
"apa dia akan baik-baik saja". Ujar Fajrina. Ia menatap Lusi yang masih tak sadarkan diri.
"Untuk itu aku tak tau sayang, aku saja bingung melihat keadaan nya kemarin".
"Apa kau melakukan kesalahan?". Fajrina menyentuh jemari Lusi.
"Tidak, seperti yang aku ceritakan padamu, aku datang , memberikan dia ice cream, kemudian dia tertawa, menangis dan mulai melempar segala benda yang bisa ia ambil untuk melemparkan nya ke arah ku".
"Tapi menurut keterangan dokter tadi, ia bilang kemungkinan besar Lusi merasa tertekan belakangan ini, apa kau tak curiga pada Joyo".
"Untuk itu aku juga tidak tau". Elang menghembuskan nafas nya.
"Kenapa dia bisa seperti itu, apa tidak sebaiknya kita selidiki Tentang apa yang terjadi dengan dia, jika di biarkan, bagaiaman dengan bayi nya nanti". Fajrina kemudian mengalihkan pandangan nya ke arah elang.
"Aku akan ke apartemen nya, kau jagalah dia dulu, aku akan segera kembali". Elang mencium kening Fajrina dan kemudian berjalan cepat meninggalkan rumah sakit itu.
Elang sampai di apartemen Lusi, ia mencari keberadaan ponselnya terlebih dahulu. Kemudian perlahan elang mencari petunjuk tentang Lusi. Elang kemudian berjalan ke arah lemari pakaian dan membukanya. Di sana banyak tersimpan berkas dan file.
Elang membaca file itu satu persatu. Bukan file yang penting bagi elang, namun file terakhir yang ia temukan sukses membuat dirinya terpaku. Ia sangat terkejut setelah membaca isi file itu.
"Tidak mungkin"..
--
"Elang.". Pemuda itu mengangkat tangan nya berharap jika gadis cantik di depan nya mau berkenalan dengan nya. Gadis cantik itu tak bergeming , ia malah menatap mata elang .
"Aku tak berminat berkenalan dengan mu, minggir". Ujar nya.
__ADS_1
"Kenapa?, Aku bukan orang jahat". Elang kemudian berjalan mengejar gadis itu.
"Lalu jika kau bukan orang jahat, mengapa kau terus saja mengikuti ku".
"Aku hanya ingin tau namamu". Elang tak menyerah.
"Lusi,.. namaku lusi". Elang terseyum, kemudian Lusi melanjutkan langkah kakinya. Sebenarnya Lusi juga sudah sejak lama menyukai elang, siapa yang tak kenal elang pemuda dengan banyak prestasi juga kaya raya. Circle pertemanan nya juga tak main-main. Elang bahkan bersahabat dengan atlet basket juga model iklan internasional.
Hendrik dan cyntia adalah sahabat elanga sejak masih duduk di sekolah lanjutan atas. Jadi untuk Lusi bukan hal yang mudah untuk memasuki dunia elang. Namun betapa beruntung nya ia , sekarang malah elang yang terkesan mengejarnya.
Lusi, gadis cantik berambut pirang dan bermata abu-abu itu lahir dari orang tua yang berbeda kebangsaan. Ayahnya berdarah Jawa asli, sedangkan ibunya warga negara Australia. Ia sangat cantik juga manis. Rambut pirang alaminya memberikan nilai plus pada dirinya.
Setelah perkenalan itu elang dan Lusi semakin sering bersama. Elang sangat bangga karna telah memacari lusi. Sebenarnya bukan rahasia umum, sangat banyak pria yang menghadap kan cinta Lusi. Gadis itu sangat istimewa, namun Lusi menolak semua pria itu. Maka sudah sepatutnya elang bangga.
"Ayo bertemu dengan ayah dan bunda ku". Elang membelai rambut Lusi.
"Bersiaplah ". Ujar elang sambil melepaskan rangkulan nya pada Lusi. Gadis itu mengangkat kepalanya kemudian mencium elang mesra. Elang sangat menikmati ciuman itu. Lusi meraba dada elang , ia menyentuh sesuatu yang seharusnya tak boleh di sentuh. Elang seperti di hipnotis Lusi, bahkan elang membiarkan jemari gadis itu bermain-main di bawah sana.
Elang menyandarkan punggungnya. Tubuhnya terasa melayang , beberapa ******* mulai keluar dari mulutnya, ia tak bisa mengendalikan itu. Elang langsung menarik tubuh Lusi hingga terduduk di pangkuan nya. Ia menarik nafasnya.
"Hentikan, aku mohon". Ujar elang sambil mencium bibir Lusi.
"Kau bilang hentikan, tapi kau malah mencium ku". Lusi kemudian berdiri dari pangkuan elang, dan elang hampir saja kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Ia mencoba menutup kembali resleting nya
"Untung saja". Ujar elang sambil mengusap keringat yang bercucuran di keningnya. Ya, Lusi memang sangat menggoda, bentuk tubuhnya yang indah dan aset nya yang bisa di bilang besar itu selalu mengundang hasrat elang untuk menyentuhnya .namun elang tak mau melakukan itu, bagaiaman pun elang bukan pria brengsek yang senang bermain-main dengan semua gadis.
Elang masih tenggelam dalam lamunan nya, ketika Lusi berjalan ke arahnya, gadis itu mengenakan pakaian formal , dan benar saja pakaian apapun yang di kenakan nya selalu memberi nilai plus pada nya.
__ADS_1
"Sayang, jika aku memintamu mu untuk menikah dengan ku, apa kau mau?". Elang bertanya pada Lusi, gadis itu kemudian memandang elang.
"Aku tak ingin menikah sekarang elang, aku akan melanjutkan kuliah S2 ku di Australia, ibu ku meminta agar aku melanjutkan S2 ku di sana". Lusi berkata dengan sangat tenang. Elang sebenarnya kecewa, namun ia juga tak bisa memaksakan kehendaknya pada Lusi
Elang menggandeng jemari Lusi memasuki rumah orang tua nya, agung dan Cindy sedang menikmati teh malam itu.
Cindy memandang Lusi tak suka. Gadis itu terlihat sangat sombong juga angkuh. Sejak perkenalan pertama itu, agung dan Cindy terang-terangan menolak Lusi.
"Kenapa ayah, dia wanita baik-baik". Elang mencoba meyakin kan ayahnya.
"Benarkah?, Tapi ayah tak suka kau menjalin hubungan dengan nya elang, kau harus tau apa yang telah ayah putuskan adalah yang terbaik untuk mu, juga masa depan mu, dan gadis itu, ia tak pantas untuk mu".
Elang merasa kecewa, ia bingung mengapa orang tuanya sangat tidak menyukai sang kekasih.
"Aku berangkat besok siang, aku harap kau mengerti elang". Lusi menatap mata pria itu, elang merasa tak rela melepaskan Lusi.
"Tolong jangan tinggalkan aku". Elang memohon, namun permohonan nya tak kan membuat Lusi mengurungkan niatnya untuk melanjutkan studi nya di Australia.
"Tidak bisa, ibu ku sudah mendaftarkan ku di salah satu kampus ternama di sana". Lusi membelai wajah elang kemudian mencium bibir elang lembut. Elang memeluk gadis itu, ia merasa tak rela dan tak sanggup jika harus berpisah dengan gadis yang sangat ia cintai itu.
Hari itu adalah hari terakhir elang bertemu dengan Lusi, Lusi memutuskan komunikasinya dengan elang.
Elang membawa berkas yang ia temukan ke rumah sakit, mungkin itu bisa membatu pengobatan lusi.
Fajrina masih setia menjaga Lusi, ia sebenarnya tak tega melihat keadaan gadis itu, namun ia kembali membenci Lusi ketika ia mengingat betapa berani nya Lusi menjebak suaminya.
"Sayang". Elang menepuk pundak Fajrina
__ADS_1
"Kau sudah kembali, apa yang kau dapatkan". Elang kemudian memberikan berkas-berkas itu kepada Fajrina. Fajrina membaca laporan kesehatan Lusi dengan seksama. Mata nya melebar sempurna, tanpa sadar ia menutup mulut dengan telapak tangan nya. Kemudian menatap elang.