
Hendrik menatap test peck yang di berikan oleh istrinya. Kemudian ia tertawa bahagia.
"Kau hamil.. kau, mengandung bayiku?".
Hendrik memeluk Cyntia kemudian mencium pipi wanita cantik itu. Hendrik sangat bahagia, ia memang berencana memiliki anak dalam waktu dekat, Dan keinginan nya terkabul.
"Kau sangat hebat". Ujae Hendrik
"Kau yang hebat, kau bahkan tak membiarkan ku tidur tenang meski satu malam, maka sangat wajar jika aku hamil". Cyntia cemberut, ia bukan nya tak menerima bahwa dirinya tengah hamil, namun ia merasa sangat lelah Karna harus melayani Hendrik setiap malam
"Ah, yang penting program pembuatan bayi sukses". Hendrik kembali memeluk istrinya.
"Terserah padamu, pokok nya aku ingin apartemen ini memiliki pelayan, aku tak Mau mengganggu pertumbuhan bayiku nanti". Cyntia langsung berjalan meninggalkan Hendrik.
"Baik sayang , aku akan mencarikan pelayan untukmu, namun sebelum ini layani aku dulu". Hendrik menutupi pintu kamarnya dengan cepat.
Kabar kehamilan Cyntia telah menyebar ke pelosok negeri, ada yang merayakan nya dengan suka cita ada juga yang mencela. Hendrik memposting foto test peck itu, belum lama foto itu terbit, ribuan komentar telah berseliweran di sana.
Hendrik melempar ponselnya ketika ia melihat sebuah komentar pedas yang membuat dadanya berdebar.
"Haters kurang ajar". Hendrik berteriak.
"Ada apa dengan mu, kau membuat ku jantungan". Cyntia memelototi Hendrik . Pria itu mencibir istrinya
"Mereka bilang, kau hamil duluan sayang, bagaimana bisa, kita menikah sudah 3 bulan lamanya, Dan mereka menuduhmu hamil duluan makanya pernikahan kita di lakukan secara mendadak".
"Waktu akan membuktikan nya sayang, tenang lah". Hendrik menghela nafasnya.
"Ayo, kita ke tempat elang, aku sepertinya butuh teman bicara". Hendrik berbalik Dan mencari ponselnya,
" Tadi aku melemparkannya kemana ya". Hendrik mengedarkan pandangan nya.
" Ponsel mu ada di kolong ranjag sepertinya, kau melemparkan nya ke sana tadi". Cyntia menatap tak percaya pada suaminya, dia akan menjadi ayah namun kelakuan nya Masih seperti anak kecil.
__ADS_1
Hendrik masuk ke kolong ranjang Dan menemukan ponselnya. Ia tersenyum Dan bersorak bahagia.
"Selamat atas kehamilan mu". Fajrina memeluk Cyntia.
"Ah, terimakasih".
"Aku cemburu, kita menikah lebih dulu, tapi malah mereka yang akan memiliki anak, lantas kita Japan sayang". Pernyataan elang membuat fajrina sedikit sedih, ia merasa tak berguna sebagai seorang istri.
"Kalain bersabarlah". Hendrik menatap wajah sendu fajrina , ia Tau bahwa fajrina sedikit sedih mendengar ucapan elang yang barusan.
"Dia mandul, buktinya setelah hampir setahun menikah, dia belum juga mengandung anak elang, Dan diriku.. lihat baru sekali, langsung tokcer". Lusi keluar Dari kamarnya sambil mengelus-elus perut buncitnya.
Mendengar kata mandul membuat Hendrik tertawa.
"Apa kau yakin anak yang kau kandung anak elang, kalaj jadi kau , aku akan takut lusi.. jika ketika lahir Dan test DNA menyatakan anak itu bukan anak sahabatku, maka tamant riwayatmu".
"Tak usah ikut campur urusan ku Hendrik, kau orang luar.. lebih baik kau bahwa istrimu keluar Dari rumah suamiku". Lusi kesal melihat betapa sombongnya Hendrik.
"Kau juga tamu di sini lusi , jika bukan Karna kebaikan fajrina , mungkin kini kau sedang menjalani kehamilan tanpa suami". Cyntia berdiri kemudian berjalan mendekati lusi.
Lusi tak terima atas ucapan Cyntia, ia menjadi sangat emosional saat ini.
" Kurang ajar kau". Lusi berteriak sambil mendorong Cyntia, melihat Hal itu membuat Hendrik bergerak cepat, ia menagkap tubuh Cyntia.
Elang yang menyaksikan kejadian itu langsung menarik lengan lusi Dan membawa nya masuk kembali ke dalam kamar.
" Apa lagi". Teriak wanita itu
"Bisa tidak jika kau jaga semua ucapan mu, apa memang kau suka sekali menghina orang lain". Elang menghempaskan tangan lusi begitu saja.
"mengapa kau senang sekali memarahi aku , kau tak berhak melakukan Hal itu padaku, mengapa aku harus menuruti kemauan mu". lusi kembali meneriaki elang.
"kau istriku lusi". elang menegaskan kembali tentang hubungan itu pada lusi
__ADS_1
"benarkah, tapi kau tak melakukan kewajiban mu Dan aku tak mendapatkan Hak ku". lusi tersenyum menyeringai, ia muak dengan elang.
"kewajiban apa yang kau maksud lusi, memberikan nafkah bathin pada mu, tentu aku tak bisa melakukan itu, kau tengah mengandung, aku tak bisa melakukan itu padamu sebelum anak itu lahir, sebagai laki-laki aku Tau kewajiban ku, namun agama melarang Hal itu untuk saat ini, mengertilah". elang memegang bahu lusi, ia sudah berulang Kali menyatakan Hal itu, namun lusi tetap saja merasa jika elang menjahatinya
"aku tak mengerti, Dan aku tak perduli, aku meminta Hak ku sekarang". lusi mendorong elang, namun elang bisa menahan nya Kali ini.
"maaf, aku Masih takut akan dosa.. jika kau tak Mau mengerti maka silahkan kau pilih, mengikuti aturan ku Dan terus tinggal di sini, atau kau bisa kembali ke apartemen mu lagi, aku akan terus memberikan uang bulanan padamu untuk kau bertahan hidup Selamat kau hamil". elang kemudian berjalan meninggalkan lusi, amarah lusi mulai meluap, ia berlari mendahulu elang kemudian menyerang fajrina.
mendapatkan serangan yang begitu mendadadak membuat fajrina tak bisa berbuat banyak, lusi mencakar wajah mulus fajrina , Hendrik langsung bangun Dan menarik wanita hamil itu hingga mundur bebrapa langkah Dari fajrina.
lusi terus memberontak, bahkan sebisa mungkin meraih fajrina dengan kakinya. elang mencari Tali kemudian mengikat tangan lusi agar ia berhenti menyerang fajrina.
Cyntia menatap fajrina, wanita itu mendapatkan Luka sayat akibat kuku lusi.
"apa kah sakit". Cyntia membersihkan Luka itu, Dan mengoleskan cream pada Luka fajrina.
"apa kau sudah gila ". elang menatap lusi, ia sangat murka melihat kelakuan istri mudanya itu
"aku gila Karna dirimu". lusi menendang elang begitu saja.
"apa kau lupa untuk meminum obat mu tepat waktu, sampai kau mengamuk seperti ini". elang kemudian berjalan ke kamar lusi Dan mencari botol obat-obatan lusi. Dan benar saja, obat itu sama sekali tak berkurang.
elang melemparkan botol obat itu ke kaki lusi.
"obat apa ini elang". Hendrik mengambil botol obat itu kemudian membacanya. setelah membaca keterangan yang terdapat di botol obat itu membuat Hendrik tak bisa berfikir apapu .
Hendrik menatap fajrina Dan elang secara bergangantian
"kau membiarkan orang gila hidup bersama kalian". kata-kata Hendrik sukses membuat lusi kembali berteriak.
"aku tidak gila, aku tidak gila". Cyntia takut melihat reaksi lusi, ia beringsut Dan langsung memeluk suaminya.
"ya tuhan elang, apa sih yang kau pikir kan saat kau menikahi wanita itu?". Hendrik menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"aku bahkan sekarang sangat menyesal telah menikahi nya".