
Davina berangkat ke Kampus bersama Rani dan juga Faras karena sudah lama mereka tidak berangkat bersama. Sedangkan Harris sudah berangkat duluan.
"Akhirnya aku bisa ke Kampus juga." Ucap Faras.
"Alhamdulillah, aku senang bisa berkumpul seperti dulu lagi." Ucap Rani.
"Dan semoga Rani bisa secepatnya bersatu dengan Bimo." Sahut Davina.
"Hih, apa sih? Kenapa harus disangkut pautkan dengan laki-laki itu."Ucap Rani kesal.
Faras hanya diam tidak ikut menimpali perdebatan dua manusia itu. Dirinya merasakan ada gejolak yang membuatnya ingin mengeluarkan semua isi perut nya. Kemudian karena sudah tidak bisa menahannya Faras tak memperdulikan keberadaan dua sahabatnya itu dan langsung berlari menuju ke toilet.
Davina dan Rani yang melihat Faras pergi pun merasa bingung.
"Eh, itu Faras kenapa?" Ucap Davina panik.
"Nggak tau, mukanya pucat gitu. Jangan-jangan dia sakit lagi." Sahut Rani. "Ayo kita susul dia." Sambungnya.
Sampai di toilet Faras langsung muntah-muntah namun yang keluar hanya sebuah cairan.
"Huekk, huekk.. "
Davina dan Rani dengan sigap langsung memijat tengkuk Faras supaya lebih enakan.
"Kamu kenapa sih, Faras? Kalo sakit kenapa nggak bilang." Ujar Rani.
"Gue nggak sakit, kok." Balas Faras sambil menahan mualnya.
Davina diam, ia menduga jika sahabatnya itu sedang hamil. Dilihat dari salah satu ciri-ciri wanita hamil biasanya kan mual-mual dan pucat. Tapi dia tetap berpikir positif terhadap sahabatnya itu, siapa tau hanya masuk angin biasa.
"Terus kamu kenapa?" Tanya Rani.
Faras nampak gugup, keringat dingin sudah mulai bermunculanbermunculan menambah kekhawatiran kedua sahabatnya.
"Kamu kenapa, Faras?" Ucap Davina menyelidik hendak memastikan kebenarannya.
"Aa,, aku,, sebenarnya aku, hamil." Ucap Faras sambil terbata-bata sukses membuat kedua sahabat nya melongo tak percaya.
"Apa??" Ucap Rani terbelalak.
Davina menelan ludahnya. Tepat, perkiraannya ternyata benar. Davina tak menduga sahabat nya itu bisa hamil di luar nikah. Dirinya saja yang sudah menikah belum juga diberikan anugerah yang semua wanita harapkan ketika mereka sudah menikah. Baru saja kemarin permasalahan Ricko selesai dan kini dirinya harus mendengar kabar buruk yang menimpa Faras, hamil di luar nikah. Membuat Davina merasa frustasi sendiri.
Faras menatap ke arah Rani dan Davina bergantian, dirinya bisa melihat jika mereka berdua sangat kecewa dengan ucapannya tadi.
"Maafkan aku,," Ucap Faras sambil meluruhkan dirinya ke lantai sambil memeluk kedua lututnya. Matanya sudah mulai meneteskan air mata. Faras menagis sesenggukan.
__ADS_1
Davina ikut berjongkok di samping Faras diikuti oleh Rani. "Apa ayah dari janinmu adalah Ricko?" Tanya Davina.
Faras menganggukkan kepalanya dan tangisannya kembali pecah.
Davina menarik Faras kedalam pelukannya, "Tenangkan dulu dirimu, ini masih di kampus. Bahaya jika ada yang sampai tau." Tak berapa lama Faras pun menghentikan tangisannya.
"Berapa? Berapa umur janinmu?" Tanya Rani.
"Baru empat minggu," Jawab Faras,
Davina dan Rani nampak sedikit lega, pasalnya mereka membutuhkan waktu setidaknya 3-4 bulan untuk mencari jalan keluarnya sebelum perut milik Faras membuncit.
"Apa Ricko dan Om Indrajaya sudah mengetahui hal ini?" Tanya Davina, namun Faras menggeleng tanda belum ada yang mengetahui kecuali mereka bertiga.
"Begini saja, apa kamu bisa menahan rasa mualmu sampai Kelas berakhir? Karena sebentar lagi kita harus masuk kelas sebelum dosen datang." Ucap Rani.
"Aku akan menahannya," Balas Faras.
Faras menghapus air matanya dan mencuci muka supaya matanya tidak sembab dan sedikit lebih segar.
"Baiklah, ayo. Kamu harus berhati-hati." Davina dan Rani membantu Faras berjalan dan mereka menuju kelas karena sebentar lagi dosen akan datang.
***
"Sebenarnya aku sangat menyesal karena perbuatan waktu itu, kami berdua khilaf. Tapi aku harus gimana? Janin itu sudah bersemayam dalam perutku. " Ucap Faras menatap kearah kedua sahabatnya meminta solusi.
"Kamu harus bertaubat, Faras. Bagaimanapun juga berzina adalah dosa besar." Nasehat Rani yang diangguki olehnya.
"Kamu juga harus menjaga janinmu dengan sebaik-baiknya, karena dia darah dagingmu sendiri." Sambungnya.
"Tapi aku takut kalo Ricko tidak mau mengakui dan menerima janin ini." Ucapnya sambil mengelus perut yang masih rata itu.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja." Ucap Davina karena ia tau bahwa Ricko mencintai Faras dan tidak akan meninggalkannya.
Di depan pintu sudah berdiri Ricko yang sedari tadi sudah mendengar obrolan ketiga wanita di dalam sana. Dirinya terkejut atas pengakuan jika Faras sedang mengandung anaknya. Dia juga merasa bersedih karenanya Faras jadi menderita seperti itu. Tapi ia sendiri bertekad akan memberikan kebahagiaan untuk perempuan yang ia cintai.
Ricko memutuskan untuk segera masuk menemui Faras.
"Faras," Panggil Ricko sudah berdiri di hadapan mereka bertiga.
"I,, iya." Ucapnya gugup karena tiba-tiba Ricko sudah ada di hadapannya. Faras takut jika Ricko mendengar semuanya dan memintanya untuk menggugurkan kandungannya.
"Hm, jika diijinkan apakah aku boleh bertanggung jawab dengan bayi dalam kandunganmu? Aku berjanji akan berubah dan menjadi ayah yang baik buat anak kita." Ucap Ricko memegang kedua tangan Faras dengan bersungguh-sungguh.
Davina dan Rani tersenyum karena rencananya berhasil, Faras dan Ricko akan segera bersatu.
__ADS_1
"Gimana Faras, apa kamu mau?" Tanya Ricko sekali lagi karena Faras sedari tadi hanya diam.
Faras menganggukkan kepalanya, "Iya, aku mau." Balas Faras tersenyum.
"Terimakasih," Ricko tersenyum bahagia dan dia akan memeluk tubuh Faras. Namun sudah dihalangi oleh kedua sahabat yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua.
"Jangan berpelukan, kalian belum mahram!" Ucap Rani.
"Iya, kecuali jika kalian ingin berbuat dosa lebih besar lagi." Sahut Davina dengan kedua tangan bersedekap di depan dada.
Ricko menggaruk punggung kepalanya yang tidak gatal, "Maaf, aku lupa kalo Faras mempunyai sahabat seperti kalian yang akan melarangku menyentuhnya sebelum kami halal." Ucap Ricko.
"Iya, dong." Ucap Rani kemudian membawa Faras masuk ke dalam.
"Biarkan Faras istirahat dulu karena tubuhnya sedikit lemas. Pulanglah kerumahmu, dan temuilah orang tuanya jika kamu bersungguh-sungguh. Jadilah laki-laki yang mau bertanggung jawab atas perbuatannya." Ucap Davina yang diangguki oleh Ricko.
Setelah itu Ricko pun pamit dari sana dan menitipkan pesan untuk Faras.
Waktu sudah menjelang sore, mereka bertiga sedang asik mengobrol dengan Faras yang berbaring di atas ranjang.
"Owh, ya kapan kamu mau hijrah?" Tanya Rani pada Faras.
"Hm, dengan adanya kejadian ini aku yakin ini adalah teguran untukku karena sudah lalai. Aku bersyukur karena masih diberikan hidayah. Semoga dengan ini aku bisa hijrah dengan istiqomah." Ucap Faras.
"Aminn, alhamdulillah." Ucap Davina dan Rani bersamaan.
Rani terus saja memberikan nasehat keagamaan kepada Faras, Davina yang masih fakir ilmu pun ikut mendengarkan. Davina jadi ingat jika Harris sering kali menasehati nya sama seperti yang di sampaikan oleh Rani. Dia tersenyum, ternyata benar kalo Rani sering mengikuti kajian di Masjid yang dipimpin oleh Harris suaminya.
Davina melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Aku pergi dulu, yah."
"Mau kemana?" Tanya Rani.
"Ini sudah sore, aku harus membantu menyiapkan keperluan Harris ke Masjid untuk mengajar mengaji." Ucap Davina.
"Ciee, perhatian ya sama suami." Goda Rani.
"Kamu juga nanti bakal seperti itu kalo sudah menikah dengan Bimo." Balas Davina.
"Males ah, ngomong sama kamu suka disangkutin sama Bimo terus." Ucap Rani kesal.
"Iya kan Bimo orang yang kamu cintai." Ucap Faras menimpali.
"Yaudah aku pergi dulu ya." Ucap Davina kemudian pergi melenggang dari rumah sahabatnya itu.
***
__ADS_1