Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Toko Baju


__ADS_3

Satu waktu dalam hidupmu, kamu ingin segalanya berakhir indah dengan secepat-cepatnya. Agar yang kamu gundah kan selesai, agar derita tercerai. Kamu lelah menelan pahit dan kejamnya dunia memperlakukanmu sekehendak nya. Kamu muak berurusan dengan siapa-siapa.


Sekiranya seperti itulah sekarang keadaan seorang laki-laki yang bernama Endru. Ia nampak tertidur di bawah sambil bersandar pada ranjang. Keadaannya sangat memprihatinkan, terlihat kacau, suasana kamarnya berantakan serta gelap gulita. Bisa dibayangkan apa yang terjadi dengannya semalam.


Hingga bunyi dering telepon membuat tidurnya terganggu. Matanya perlahan mulai mengerjap, menyesuaikan cahaya yang masuk melalui ventilasi udara. Perlahan ia bangkit sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing. Bagaimana tidak, ia baru bisa tertidur pukul empat pagi yang seharusnya waktu untuk seseorang bangun tidur. Ia mencari ponsel miliknya yang ia lemparkan asal di atas ranjang semalam.


"Hallo," ucap Endru pada sosok pengganggu di seberang sana.


"Cepat kamu ke sini sekarang, Ndru!" titah seseorang.


Endru nampak memutar bola matanya malas, "Tapi ini masih pagi, Pah. Kepalaku masih pusing, aku baru tidur jam empat pagi." ucap Endru berusaha menolak perintah ayahnya.


"Nongkrong di tempat mana lagi kamu, sampai jam empat baru tidur? Papah biarkan kamu tinggal dikost-an bukan untuk membebaskan, tapi untuk pelajaran buat kamu."


"Aku nggak nongkrong ya, Pah."


"Alah, jangan bohong, Papah tau semuanya. Lingkup pergaulan kamu itu tidak baik, Papah nggak suka. Kalo kamu masih nggak nurut, kamu akan tau akibatnya." ucapnya kemudian mengakhiri panggilan telepon sepihak.


"Akhh, sial." ia mengacak rambutnya, kemudian melemparkan ponselnya asal. Tidak peduli jika nantinya benda tersebut akan rusak. Bukankah akan lebih baik?


Ia kesal dengan sikap Papahnya yang semena-mena terhadap anak, selalu saja melibatkan sebuah ancaman di setiap perkataannya.


***


"Kita mau kemana sih sebenernya, Mas?" tanya Davina yang penasaran dibuatnya.


"Kamu akan tau nanti, Davina." jawab Harris masih fokus menyetir.


Davina hanya menurut saja dan fokus memainkan ponsel miliknya. Hingga tak berselang lama mereka sudah sampai di depan sebuah toko pakaian.


"Nah, sudah sampai. Ayo turun, Davina." ajak Harris.


Davina mengernyit, Harris akan mengajaknya berbelanja?


Ia turun dari mobil dan mengekori sang suami masuk ke dalam toko tersebut yang ternyata sedang ramai pembeli.


Davina masuk sambil melihat-lihat pakaian yang ada di sana. Terlihat Harris menghampiri seorang pria salah satu karyawan dan berbincang dengannya. Davina tidak peduli akan hal itu, dan ia tetap fokus untuk melihat-lihat.


"Kok aku baru tau ya, kalo di sini ada toko yang menjual baju sama gamis yang sebagus-bagus ini." gumamnya.


Toko tersebut menjual beraneka pakaian muslim, mulai dari anak-anak hinga orang dewasa, mukena, sarung dan sebagainya.


"Duh, jadi takut kalap nih."


Saat sedang membolak-balikkan gamis yang ada di sana, tiba-tiba Harris datang menghampiri Davina.


"Sayang," panggil Harris.

__ADS_1


"Hm, iya?"


"Mas mau pergi sebentar ya, kamu di sini aja. Nanti Mas ke sini lagi kok." ujarnya.


Davina mematung, bingung. Bagaimana bisa suaminya itu meninggalkan dirinya sendirian di sebuah toko yang asing baginya. Dan disuruh untuk menunggu?


"Ta-tapi, Mas–"


Harris tak mendengarkannya, ia pun pergi setelah mengecup kening istrinya itu.


"Ck, tau gini aku ngga usah ikut. Di rumah tiduran, kan lebih enak." ucapnya sambil menghempaskan baju yang dipilihnya tadi.


Hingga datang seorang perempuan yang Davina yakini adalah karyawan toko tersebut.


"Selamat siang, Bu." sapanya dengan senyum yang khas.


"Siang,," balas Davina dengan senyum yang dipaksakan, ia sudah tidak mood.


"Ada yang bisa saya bantu? Mau cari pakaian yang seperti apa? Nanti biar saya bantu carikan, kami punya banyak pilihannya." tawar karyawati itu.


"Em... aku mau lihat setelan yang lagi trend sekarang ada? Yang ngga mencolok tapi tetap keliatan elegan." ucap Davina.


Karyawati tersebut mengangguk paham, kemudian memberi arah menuju tempat pakaian dengan kriteria yang telah Davina sebutkan.


Lihat saja, Davina akan membalas perbuatan Harris kepadanya. Laki-laki itu harus bertanggung jawab mengembalikan moodnya saat ini. Ya, Davina berniat mengerjai suaminya dengan membeli banyak baju.


Davina mulai melihat-lihat detail bahan dan model dari pakaian tersebut. Tentu saja Davina akan memilih pakaian yang bahannya nyaman ketika dipakai, apalagi dengan kehamilannya saat ini ia gampang sekali merasa gerah.


"Bagus, bu. Pas sekali dengan seleranya Pak Harris." ucap karyawati tersebut membuat Davina membuka matanya lebar-lebar.


"Bisa dicoba dulu, kalo belum yakin dengan ukurannya." lanjutnya lagi.


"Yaudah, ruang gantinya di mana?"


Davina tersenyum, namun matanya was-was menatap karyawati di depannya.


Apa mungkin karyawati itu juga mantan Harris? Makanya bisa tau selera suaminya, pikirnya.


"Silakan." Davina mengangguk, ia melangkah masuk menuju ruang ganti. Walaupun berniat mengerjai Harris, tapi ia juga tidak ingin jika membeli pakaian yang kekecilan ataupun kebesaran.


Setelah ia yakin semua pakaian yang dipilihnya pas, ia pun segera keluar. Bersamaan dengan itu, Davina melihat Harris yang masuk ke dalam toko.


"Selamat datang kembali, Pak Harris." sapa karyawati tadi yang diangguki olehnya.


Bukannya kesal melihat Harris, raut wajah Davina malah menampilkan raut senang. Jangan lupakan niat awal Davina untuk mengerjai sang suami.


"Maaf, telah membuatmu menunggu lama, sayang." ucapnya.

__ADS_1


Bukannya merespon, Davina malah menyodorkan barang belanjaannya pada Harris.


"Nih, ngga mau tau pokoknya bayarin!" ucapnya kemudian berlalu lebih dulu.


Harris yang menerima barang belanjaan istrinya mengernyit, sebanyak ini? Tapi kemudian ia berjalan menuju kasir untuk membayarnya.


Ia mengeluarkan sebuah kartu miliknya.


"Apa perlu Pak Harris?" tanya kasir.


"Saya di sini juga sebagai pembeli, maka wajib membayar." balas Harris yang langsung diangguki olehnya.


Setelah selesai Harris membawa beberapa paper bag ke dalam mobil. Terlihat Davina sudah duduk namun nampak gelisah.


Setelah memasang sabuk pengaman, ia pun melajukan mobilnya tanpa berniat membuka suara. Davina yang sedari tadi gelisah melirik sang suami.


"Kamu marah?" Davina memberanikan diri untuk bersuara.


"Ngga." jawabnya masih fokus ke depan.


"Bohong!"


"Mas marah karena aku membeli banyak baju kan?" lanjutnya.


"Ngga. Mas cuma khawatir nanti bajunya banyak yang ngga kepake."


"Bakal kepake banget, pasti. Lihat aja nih, anak kamu udah sebesar ini. Mana muat baju-baju yang kemaren." ucap Davina.


Harris terkekeh ikut mengusap perut milik Davina. "Iya, kalo kamu masih membutuhkan baju lagi, kamu bisa langsung ambil aja ke toko tadi."


Kini giliran Davina yang tertawa, "Haha, enak aja tinggal ngambil. Emang itu toko kamu."


"Iya, itu toko punya Mas."


Davina mematung beberapa detik, "Jangan becanda deh, Mas."


"Ya udah kalo ngga percaya."


"Hah? Jadi beneran? Kenapa ngga bilang dari sebelum kesana sih!" kesalnya.


"Emang kenapa, hm?" Harris merasa lucu dengan ekspresi Davina saat ini.


"Ya kalo gitu, kan aku bisa berjalan dengan bangganya sebagai bu bos karyawati tadi!" ucapnya penuh tekanan.


"Mana dia sok tau selera Mas lagi." sambungnya.


Harris terkekeh, "Jadi kamu cemburu?"

__ADS_1


"Pikir sendiri!"


***


__ADS_2