
sudah seminggu fajrina tak di sapa oleh elang, bahkan elang tak lagi memasuki kamarnya. fajrina menehan nafasnya, ia Masih fokus pada buku yang ia baca sampai ia lupa makan siang. waktu sudah menunjukan pukul 5 sore ketika fajrina merasa kepalanya sangat sakit.
ia meletak kan bukunya kemudian menarik ranjang Dan merebahkan dirinya. sekarang bukan hanya kepala, bahkan perutnya menjadi mual. ia langsung bangun Dan berlari ke kamar mandi. ia tak bisa memuntahkan apapun, Karna ia tak makan sejak pagi.
tubuh fajrina menjadi lemah, bahkan berdiri saja ia tak sanggup. ia merasa tubuhnya sangat tak bertenaga, sehingga ia dengan susah payah berjalan sambil berpegangan pada dinding.
setelah sampai di ranjang ia kembali merebahkan tubuhnya. fajrina mencoba memejamkan matanya, namun ia tetap tak bisa terlelap. ia memutuskan untuk mencoba tidur agar ia memiliki tenaga yang cukup untuk keluar makan malam.
"apa fajrina memutuskan untuk tidak makan lagi?". agung menatap elang, namun elang tak mengubris pertanyaan ayahnya
"elang, ada apa dengan mu? apa kau tak merasa khawatir.. istrimu tak keluar Dari kamar sejak pagi ". dini meneriaki sang adik, ia merasa elang sudah sangat keterlaluan. dalam seminggu ini elang lebih sibuk mengurusi lusi. ketika dini melihat ke arah lusi, wanita licik itu sedang tersenyum penuh kemenangan.
"dia baik-baik saja, kalian tidak perlu khawatir". ujar elang enteng, kemudian ia menyantap makanan di atas piring nya yang telah di sediakan oleh lusi.
"apa kau tidak merasa keterlaluan elang, jangan hanya mengurusi lusi saja". Cindy ikut angkat bicara sedang kan Reza hanya bisa diam. Reza tak Mau ikut campur Karna ia cuma orang asing dalam keluarga itu. meskipun Reza merasa elang sangat keterlaluan namun ia tak bisa melakukan apa-apa.
"apa yang ku lakukan sesuai keingin fajrina bunda, lalu Salah ku di mana".
"fajrina meminta kau adil, apa kau Tau arti kata adil.. jika kau mendiami istrimu, tak perduli keadaan nya, itu namanya bukan adil elang". ucap dini lagi.
elang diam, sebenarnya elang tak Mau melakukan itu, ia hanya ingin membuat fajrina mengerti. elang sejak awal tak ingin mengurusi lusi, wanita licik itu. namun fajrina selalu memakai, bahkan menambahkan dalil dalil yang ia Tau agar elang Mau bersikap adil antara dirinya dan lusi. padahal fajrina juga tau bahwa anak yang di kandung lusi bukan lah milik elang. namun fajrina selalu saja memaksa, jadi fajrina harus menerima sikap elang.
__ADS_1
elang akan bersikap adil jika memang dia lah yang menginginkan wanita itu, elang juga akan bersikap adil jika yang mejadi madu fajrina adalah wanita baik-baik tanpa noda Dan cela. namun lusi tak pantas di perlakukan itu. demi mendapatkan elang , lusi bahkan bisa melakukan Hal di luar nalar. itulah yang membuat elang marah.
"kalian sedang memebicarakan apa?". tiba-tiba fajrina berjalan ke arah mereka. wajah nya sangat pucat, ia terlihat tidak sehat. elang terpaku melihat wajah pucat fajrina, namun ia tak Mau terlihat khawatir. ia langsung menatap makan nya Dan kembali memasuki kan makanan itu ke dalam mulut nya.
"apa kau baik-baik saja fajrina?". Reza langsung berdiri menatap adik iparnya itu. dini juga mengikuti Reza, ia bahkan berjalan mendekati fajrina.
"apa kau baik-baik saja? Kau terlihat sangat pucat". lusi memegang lengan fajrina.
"aku tidak apa-apa, aku hanya sedikit kurang sehat saja". jawab fajrina sambil menepuk punggung lengan dini kemudian berjalan bersama kakak iparnya itu. tak ada tempat di samping elang, Karna elang duduk tepat di antara Cindy juga lusi. hingga akhirnya fajrina memutuskan duduk di sebelah agung.
"apa kau benar-benar baik fajrina?". agung memegang jemari menantunya itu, tubuh fajrina sedikit gemetar, hingga membuat agung berubah panik.
"Mari ke dokter". ujar agung.
"jika kau tak ingin nerawatnya, biar aku yang nerawatnya". agung berdiri kemudian meminta cindya membawa fajrina. Cindy berdiri kemudian memeluk tubuh fajrina, anehnya Cindy merasa bahwa tubuh menantu perempuannya sangat dingin.
"kau kenapa sebenarnya , kenapa tubuhmu sangat dingin". Tanya Cindy, keringan bercucuran di wajah fajrina, bahkan hijab fajrina terlihat basah.
"aku tak perlu ke dokter bunda, ayah.. aku hanya perlu istirahat, kalian lanjutkan lah acara makan kalian". fajrina melepaskan jemari ibu mertuanya, kemudian pamit untuk kembali ke kamar.
"tidak, kau harus ke rumah sakit fajrina".agung memaksa.
__ADS_1
"kalian terlalu berlebihan, wanita itu hanya sedang berpura-pura, kalian terlalu naif". lusi akhir nya ikut mengomentari sikap agung Dan Cindy.
" jaga bicara mu , aku membiarkan mu tinggal di sini Karna kau adalah istri kedua putraku, namun bukan berarti kau ikut campur atas apa yang terjadi di rumah ini, makan kau boleh keluar Dari sini, Dan ajak suami mu juga". Cindy terlihat sangat marah, sedangkan elang Masih tak bergeming.
" aku juga menantu mu bunda, aku juga istri elang.. tapi kau sama sekali tak pernah memperlakukan aku dengan baik, kau pilih kasih". lusi melengos setelah mengatakan Hal itu. kini cindy yang merasa malas menanggapi kata-kata lusi.
"ayo kita ke dokter". Cindy kembali meminta fajrina ke dokter bersama nya.
"tidak perlu bunda".
"apa bunda tak lelah, ia tak Mau ke dokter.. tak usah memaksa". ujar elang, ia kemudian berdiri Dan menghampiri istrinya itu. elang menarik kasar lengan fajrina.
wanita itu kaget, ia menatap jemari elang yang mencengkram lengan nya kemudian menatap wajah suaminya itu. Dan memang benar tubuh fajrina sangat dingin, keringat fajrina juga bercucuran. istrinya terlihat tak sehat, namun ia pura-pura tak perduli.
"sakit elang, lepaskan". ujar fajrina sambil mencoba melepaskan tangan nya Dari elang
"jika kau merasa bahwa kau baik-baik saja, Maka makan lah, jika kau merasa kurang enak badan lebih baik kau kembali ke kamarmu Dan beristirahat lah, jangan membuat keadaan makan malam kami menjadi panas Karna sandiwara yang kau lakukan ". fajrina menatap netra suaminya tak percaya. pria yang begitu lembut berubah dalam beberapa malam saja.
"baik, tapi lepaskan dulu tangan ku". elang langsung melepaskan tangan fajrina , kemudian ia kembali ke kursinya, kemudian melanjutkan makannya. elang terlihat sangat tak perduli, Maka percuma jika fajrina tetap berada di sana.
"aku kembali ke kamar dulu, bunda". fajrina pamit, kemudian berjalan meninggalakan mereka, namun kepala fajrina kembali sakit Dan Kali ini ia merasa bahwa tangga yang ada di depannya terlihat berputar.
__ADS_1
brakk..