aku mau mengajak istriku sarapan di luar bunda". Elang cengegesan.
"Ah benar kah, tapi tunggu dulu". Cindy memandang Fajrina dan elang secara bersamaan.
"Ada apa bunda". Elang bertanya, ia takut bundanya menyadari ada yang tak beres di wajah mereka berdua
"Ada apa dengn bibir mu elang, dan kau Fajrina kenapa pipimu". Fajrina yang tak terbiasa berbohong hanya mampu menatap elang
"Itu, Bunda semalam , Fajrina menggigitku ketika kami, ya bunda tau kan.. lalu lebam di pipi Fajrina Karna , kami sepertinya terlalu kasar". Elang menggaruk kepalanya yang tak sakit.
"Hemmm.. jangan seperti itu, nanti kalian biasa menyakiti satu sama lain". Fajrina salah tingkah, suaminya luar biasa dalam masalah berbohong .
"Kami pergi dulu bunda, dah". Dengan cepat elang menarik jemari Sabrina.
"Kita bisa sarapan di rumah" ujar Fajrina ketika mereka memasuki mobil.
"Aku bisa membohongi bunda, tapi aku tak bisa membohongi ayah". Sabrina paham apa maksud elang.
"Jadi kita mau kemana? Aku tak ada jadwal praktek hari ini, aku libur". Elang berfikir keras.
"Bagaimana jika kau mengunjugi kantor ku". Fajrina mengangguk tanda ia setuju.
Elang memasuki lobby perusahaan nya, gedung berlantai 30 itu adalahan hasil kerja keras elang. Ia merintis karir nya semenjak di bangku kelas 12. Beruntungnya, bahwa elang merupakan anak yang pintar
"Selamat pagi pak". Resepsionis memberikan hormat pada elang, namun semua mata memandang wanita yang berjalan di belakang elang. Elang lupa. Pernikahan nya dan Fajrina di langsungkan dengan sangat sederhana. Jadi belum ada yang tau sosok istrinya selain keluarga inti Manggala.
Fajrina bisa melihat semua mata tertuju padanya, dan semua nya terasa menghujam dirinya. Pandangan itu padangan tak suka, Fajrina tau itu.
Para wanita yang memandangnya tak suka sudah bisa di pastikan adalah deretan fans garis keras suaminya. Fajrina paham atas situasinya, ya meskipun elang tak mencintainya, tapi elang tetap suaminya, ia tak suka jika banyak mata jelalatan wanita memandang rakus sang suami.
Dengan begitu percaya diri, Fajrina mendekati elang dan menggenggam jemarinya.
"Ayo sayang, katanya kau mau mengajakku berkeliling kantormu". Sebenarnya Fajrina merasa bahwa jantung nya akan melonjak keluar. Apalagi setelah tangan mereka bersentuhan , namun Ia masih bisa mengendalikan nya
Elang tersenyum ia melepas genggaman tangan Fajrina. Dan dengan lembut merangkul pinggang istrinya. Wanita berhijab itu sukses membuat seluruh wanita yang berada di sana patah hati dan kecewa.
"Ayo sayang". Elang memboyong istrinya memasuki lift khusus. Dalam lift mereka saling diam. Tak ada yang berani angkat bicara
Lift terbuka, masih dengan merangkul Khanza , elang melangkah melewati sekertaris ya.
"Selamat pagi ... Pak". Sekertaris elang terpana melihat siapa yang berdiri di samping elang. Fajrina menghentikan langkahnya kemudian memindai skertaris suaminya itu
__ADS_1
"Siang, Jessy.. perkenal kan ini istriku". Ujar elang, Jessy yang sejak tadi berdiri di belakang mejanya berjalan mendekati elang dan Fajrina. pakaian Jessy sukses membuat Fajrina terpana. Fajrina menatap sang suami penuh makna