
Pihak kepolisian tengah mencari keberadaan Joyo, elang sudah melaporkan segala tindak kejahatan yang di lakukan Joyo. Sedangkan Lusi sudah kembali ke apartemennya , usia kandungan nya sudah mencapai 3 bulan, selama itu Joyo belum juga datang ke kediaman Lusi. Gadis itu sebenarnya sangat merindukan Joyo, entah mengapa Joyo bisa dengan mudah nya mendapatkan cinta dari Lusi.
Lusi tengah menonton tv ketika pintu apartemen nya di ketuk dari luar, ia berjalan perlahan mendekati pintu. Ia membuka pintu itu, namun bukan Joyo yang datang, melainkan Hendrik.
Hendrik terseyum pada Lusi, namun Lusi tak bergeming, ia berjalan ke arah sofa dan kembali merebahkan dirinya di sana.
"Kenapa kau kemari?". Ujar Lusi.
"Aku hanya ingin bertemu dengan mu, aku ingin membicarakan soal kehamilan mu Lusi". Lusi menatap Hendrik dengan tatapan mata penuh dengan kecurigaan.
"Sepertinya tak ada yang harus di bicarakan". Ujar Lusi.
"Dengarkan aku Lusi, sebentar saja.
"Apa kau ingin merayuku Hendrik, aku adalah calon suami sahabatmu". Lusi merasa tak suka jika ada orang lain yang mempertanyakan soal kehamilan nya.
"Aku tidak ada niat untuk merayu mu Lusi, aku hanya ingin menawarkan kau sesuatu, kemudian Hendrik menyerahkan uang serta cek bernilai fantastis pada Lusi.
"Apa maumu sebenarnya" Lusi melihat tak senang ke arah Hendrik.
"Katakan sebenarnya siapa ayah anak yang kau kandung, aku akan memberikan apapun yang kau ingin kan". Namun bukannya mejawab Lusi malah tertawa keras.
"Kau pikir uang mu bisa kau tukar dengan harta kekayaan elang, aku tidak bodoh Hendrik". Ujar Lusi
"Aku tau, makanya kau sengaja menjebak elang dan memaksanya menikahimu, sedangkan kau pasti tau anak siapa yang ada di dalam perutmu". Hendrik menyeringai
"Apa maksudmu, sudah pasti ini anak elang". Lusi berkata sambil memukul meja yang terletak di hadapannya.
"Ayolah Lusi, aku tau hubungan mu dengan Joyo, dan apa kau lupa kita pernah menghabiskan malam bersama". Hendrik terseyum menyeringai.
__ADS_1
"Aku tidak punya hubungan apapun dengan Joyo, kau jangan asal Hendrik". Lusi mulai merasa tak tenang, ia terlihat sangat khawatir.
"Lusi, aku melihat mu bercinta dengan Joyo 4 bulan yang lalu, di sini di ruang tamu ini, sepertinya Joyo lupa menutup pintu ketika ia mulai mencumbu mu, dan kebetulan tetangga sebelah mu adalah teman se team ku". Ucapan Hendrik yang barusan tepat sasaran. Lusi terlihat semakin panik.
"Kau hanya sedang berkhayal Hendrik". Lusi bangun dari tempatnya duduk. Ia mulai merasa gelisah, ia kemudian mencari obat-obatan nya. Ia tak mau di bawa lagi ke rumah sakit jiwa, jadi dia harus meminum beberapa obat penenang agar emosinya bisa di kendalikan.
"Tidak , apa kau mau melihat buktinya". Ujar Hendrik, padahal ia tak memiliki bukti apapun.
"Aku tak mau bicara dengan mu, lebih baik kau keluar dari rumah ku". Lusi meneriaki Hendrik.
"Ah sayang sekali Lusi, aku bahkan punya rekaman ketika kau dan Joyo masuk ke apartemen elang sambil berciuman.
Lusi mati kutu, dari mana Hendrik mengetahui itu semua. Lusi menatap mata Hendrik.
"Kami akan tetap melangsungkan pernikahan Minggu depan, kata-kata mu yang barusan tak kan menyurutkan tekad ku untuk menikahi elang, meskipun anak ini bukan anak elang, namun kalian bisa apa?? ". Hendrik tersenyum, ia berhasil merekam pengakuan Lusi.
Hendrik benar, yoga sudah menjadi buronan pihak kepolisian. Itu mengapa Joyo tak juga mendatangi apartemen Lusi. Lusi berjalan ke arah sofa, ia sedang hamil namun ia begitu mendamba sentuhan joyo.
Kemudian ia menangis meraba perutnya , sebentar lagi adalah hari pernikahan nya dengan elang, namun ia tau elang tak kan mau menerimanya. Hidupnya akan tersiksa sebagai seorang istri, ia bahkan tak di perboleh kan bercinta dengan elang sebelum bayi yang ia kandung lahir.
Malang sekali, Lusi berfikir untuk lari saja, namun ia tak bisa melakukan itu. Joyo sangat menginginkan perusahaan elang, jadi Lusi harus membantunya sampai semua nya bisa terwuju.
Pintu kembali di ketuk, ia bangkit dan berjalan ke arah pintu, kini yang datang adalah Fajrina. Ia membawa beberapa paperbag.
Lusi berjalan lemas ke arah sofa dan Fajriana mengikutinya.
"Ini untuk mu, kau bisa mencobanya sekarang". Fajrina menyerahkan papaer bag berwarna hitam ke arah Lusi, wanita itu membuka nya dan ternyata isinya sebuah kebaya putih yang cantik
"Terimakasih". Kata Lusi.
__ADS_1
Lusi masuk ke kamarnya, kemudian kembali dan telah mengenakan kebaya itu, ia sangat cantik, meskipun perutnya sudah mulai membuncit.
"Malam sebelum akad aku akan menjemputmu". Fajrina kemudian berjalan meninggalkan apartemen Lusi. Lusi tertawa , akhirnya ia bisa menguasai elang. Lusi tak kan membiarkan elang begitu saja, dia tak kan menedegarkan perinta dari Fajrina.
"Kau telah merelakan suami mu, maka jangan menyesal". Lusi terseyum simpul, kemudian berkhayal bahwa ia bisa melewati malam-malam indah bersama elang.
Di tempat lain ,elang berulang kali mendengar rekaman percakapan antara Lusi dan Hendrik. Pria itu langsung menghembuskan nafasnya, ia sangat lega.
"Akhirnya aku memiliki bukti, namun aku akan tetap menikahinya nama keluarga ku sudah tercoreng dengan kejahatan Joyo, kini aku tak mau nama keluarga ku kembali tercoreng jika Lusi menyebarkan masalah kehamilan nya". Elang melonggarkan dasinya
"Yang penting Fajrina tau bahwa anak itu bukan milik mu". Hendrik menepuk pundak elang.
"Terimakasih ". Elang terseyum.
Fajrina berjalan ke arah ruangan Hendrik, entah mengapa Fajrina merasa sedih saat itu. Wajahnya selalu tertunduk, kemudian matanya berembun. Tangan nya gemetaran karena membawa paperbags berwarna coklat itu. Bagaimana tidak, isinya adalah pakaian untuk di pakai di hari akad elang dengan Lusi.
Ia menghentikan langkah kakinya, kemudian mengangkat kepalanya, ia menatap Jessy yang tengah berdiri di hadapan nya. Ia kaget melihat penampilang Jessy, gadis itu berhijab kini. Fajrina tersemyum
"Tuan elang ada di dalam nyonya, silahkan masuk". Jessy sangat cantik, sepertinya ia lebih cocok mengenakan hijab dan pakaian tertutup begitu. Jessy semakin terlihat elegan
"Terimakasih". Fajrina kembali melangkah ke Arah pintu ruangan elang, namun ia berhenti tepat di samping Jessy.
"Kau sangat cantik dan elegan , pertahan kan". Fajrina kembali melangkah, dari belakang Fajrina dapat mendengar dengan jelas ucapan Jessy.
"Terimakasih nyonya, semua ini berkat dirimu".
sang Yonya Presdir tersenyum , ia merasa bangga karna ia bisa merubah kebiasaan seseorang. dan kini penampilan Jessy menjadi jauh lebih baik.
"pertahan kan Jessy, aku bangga padamu"
__ADS_1