
"Hey, sedang apa kau di sini". Capung memukul pundak Ardhi ketika ia melihat sahabatnya itu sedang asik berbicara degan para teman wanitanya
"Berpesta". Ujar elang sambil menunjukan gelas berisi alkohol ke arah capung
"Kau gila ya, mana istrimu". Capung mengedarkan matanya mencari sosok dokter cantik itu.
"Ia ada jadwal oprasi malam ini, memangnya kenapa". Elang sudah sedikit mabuk.
"Kalian pasangan pengantin baru yang unik". Capung menyandarkan tubuhnya di sofa bersebelahan dengan elang
"Hey, aku menikahinya agar semua aset ku selamat". Ujar elang sambil menenggak habis minuman nya.
"Lalu bagaimana acara malam pengantin mu". Capung mulai menggoda elang
"Aku masih perjaka Ting Ting, Jagan macam macam kau". Capung tergelak
"Kau menyia-nyiakan dokter cantik itu". Elang menatap tajam capung.
"Aku tak berniat menyentuhnya". Elang kembali menuangkan minuman itu ke gelasnya
"Bagaimana dia , apa dia sangat cantik tanpa hijab". Elang mengingat kejadian semalam. Fajrina sangat cantik meski tak menggunakan riasan di wajahnya. Rambut nya hitam tergerai panjang, ia pun sangat masih dengan jelas mengingat bentuk tubuh Fajrina di balik bajunya yang basah semalam. Sebenarnya bentuk tubuhnya sangat bagus, dan ternyata ia juga memilik payudara yang indah, berisi dan padat
"Biasa saja". Jawab elang
"Kau berbohong, apa yang kau pikirkan tadi". Ujar elang.
"Tak ada". Elang kembali meminum habis alkohol itu.
Di sisi lain di ruangan oprasi rumah sakit, Fajrina dengan berhati-hati mejahit kembali bagian tubuh yang baru saja dia bedah. Oprasi terakhirnya lancar.
"Dokter, sebenarnya ada apa dengan ornikahn kalian". Reza, salah satu dokter senior yang seangkatan dengan Fajrina memulai percakapan.
"Aku dan pernikahan ku baik-baik saja". Ujar Fajrina
"Kau baru semalam menikah, dan harinini kau sudah berkeja kembali".
"Dr Reza yang tampan dan menggemas kan, pasien-pasien ku lebih penting di banding pernikahan ku". Ujar Fajrina sambil membuka sarung tangannya yang masih berlumuran darah.
"Hmm, sunggu menarik". Reza berjalan di sisi Fajrina.
__ADS_1
Sebenarnya seisi rumah sakit sangat tau jika dr Reza sangat menyukai Fajrina. Hanya saja Fajrina tidak ingin memulai hubungan yang menurut ia bisa menimbulkan dosa. .
Fajrina mendudukan diri di bangku keberadaannya, nama Fajrina terukir dimeja itu. Sepak terjang Fajrina dalam meja oprasi sudah santer terdengar di mana-mana. Ia dokter yang sangat cemerlang
Gedget nya berbunyi, di sana nama elang terlihat. Ia membiarkan dering telepon itu, hingga akhirnya ia menganggkat nya
"Iya..ada apa". Fajrina mulai bertanya
"Dokter Fajrina, aku capung, sahabat suamimu, suamimu mabuk berat hingga tak sadarkan diri, dia butuh pertolongan mu". Fajrina menghela nafas panjang.
"Kenapa tidak kau saja yang mengantarnya pulang, aku sibuk masih ada 1 oprasi lagi yang harus aku kerjakan". Fajrina berbohong, ia tak mau berusan dengan elang dan lingkungan dia bergaul.
"Aku tak bisa". Ia memikirkan sang ibu mertuam ia tak mau ibu mertua nya kecewa karna mengetahui bahwa oenikhan mereka tak baik-baik saja
"Baiklah, kirim alamatnya padaku ". Lokasinya di salah satu club malam paling terkenal di kota itu
Menyusahkan sekali. Ia memaki dalam hatinya.
Masih mengenakan jubah kebesarannya Fajrina menuju club' tersebut. Fajrina sangat cantik, ia mengenakan dres semata kaki, berwarna hitam dan pasmina dengan warna senada. Kaki indahnya di hiasai high heels putih. Ia berjalan masuk ke dalam club'.
Semua mata menatapnya ,bahkan ada beberapa pria muda berusaha menggodanya.
"Hei dokter, apa kau salah masuk ruangan". Seorang pemuda dengan sangat berani menghalangi jalan Fajrina. Pemuda itu sangt tampan .
"Di dalam tidak ada ruangan oprasi dokter". Bukannya menyingkir, tapi pria itu malah berjalan mendekati Fajrina.
"Hendrik apa yang kau lakukan". Suara nyaring seorang gadis hampir saja membuat gendang telinga Fajrina rusak . Gadis itu dengan cepat menarik tangan pemuda tampan itu.
Hendrik terseyum menatap Fajrina dan dengan kasar menghempaskan tangan gadis yang berteriak memanggil namanya.
"Namaku Hendrik dokter, siapa namamu". Hendrik berusaha menyalami Fajrina namun Fajrina menolaknya
"Minggir,". Kembali Fajrina meminta Hendrik untuk Minggir.
"Ah, dokterrr fajrina ". Hendrik membaca nama yang berada di jas Fajrina
Makin lama Hendrik makin mendekati Fajrina, namun Fajrina tak gentar.
"Untuk yang terakhir, aku bilang minggir dari jalan ku". Fajrina menaikkan nada suaranya. Mendengar ada ribut-ribut di luar capung dengan cepat berlari ke sana.
__ADS_1
Melihat situasi yang sudah sangat tidak kondusif, capung mendekati Hendrik.
"Kau minggirlah dulu, dokter ini istri nya elang". Capung berbisik ke telinga Hendrik.
Hendrik terseyum menatap Fajrina, lalu tertawa
"Kau istri si brengsek elang". Fajrina menatap aneh pada Hendrik.
"Kau sudah tau bukan, dan kau". Fajrina memandang capung." Di mana suamiku". Capung menatap ngeri pada Fajrina. Dokter cantik itu sangat tegas dan tak terbantah kan. Ia mendominasi , sama persis dengan suaminya
Hendrik minggir dan menyeringai
"Dokter, aku akan merebut mu dari si brengsek itu". Namun Fajrina tidak memperdulikan ocehan Hendrik.
Fajrina memasuki ruangan, di sana ia bisa melihat suaaminya tak sadarkan diri, namun bukan itu yang membuat nya tak nyaman, tapi ia merasa tak nyaman ketika melihat seorang gadis dengan oakaian minim mulai meraba tubuh suaminya.
Dengan cepat Fajrina menarik tangan wanita itu dan menghempaskan nya ke belakang.
"Kurang ajar sekali kau, berani menjamah tubuh suamiku ketiak ia tak sadarkan diri". Capung melongo melihat kejadian itu
"Siapa kau ?" Gadis itu mejerit. Elang membuka matanya, samar -samar ia melihat sosok sang istri tengah berhadapan langsung dengan gadis yang memang sejak awal merayunya.
"Aku istrinya, dan kau siapa". Fajrina melipat tangan di dapan dadanya.
Gadis itu gentar menatap wajah cantik Fajrina. Meskipun tak memakai polesan apapun, dokter wanita itu tetap terlihat cantik.
Elang terseyum melihat kejadian itu, lalu kembali menutup matanya.
Fajrina mengendarai mobilnya, ia bingung harus membawa suaminya kemana. Ia takut mertuanya marah melihat anak kebanggaan mereka mabuk dan tak sadarkan diri.
Ia menepikan mobilnya lalu berfikir keras. Ia menatap elang
"Kau sangat menyusahkan". Jam sudah menunjukan pukul 1 dini hari. Ia pun sangat lelah sebanrnya, rasanya ia ingin segera menaiki kasur dan tertidur. Namun angan angan hanyalah angan-angan.
Dengan begitu banyak nya pertimbangan, akhirnya Fajrina membawa elang menginap di salah satu hotel terdekat dari rumah kediaman Manggala.
Dengan susah payah Fajrina menganggkat tubuh elang, ia mencoba membuka pintu kamar. Ketika ia ingin membaringkan elang di atas kasur, dengan tidak sengaja Fajrina ikut terjatuh dengan posisi elang di atas tubuhnya
Fajrina bersusah payah mengangkat tubuh elang, namun gagal. Ia sudah tak memiliki sisa tenaga, sejak pagi ia 4 kali melakukan oprasi, di tambah lagi harus memapah tubuh berat suaminya.
__ADS_1
Fajrina pasrah, ia membiarkan elang tetap berada di atasnya.
"Tak msalah kan, ini bukan dosa, dia suamiku_". Akhirnya Fajrina tertidur.