
Sesampainya di apartemen, terlihat jika Davina masih memejamkan matanya. Harris lalu membangunkan Davina supaya turun dari mobil.
"Davina ayo bangun," ucap Harris. Davina masih saja tak bergerak.
"Davina, bangun. Kita sudah sampai." ucap Harris sambil menepuk-nepuk pipi Davina.
"Ehmm, aku masih ngantuk." jawabnya tanpa membuka mata.
"Iya turun dulu, nanti lanjutkan saja di kamar." ucap Harris, Davina tak menggubris ucapan Harris.
Dengan terpaksa Harris turun lalu menghampiri Davina yang masih terlelap. Tanpa aba-aba Harris langsung menggendong Davina masuk ke apartemen miliknya.
Saat memejamkan matanya Davina merasakan jika dirinya sedang melayang ia penasaran apa yang terjadi. Ia akan membuka matanya tetapi terasa berat sekali. Rasa penasarannya telah dikalahkan oleh rasa kantuk yang luar biasa.
Setelah sampai di kamar, Harris langsung menidurkan Davina dengan sangat hati-hati takut ia akan terbangun.
Setelah meletakkan Davina tak lupa ia mengecup kening istrinya. Kemudian Harris berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
***
Keesokan harinya Davina terbangun. Ia mengernyit ketika tersadar sudah berada dikamar milik Harris dan tak melihat keberadaan Harris. Davina berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah selesai Davina turun mencari keberadaan Harris. Ia melihat Harris sedang berada di dapur. Davina memilih mendudukkan diri dimeja makan.
Harris yang menyadari keberadaan Davina langsung menghampirinya dengan membawa dua porsi nasi goreng.
"Makanlah Davina, " ucap Harris sambil menyodorkan satu porsi kehadapan nya.
"Kamu yang memasak Harris?" tanya Davina dengan mata berbinar karena ia sudah sangat lapar.
"Iya. Cobalah kamu pasti suka, " balas Harris tersenyum.
__ADS_1
"Hmm, ini enak sekali Harris." ucap Davina tanpa sadar memuji masakannya.
"Owh, ya. Bukankah hari ini kamu tidak ada mata kuliah? Bagaimana kalo kita berkunjung ke rumah orangtuamu lalu ke rumah orangtuaku. Tadi Umi menelpon supaya kita menginap di rumahnya." ucap Harris.
"Baiklah, tunggu sebentar aku bersiap-siap dulu." balas Davina lalu berlalu untuk mencuci piring kotor.
Davina memang tidak suka dengan Harris, namun ia juga tak akan melupakan kewajibannya sebagai seorang istri.
Setelah selesai bersiap-siap Davina segera menghampiri Harris yang sudah menunggunya.
"Ayo Harris." ucap Davina yang diangguki olehnya. Davina mengikuti Harris menuju mobil.
"Apa kita akan menginap di rumah orangtuaku juga?" tanya Davina tanpa menengok kearah Harris.
"Tidak, kita berkunjung saja. Kita akan menginap di rumah orangtuaku karena Umi yang meminta. Jika kamu mau menginap di sana bisa lain waktu saja." ucap Harris.
Davina hanya diam mendengar ucapan Harris.
"Assalamualaikum," ucap Harris dan Davina lalu menyalami tangannya.
"Waalaikumussalam, loh kok kalian kesini nggak bilang-bilang sama Mamah?" ucap Yuli sembari mempersilahkan mereka masuk.
"Emang harus yah, mau ke rumah sendiri minta ijin." ucap Davina yang membuat Yuli geleng-geleng.
"Bukan begitu Dav, kan Mamah bisa menyiapkan makanan kesukaan kalian." balasnya, Davina hanya menghembuskan nafasnya.
"Tidak usah repot-repot Mah. Kami hanya berkunjung saja, setelah dari sini kami akan menginap ditempat Umi." ucap Harris.
"Owh, baiklah. Lalu kapan ke sananya?" ucap Yuli.
"InsyaAllah nanti setelah sholat maghrib Mah." balas Harris.
__ADS_1
Davina memilih meninggalkan mereka yang sedang mengobrol. Ia beranjak menuju kamar yang sudah lama tidak ia tempati.
"Hmm, masih nyaman kayak dulu. Nggak ada yang berubah." gumam Davina.
***
Setelah melaksanakan sholat maghrib berjamaah, Davina dan Harris berpamitan menuju rumah Khumaira Uminya Harris.
"Harris pamit dulu Mah, Pah." ucap Harris sambil menyalami tangan keduanya.
"Davina pamit Mah, Pah. Baik-baik disini ya." ucap Davina memeluk kedua orangtuanya secara bergantian.
"Sering-seringlah main kesini, supaya kalian tidak hanya di apartemen terus. Memangnya kalian tidak bosan hanya berdua terus? Memang kalian tidak kesepian?" sindir Agung Papahnya Davina.
Harris yang mengerti ucapan mertuanya hanya tersenyum dan mengangguk. Sedangkan Davina hanya membalas dengan senyum sekilas karena ia tidak paham yang dikatakan oleh Papahnya.
Bukankah dia memang tinggal berdua bersama Harris? Lalu siapa yang kesepian? Pikir Davina.
"Kami berangkat dulu. Assalamualaikum." ucap Harris diikuti Davina.
"Waalaikumussalam."
Harris melajukan mobilnya menuju rumah sang Umi Khumaira.
***
Dukung terus novel ini dengan cara: vote yang banyak,like,komen,⭐5.
Yang mau ngasih tip boleh banget.
Terimakasih🙏
__ADS_1