Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Pertemuan


__ADS_3

"Ya, tapi Ran. Si Diana itu udah mulai ngelunjak, sok baik lagi. Aku nggak suka." Davina berbicara dengan nafas yang menggebu-gebu.


Ya, Davina menceritakan peristiwanya kepada Rani sewaktu siang. Ia masih sangat kesal dan marah terhadap wanita bernama Diana itu.


"Coba deh kamu lihat dia dari sisi yang lain. Dia kan punya niat baik sama kamu, Davina. Tanpa sadar dia perhatian sama kamu, atau mungkin saja dia udah anggap kamu seperti anaknya?"


"Bullshit itu." mana mungkin Diana menganggap dirinya sebagai anak. Dia kan hanya orang asing.


"Terus kamu maunya gimana, Dav?" Rani yang mendengarkan cerita sahabatnya juga bingung harus menanggapi seperti apa.


Yang terpenting sekarang, ia cukup mendengarkan keluh kesah perempuan di sampingnya itu, sebelum berubah menjadi gila.


"Wanita itu lenyap!" ucapnya kesal.


"Astaghfirullah, Davina. Kamu belum gila kan? Yang benar saja, bisa-bisanya kamu berpikiran seperti itu. Kalo Harris sampai mendengar ucapan mu tadi, pasti kamu bakal dapat siraman rohani tujuh hari tujuh malam." Rani geleng-geleng kepala, ia tidak dapat membayangkan jika Davina benar-benar melakukannya.


"Ya, maunya sih gitu. Tapi, gimana aku nggak bisa lakuin itu. Aku masih punya iman tau."


"Syukur deh, aku udah mau menghubungi polisi ini lho atas tindakan pembunuhan berencana." ucap Rani terkekeh.


"Ngawur kamu."


Obrolan mereka berdua harus terhenti, kala seorang laki-laki datang menghampiri.


"Boleh duduk kan?" ucap laki-laki tersebut seolah meminta persetujuan dari kedua orang yang duduk di sana. Rani mengangguk sebagai jawaban.


Davina menatap laki-laki itu dan Rani secara bergantian. Davina dapat menangkap tatapan tak biasa dari laki-laki itu ketika menatap Rani.


"Owh, ya Dav, kenalin dia Endru teman aku. Dan Endru, dia Davina sahabatku." terlihat jelas perbedaannya ya, wkwk.


"Hai, Davina. Aku Endru." ia tersenyum memperkenalkan diri. Dibalas sapaan balik oleh Davina.


"Punya temen cantik gini kok nggak bilang-bilang sih, Ran. Kan bisa buat ngalihin perasaan aku ke kamu." ucapnya bercanda untuk mencairkan suasana yang canggung.


"Ck, nggak usah ngadi-ngadi kamu, Ndru. Kamu nggak lihat tuh perut buncitnya nggak ketulungan." ujar Rani.


"Hah?" Endru paham maksudnya, hanya saja dari tadi ia tidak melihat perut buncit Davina karena terhalang oleh meja diantara mereka.


Ia akui Davina dan Rani memang perempuan cantik, dan itu menjadi ketakutan tersendiri bagi Endru kala menyukai Rani. Ia takut hanya terobsesi dengan kecantikan gadis itu.


"Yah sayang sekali, ternyata bidadari-bidadari ini tidak dapat aku gapai." ucapnya seakan kecewa.


Davina terkekeh, ia tau jika Endru sangat mencintai Rani terlihat jelas dari tatapan matanya.

__ADS_1


"Pintar menghibur juga kamu, Ndru. Makasih udah buat bumilku ini ceria lagi." Rani senang melihat Davina tertawa dengan ucapan Endru yang tidak berbobot menurutnya. Apa karena hamil selera humor Davina menjadi menurun?


Entahlah, yang penting Davina sedikit teralihkan dari masalah Diana yang mengganggunya.


"Kalian udah kenal lama?" tanya Davina menatap kearah mereka berdua secara bergantian.


"Sudah."


"Belum."


Jawaban spontan yang keluar secara bersamaan itu membuat Davina mengernyitkan dahi. Bagaimana bisa jawaban mereka berbeda seperti itu? Jika memang benar mereka belum kenal lama kenapa laki-laki itu mengatakan sudah? Apa Bimo juga tau jika Rani dekat dengan Endru? Dengan cepat Davina menggelengkan kepalanya, itu bukan urusannya.


Tak lama kemudian ponsel milik Davina bergetar, tertera nama Harris di sana. Dengan cepat Davina menerima panggilan tersebut.


"Iya, Mas. Aku pulang sekarang." ucap Davina sebelum panggilan tersebut berakhir.


Setelah itu, Davina segera menghabiskan minum miliknya yang masih tersisa setengahnya. Mubazir jika tidak dihabiskan, pikirnya.


"Maaf banget ya, Ran, Endru, aku nggak bisa nemenin kalian. Harris udah nelpon, nyuruh cepet-cepet pulang." ucap Davina berpamitan.


"Iya nggak papa kok, Dav. Pasti Harris nggak tahan nih lama-lama jauh dari kamu." ucap Rani terkekeh.


"Hati-hati di jalan Davina." ucap Endru kepada kenalan barunya.


"Harris suaminya Davina?" tanya Endru kepada Rani.


"Iya, kenapa?"


"Harris. Seperti tidak asing dengan namanya." balas Endru sambil mengingat barangkali suami Davina orang yang dia kenal.


"Haha, iyalah kamu nggak asing denger namanya. Orang suaminya Davina seorang ustadz muda, sudah pasti terkenal." Endru hanya manggut-manggut mendengar penuturan gadis di depannya.


***


Davina sudah sampai di rumah orang tuanya. Beberapa hari ini ia dan sang suami memang menginap di sana. Ia langsung masuk menuju kamarnya, karena suasana rumah yang sepi. Entah semua orang sedang pergi kemana, Davina tidak tahu.


Davina sedang asik memandangi suaminya yang sedang mengeringkan rambut di depan cermin. Sepertinya Harris baru saja selesai mandi sehingga tidak menyadari kehadiran dirinya sedari tadi.


"Khem."


"Astaghfirullah, Davina. Kenapa kamu mengagetkan, Mas. Bukannya salam terlebih dahulu." ucap Harris sembari mengelus dada, untung saja ia tidak mengidap penyakit jantung. Sedangkan sang pelaku hanya terkekeh merasa berhasil telah mengerjai sang suami.


"Hehe, iya Assalamu'alaikum suamiku." ucap Davina kemudian mencium tangan milik Harris.

__ADS_1


"Hem, wangi banget sih." Davina memeluk Harris.


"Ya jelas, Mas udah mandi. Beda sama kamu, bau banget nih." Harris melepas pelukan mereka sembari mengapit hidung dengan kedua jarinya.


Davina lantas mencium bau tubuhnya. "Nggak bau kok, malahan wangi. Mas bohong ya?"


Harris menggeleng, "Mau bau ataupun wangi mandi harus minimal 2 kali sehari, sayang. Kamu nggak boleh jorok, apalagi kamu lagi hamil. Mandi sana, setelah ini kita harus pergi." titah Harris pada sang istri.


Tanpa membantah lagi Davina segera mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.


Setelah selesai bersiap-siap Davina segera menghampiri Harris yang duduk sambil memainkan ponsel miliknya.


"Kita mau kemana sih, Mas?" tanya Davina penasaran.


"Kamu udah selesai?"


Davina berdecak, ia yang bertanya kenapa malah ditanya balik sih. "Ck, iya udah siap nih." ucapnya dengan wajah malas.


Harris tersenyum melihat tingkah Davina, tangannya terulur untuk mengelus puncak kepala istrinya itu.


"Tunggu Mas sebentar ya." ucap Harris meninggalkan Davina.


Tak lama ia sudah kembali dengan membawa sebuah jaket berwarna hitam miliknya.


"Kamu pake ini ya, Sayang. Diluar dingin, Mas takut kamu masuk angin." ucap Harris sembari memakaikan nya ditubuh Davina.


Davina menurut saja. "Ayo." ajak Harris kemudian.


"Hah?" Davina dibuat melongo dengan penampilan Harris.


"Ada apa, hm?" Harris ikut memindai penampilan dirinya. Ya Harris masih menggunakan sarung yang ia gunakan sewaktu sholat.


"Mas beneran mau pake sarung?" tumben banget pikir Davina.


Harris mengangguk, "Mas nyaman memakainya."


Davina hanya pasrah saja, dirinya yang sudah cantik memakai gamis. Eh, ternyata Harris hanya memakai sarung dengan kaos, bedanya ia memakai jaket. Cakep sih. Harris menggandeng tangan Davina menuruni tangga, takut Davina jatuh.


"Sebenarnya kita mau kemana sih, Mas?" tanya Davina.


"Ke rumah sakit."


Lho, siapa yang sakit?

__ADS_1


***


__ADS_2