
Elang menatap Hendrik, kedua sahabat itu akhirnya bertemu kembali setelah insiden saling pukul di club' waktu itu.
"Kau mau apa?". Ujar elang
"Ada yang ingin aku bicarakan". Hendrik berjalan kemudian menduduki dirinya di atas sofa di sebrang elang
"Tentang istriku ?" .
"Ya, tentang istrimu". Elang langsung menatap Hendrik, mata nya penuh dengan amarah yang kapan pun bisa meledak
"Apa lagi, apa kau berencana merebut istriku, jangan mimpi". Elang terseyum sini , namun Hendrik malah tertawa
"Aku akan menunggu Fajrina bercerai darimu, aku bukan pria murahan yang merebut wanita dan suaminya, aku bukan orang seperti itu, tenang lah". Elang makin tak sabar, kemudian dia berdiri
"Aku tak kan menceraikan nya , apapun yang terjadi".
"Bagus jika seperti itu"
"Lalu apa tujuanmu mendatangiku"
"Memberikan mu peringatan ". Hendrik berdiri, kini kedua pria itu saling berhadapan.
"Peringatan apa yang kau maksud".
"Lusi mendatangi ku seminggu yang lalu, ia meminta ku bekerjasama dengan nya untuk menjebak istrimu". Ujar Hendrik sambil terus menatap elang
"Apa kau pikir aku mempercayaimu, Lusi bukan wanita seperti itu, aku tau siapa dia". Elang mencoba membela Lusi, karna ia sangat mengenal Lusi
Lusi adalah gadi yang sangat lugu, ia sangat mencintai elang. Gadis itu rela melakukan apapun agar elang terus bersamanya, kesalahan Lusi hanya satu,ia menolak cinta elang dan pergi ke luar negri untuk melanjutkan study nya.
"Rupanya kau masih belum bisa move on dari Lusi, kasihan sekali dokter Fajrina". Hendrik mencemooh elang
"Jaga mulut mu, ". Elang maju selangkah
"Apa aku salah? Aku jelas-jelas memberitahukan peringatan ini padamu, kau malah lebih percaya mantan pacar mu, yang bener saja". Hendrik terkekeh
Perkataan Hendrik sangat benar, namun rencana seperti apa yang sedang Lusi susun. Dan apa benar Fajrina sebagai targetnya
"Apa targetnya adalah istriku". Elang bertanya, ia mulai meredam amarahnya
__ADS_1
"Iya, targetnya istrimu". Elang berbalik berjalan kembali ke arah mejanya
"Apa yang akan dia lakukan ". Ujar elang.
"Aku tak tau , pesan ku hanya satu elang, jangan sampai nama baik Fajrina tercoreng hanya karena perempuan itu". Elang terdiam, ia masih berfikir dengan keras. Mengapa Lusi bisa sejahat itu.
"Aku tau itu". Elang mengalihkan pandangan nya ke arah Hendrik.
"Aku pergi dulu, tugasmu sekarang adalah melindungi Fajrina, semoga kau tak membuat aku kecewa , jika kau tak bisa melindungi nya, maka aku lah yang akan melakukan itu". Hendrik berbalik kemudian melangkah pergi dari ruangan elang .
--
Fajrina terseyum ketika direktur rumah sakit mau menerimanya kembali
"Selamat bergabung kembali, dokter Fajrina". Ujar nya. Fajrina terseyum. Baru saja ia menerima pekerjaan nya kembali, ia di kagetkan oleh teriakan salah satu perawat
"Dokter, ada pasien terluka dengan pisau menancap di dadanya". Dengan cepat Fajrina berlari menyusuri koridor rumah sakit. Kemudia memasuki ruang operasi. Pisau itu menancap di dada kiri pria itu, namun sepertinya tak mengenai jantung. Itulah mengapa pria itu masih bisa hidup
Aku minta hasil CT scan nya sekarang. Kemudian seorang perawat memberikan nya ke pada Fajrina.
"Pisau itu tak mengenai jantungnya dokter , hanya sedikit saja tersenggol, maka pisau itu akan mengiris sudut cantung nya". Dokter junior memperlihatkan posisi pisau.
Semua dokter dan perawat sangat kagum pada Fajrina, dokter itu sangat cekatan dalam melakukan operasi, dan selama ini dia tak pernah gagal. Tak ada seorang pun pasien yang mati di tangan nya. Dengan perlahan Fajrina menarik pisau itu. Kemudian mulai menjahitnya.
"Aku melepas cadarku". Ujar Fajrina, ia s Edang berbicara melatawi sambungan telepon dengan elang
"Tak mengapa". Jawab elang
"Tadi sungguh sangat sulit, aku membukanya karna aku tak mau kehilangan nyawa pria itu, pandangan ku sedikit sulit. Aku tak leluasa , kau tau maksudku kan". Elang menghela nafas.
"Aku paham sayang, aku sangat paham. Pekerjaan mu sebagai dokter bedah, akan sangat sulit bergerak dengan pakaian itu, sebenarnya aku sangat menyukainya , namun tuntutan pekerjaan mu yang menyelamatkan nyawa orang lain, membuat ruang gerak mu menjadi terbatas, kau boleh kembali mengenakan pakaian lamamu, karna aku tau, banyak nyawa yang harus kau selamatkan". Elang mencoba menjadi lebih dewasa. Lagipula elang tau mau Fajrina memakai cadar hanya untuk menyenangkan nya.
"Terimakasih atas pengertian nya sayang". Ujar Fajrina. Panggilang sayang dari istrinya membuat elang tak bisa berkata apa-apa.
"Akhirnya kau mengatakan itu". Elang terseyum
"Apa?" Tanya Fajrina di ujung sambungan teleponnya
"Sayang". Fajrina tertegun, apa barusan ia mengatakan sayang. Kemudian dengan cepat pipinya memerah.
__ADS_1
"Aku . Aku tutup dulu telepon nya, aku akan pulang tepat waktu, assalamualaikum ".
"Waalaikumsalam ". Mendengar jawaban dari elang Fajrina langsung menutup sambungan teleponnya.
Elang terseyum , hanya kata-kata cinta yang belum elang dengar. Ia bertekad bahwa malam ini Fajrina harus mengakui bahwa ia mencintai elang
Fajrina menghela nafas nya , ia sangat lelah operasi yang barusan menguras semua tenaganya. kemudian ia bersandar pada dinding rumah sakit.
"apa kau lelah ". Hendrik memberikan segelas coklat dingin pada fajrina. Fajrina yang kaget melihat kedatangan Hendrik hanya bisa terdiam
Hendrik menyodorkan coklat hangat itu. kemudian Fajrina menerimanya
"ada apa_. ". Fajrina menatap Hendrik
"ada yang ingin aku bicarakan, ini sangat penting."
"soal apa?". Fajrina menatap Hendrik tajam, ia tak mau ada kesalah pahaman antara dia dengan elang lagi
"ini soal Lusi". fajrina terseyum kemudian menatap coklat hangat yang kini tengah berada di tangannya
"Lusi, wanita itu". ujar Fajrina. kemudian Fajrina berjalan , Hendrik mengikuti arah langkah kaki Fajrina
mereka berbicara di kantin rumah sakit, dan pertemuan mereka kembali menjadi tontonan dan perbincangan.
"aku berharap kau lebih hati-hati.. aku tak mau dia mencoreng nama baikmu, dan juga.. elang". sebenarnya Hendrik masih sangat menyayangi sahabatnya itu. ia bahkan tak rela nama baik elang rusak begitu saja. namun karna rasa egois yang tinggi membuat Hendrik tak mau mengakui itu.
"aku tau, sejak awal aku sudah merasakan hal itu, ". Fajrina menatap Hendrik
"mengapa kau melakukan ini?" Fajrina bertanya, dan pertanyaan nya sukses membuat Hendrik kehilangan kata-kata
"aku hanya tak ingin Lusi menghancurkan nama baikmu, kau kan tau, kau adalah idolaku". Hendrik cengengesan
"Hendrik, kau masih menganggap suamiku sahabatmu, sebenarnya kau sedang melindungi harga diri suami ku, bukan aku". dalam sekejap Henrik terdiam.
"sangat susah membohongi mu, tapi dokter dengan sangat jujur, aku mengakui bahwa aku mencintaimu". kata-kata Hendrik yang barusan membuat para gadis menutup mulut mereka
Fajrina terseyum
"aku istri sahabatmu".
__ADS_1