Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Dia yang berubah


__ADS_3

Sekembalinya Bimo dari Singapura bukan tanpa alasan. Laki-laki itu pulang untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi antara dirinya juga sang kekasih. Bimo memacari sahabat dari adiknya yang tak lain ialah Rani.


Sedari kemarin pikiran dan hatinya tidak tenang, setelah Rani mengakhiri panggilannya kala itu. Bimo juga tidak bisa menghubungi ponsel milik Rani. Ia tau pasti Rani sangat kecewa dengan dirinya. Ia tidak tau bagaimana lagi caranya untuk meminta maaf atas kesalahannya.


Tekad Bimo untuk meminta maaf sangat besar, buktinya ia kini datang ke kampus Rani untuk bertemu wanita pujaannya. Entah bagaimana nanti reaksinya, Bimo tidak peduli akan hal itu. Karena Rani tidak tau jika Bimo kembali dari Singapura.


Bimo setia menunggu Rani tak jauh dari gerbang dengan motor kesayangannya. Sebelumnya ia juga sudah mendapatkan informasi mengenai kapan Rani akan selesai dengan mata kuliahnya. Tentu hal ini akan lebih memudahkan Bimo untuk bertemu dengannya.


Dari kejauhan Bimo dapat melihat Rani sedang berjalan bersama Davina. Keduanya nampak akan berpisah, terlihat Rani dan Davina yang saling berpelukan dan saling melambai kemudian. Suatu keberuntungan bagi Bimo karena Rani nampak menjauhi area parkir, yang artinya wanita itu tidak membawa kendaraan.


Rani yang akan pulang berjalan menuju halte, kali ini ia akan mencoba angkutan umum. Ia berdiri sambil celingak-celinguk melihat angkutan umum yang mungkin akan lewat.


"Rani." panggil seseorang yang membuat tubuh wanita itu menegang. Jelas Rani mengenal suara itu, suara dari laki-laki yang tadi malam panggilan teleponnya ia putus secara sepihak.


Rani yang melihat keberadaan Bimo pun segera pergi menjauh. Ia sedang tidak ingin bertemu dengan laki-laki yang membuatnya galau akhir-akhir ini.


Melihat Rani yang menjauh dengan sigap Bimo berlari mengejar sang kekasih. Ia tak mau usahanya kali ini gagal. Ia hanya perlu menjelaskan sejelas-jelasnya bahwa Askya hanyalah temannya. Kecemburuan lah yang membuat hal ini semakin rumit juga Bimo yang tidak jujur dengan Rani.


"Tunggu, Rani!" ucap Bimo, dan berkat kaki panjangnya ia dengan mudah menggapai tangan gadis itu.


"Lepasin, Bimo!" ucap Rani kala Bimo berhasil mencekal tangannya.


"Nggak, sebelum kamu maafin aku."


"Lepas, aku mau pulang." lagi, Rani kembali berontak.


"Plis, dengerin penjelasan aku dulu." Bimo menatap mata itu, mata yang menyiratkan kekecewaan atas dirinya.


"Aku nggak butuh penjelasan dari kamu." teriak Rani marah.


"Askya hanyalah temanku." ucapnya final.


Rani terdiam, sudah berulang kali Bimo mengatakan hal tersebut tetapi Rani sudah tidak percaya lagi dengan laki-laki itu.


Bimo senang ketika Rani diam, artinya dia mau mendengarkan penjelasan dari dirinya. Namun semua itu harus gagal ketika sebuah motor jenis retro honda cb 100 berhenti di depan mereka berdua.


"Ayo, naik!" titah sang pemilik motor kemudian.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang, Rani menghempaskan tangan Bimo. Ia langsung menaiki motor dan pergi bersama laki-laki yang mirip Dilan itu.


"Ck, sialan!!" Bimo mengacak-acak rambutnya. Ia kesal dengan pemotor yang telah membawa kekasihnya kabur.


***


Rani kini sedang duduk menatap betapa indahnya danau di depannya. Ia harus berterimakasih kepada pemotor tadi yang telah menolongnya dari kejaran Bimo. Ia merasa sedih dan bersalah dengan Bimo, sebenarnya ia sedikit percaya dengan penjelasannya. Namun, akal dan perasaan lah yang membuatnya enggan untuk memberikan maaf.


Endru menghampiri gadis yang duduk di pinggir danau itu. Sudah beberapa hari ini ia tidak melihat wajah cantik itu, seakan rindu hari kemarin terbayarkan ketika ia melihat gadis yang dicintainya tengah berdiri di pinggir jalan untuk menunggu angkutan yang lewat.


Endru tentu sangat senang, seakan semesta mengerti akan kerinduannya pada sang gadis. Ia tak berani menghampiri dan hanya memperhatikan dari jauh, ia takut Rani akan marah dengannya seperti saat terakhir kali mereka bertemu.


"Iya, kamu buat aku nggak nyaman, Ndru. Dan aku minta tolong banget sama kamu, pliss jangan ganggu aku lagi."


Kalimat itu seakan terngiang di kepalanya.


"Jangan nangis." ucap Endru sambil mendudukkan diri di samping gadis itu.


Rani yang tersadar pun langsung menghapus air matanya. "Kamu udah balik?" tanyanya.


Endru mengangguk sambil tersenyum, kemudian ia menyerahkan sebotol minuman dingin.


Rani menerima dengan senang hati, kini ia merasa lebih tenang setelah meminum air pemberian laki-laki itu, atau karena bersama dengannya? Rani menggeleng cepat.


"Terimakasih, Ndru. Maaf merepotkan kamu." ucap Rani.


"Tidak ada yang merasa direpotkan, Ran." Endru menatap danau di depannya, ia tak mau menatap wajah gadis di sampingnya.


Setelah mengatakan hal itu keduanya diam. Mereka sama-sama canggung, apalagi setelah kejadian di mana Rani menolak pernyataan cinta dari Endru.


Tak lama kemudian terdengar dering telpon dari ponsel milik Rani. Sebelumnya ia telah menghidupkan kembali ponsel miliknya untuk menghubungi sang kakak.


Tertera nama Bimo di layar, tapi Rani enggan mengangkatnya. Sampai berkali-kali Bimo menelepon tetap saja Rani hanya cuek.


Endru sempat melirik kearah ponsel itu, terdapat nama Bimo. Ia yakin pasti dia laki-laki yang sama dengan laki-laki yang ditemuinya bertengkar dengan Rani.


Dering ponsel itu membuat pendengaran serta ketenangan hati Endru terganggu. Hatinya meradang, pantas saja Rani menolak cintanya itu, ternyata dia telah mencintai laki-laki lain.

__ADS_1


Endru meraih ponsel yang sedari tadi mengganggunya itu.


"Jika tidak ingin mengangkat, setidaknya matikan saja ponselmu. Suaranya mengganggu telingaku." Endru menyerahkan ponsel yang sudah ia matikan itu kepada Rani seolah meminta untuk menyimpannya saja.


Rani dapat menangkap raut kekesalan dari wajah Endru kala orang yang meneleponnya adalah Bimo. Apa Endru cemburu? Pikir Rani.


"Apa dia laki-laki yang membuat kamu menolak cintaku, Rani?" Endru mengucapkan kalimat yang sedari tadi berada di kepalanya.


Rani diam membisu. Ia terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan Endru.


Tapi kemudian ia mengangguk. Mana mungkin dirinya akan menerima cinta Endru sedangkan Bimo lebih dulu bersamanya, iya kan?


"Kalo kalian berdua saling mencintai, lalu kenapa kalian menodai makna cinta itu sendiri?"


Rani mengernyitkan dahinya, ia tidak paham dengan perkataan Endru.


"Kalian berpacaran kan?" ucap Endru membuat Rani paham kemana arah pembicaraan.


Benar, ucapan Endru seolah mengingatkan alasan awalnya untuk berhijrah. Hijrah bukan hanya perkara yang membuka aurat menjadi menutupnya, ia merutuki dirinya sendiri kenapa ia bisa selalai ini. Cinta, ya hal ini yang membuatnya salah dalam memaknai kata hijrah. Apalagi memaknai cinta, ia sudah salah besar.


"Bukankah ketika cinta datang menyapa, semua hal yang berbau dosa akan terlihat menjadi sebuah kebenaran dan kebahagiaan saja, kecuali kita dapat mengendalikannya." ucap Endru mengcopy ucapan kakaknya beberapa hari lalu kala ia mengadu padanya soal putus cinta.


Rani mendengar itu, kalimat yang begitu dalam maknanya seakan menyindir keadaan dirinya sekarang.


Rani menatap wajah laki-laki yang sedari tadi hanya menatap lurus ke depan, seakan air di depannya sangat menarik perhatian. Ada apa dengan Endru, kenapa sikapnya berubah? Begitu pikirnya.


Tiba-tiba Endru beranjak dari duduknya, sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Ini sudah sore, Ran. Pulanglah, tidak baik seorang perempuan masih di luar saat malam tiba. Maaf aku tidak bisa mengantarkan mu." ucap Endru.


"Tidak masalah, aku bisa pulang sendiri. Terimakasih Ndru tumpangannya tadi."


Endru nampak mengangguk, kemudian menaiki motornya, ia harus segera pulang sebelum ada yang memarahi dirinya.


Rani nampak memperhatikan kepergian Endru. Ada yang berbeda dengan laki-laki itu, apa karena ia yang telah menolak cinta darinya membuat dia berubah seperti ini.


Rani menggeleng, sekarang ia harus pulang. Kejadian hari ini membuatnya tidak bersemangat!


***

__ADS_1


Kita bahas kisah asmara Rani dulu ya readers.


__ADS_2