Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Musuh Jadi Saudara


__ADS_3

Sepulang dari kampus, Davina mendapat kabar dari orangtuanya jika Kakak sepupunya yang bernama Bimo pulang dari Singapura. Tentunya hal tersebut membuat hati Davina senang. Namun, kesenangan Davina seketika hilang ketika sang Mama menyuruhnya berkunjung bersama sang suami.


"Huffht, males banget sih. Masa harus sama Harris, aku kan bisa datang sendiri." Davina menggerutu setelah mendapat pesan dari Mamahnya.


Dengan berat hati Davina menghampiri Harris yang sedang sibuk memainkan ponselnya di sofa ruang tamu.


"Harris." panggil Davina.


Harris mendongak menatap istrinya, "Ada apa, Davina?" balasnya.


"Mamah nyuruh kita datang ke rumah." balas Davina sambil mendudukkan dirinya di sebelah Harris.


"Memangnya sedang ada acara ya?" tanya Harris.


"Nggak tau. Tapi ada saudara sepupuku yang baru datang dari Singapura."


Harris hanya menganggukkan kepalanya. Davina merasa kesal karena Harris yang mengabaikannya.


"Gimana, mau ikut nggak." ucap Davina kesal.


Harris mengernyit ketika melihat perubahan raut wajah Davina. Apa dia telah melakukan kesalahan yang membuatnya kesal?


Davina melirik kearah ponsel Harris.


"Owh, ternyata lagi ngerjain tugas." batin Davina.


"Kalo lagi sibuk nggak papa kok. Aku bisa pergi sendiri." ucapnya sambil beranjak dari tempatnya duduk.


"Siapa yang bilang sibuk? Aku bisa kok." balas Harris.


"Yakin? Nggak ganggu tugas kamu?" balas Davina sambil menunjuk ponsel yang berada di genggaman Harris.


Kemudian Harris menatap ponsel miliknya, "Owh, nggak kok. Ini tinggal ngetik aja, nanti di sana juga bisa. Sesibuk-sibuknya diriku, aku bakal utamakan keluargaku dari pada urusan yang lain." ucap Harris.


Mendengar ucapan Harris, pipi Davina berubah menjadi bersemu kemerahan. Entah mengapa Davina menjadi senang sekarang. Bukankah sama saja jika Harris mementingkan keinginan dirinya?


"Baiklah," balas Davina meninggalkan Harris. Bisa payah jika Harris sampai melihat pipi Davina yang bersemu kemerahan.


***


Sehabis isya Davina dan Harris pergi menuju ke kediaman Agung Hartono, orang-tua Davina.


"Assalamualaikum," ucap Harris dan Davina bersamaan.


Tak lama kemudian seorang wanita muncul dari balik pintu yang tak lain ialah Yuli, Mamah Davina.


"Waalaikumussalam. Akhirnya kalian dateng juga." Davina dan Harris langsung menyalaminya.


"Gimana kabarnya nak Harris?" tanya Mamah Yuli.


"Alhamdulillah, kabarnya baik, Ma."


"Davina nggak susah diatur kan? Emang gitu anaknya susah banget kalo diatur apalagi kalo menentang kemauannya."


"Davina selalu nurut kok sama Harris, tapi.."


Davina yang jengah dengan pembahasan mereka langsung memotong perkataannya.


"Mah, Davina nggak disuruh masuk nih? Udah pegel nih kaki." ucap Davina sambil menghentakkan nya.


Kok ada sih, orang-tua yang ngejelek-jelekin anak sendiri. Jadi curiga, kalo aku bukan anak kandung mereka. Begitu kiranya isi pikiran Davina.


"Eh, iya sampai lupa. Ayo masuk nak Harris." ucapnya mempersilahkan masuk.


Davina memasuki rumah, terlihat Agung, Diandra dan juga Bimo sedang menonton tv.


"Khemm." suara Davina berdeham menarik perhatian tiga orang yang sedang asik menonton.


"Loh, Kak Davina kapan sampai?" ucap Diandra.


"Barusan," jawab Davina singkat. Kemudian menghampiri Papahnya untuk melepas rindu.


"Hm, di sini masih ada orang tau," sahut Bimo tiba-tiba karena merasa dikucilkan oleh Davina.


"Iya, aku nggak lupa kok." balas Davina menghampiri abangnya itu lalu memeluknya dengan erat.


"Davina, di mana suamimu? Kenapa tidak disuruh masuk?" ucap Papahnya.

__ADS_1


Mendengar kata suami kening Bimo berkerut. Pasalnya ia belum tau jika sang adik telah menikah.


"Suami? Kapan Davina menikah." ucap Bimo kebingungan.


"Yah Kak Bimo, ketinggalan berita berapa abad?" ucap Diandra mengejek.


"Maaf Bimo, Davina menikah seminggu setelah kepergian mu ke Singapura. Sebenarnya kami mau mengundangmu tapi kami tau kamu pasti sibuk. Makanya kami tak mengundangmu." ucap Agung menjelaskan alasannya.


Bimo bisa memahami alasan yang diberikan Papahnya. Tapi ia masih merasa sedih, bahwasannya ia tidak bisa mendampingi Davina yang sudah dianggap sebagai adik kandungnya sendiri di hari bahagianya.


"Davina," panggil Bimo sambil menatapnya.


Davina yang paham dengan situasinya langsung menghampiri Bimo dan memeluknya lagi.


"Maafin aku Davina, nggak bisa hadir di hari bahagia mu." terlihat matanya sedikit berkaca-kaca. Walaupun begitu, Bimo pantang dengan yang namanya menangis.


"Sudahlah orang udah lewat kan? Kalo mau kasih kado pasti akan aku terima kok, Bang." ucap Davina menyeringai. Ia akan memanfaatkan moment ini untuk mencapai keinginannya.


"Memangnya kamu mau kado apa dariku, hm. Bagaimana kalo lingerie?" ucap Bimo dengan nada menggoda. Sedangkan Agung dan Diandra hanya tertawa mendengar celotehan mereka berdua.


"Mulai deh becandanya!" balas Davina sambil cemberut.


"Iya, maaf kalo gitu. Owh, ya di mana suamimu?" tanya Bimo yang sudah penasaran dengan sosok pendamping adiknya.


"Tadi dia sama Mamah. Nah, itu orangnya." ucap Davina sambil menunjuk arah datangnya Harris bersama sang Mamah.


deg


Bimo nampak kaget dengan kehadiran seseorang di depannya.


Harris! Kenapa yang datang dia? Apa Harris adalah suami Davina. Demi apa Davina menikah dengan seorang berandalan sepertinya?


Tak hanya Bimo yang terkejut, Harris juga terkejut ketika melihat Bimo di sana karena yang ia tau Davina sedang kedatangan saudaranya dari Singapura. Dan apa mungkin saudara Davina ialah Bimo?


Melihat keberadaan Bimo, terlihat Harris mengepalkan tangannya seperti menahan kemarahan. Namun dengan pintarnya ia menyembunyikan hal tersebut.


"Nak Harris perkenalkan ini Bimo saudara sepupu Davina. Dan Bimo ini suami Davina." ucap Yuli.


Harris nampak tersenyum sekilas kemudian menjulurkan tangannya kearah Bimo. Dengan berat hati Bimo menerima uluran tangan Harris, mereka bersalaman dengan sangat erat seolah meluapkan kekesalan dalam lubuk hati masing-masing yang sudah lama terpendam.


"Owh, ya Pah, Mah, Davina. Aku mau ajak Harris ngobrol-ngobrol di depan bolehkan? Biar lebih akrab gitu." ucap Bimo sambil tersenyum. Bimo memang sudah menganggap mereka keluarga nya sendiri.


"Iya Mah, nggak lama kok. Iya kan Harris?" ucapnya melirik kearah Harris.


" Iya Mah," balas Harris tersenyum.


Kemudian Bimo dan Harris keluar rumah mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol.


Sedangkan Davina, Diandra, Agung, dan Yuli sedang asik berceloteh.


"Gimana Dav, apa udah ngisi?" ucap Yuli penasaran akan hal itu.


Davina yang paham arah pembicaraan mereka hanya diam. Ia bingung harus menjawab apa. Bagaimana bisa hamil jika Davina dan Harris saja belum pernah melakukannya.


"Bener tuh Davina. Kami sebagai orang-tua sudah sangat mengharapkan kehadiran seorang cucu diantara kami." dahut Agung, Papah Davina.


"Hm, maaf Pah, Mah. Davina belum bisa ngasih apa yang kalian inginkan." balas Davina sambil menunduk. Ia merasa gagal sebagai anak yang tidak pernah membahagiakan kedua orangtuanya.


"Tidak apa-apa, kamu harus terus berusaha supaya kami bisa cepat mempunyai cucu." ucapnya bersemangat.


Davina hanya tersenyum menanggapi perkataan Mamahnya. 'Terus berusaha' membayangkannya saja Davina tidak pernah.


"Gimana kuliahnya Davina, apa dengan menikah menghambat kuliahmu?" tanya Agung kepadanya.


" Nggak kok Pah, selama ini terlihat baik-baik saja. Kalo Diandra mau kuliah di mana?" ucap Davina.


"Hmm, aku masih bingung sih kak." balas Diandra.


"Akan lebih baik lagi jika Diandra menikah saja. Iya kan, Mah?" ucap Agung yang membuat semua orang di sana terkejut, tak terkecuali Diandra sendiri.


Sang Mamah hanya diam, ia tak mau salah langkah lagi. Dengan menikahkan Davina saja ia masih merasa berat hati walaupun ia sudah ikhlas. Ia dapat merasakan betapa hancurnya Davina saat akan dijodohkan dengan Harris.


Apalagi jika Diandra yang berada dalam posisi tersebut. Ia masihlah anak-anak yang akan lulus SMA beberapa bulan lagi. Berbeda dengan Davina yang sudah kuliah dan cukup umur.


"Iihh, Papah nggak usah becanda deh. Aku kan masih mau mengejar cita-citaku. Lagian kalo nikah kan kerjaannya cuma di dapur, apa senangnya coba." balas Diandra tak terima.


"Hmm, iya-iya. Papah cuman bercanda. Kalo kamu mau, ya Papah setuju dong." balas Agung tertawa.

__ADS_1


Diandra bernafas lega, setidaknya ia tidak akan bernasib sama seperti sang Kakak.


"Davina, sana kamu panggil Harris dan Bimo buat makan malam." ucap Yuli.


"Iya, Mah."


***


Sedangkan di teras samping rumah, Harris dan Bimo duduk bersebelahan di kursi panjang yang berada di sana. Mereka masih saling diam menatap lurus ke depan.


"Aku masih tidak menyangka jika adik yang sangat ku sayangi menikah, terlebih menikah denganmu Harris." ucap Bimo membuka suara.


Harris tersenyum mendengarnya, "Aku juga tidak menyangka jika orang yang ku benci ternyata saudara sepupu dari istriku." balas Harris.


"Apa kamu masih mengingatnya, Harris?" tanyanya.


"Ya, mana bisa aku melupakan hal sebesar itu dan alasan apa yang tepat untuk aku melupakannya?" kini Harris berbalik tanya kepada Bimo.


Harris dan Bimo saling menatap.


"Karena bagaimanapun juga, sekarang kita adalah saudara. Memang aneh sih menurutku, tapi harus bagaimana lagi semua sudah terjadi. Mau menolak? Aku bisa apa." ucapnya seraya tertawa kecil.


Harris ikut tertawa kecil, "Musuh jadi saudara, begitu menurutmu? Haha lucu juga."


Dulu Harris dan Bimo merupakan musuh antara sekelompok preman dan sekelompok geng motor. Mereka terlibat perkelahian yang berakhir Harris harus masuk penjara karena dilaporkan oleh Bimo. Hingga saat itu Harris menyimpan dendam kepada Bimo. Dan sekarang, dendam tersebut seolah lenyap ketika ia mengetahui Bimo adalah saudara Davina.


"Mau damai atau gimana nih." ucap Bimo sambil mengulurkan tangannya. Bagaimanapun kejadian tersebut juga sudah sangat lama.


Harris menatap tajam kearahnya, "Hm, baiklah." balas Harris menerima uluran tangannya sebagai tanda perdamaian.


Semua hal yang dilakukan mereka berdua tak luput dari penglihatan Davina.


"Khemm," suara deheman Davina membuat kedua orang tersebut menoleh.


"Davina, sejak kapan kamu di situ?" tanya Bimo kelimpungan


" Sejak tadi. Apa kalian tau? Aku lebih tidak menyangka jika kalian berdua ternyata saling bermusuhan. Apalagi dengan mudahnya kalian berdamai." ucap Davina menyeringai.


"Karena berdamai merupakan salah satu langkah yang tepat untuk mencegah kehancuran, Davina." ucap Harris tegas.


Davina tertegun dengan jawaban yang dilontarkan Harris, tak mau membahas lebih dalam lagi Davina memilih mengalihkan pembicaraannya.


"Mamah nyuruh kita berkumpul untuk makan malam, jadi cepatlah." ucap Davina kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.


Setelah semuanya berkumpul mereka makan malam bersama walaupun terlambat, yang penting tetap makan malam hehe.


Setelah selesai Yuli membuka suara.


"Davina, kamu menginapkan di sini?" tanyanya.


"Mm, apa boleh?" jawabnya.


"Lho, siapa bilang nggak boleh. Pintu rumah ini terbuka untuk kalian kok. Jangan kuatir kamarmu selalu dibersihkan sama Bibi kok."


"Tapi Davina ikut Harris aja, Ma." ucap Davina menatap Harris.


Harris tersenyum, "Ya sudah kita menginap saja di sini. Lagian besok nggak ada jadwal kuliah kan?" tanya Harris. Davina hanya menggeleng.


Kini Davina dan Harris sedang berada di dalam kamar milik Davina. Setelah membersihkan diri Davina dan Harris sibuk dengan ponsel dan laptop masing-masing duduk di atas ranjang.


Harris yang sedang mengerjakan tugasnya, melirik kearah Davina yang sedang menatapnya.


"Kenapa?" ucap Harris menghentikan jarinya yang sedang mengetik.


"Mm, apa masih lama selesainya?" ucap Davina sambil menahan kantuk yang luar biasa.


"Sebentar lagi selesai kok. Kalo kamu sudah mengantuk tidur saja."


"Yakin? Yaudah gue tidur duluan." ucapnya kemudian meletakkan ponsel miliknya di atas nakas dan langsung merebahkan diri di ranjang.


Harris tersenyum lalu menyelimutinya.


Tak lama kemudian Harris sudah selesai dengan tugasnya. Membereskannya dan ikut merebahkan dirinya di samping sang istri yang sudah tertidur dengan pulas.


Yah, mereka tidur satu ranjang karena mereka sedang menginap. Kalo tidak, bisa saja Davina di marahi habis-habisan yang tak mau seranjang dengan sang suami. Entah kapan Davina akan dengan sukarela menyuruh Harris tidur satu ranjang dengannya tanpa paksaan.


Sabar saja:)

__ADS_1


***


__ADS_2