DI BALIK HIJAB ITU

DI BALIK HIJAB ITU
KAU SANGAT SERAKAH


__ADS_3

"dia yang memulai, kau tau itu". Elang sangat kesal hingga ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Fajrina sangat takut, ia mengencangkan sabu pengaman nya , kemudian menatap elang.


"Aku tau, tapi seharusnya kau tak terprovokasi oleh kata-katanya". Fajrina juga kesal mengapa suaminya sangat mudah terpancing


"Sekarang kau menyalahkan ku". Ujar elang, ia semakin emosi saja mendengar kata-kata istrinya.


.


"Aku tak menyalahkan mu" Fajrina kesal melihat sikap suaminya.


"aku hanya menyayangkan sifat mu yang begitu mudah terprovokasi ". lanjut Fajrina.


"Kau membelanya ? Kau menyukainya?". Elang memberhentikan mobilnya. fajrina kaget mendengar kata-kata elang yang barusan . bisa-bisa nya ia menuduh Fajrina menyukai Umar.


"amarah telah merasuki hatimu, hingga tuduhan demi tuduhan kau layangkan kepadaku". Fajrina membuka sabuk nya.


"jujur saja, mengapa kau hanya diam ketika para pria itu memujamu". elang mendengus kesal. mata Fajrina membulat sempurna kali ini elang sungguh sangat kelewatan.


"Ada apa dengan mu elang, hentikan kecemburuan mu yang tak beralasan". Fajrina menatap elang


"Mengapa kau tak terima saja permintaan ta'aruf darinya jika kau memang menyukai nya, alih-alih malah menerima pinangan ku".


"Apa maksudmu, kau menyesal telah menikahi ku" Fajrina berteriak, ia sudah kehilangan kesabaran nya. laki-laki di hadapannya sungguh kekanakan kan.


Elang terdiam melihat kemarahan Fajrina


"Aku tak pernah menyesal telah menikahi mu, aku bahkan sangat mencintaimu makanya aku selalu cemburu jika ada pria yang secara terang-terangan mencintaimu ". elang mencoba mengungkapkan rasa takutnya pada Fajrina, dan berharap jika Fajrina mau mengerti kegundahan yang ia rasakan.


"Apa bedanya". Kemudian Fajrina melangkah keluar dari mobil elang


"Kau mau kemana?" Elang mengikuti Fajrina dan menarik lengan nya


"Hentikan elang, hentikan segala kecemburuan mu padaku , kau seolah mencekik leherku, hingga aku tak leluasa meski hanya untuk bernafas saja, dengar aku tak tertarik pada pria lain elang, aku sudah memilihmu sebagai suamiku, aku tak mungkin membiarkan pria lain mendekatiku, mengertilah". Mata Fajrina berembun, namun sebisa mungkin ia menahan nya agar butir air mata tak berjatuhan dari matanya


"Aku berhak cemburu, aku suamimu". Elang memegang bahu Fajrina erat, berharap sang istri mengerti kekhawatiran nya. Fajrina melepaskan tangan nya dari elang.


"Mengapa kau begitu khawatir, aku telah memberikan segala yang ku punya padamu , semuanya ". Elang menghela nafasnya kemudian memeluk istrinya erat


"Aku sangat mencintaimu Fajrina, aku hanya takut orang lain memiliki kesempatan untuk memiliki mu".

__ADS_1


"Sampai kapan? sampai kapan pun kau akan terus meragukan dan tak mempercayai aku". Ujar Fajrina


"Aku percaya padamu, buktinya aku mengizinkanmu kembali bekerja, aku hanya tak percaya pada semua pria itu, mengertilah".


"tapi jika mengenai hati, aku tak bisa mengendalikan perasaan mereka elang, aku tak bisa membuat hati mereka berhenti menyukai aku".


"baiklah, aku minta maaf". elang menatap Fajrina.


"hentikan, mulai saat ini aku tak mau ada kecemburuan - kecemburuan lain nya". elang menghela nafas lega


"baik". jawabnya


Akhirnya Fajrina mengerti segala ketakutan elang, hanya saja terkadang kekhawatiran elang tak mendasar . Fajrina tak kan meninggalkan elang hanya karna pria lain. Seandainya elang tau, Fajrina sudah mencintai elang sejak pertama elang menyentuhnya.


Di tempat lain, Hendrik masih memikirkan ucapan Lusi, sebenarnya Hendrik tak perduli bahkan berharap elang dan Fajrina berpisah. Namun yang membuat Hendrik khawatir adalah Fajrina. Ia takut rencana yang di buat Lusi akan merugikan Fajrina.


"Apa yang harus aku lakukan". Hendrik menatap Cintya , meminta sahabat nya itu memberikan ide cemerlang.


"Sebaiknya kau menemui elang, elang harus tau jika Lusi berencana memisahkan dia dengan Fajrina". Cintya menepuk bahu Hendrik.


"Tapi, apakah elang akan mempercayai aku".


"Aku akan mendatangi dia besok " Hendrik berencana menemui elang sebelum semuanya terlambat


"Lusi itu bukan kah mantan kekasih elang, yang dulu pernah menyatakan cinta padamu?". Cintya mencoba mengingat-ingat kejadian pernyataan cinta itu


Saat itu Hendrik sedang melakukan pertandingan basket antar universitas. Lusi masih menyandang status kekasih elang pada saat itu.


Namun hubungan elang dan Hendrik sudah putus semenjak kematian adik Hendrik. Jadi Lusi berfikir meskipun ia dan Hendrik berpacaran, Hendrik tak kan memberi tahukan nya pada elang.


"Aku menyukai mu" ujar Lusi


"Apa maksudmu? " Hendrik bertanya tak mengerti .


"Aku menyukai mu Hendrik, jadilah kekasih ku". Mendengar kalimat itu Hendrik langsung tertawa terbahak. Lapangan itu telah sepi, hanya menyisakan seorang penonton, yaitu Cintya.


"Apa kau sudah gila?"


"aku serius Hendrik". Lusi menatap manik coklat Hendrik

__ADS_1


"Kau , pacar elang". Hendrik balas menatap Lusi tak percaya


"Aku tau, namun aku merasa jika aku sangat mencintai kamu Hendrik". Lusi mendekati Hendrik. Cintya yang berada jauh hanya menatap tak percaya pada Lusi


"Tidak". Hendrik berjalan menjauh dari Lusi.


"Jangan sampai elang tau". Kata-kata Lusi yang barusan membuat dirinya menghentikan langkahnya.


"Kau sangat serakah". Hendrik berbalik kemudian terseyum . Lusi ikut tersenyum, ia berfikir bahwa dirinya telah berhasil.


"Aku tau, aku memang serakah, aku menginginkan mu dan elang, aku tak rela pemuda tampan seperti kalian mendapat kekasih yang tak layak". Merasa mendapat lampu hijau. Lusi kemudian berjalan ke arah Hendrik, meraba dada bidang itu kemudian ia mencoba mencium Hendrik.


"Menjauh dari ku, wanita menjijikan". Suara Hendrik sangat dingin, ia lalu mendorong Lusi begitu saja. Kemudian pergi


Cintya hanya tertawa mengejek


"Pertunjukan yang bagus , sangat menghibur". Ujar cintya.


--


Cintya ingat betapa memalukan nya, wanita yang berharap bisa memacari 2 orang sahabat itu. Wanita serakah versi Hendrik. Kemudian Cintya tertawa.


"Dia sangat percaya diri". Ujar cintya


"Bukan percaya diri, dia lebih ke tidak tau diri". Hendrik kemudian tertawa


"Apa yang lucu". Cintya menatap sahabatnya itu


"Apa kau biarkan saja itu terjadi, agar aku bisa mendapatkan Fajrina".


"Kau sama jahatnya dengan wanita itu, aku tak setuju". Cintya menatap marah pada Hendrik


"Kau sahabatku juga kan, harusnya kau juga mendukung ku, jangan elang saja". Hendrik cemberut


"Aku sayang kalian berdua, aku tak mau ada perselisihan lain lagi hingga membuat kalian terpisahkan lagi, aku harap kau mengerti". Hendrik meraih tangan Cintya, dan menggenggam nya


Ada desir aneh dalam hatinya, ia berdebar setiap kali Hendrik melakukan kontak fisik padanya. Ia memang sejak lama menaruh hati pada Hendrik , namun ia tak berani mengungkapkan nya, ia takut Hendrik akan menjauhinya. Maka dari itu ia lebih baik memendamnya


"Aku akan lakukan sesuai keinginan mu, sekarang bangulah, kita makan di luar". Hendrik menggenggam tangan Cintya dah berjalan keluar dari rumahnya.

__ADS_1


Cintya terseyum, tak masalah meskipun ia tak bisa memiliki Hendrik yang penting ia masih bisa bersama dengan Hendrik.


__ADS_2