
Elang menatap fajrina yang sedang berbincang dengan teman-teman nya semasa kuliah itu. hanya saja pemandangan di depannya membuat nya menahan cemburu teramat sangat.
Salah satu teman nya adalah pria, elang bisa melihatnya bahwa pria itu sangat mengagumi istrinya. Itu yang membuat elang tak suka.
Sepulang dari rumah keluarga Fajrina, elang mengajak sang istri untuk berbelanja pakaian untk di pakai Fajrina jika keluar dari rumah . Namun belum sempat berbelanja Fajrina malah ketemu teman- teman nya itu.
Akhirnya mereka memilih cafe yang ada di mall itu, elang masih enggan melepas genggaman nya pada fajrina . Tujuannya hanya satu, memberitahukan semua orang bahwa Fajrina adalah miliknya
"Sejak kapan kau bercadar". Teman Fajrina yang bernama Vira mengapa Fajrina heran
"Baru saja, apakah cocok?". Fajrina terseyum
"Ya cocok, namun bukan itu pointnya, meskipun kau bercadar namun aura kecantikan mu tak berkurang". Vira menggoda Fajrina
"Kau benar, siapa yang tak kenal Fajrina , mahasiswi tercantik di kampus pada masanya, tapi semakin dewasa dia malah semakin cantik". Sambung Cintya.
"Ya, meskipun ia bercadar mata nya tetap menggambarkan betapa cantiknya ia". Kini pria yang sejak tadi di perhatikan oleh elang angkat bicara.
Elang sangat tak suka, seharusnya pria itu menghargai dan menghormati elang, mengapa ia masih saja memuji kecantikan istrinya sedangkan ia bisa lihat bahwa elang ada di sisi Fajrina.
"Kau benar, dan aku beruntung sudah memiliki nya". Elang sudah tak sabar, ingin sekali mengusir mereka semua dari hadapan sang istri.
"Oh, ya. Kau memang sangat beruntung, seandainya aku lebih cepat bertindak aku rasa akulah pria beruntung itu". Teman pria Fajrina semakin lama semakin kurang aja menurut elang.
"Tidak, Fajrina tak kan menikah dengan mu meskipun kau bertindak lebih cepat, karna pada dasarnya hanya aku yang bisa membuat Fajrina jatuh cinta ". Elang terseyum sinis
Fajrina memegang kepalanya, ia bingung atas sikap posesif sang suami. Entah mengapa elang terlihat seperti tak suka.
Obrolan yang tadinya sangat menarik berubah menjadi sangat tidak menyenangkan. Karna merasa mereka sudah mengganggu waktu Fajrina dengan elang maka mereka berpamitan.
"Kapan waktu kita ngobrol lagi ya Fajrina". Ujar Vira
Namun yang sangat tak elang sukai adalah, ketika teman pria Fajrina mengatakan hal yang sangat membuat elang tersinggung
"Jangan terlalu berlebihan, aku tau di istrimu, tapi aku dan Fajrina sudah mengenalnya lebih dari dirimu, jadi buat ku sikap mu sangat kekanakan, jangan sampai Fajrina lelah menghadapi sikap mu dan meninggalkan mu". Kemudian pria itu berjalan meninggalkan Fajrina. Rahang elang mengeras, wajah nya merah padam menahan amarahnya
Fajrina tau apa yang di rasakan suaminya, kemudian menggenggam erat jemeri elang
__ADS_1
"Ayo, kita belanja pakaian untuk ku". Fajrina mengalihkan pikiran elang, agar ia tak kehilangan kendali atas dirinya. Fajrina masih ingat betul bagaimana elang dan Hendri bertengkar karna dirinya waktu itu
"Apa kau bahagia?". Elang bertanya tanpa menatap wajrina
"Aku? Ya aku bahagia sudah menikah dengan mu". Ucap Fajrina
"Bukan itu". Elang menghentikan langkah nya
"Lalu apa". Manik indah itu menatap elang.
"Apa kau bahagia karna banyak pria yang mendekati dan menyukai mu ". Tatapan mata elang sangat tajam pada Fajrina saat itu.
"Apa maksudmu?".
"Ya, kau pasti tau , pria tadi sangat menyukai mu, bahkan ia tak menghargai keberadaan ku dengan cara menggoda dan menyanjung mu , luar biasa". Fajrina terpaku, menatap tak percaya suaminya. Kemudian elang melepaskan jemari Fajrina dan berjalan meninggalkan Fajrina di sana.
Dengan langkah kaki cepat Fajrina mengejar suaminya, ia kemudian merangkul pinggang elang.
"Kau jadi saat ini sedang merasa cemburu?". Elang tak bergeming. Fajrina habis akal. Apa yang harus dia lakukan untuk meredakan sifat posesif elang.
Elang masih mengunci mulutnya, wajahnya yang tampan terlihat semakin tampan saat ia marah. Fajrina sangat menyukai wajah itu.
Semua mata terpana memandang moments tersebut. Bahkan ada beberapa wanita yang terlihat iri. Adegan mereka yang barusan mirip sekali seperti potogan film.
"Hati-hati". Ujar ulang sambil menatap mata cantik Fajrina. Namun bukannya melepaskan pelukan nya, elang malah makin mempererat nya.
"Iya..". Fajrina terseyum . Setelah itu mereka memasuki boutique ternama yang menyediakan berbagai macam Khimar cantik yang sangat cocok dengan Fajrina.
Elang menatap tajam ke arah Fajrina yang sedang sibuk memilih pakaian yang sejak pagi sangat di sukai elang. Pria itu menjadi pusat perhatian para wanita yang juga sedang berbelanja di boutique itu.
Elang bagai Mannequin tampan yang sangat sempurna. Hidung mancung , bibir penuh dan mata biru itu membuat elang sangat tampan.
Elang tak perduli dengan pandangan para wanita itu padanya, yang terpenting baginya saat ini adalah Fajrina. Wanita cantik yang berada di depannya kini.
Fajrina membeli hampir selusin pakaian gamis dan Khimar di sana serta tak lupa ia membeli beberpa cadar dengan warna senada.
"Mari , kita pulang ". Fajrina memeluk elang dan kemudian menggandeng jemari suaminya kemudian berjalan meninggalkan boutique itu.
__ADS_1
Kali ini Fajrina yang harus sangat waspada , tatapan lapar dari semua wanita itu seakan siap itu menyantap suaminya. Fajrina tak suka pada tatapan mereka. Elang adalah miliknya , hanya miliknya.
Fajrina akhirnya mengerti perasaan elang tadi, karna ia pun sekarang merasakan nya. Perasaan yang lebih dari kata cemburu.
"apa kau masih marah padaku " bisik Fajrina di telinga elang. ia dengan susah payah menyamai tingginya dengan elang agar dia bisa dengan leluasa berbisik di telinga elang
"apa aku kelihatan marah". jawab elang.
"iya". ujar Fajrina
"aku sepertinya sangat overprotektif padamu ya?." elang balas bertanya
"ya, kau sangat overprotektif belakangan ini". Fajrina terseyum
"itu karna kau telah menguasai hatiku, ego ku selalu menekan ku agar aku tak berbagi apapun dengan mu".elang menghentikan langkahnya kemudian menatap mata indah itu
"aku sudah menutupi seluruh tubuhku untukmu".
"belum, pria lain masih bisa menatap mata indahmu, aku tak menyukainya".
"lalu aku harus apa?". ujar Fajrina sambil mempererat genggaman mereka
"menundukkan jika ada peria lain di hadapan mu". elang sangat mendominasi Fajrina
"akan aku lakukan untukmu". ujar Fajrina
"bagus, sekarang kau harus menjaga pandangan matamu, pandangan mu hanya untuk mu, setiap jengkal tubuhmu hanya milik ku".
"lalu bagaimana dengan para wanita yang memandangmu". mata indah itu seperti sihir bagi elang. elang menghembuskan nafasnya berat.
"kau boleh membunuhku jika aku tergoda oleh mereka".
elang kembali melangkahkan kakinya menyusuri parkiran. ia kemudian membuka kan pintu mobil untuk Fajrina.
elang kembali menggenggam jemari Fajrina , kemudian ia menciumnya.
"kau sangat manis". ujar Fajrina
__ADS_1
"jika begitu, maka lepas cadarmu". Fajrina mengikuti kemauan suaminya. perlahan ia membuka cadarnya . wajah cantik itu terseyum. dan elang sangat merindukan wajah itu, kemudian dengan lembut mencium bibir Fajrina lama.