Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Kekecewaan Endru


__ADS_3

"Aku ngerasa dejavu tau, Ran." ucap laki-laki tersebut sambil menyerahkan sebotol air mineral.


Mendengar perkataan laki-laki di sampingnya, Rani yang sedang bersedih tiba-tiba disuruh untuk berfikir. "Dejavu, kenapa?"


Endru nampak tersenyum. "Ya dejavu, sudah kedua kalinya aku menemani kamu duduk di taman seperti ini. Dalam keadaan yang sama, kamu menangis karena disakiti pacar kamu dan aku ada untuk menghibur kamu. Dan aku tidak ingkar sama janjiku Ran, aku selalu ada disaat kamu membutuhkanku."


"Iya, maaf. Aku cuma bisa ngerepotin kamu, Ndru."


"Aku seneng kok, bisa bantu kamu. Hm, menurut kamu definisi laki-laki yang baik itu seperti apa?"


Rani nampak berfikir sebentar. "Hm, laki-laki yang baik itu, dia yang taat terhadap Tuhannya, yang berperilaku baik, yang selalu memuliakan wanita termasuk ibunya." jawab perempuan tersebut dengan tersenyum seolah membayangkan jika kelak dia akan menemukan laki-laki seperti yang ia sebutkan tadi.


"Sempurna tanpa cacat, sayangnya sekarang sulit sekali menemukan laki-laki tanpa cela, Ran. Kamu harus lebih berhati-hati, karena bisa saja mereka berpura-pura baik saat di depanmu saja, dibelakang sama busuknya." ucapnya, kemudian meminum air mineral di tangannya.


"Maksud kamu apa, Ndru? Kamu lagi nyindir tentang Bimo?" Rani sedikit tersinggung dengan ucapan laki-laki di sampingnya itu.


Endru mengendikkan bahunya, "Mungkin saja, terserah kamu mau menafsirkan seperti apa ucapanku tadi. Tapi memang benarkan, Bimo yang katanya pacarmu malah berduaan bersama dengan wanita lain?"


"Wanita itu cuman sahabatnya!" elak Rani.


"Lucu sekali, Ran. Kamu bilang jika mereka hanya sahabat. Tapi, mata kamu mengatakan segalanya. Kamu cemburu, kamu sakit dengan perlakuan Bimo kan?" Rani hanya diam.


"Setelah kejadian yang berulang ini, kamu yang tersakiti, apakah perasaan cintamu masih sama ke Bimo?" Endru menatap Rani penuh selidik.


Endru hanya ingin memastikan sekali lagi. Ia tidak ingin berharap pada manusia yang bisanya hanya menyakiti. Dan yah, kini ia berdiri sendiri tanpa harapan itu lagi. Kenapa? Karena takdir tak akan pernah lari.

__ADS_1


Rani balas menatap Endru, ia terkejut dengan pertanyaan laki-laki itu.


"Bukan apa-apa aku bertanya seperti ini Ran, aku hanya khawatir dengan kamu. Aku tidak mau melihat kamu terluka sekian kalinya."


"Kenapa kamu nanya gitu, itu bukan urusan kamu, Ndru. Kamu cuma temen aku kalo kamu lupa!" Rani menatap tajam Endru.


"Aku tau kita cuma teman, Ran. Tapi kamu lupa kalo aku juga punya perasaan."


"Itu salah kamu, Ndru. Aku udah bilang dari awal kalo kita cuma temenan. Aku nggak tanggung jawab sama perasaan kamu itu!"


Endru mengangguk, nampak raut kecewa tercetak jelas di wajahnya.


"Aku paham kok. Tapi sepertinya perhatianku selama ini ke kamu cuma kamu anggap apa Ran?"


"Aku nggak butuh perhatian kamu, Ndru. Aku bisa perhatian sama diriku sendiri. Aku masih punya keluarga, yang sayang sama aku."


"Tapi aku peduli, Ran. Aku peduli sama kamu. Apa kamu nggak bisa merasakan rasa sayangku selama ini ke kamu, hah?"


Ditanya seperti itu, Rani hanya bisa diam. Bohong jika ia tidak merasa diperlakukan baik, disayangi olehnya. Tapi itu semua tidak lebih dari ia menganggap sebagai kakak. Karena Endru selalu berusaha melindunginya, layaknya Aufa kakak kandungnya sendiri.


Tapi, sejauh ini Rani juga merasa nyaman jika berdekatan dengan Endru. Entah karena dirinya telah menganggapnya sebagai teman, juga sifat yang ditunjukkan oleh Endru kepadanya.


Kini ia sedang terjebak dalam situasi yang sulit. Sangat sulit, bahkan hanya untuk menatap wajah laki-laki itu Rani merasa sangat malu. Malu karena telah memberikan banyak harapan palsu untuknya.


"Oke, kalo kamu nggak mau jawab pertanyaan tadi. Tapi aku mohon jawab pertanyaanku kali ini."

__ADS_1


Nampak Endru menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Sekali lagi, aku sangat mencintai kamu Rania. Aku ingin kita menikah. Apakah kamu mau menjadi pasangan hidupku, melengkapi setiap kekurangan yang aku miliki?"


Hening. Tidak ada yang bersuara setelahnya. Rani juga hanya diam membisu. Berusaha mencerna kalimat yang baru saja Endru lontarkan kepadanya.


Endru mengajak dirinya untuk menikah? Sungguh diluar dugaan. Rani tidak menyangka hal ini akan terjadi. Ketika dengan Bimo saja, ia belum berpikir sejauh itu. Pikirannya sungguh kacau, ia tidak tau sekarang harus berbuat apa. Tidak mungkin bagi dirinya jika menerima ajakan Endru menikah, sedangkan di hatinya tersimpan nama laki-laki lain. Bimo masih menjadi pemilik itu, walaupun ia seringkali dibuat kecewa olehnya.


Endru menghembuskan nafasnya perlahan, ia sudah menebak inilah yang akan terjadi. Sakit memang, tapi ia sudah mempersiapkan hatinya jauh hari untuk hari ini. Kemudian ia tersenyum, seolah semuanya baik-baik saja.


"Diam, berarti kamu menolaknya. Tenang aja aku nggak akan marah Ran. Cuman ya aku kecewa berat sama kamu." ucapnya.


Rani menatap wajah Endru dalam, ya dia bisa melihat sendiri betapa kecewanya laki-laki itu kepadanya. Tapi harus bagaimana lagi, perasaannya tidak dapat dipaksakan.


"Maafin aku, Ndru. Tapi ini semua nggak mudah, a-aku nggak bisa." Rani nampak meneteskan air matanya. Kini ia dipenuhi rasa bersalah.


"Ma-maafin aku cuma buat kamu kecewa. Hiks, hiks, aku nggak tau kalo pada akhirnya pertemanan kita berakhir seperti ini."


Endru memperhatikan Rani yang menangis, tanpa berniat untuk menenangkannya. Ia rasa cukup sampai di sini, semua rasa yang pernah ia berikan, perhatian itu kini seolah lenyap bersamaan dengan hatinya yang hancur berkeping-keping.


"Aku belum bisa maafin kamu, Ran. Karena jujur aku sakit hati, kecewa sama kamu. Tapi aku nggak bisa berbuat banyak saat ini. Aku cuma berpesan jaga diri kamu baik-baik, karena aku nggak akan bisa jaga kamu lagi. Terimakasih atas waktunya selama ini, kamu udah jadi alasan aku bahagia sejauh ini. Semoga kamu bahagia sama pilihan kamu." setelah mengatakan hal tersebut Endru bangkit dari duduknya, menghapus air mata yang jatuh tanpa diminta.


"Ndru, tolong jangan pergi, Ndru. Jangan tinggalin aku, jangan biarkan pertemanan kita berakhir disini, hiks, hiks." ucap Rani dengan isak tangis. Tapi semuanya terlambat, laki-laki tersebut sudah pergi dengan membawa ribuan derita lara.


***

__ADS_1


Satu waktu dalam hidupmu, kau ingin semuanya berakhir indah dengan secepat-cepatnya. Namun, bagaimana dengan awal yang sudah tidak indah?


~Endru


__ADS_2