
Saat ini Davina berada di Kampus sendirian, biasanya dirinya ditemani oleh Rani. Tapi kali ini Rani tidak berangkat ke kampus untuk menemani Faras di rumahnya.
Kemarin Davina diminta untuk membantu mencari Faras, namun ia tidak bisa karena sedang tidak enak badan. Walaupun kemarin ia sudah meminum obat hanya demamnya saja yang turun, alhasil dirinya saat ini masih merasakan pusing.
Hal itu tak membuatnya absen kuliah malahan ia memaksakan tubuhnya, karena jika ia memilih ijin dirinya pasti akan kesepian dan merasa bosan ketika mengharuskan berdiam diri di apartemen dan Harris berangkat kuliah.
Ketika sedang bermain ponselnya, tanpa sengaja Davina mendengar para wanita yang sedang menggosip.
"Aku dengar ustadz Harris sudah menikah loh." Ucap seorang wanita yang berkerudung pink.
"Ah, yang benar saja. Kata siapa?" Ucap seorang wanita di sebelahnya yang nampak tidak percaya dengan hal itu.
"Heh, apa kalian tidak sadar jika ustadz Harris mengenakan cincin nikah di jari manisnya." Ujar wanita berkerudung pink lagi.
"Hm, kalo gitu siapa ya kira-kira wanita yang beruntung itu?" Ucap wanita berkerudung hitam.
"Apa mungkin si Shafira? Tidak mungkinkan jika istrinya itu seorang wanita yang membuka aurat." Ucap wanita di sebelahnya.
Mendengar hal itu Davina mengepalkan tangannya. Dirinya merasa tersinggung dengan perkataan wanita itu walaupun dirinya sekarang sudah menutup aurat dan dulunya memang Davina membuka aurat seperti yang dikatakan wanita tadi.
Dirinya juga merasa kesal ketika sang suami selalu saja di sandingkan dengan perempuan yang bernama Shafira itu. Padahal dirinya lah istrinya Harris. Apa hebatnya wanita itu coba. Ingin sekali Davina berteriak dan mengatakan 'ustadz yang kalian bicarakan adalah suamiku'.
Tapi Davina masih sayang dengan popularitas yang selama ini ia bangga-banggakan. Dengan mengucapkan kalimat itu saja bisa membuat semua kepopularitasannya runtuh seketika, lalu Shafira pasti akan dengan terang-terangan menghinanya.
Tak mau ambil pusing Davina memilih pergi dari sana menggunakan mobil yang baru selesai diservis di tempat Farhan. Sebelum pergi ia mengirim pesan terlebih dahulu pada Harris jika ia akan pergi kerumah orang tuanya.
Harris mengijinkan Davina berkunjung ke rumah orang tuanya karena kebetulan Harris juga ada urusan hingga malam hari yang membuatnya khawatir jika harus meninggalkan Davina sendirian di apartemen.
Di perjalanan Davina yang melihat jajanan di pinggir jalan membuatnya ingin membeli. Dia pun menepikan mobilnya dan mulai menghampiri penjual tersebut.
"Pak, beli enam bungkus ya pake saus kacangnya yang banyak." Ucap Davina kepada penjual.
"Iya neng, pake kecap?" Tanya penjual.
"Enggak usah Pak."
Setelah selesai menerima bungkusan tersebut, Davina langsung membayarnya dan tak lupa mengucapkan terimakasih. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya.
Sesampainya di sana, Davina mengernyit ketika mendapati mobil asing parkir di halaman rumahnya.
"Assalamualaikum," Ucap Davina mengalihkan perhatian mereka semua.
"Waalaikumussalam, ayo masuk Davina." Ucap Papahnya.
Davina masuk ke dalam, dirinya kaget ketika melihat orang yang bertamu ke rumah orang tuanya ialah om Indrajaya, ayahnya Faras.
Davina menyalami Papah dan Mamahnya tak lupa menyapa om Indrajaya.
"Kebetulan kamu di sini Davina, om Indrajaya ingin bertemu denganmu." Ucap Agung menatap wajah putrinya.
__ADS_1
"Iya om, ada apa ya?" Tanya Davina.
"Hm, gini Davina, kamu kan temannya Faras dan pasti kamu sudah tau permasalahan diantara kami." Davina mengangguk.
"Sudah beberapa hari ini dia tidak pulang kerumah, om lama-lama khawatir dengannya. Om minta tolong sama kamu, bujuk dia supaya mau kembali kerumah. Om kesepian setelah dia pergi." Ucap Indrajaya.
"Sebelumnya Davina minta maaf, tapi bukannya Faras pergi dari rumah karena om sendiri yang mengusirnya." Ucap Davina.
Indrajaya nampak menghela nafasnya, "Itu memang benar, tapi saat mengatakan hal itu om sedang dalam emosi. Jujur om menyesal ketika Faras sudah pergi dari rumah."
Davina bisa melihat raut penyesalan dari wajah Indrajaya.
"Davina bisa merasakan bagaimana perasaan Faras ketika om mengusirnya, pasti masih terselip rasa kekecewaan ketika Papahnya sendiri dengan lugas mengusirnya dari rumahnya sendiri. Tapi Davina akan mencoba untuk membujuk Faras, om tenang saja." Ucap Davina.
"Baiklah terimakasih, Davina. Om berhutang budi padamu." Ucap Indrajaya.
"Jangan sungkan om, Davina akan membantu semampunya." Balas Davina.
"Ya sudah, aku pamit dulu. Terimakasih Agung dan Yuli."
"Hey, tak perlu berterimakasih. Kami akan selalu membantumu." Ucap Agung menepuk bahunya. Indrajaya tersenyum, sahabatnya ini memang selalu membantunya.
Setelah mengucapkan salam Indrajaya langsung pergi dari sana.
"Pah, om Indrajayanya udah lama di sini?" Tanya Davina duduk di samping Papahnya.
"Lumayan sih, tapi karena asik ngobrol jadi tidak kerasan." Ucap Agung sambil mengelus puncak kepala putrinya yang terbungkus jilbab.
"Biasalah masalah bisnis. Owh ya di mana mantu Papah yang tampan itu, kenapa tidak diajak sekalian kesini?" Tanya Agung.
"Nggak tau, yang Davina tau Harris sedang ada urusan sampai nanti malam katanya." Ucap Davina.
"Gimana sih kamu jadi istri, masa suami pergi kemana nggak tau, lain kali tanyain." Ledek Agung.
"Iya deh," Davina nyengir kuda.
***
Malam harinya setelah makan malam, Davina memilih mengobrol bersama keluarganya di ruang tv sekaligus tempat family time.
"Gimana kamu kuliahnya, Di." Tanya Davina pada adik perempuannya.
"Selama ini sih aman-aman aja Kak." Jawab Diandra.
"Bilangin tuh sama adikmu, jangan keluyuran terus sama teman-temannya dengan alasan tugas kuliah. Mamah kan jadi kesepian di rumah." Ucap Yuli mengadukan sikap anak bungsunya.
"Aku kan keluar emang ada tugas yang harus dikerjakan berkelompok. Kalo di rumah nggak betah, masa iya tiap hari temenannya sama Mamah terus." Balas Diandra mengerucutkan bibirnya.
"Tapi kan Mamah jadi kesepian, temen kamu kan bisa diajak kesini aja, Diandra." Ucap Yuli lagi.
__ADS_1
Davina hanya tersenyum melihat debat antara Mamah dan adiknya itu. Dia jadi ingat masa-masa di mana dirinya senang keluyuran bersama teman-temannya yang membuat Diandra sering mengeluh karena tidak mempunyai teman dan selalu saja bersama Mamahnya.
Sedangkan Bimo hanya diam dan fokus dengan permainan ps nya.
"Sudahlah jangan berdebat terus, Ibu dan anak sama saja." Sahut Agung yang tak tahan mendengar debat antara istri dan anaknya.
"Tau ah, Mamah emang gitu." Ucap Diandra kemudian berlalu menuju kamarnya hendak tidur karena hari sudah malam.
"Ini sudah malam lebih baik tidur kalian, Bimo, Davina." Ucap Agung.
"Iya nanti om, masih nanggung." Ucap Bimo dengan tangan yang masih setia dengan stik ps miliknya.
"Aku nanti, Pah." Ucap Davina.
"Yaudah Mamah sama Papah mau istirahat." Ucap Agung kemudian berlalu menuju kamar bersama istrinya.
"Udah tidur aja sana, ngapain kamu liatin aku main ps emang kamu nggak ngantuk, Dav?" Tanya Bimo menengok kearah Davina.
"Udah ngantuk sih sebenernya, tapi kasian Harris belum pulang." Ucap Davina.
"Emangnya dia mau kesini."
"Iya,"
"Dav, besok persidangan Ricko." Ucap Bimo.
"Semoga saja Ricko bisa dinyatakan tidak bersalah dan bebas dari penjara." Ucap Davina.
"Aminn,"
Karena Davina yang sudah mengantuk dan Harris yang belum pulang membuat Davina memilih tidur di sofa sambil menunggu Harris.
"Assalamualaikum," Ucap Harris, tapi karena tidak ada sautan ia berpikir pasti semua orang sudah tidur karena ini sudah jam 12 malam.
Harris masuk kedalam kemudian mengunci pintunya. Harris hendak keatas menuju kamar Davina langsung, tapi ketika mendengar suara dari ruang keluarga membuatnya menuju ke sana.
Harris melihat istrinya tertidur di sofa dan Bimo yang sedang bermain ps dengan earphone di telinganya pantas saja tidak mendengar ia mengucapkan salam tadi.
"Bimo," Panggil Harris.
"Eh, Harris. Lihat tuh Davina sampai rela tidur di sofa untuk menunggumu." Ucap Bimo.
Harris hanya tersenyum, kemudian ia akan menggendong Davina ke kamar atas.
"Aku duluan, Bim."
" Iya,"
Harris menggendong Davina kemudian meletakkannya di atas ranjang dan menyelimutinya tak lupa ia mencium kening istrinya.
__ADS_1
Harris yang lelah seharian setelah membersihkan diri ikut merebahkan diri di samping istrinya dan pergi ke alam mimpi...
***