DI BALIK HIJAB ITU

DI BALIK HIJAB ITU
DIA AKAN MENDERITA


__ADS_3

"dokter Fajrina". Fajrina yang sedang menikmati sarapan nya langsung menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ia terseyum melihat Vivian berdiri di sana, namun ia juga terkejut melihat gadis cantik yang berdiri di samping dokter Vivian.


"Apa kah ini putrimu dokter?". Fajrina bertanya ketika mereka bertemu di kantin rumah sakit.


"Ah, iya ini putri ku.. namanya permata ". Vivian terseyum.


"Ah, dia sangat cantik". Ujar Fajrina. Fajrina merasa bahwa wajah anak itu begitu familiar , sehingga ia merasa bahwa ia pernah bertemu dengan gadis kecil itu sebelumnya.


"Terimakasih". Vivian terseyum mendapatkan pujian itu dari Fajrina .


"Berapa usianya , dia sangat menggemaskan ". Fajrina membelai pipi lembut gadis itu.


"6 tahun, kau kenapa ada di sini dokter fajrina, apa tak ada jadwal oprasi ?". Vivian berkata sambil menyuapi anaknya sarapan.


"Siang nanti". Ujar Fajrina, Fajrin belum bisa mengalihkan pandangan nya dari ibu dan anak itu. Gadis kecil itu mengingatkan Fajrina dengan seseorang tapi ia tak ingat siapa orang itu.


Vivian adalah dokter baru di rumah sakit itu, namun meski begitu ia sudah sangat dekat dengan Fajrina. Vivian berasal dari salah satu kota di Jawa tengah, usianya lebih tua 5 tahun dari Fajrina, namun ia masih begitu cantik.


Wanita itu tetap cantik meski tanpa polesan apapun di wajahnya, ia sangat ayu dan memiliki wajah yang ayu khas Jawa tengah. Cara berbicaranya lembut, dan dia juga sangat sederhana.


"Aku juga ingin secepatnya memiliki anak". Fajrina terseyum.


"Kau akan mendapatkan nya ". Ujar Vivian


"Lalu bagaimana dengan ayahnya ?".


"Suamiku bekerja di luar kota, jadi kami jarang sekali bertemu". Fajrina kembali terseyum.


"Jika begitu, aku permisi dahulu". Ujar Fajrina. Namun sebelum Fajrina benar-benar meninggalkan Vivian ia terlebih dahulu mengambil gambar gadis kecil itu dengan ponselnya.


Fajrina berjalan ke arah pusat pendataan karyawan rumah sakit. Ia meminta berkas-berkas dokter Vivian. Di sana tidak tertera siapa nama suami Vivian. Fajrina berfikir sejenak, kemudian dia ingat foto anak kecil yang bersama Joyo tempo hari.


Fajrina kemudian membuka galeri ponselnya. Dan ternyata benar, anak itu anak yang sama.


"Apakah anak itu anak Joyo dengan dokter Vivian". Fajrina berfikir kembali , namun untuk mengetahui hal itu Fajrina harus mulai mendekati Vivian.


Dan lagi , jika kamer itu tak di temukan di rumah Lusi dan rumah mertuanya ,sudah bisa di pastikan kamera itu berada di rumah Vivian.


Fajrina kembali ke kantin, dan ia bersyukur Vivian masih berada di sana. Ia menatap Vivian dan putrinya.


"Kalian belum selesai sarapan ". Ujar Fajrina berbasa-basi.


"Sebentar lagi". Kata Vivian , namun sebelum mereka melanjutkan pembicaraan mereka seorang perawat terburu-buru berlari mendekati Vivian.

__ADS_1


"Dokter , ada pasien yang harus di tangani, sepertinya akan lahir secara prematur". Vivian langsung berdiri, namun ia bingung , siapa yang akan menjaga anaknya.


Fajrina mengambil kesempatan itu.


"Biar aku yang menjaganya ". Fajrina menawarkan diri, vivian terseyum kemudian berlari meninggal kan Fajrina dan permata.


Fajrina terseyum. Kemudian perlahan tapi pasti, Fajrina mendekati gadis kecil itu.


"Hi permata ". Fajrina mengapa, gadis kecil itu terseyum.


"Hi Tante". Ujarnya.


"Setelah makan apa kau mau ikut bersama ku". Permata menatap Fajrina tanpa curiga.


"Baik". Ujarnya, Fajrina kembali terseyum. Kemudian ia menghubungi elang, meminta suaminya datang.


"Kau lihat, ini anak yang sama". Fajrina memperlihatkan foto itu pada elang dan Reza.


"Kau benar". Ujar elang, ia kemudian mendekati gadis kecil itu.


"Jangan terlalu memaksa". Bisik Fajrina


"Hai, siapa namamu?". Elang mulai melancarkan rencananya.


"Permata, siapa nama ayahmu". Permata memilih untuk tak menjawab, karna elang sangat mencurigakan.


"Hah, kau sangat payah". Ujar Reza, Reza menarik elang kemudian ia mensejajarkan tubuhnya dengan gadis kecil itu. Ia mengeluarkan permen lollipop yang memang selalu ia bawa.


"Apa kau mau?". Reza bertanya sambil membuka bungkus permen itu ,dan menyerahkan nya pada permata


"Ah kau payah dalam hal merayu" . Fajrina meremehkan kemampuan elang


"Apa kau yakin,jika aku payah dalam hal merayu, kau istriku yang cantik dan pintar tak kan jatuh ke pelukan ku". Elang melengos, ia terlihat marah. Namun Fajrina tak memperdulikan nya, ia sedang fokus ke arah Reza.


"Jadi,sekarang kita berteman bukan". Reza terseyum, pun anak itu.


"Om , namamu siapa?". Ujar permata .


"Aku Mike". Reza sengaja menyamarkan namanya, anak seusia permata sangat lah jujur, ia tak mau Joyo tau jika mereka sudah mendapatkan petunjuk baru


"Hi Mike aku permata, ibuku bernama Vivian , dan ayahku bernama Joyo". Mendengar kata-kata gadis itu, membuat elang dan Fajrina saling tatap, pun Reza


"Ternyata benar". Elang menutup matanya,

__ADS_1


Setelah itu Fajrina menyuruh elang dan Reza pergi sebelum Vivian menyelesaikan pekerjaan nya.


Fajrina terdiam, ia berfikir bahwa , Joyo sangat lah pintar, ia menyembunyikan semua ini dari keluarga Manggala selama bertahun-tahun.


"Apakah Vivian tau soal ini". Ujar Fajrina dalam hati sambil memandang wajah gadis cantik itu, tak lama kemudian dokter Vivian memasuki ruangan Fajrina


"Terimakasih kau sudah menjaganya Fajrina ". Ujar Vivian.


"Tak masalah, jika tak keberatan aku akan mengantarmu pulang, aku kasihan jika kau menggunakan angkutan umum sedangkan kau membawa permata bersama mu". Vivian merasa niat Fajrina sangat tulus, sehingga dia bersedia.


Fajrin terseyum.


Joyo baru kembali ke kediaman Manggala.


Cindy yang sudah mengetahui segalanya mencoba untuk menahan amarahnya.


"Bunda". Ujar Joyo , kemudian Cindy menatap pria tidak tau diri itu


"Ada apa". Cindy mencoba untuk terseyum ,


"Apa dini tidak pernah meninggalkan rumah ". Joyo tersenyum sambil menatap kedua mertuanya.


"Memang kenapa?". Kata agung


"Ya, aku hanya takut saja jika ia akan membuat kalian marah". Agung mengepalkan tangan nya, dan menghela nafas panjang .


"Kau tak perlu takut". Agung kemudian menatap Cindy, dan memegang telapak tangan istrinya dengan erat, mencoba menenangkan wanita itu.


"Baiklah ayah, jika begitu aku tenang sekarang, aku permisi ". Joyo kemudian berjalan menaiki tangga, dini yang sudah sejak tadi menahan amarahnya langsung menepis tangan agung.


"Kau bereskan pria itu, jangan sampai aku yang turun tangan". Dini mengapa marah agung, kemudian berjalan meninggalkan suaminya.


"Apa maksudmu, kau harus bersabar dulu". Agung mengejar Cindy.


"jika kau tak bisa menangani nya maka aku yang akan menangani dia". Cindy menatap suaminya.


"kau jangan gegabah, elang belum menemukan kamera yang Joyo gunakan, apa kau belum mengerti juga!". agung sedikit menaikan nada suaranya


"jika begitu cepatlah, aku tak punya banyak waktu untuk menunggu". kemudian Cindy melangkah meninggalkan agung.


"apa yang akan kau lakukan".agung memandang punggung putrinya.


"Akan aku membuat hidupnya menderita karna dia sudah membuat putriku menderita".

__ADS_1


__ADS_2