
Fajrina baru saja sampai rumah sakit, namun dirinya tiba-tiba di tabrak oleh gadis cantik berpakaian SMA itu .
"Maaf dokter, maaf aku tidak sengaja". Fajrina terseyum sambil mengangkat tubuh gadis itu. Gadis itu terseyum dan kembali berlari meninggalkan Fajrina. Namun Fajrina tak menyadari , jika ponselnya sudah tak ada lagi di dalam kantong jas kedokteran nya.
Di tempat lain, elang menatap Joyo
"Kau memecat ku ". Ia berteriak
"Iya, apa ada masalah?" . Joyo semakin kurang ajar, ia memukul meja kerja elang. Dan segara berjalan mendekati adik iparnya, namun Reza lebih dulu menghentikan nya. Reza berdiri menghalau Joyo.
"Jaga batasan mu, lebih baik kau mundur, atau aku akan lupa jika kau kakak ipar dari bos ku". Reza berdiri tanpa ekspresi.
"Minggir kau , kau hanya pelayan di sini, ". Joyo mendorong Reza.
"Aku peringatkan sekali lagi, jaga batasan mu". Reza menatap pria itu, elang yang tengah duduk di kursi kebesarannya terseyum menyaksikan mereka berdua.
"Beraninya kau, aku akan mengadukan mu pada ayah". Joyo mengarahkan telunjuknya ke arah elang kemudian dengan marah melangkah keluar dari ruangan itu.
"Pengecut". Reza berdesis .
"Biarkan saja".
"Untuk ku?" Ujar elang , tak lama kemudian sekertaris elang mesuj membawa sebuket bunga mawar untuk elang. Buckey bunga itu di terima Reza , kemudian di berikan pada elang.
"Iya, ini untuk mu ". Reza menyerahkan bunga itu, kemudian membuka note nya.
"Aku tunggu kau makan siang di rumah, aku ingin menjamu dirimu siang ini sayang". Elang bingung, untuk apa Fajrina menyuruhnya pulang, bukan kah ia sedang melakukan operasi. Kemudian ia mencoba menghubungi Fajrina. Namun tak di angkat.
"Aku akan pulang, kau tetap di sini". Elang berdiri, ia sudah tak sabar ingin bertemu Fajrina, ada apa dengan istrinya, mengapa ia terlihat sangat romantis sekali hari ini.
Dimobil Joyo menelepon Lusi.
"Bunga nya sudah sampai, kau masuklah, pin rumah itu adalah tanggal pernikahan elang dan Fajrina". Kemudian Joyo menyebutkan tanggal pernikahan mereka, dari mana Joyo tau, karna Fajrina mencatat nya di note ponsel milik nya. Ponsel Fajrina berada di tangan Joyo kini. Joyo terseyum , kali ini dia kan menang.
__ADS_1
Lusi memasuki apartemen elang, dengan cepat membuatkan kopi untuk elang, sebelumnya ia memasuk kan obat tidur di dalam nya, kemudian ia bersembunyi , di lemari baju.
Tak lama kemudian elang melangkah masuk ke apartemen nya, ia kembali menghubungi Fajrina, namun lagi-lagi Fajrina tak menjawabnya . Ia memasuki unit apartemen nya, di meja sudah terdapat secangkir kopi serta sepiring cake.
"Sayang". Elang berteriak, ia melihat kopi itu. Kopi masih mengeluarkan asap, tanda kopi baru saja di buat. Elang berjalan menuju meja, mengangkat cangkir itu kemudian meminum isinya.
Kemudian elang merebahkan dirinya di sofa, elang mendengar ada pergerakan di kamar, ia ingin bangkit, namun kepalanya terasa semakin berat. Ia tak bisa mengangkat tubuhnya. Ia kemudian mengedarkan pandangan nya ke arah pintu kamar, pintu itu terbuka, ia masih bisa melihat Lusi berdiri tanpa pakaian. Sebelum ia dapat mencerna apa yang terjadi, ia telah kehilangan kesaran nya.
Di rumah sakit, tanpa sengaja Fajrina memecahkan pigura foto nya ketika ia sedang makan malam bersama elang di Bali. Kacanya berserakan. Lalu perasaan nya menjadi tak enak.
"Ada apa ini". Fajrina memegang dadanya, degup jantungnya semakin kencang. Kemudian ia berlari ke arah tas nya, mencoba mencari ponselnya. Namun ia tak menemukan ponselnya di tas, kemudian ia merogoh saku jas nya, tak ada juga.
Perasaan Fajrina semakin tak karuan,
"Dokter, anda telah di tunggu di ruang oprasi". Ujar seorang perawat.
"Baiklah, aku akan ke sana.. hemm Silvi, boleh aku minta tolong". Silvi melihat ekspresi Fajrina, dokter cantik itu terlihat bingung.
"Apa itu dokter". Ujar Silvi.
"Baik dokter". Kemudian Fajrina berjalan meninggalkan kantor nya, perasaannya semakin tak karuan. Seandainya tak ada jadwal oprasi mungkin Fajrina akan berlari pulang, dan mencari atau apa yang terjadi
Fajrina memasuki ruang oprasi, di depannya telah terlelap seorang anak berusia 13 tahun, ia menderita tumor otak . Mereka mulai menjalani pembedahan yang cukup menegangkan. Fajrina sebisa mungkin berkonsentrasi dalam melakukan pembedahan kali ini. Pikirannya sejak awal terlah bercabang menjadi 2. Ia ingin agar oprasi kali itu cepat selesai, perasaan nya semakin tak menentu
di bantu Joyo ,Lusi mengangkat tubuh elang dan meletak kan nya di atas ranjang. Kemudian Lusi melepaskan semua pakaian elang, Joyo kebagian mencuci bekas kopi yang telah di campur obat tidur.
Lusi menelan salivanya saat menatap tubuh elang, kemudian perlahan membelai tubuh pria itu. Elang tak merespon.
"Mengapa kau tak memasuk kan obat perangsang saja, alih-alih kau malah memberinya obat tidur". Joyo menyindir Lusi
"Apa maksudmu?". Lusi berdiri kemudian mendekati Joyo, apa kau cemburu sayang. Lusi kemudian mencium bibir joyo.
"Ya aku cemburu". Kemudian Joyo mengangkat tubuh Lusi dan merebahkan nya di sofa.
__ADS_1
"Jadi , mari kita mulai.. aku sudah bilang, aku tak mau bercinta denga elang, jadi mari bercinta dengan ku". Lusi menarik Joyo. Joyo dengan senang hati memuaskan Lusi.
Oprasi telah selesai, Fajrina langsung meminta izin agar dia bisa langsung pulang , namun sebelum itu Fajrina berkunjung ke kantor elang terlebih dahulu.
"Elang sudah pulang, dan bukan kah kau yang menyuruhnya pulang ". Reza menyerahkan bouket mawar itu ke Fajrina.
Fajrina membaca note yang tertulis di sana.
"Ini, bukan dari Ku.. ".
Reza menatap heran,
"Kau bisa menelepon nya". Ujar Reza
"Ponselku hilang, aku tak tau ponselku ada di mana". Fajrina panik.
"bagaimana bisa". otak Reza bekerja . ia tau akhirnya Joyo telah menjalan kan rencananya. Reza menatap Fajrina yang kebingungan mencari ponselnya.
"Mari nyonya ,aku akan mengantarmu".Reza berlari di ikuti Fajrina. Dengan kecepatan penuh Reza mengendarai mobil Fajrina.
Melihat mobil Fajrina memasuki parkiran apartemen, Joyo langsung menghubungi Lusi.
"Mereka naik, bersiap lah". Joyo yang sejak tadi bersembunyi di dalam mobil langsung menunduk kan kepalanya agar merak tak tau akan kehadiran dirinya.
Lusi berlari menaiki ranjang, ia menarik lengan elang agar melingkar di pinggangnya. Kemudian ia menutup tubuhnya dengan selimut.
Pintu apartemen terbuka, betapa terkejutnya Fajrina ketika mendapati pakaian elang berserakan di sana, bukan itu saja, terdapat underwear wanita teronggok di atas meja .
Tubub Fajrina gemetaran,
"Nyonya , ayo". Reza memberi isyarat pada Fajrina. Dengan perlahan mereka menaiki tangga.
Fajrina terdiam di depan pintu kamarnya, ia menarik nafas , kemudian perlahan membuka pintu itu.
__ADS_1
Matanya terbelalak.