
"kalian dari mana?". Cindy menatap pasangan suami istri itu.
"Kami menginap di hotel bunda". Cindy menatap Fajrina.
"Elang benar kok bunda, kami menginap di hotel berdua". Fajrina tak berbohong memang itu kenyataan nya.
"Mengapa menginap di hotel". Kini dini yang beratanya, kakaknya itu paling suka memojok kan adik nya
Denga cepat elang merangkul pinggang fajrina.
"Kami kemarin tak sempat melakukan ritual malam pengantin, jadi kami melakukan nya di hotel bunda". Fajrina terkejut mendengar perkataan elang
"Ah benarkah". Cindy berteriak kemudian berlari memeluk Fajrina.
Fajrina hanya terseyum tak tau harus berkata apa.
"Semoga kalian cepat mendapatkan momongan" kemudian cindy melepaskan pelukan nya dan menatap sang anak.."bunda percaya padamu sayang".
Fajrina menatap elang dengan tajam. kemudian elang manrik pinggang Fajrina hingga mau tak mau Fajrina mengikuti langkah kaki elang
Fajrina menghempaskan tubuhnya ke ranjang. haru itu ia merasa sangat lelah, entah mengapa.
kemudian ia menatap elang.
"Mengapa kau berbohong pada ibumu". Ujar fajrina ketika elang suda kembali setelah membersihkan diri.
"Lalu kau mau aku melakukan apa" elang menatap istrinya
"Setidaknya jangan mengatakan itu, jangan memberikan harapan palsu pada ibumu". Fajrina mencoba meredam amarahnya.
"kalau begitu, sepertinya kita bisa dengan segera mengabulkan permintaan ibuku, ia ingi cucu bukan". Elang mendekati Fajrina ,tatapan matanya sangat menggoda . ketika Fajrina ingin bangun, dengan cepat Adam menaikinya.
"aku tak kan memberikan anak padamu, aku tak kan menyerahkan diriku dan hidupku pada pria sepertimu". elang menatap tajam Fajrina
"ah, benarkah". elang semakin mendekati Fajrina
"tentu saja, aku tak mungkin menyerahkan hidup ku pada seorang pemabuk yang bahkan tak sadar jika tubuhnya sedang di raba-raba wanita lain". Fajrina memalingkan wajahnya.
" aku tak berharap mendapatkan anak dari mu, lagipula kau harus ingat pernikahan kita hanya di atas kertas, bagiku kau bukan istriku, jadi kau harus tau posisimu". Kemudian elang berbalik.
"Mungkin bagimu pernikahan kita hanya di atas kertas, bagimu mungkin aku ini bukan istrimu, namun bagiku kau tetap suami ku, kau melakukan ijab qobul bukan hanya dengan ayah ku, kau harus paham, dalam ijab qobul itu ada Allah yang menyaksikan nya, dan pernikahan kita sah di mata hukum dan Agam, jangan lupakan itu". Fajrina menatap punggung laki-laki yang baru 2 hari menikahinya. Air mata menetes tanpa henti. Fajrina terisak, ia merasa di hina.
__ADS_1
"Tentu saja aku tak lupa, tapi sepertinya kau yang lupa, tadi kau bilang kau tak kan pernah menyerahkan hidupmu pada pria sepertiku, kau bahkan tak kan melahirkan anak untuk ku, jadi siapa yang salah di sini!". Adam berdiri kemudian menatap tajam fajrna.
Fajrina terdiam.
"dan tolong hentikan sandiwara mu, dokter fajrina yang terhormat, aku bersumpah atas nyawaku, sampai aku mati aku tak kan menyentuhmu". Sumpah yang di berikan elang telak menghantam Fajrina.
"Baik, akan ku ingat selalu sumpah mu yang barusan tuan elang". Kemudian Fajrina berjalan menuju kamar mandi, mengganti pakaian nya dan ingin berjalan keluar sebelum elang mencengkram pergelangan tangan nya.
"kau mau kemana".
"aku punya pekerjaan tuan Ardhi, aku seorang dokter, banyak pasien yang menunggu ku di rumah sakit". Fajrina dengan kasar menarik lengannya dari cengkraman elang.
"oh benarkah, apa pekerjaan seorang dokter begitu padat". elang menyeringai
"tentu saja tuang elang yang terhormat". kemudian Fajrina berjalan mendekati elang dan mengendus lehernya.
"apa yang kau lakukan". elang merinding, kemudian mundur
"mencium baumu, bau wanita lain masih ada di situ". Fajrina balik menyeringI kemudian berjalan meninggalkan elang
"sialan". maki elang. kemudian ia mencium bajunya. tak ada wangi lain selain wangi istrinya.
Fajrina sedang memikirkan jalan keluar selanjutnya. Ia tak mungkin bertahan dalam pernikahan penuh dengan kebohongan ini, ia merasa sangat berdosa pada ke dua orang tuanya.
"Untukmu". Reza meletak kan segelas kopi di hadapan Fajrina
"Kau kenapa?". Reza bertanya ketika melihat mata sembab wanita dambaan nya itu.
"Aku baik-baik saja, hanya kurang istirahat kok". Namun pembeicaraan mereka terhenti ketika salah satu perawat memnyampai kan pesan bahwa ada seseorang yang ingin bertemu dengan Fajrina.
Ia memasuki ruangan kunjung para dokter, ia melihat Hendrik berdiri di sana. Dengan enggan Fajrina mendekati pria itu.
"Ada yang bisa saya bantu". Ujar Fajrina
"Sepertinya saya sakit dokter ". Hendrik terseyum, namun tidak dengan Fajrina
"Jika anda merasa sakit, lebih baik anda memeriksakan diri anda ke dokter jaga di depan , bukan menemui dokter bedah seperti saya". Hendrik berjalan mendekati Fajrina
"Kalau memang bisa tolong bedah hatiku dokter, sepertinya hatiku sakit jika tak melihat mu sehari saja". Ujar Hendrik seraya memegang dadanya
Fajrina tertawa
__ADS_1
"Apa sudah cukup bercandanya, masih banyak pekerjaan yang harus aku urus". Fajrina berbalik dan hendak meninggal kan Hendrik.
"Aku serius dokter, aku jatuh cinta padamu sejak pertama kita bertemu, jadi tolong pertimbangkan ". Langkah Fajrina terhenti, kemudian ia memandang Hendrik
"Aku sudah menikah , dan kau mengenal suami ku". Hendrik kembali tersenyum
"Aku tau soal pernikahan pura-pura kalian dokter, maka aku bertekad akan merebutmu secara baik-baik dari pria itu". Fajrina sudah tak mau meneruskan pembicaraan itu. Ia kemudian kembali melangkah meninggalkan Hendrik
"Siapa dia". Reza bertanya setelah Fajrina mendekatinya.
"Entah". Ujar fajrina. Reza berjalan mengikuti Fajrina
"Aku sepertinya mengenal pria itu, dia bukannya anak dari salah satu pengusaha terkanal di negara ini".. Fajrina menghentikan langkah nya
"Aku tak perduli siapa dia".
"Sepertinya bertambah satu saningan ku". Ucap Reza. Kemudian Fajrina tertawa dan menepuk pundak lelaki yang sangat mencintainya itu
"Semangat".
Siang itu di kantor, elang uring-uringan sendirian ia akhirnya menyadari kesalahannya
"Bodoh.. bodoh". Ia berteriak
"Kau yang salah". Ujar cyintya salah satu sahabat karibnya
"Aku hanya emosi karna ia mulai mencoba mengaturku". Elang menyandarkan tubuhnya di bangku kebasarannya itu.
"Ya wajar, ia istrimu.. ia berhak melakukannya". Cyntya menatap tak percaya sahabatnya itu.
"Tapi kau kan tau, ibuku saja tak bisa melarang ku".
"Elang, sekarang kau sudah menikah, meskipun kau tak menghendakinya, ia tetap istrimu, kau harus menyadarinya".
"Tapi aku menikahinya secara terpaksa".
"Jangan menyakiti wanita yang tak bersalah elang, kau sudah menikahi gadis itu, jangan krna egomu kau menyakiti hatinya juga keluarga mu, gadis itu pun tak berharap kau menikahi nya". Cyntya mendekati elang dan magusap kepala sahabatnya itu
"Aku tau". Ujar elang
"Jadi perbaiki lah". Elang menelaah setiap kata-kata sahabatnya. Memang sumpahnya tadi pagi Sangat keterlaluan.
__ADS_1