Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Petaka Tak Terduga


__ADS_3

Sudah dua hari Davina diculik oleh Ricko. Dan kini ia dikurung di sebuah gedung tua yang terbengkalai. Selama itu pula Davina selalu berharap Harris akan datang menyelamatkan dirinya dari sekapan Ricko.


Davina membuka matanya perlahan, dia melihat tubuhnya sudah dalam keadaan terikat. Ia pun berusaha untuk melepaskan ikatan yang menjerat tangan dan kakinya namun nihil, ikatan tersebut sangat kuat sehingga sukses membuat Davina merasakan kebas disekujur tubuhnya.


"Ck, sialan!" ucapnya ketika tidak bisa membuka ikatan tali.


Davina mendengar beberapa suara dari arah luar. Mungkin orang yang sedang menjaganya.


"Hei, lepaskan aku!" ucap Davina berteriak namun tak mendapat respon dari siapapun.


"Hei, kalian dengar tidak! Lepaskan aku!" ucap Davina berteriak lebih keras.


"Berisik, bisa diam tidak!" balasnya dengan suara yang khas seperti seorang bodyguard, nyali Davina dibuat menciut hanya dengan suara orang tersebut.


"Pak, tolong lepaskan saya." ucap Davina.


Penjaga tersebut yang berusia sekitar lima puluhan tahun tak tahan dengan teriakan Davina pun langsung menghampirinya.


"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum bos kita yang menyuruhnya." ucap.


"Nih, Pak saya mau tanya. Kenapa bapak mau aja sih disuruh melakukan pekerjaan yang kotor seperti ini?" ucap Davina.


"Memangnya apalagi kalau bukan karena uang, kita hidup di dunia ini butuh uang." ucapnya.


Davina tertegun, ternyata bapak tersebut mengalami kesulitan ekonomi sehingga menerima pekerjaan seperti ini.


"Bapak mau uang? Saya bisa kasih asal bebasin saya dari sini." ucap Davina berharap orang di depannya mau mengikuti perintahnya.


"Maaf, saya termasuk orang yang setia dengan atasan. Maka dari itu mau seberapapun kamu menyogok, saya tidak akan pernah melepaskan mu." ucapnya dengan penuh tekanan.


"Saya percaya dengan prinsip bapak kok. Tapi apa bapak yakin? Akan mendapat uang itu, sepertinya kalian semua akan lebih dulu mendekam di penjara." ucap Davina sambil terkekeh.


Orang tersebut nampak diam mendengar ucapan Davina.


"Apa maksudmu?" ucapnya.


"Apa bapak tau, suami saya tidak akan tinggal diam dengan hal ini." ucap Davina meyeringai, merasa jika pria tersebut mulai terpengaruh dengan ucapannya.


Brakkk


Terlihat penjaga lain membuka pintu dengan kasar.


"Jangan berisik! Dan kau tinggalkan dia sendiri." ucap penjaga kepada bapak tadi yang juga anak buah Ricko. Pintu pun di tutup dan dikunci dari luar.


Davina kembali dikurung sendirian di dalam gedung tersebut. Seluruh tubuhnya terasa pegal dan lemas. Ia belum makan apapun dari kemarin. Walaupun sudah diberi makan oleh anak buah Ricko, tetap saja Davina tidak mau memakannya dan malah membuangnya. Tentu hal tersebut membuat sang penjaga marah, dan sampai sekarang Davina tidak diberi makan lagi.


Davina memejamkan matanya sambil menundukkan kepalanya. Yah, hanya posisi itu yang ia lakukan sedari tadi.


Tak lama kemudian, Davina mendengar suara seseorang dari luar. Pintu pun terbuka, terdengar suara langkah kaki mendekat kearah Davina yang masih terpejam.


"Maaf telah membuatmu menunggu lama, Davina." Ucapnya kemudian mendudukkan diri di bangku yang ada di sana.


Davina yang mendengar seseorang bicara kepadanya perlahan membuka matanya dan melihat siapa orang yang berada di depannya.

__ADS_1


Betapa kagetnya Davina melihat seseorang yang berada di depannya.


"Owh, jadi kamu bekerja sama dengan Ricko untuk menculik ku?" ucap Davina menatap secara bergantian kedua orang yang tak jauh darinya.


"Hm, tepat sekali. Jadi apa kamu merindukanku Davina?" ucapnya sambil tersenyum licik.


"Cih, merindukanmu? Bahkan dirimu sendiri tidak pantas untuk dirindukan oleh siapapun, nona Bella yang terhormat!" ucap Davina dengan penuh penekanan.


"Upss, maaf aku salah sebut. Bahkan kamu wanita yang tidak terhormat karena berusaha merebut suamiku." ulangnya.


Bella marah mendengar perkataan yang diucapkan Davina. Tanpa berkata kata, ia mendekat dan langsung menampar pipi kiri Davina yang meninggalkan bekas kemerahan. Perih, itulah yang dirasakan oleh Davina. Ia ingin membalas perlakuan Bella terhadapnya, namun apalah daya ia tidak bisa berbuat apa apa karena dirinya diikat.


"Ini belum seberapa, Davina. Aku masih akan memberikanmu kejutan kejutan yang luar biasa. Hahaha." ucapnya kembali duduk.


"Katakan, apa sebenarnya mau mu dariku?" ucap Davina berkaca-kaca.


"Aku mau kematian mu."


Mendengar hal tersebut, debaran jantung Davina memompa begitu cepat terasa seakan ingin melompat keluar dari dalam rongga dadanya.


"Aku juga ingin Dzaki menjadi milikku seutuhnya." sambungnya dengan bibir yang tersenyum. Tak ada rasa bersalah sama sekali, maupun rasa malu yang terlihat di wajahnya yang begitu cantik. Namun, sungguh sayang hatinya begitu kotor.


Davina menatap kearah Ricko,


"Bukankah Harris temanmu, Ricko? Tapi kenapa kamu melakukan ini semua? Kamu mau melukai istri sahabatmu sendiri?" ucap Davina, berharap Ricko berubah pikiran dan mau membebaskannya.


"Hahaha, teman? Harris memang temanku dulu, Davina. Tapi sekarang tidak lagi. Aku tidak suka berteman dengan orang yang lebih mementingkan wanitanya daripada sahabatnya sendiri." ucapnya.


Davina masih tidak paham dengan apa yang Ricko katakan. Wanitanya? Siapa wanita yang dimaksud Ricko, apa dirinya?


Pandangan Davina beralih ke wanita di depannya. Ia menatap sengit kearahnya sambil terus berusaha melepaskan ikatan tali yang membelit kaki dan tangannya.


"Mau sekuat apapun kamu berusaha, kamu tidak akan bisa kabur dari sini, Davina. Karena kamu wanita lemah!"


"Tidak! Aku bukan wanita lemah." ucap Davina sambil terisak.


"Aku yakin Harris suamiku akan datang menolongku. Juga Bang Bimo, mereka pasti akan datang." sambungnya dengan penuh keyakinan.


"Owh, aku baru ingat dengan laki-laki yang bernama Bimo. Bukankah dia saudara sepupumu? Jika aku membunuhmu mungkin satu persatu dendam ku akan terbalaskan. Bukan hanya Dzaki disini yang akan tersakiti, pasti Bimo juga. Haha."


"Lepaskan aku!" ucap Davina lirih dengan suara yang tak hanya bergetar, namun tenggelam dengan tangis serta air mata yang tumpah di kedua pipinya.


"Astaga! Diam!" pekik wanita itu. Tak tahan mendengar tangisan Davina yang semakin tak terbendung. Sakit yang terlalu dalam, ia tak punya waktu untuk menahan tangisnya yang sedari tadi.


Kemudian wanita itu bangkit dari duduknya karena tangisan Davina yang tak kunjung berhenti. Saat itulah, Bella terlihat mengeluarkan sebuah benda yang mengkilap dengan sisi yang tajam di sebelahnya.


Dia mengambil benda tersebut dengan menggenggamnya menggunakan satu tangan lalu tersenyum kearah Davina. Glek, Davina menelan ludahnya ketika kedua matanya yang buram berkat air mata yang tak mau berhenti mendekat kearahnya.


"Bella..." panggil Davina tak percaya sembari ketakutan, jika wanita di depannya benar benar akan membunuhnya.


"Iya, Davina sayang? Apa kamu ketakutan, hm?"


Davina masih menatapnya dengan tatapan iba, mengharap wanita di depannya mau dengan suka rela melepaskannya tanpa melukai terlebih dulu.

__ADS_1


"Katakan Davina, apa pesan terakhir yang akan kamu sampaikan untuk orang orang terdekatmu?"


Bella menunduk, menatap Davina dengan kedua matanya yang memperlihatkan api kebencian.


"Aku tidak terima jika Dzaki menikahi wanita lain selain aku, Davina. Wanita lain yang tak ada hubungannya dengan keluargaku. Hah! Davina... aku tak habis pikir dengan Dzaki, dari sekian banyak wanita di dunia ini, dia memilih mu! Wanita keras kepala, apa sebenarnya kelebihan mu dibanding diriku. Hah?!"


Davina masih saja terdiam dengan bibir yang masih terisak. Berusaha menahan takut yang menyerangnya dengan membabi buta. Belum lagi pisau yang ada di tangannya serta senyuman tak berdosa yang tak lekang dari bibir Bella.


"Aku berharap Dzaki berbeda dari yang lainnya, yang setia hanya dengan satu wanita. Pada akhirnya dia menipuku, menipu rasa sayangku, rasa cintaku yang aku berikan selama bertahun tahun lamanya kepadanya. Katakan Davina, kenapa dia malah menyia-nyiakanku. Dan dia malah lebih memilih wanita sepertimu? Apa kamu tau siapa sebenarnya aku, Davina? Apa kamu tau, hah?"


"Aaaww!" terdengar jerit Davina ketika rambut panjangnya ditarik dengan paksa. Wajahnya dipaksa menengadah hingga pandangan matanya beradu dengan atap gedung tersebut. Entah mengapa tiba tiba Bella melepaskan ikatan tangan dan kaki Davina.


"Bangun! Bangun, Davina! Bayar dosa dosa mu atas diriku!" perintahnya.


Bella memaksanya untuk bangkit dengan menarik rambut panjang miliknya. Davina terpaksa bangkit dengan rasa sakit di setiap helai rambutnya juga kaki yang masih kebas.


Bbbrruuukk!


Tanpa aba aba Bella mendorong tubuh Davina setelah bersusah payah berdiri. Kepalanya menghantam dinding yang dingin. Terdengar ringisan dari mulutnya sebentar sebelum akhirnya kembali mematung. Sebab, Bella sudah menempelkan pisau yang tak berhati nurani di pipi mulus Davina. Davina bisa merasakan betapa dinginnya besi putih mengkilap di kulit miliknya, reflek Davina memejamkan matanya dengan air mata yang menetes dengan derasnya.


"Wajah cantik ini, kamu gunakan untuk menggoda Dzaki, bukan? Bagaimana jika ada bekas di sini? Di pipi yang menggemaskan ini? Apa dia masih sudi bersamamu?"


Sssrreett!


Terlihat pisau tajam itu begitu mudah menggores kulitnya, meninggalkan bekas sayatan yang mengeluarkan banyak darah.


"Aaww!" Davina berusaha menyentuh pipinya yang berdarah dengan tangannya. Lalu melepaskannya demi melihat darah yang mengalir di sana. Pipi miliknya telah dilukai oleh wanita yang telah dibutakan oleh dendam. Sedangkan Davina sendiri tidak punya tenaga untuk melawan.


"Jangan berpura-pura bodoh, Davina! Hanya luka kecil, tak cukup untuk membayar semua sakit yang kamu sebabkan untukku."


Bella masih saja tersenyum, namun kedua matanya berubah berkaca-kaca. Davina bisa melihat wanita di depannya meneteskan air mata melewati pipi yang lembut lalu buru-buru Bella menyeka agar tidak terlihat olehnya.


"Harris tolong aku..." ucap Davina dengan lirih karena tak bertenaga.


"Jangan sebut nama itu di depanku, Davina. Aku sungguh tak menyukai hal itu!" Bella kembali murka. Dia mendorong Davina kembali ke dinding lalu menahannya dengan tubuh miliknya. Saat ini tubuhnya terhimpit oleh tubuh Bella.


"Bagaimana jika kamu pergi saja, Davina? Maka aku akan hidup bahagia dengan Dzaki. Kamulah yang telah merebutnya dariku. Maka dari itu, kamu yang harus membayarnya!"


Jlebb!


Benda putih mengkilap itu berhasil menembus perut rata milik Davina. Terlihat darah segar keluar dari sana. Davina menatap pisau yang sukses menembus tubuhnya.


"Bella... ka... kau.." ucap Davina terbata-bata. Pandangannya semakin nanar dan tubuhnya melemah.


Bbbrrakkk!


Belum sempat Davina berucap, pintu tersebut terbuka lebar setelah berhasil didobrak dari luar. Pandangan Bella berpindah dengan cepat ke sana. Lalu keadaan menggelap dengan cepat, tubuh Davina merosot ke tanah karena sudah tidak kuat menopang tubuhnya. Hanya jeritan yang terdengar sebelum Davina menutup matanya.


"Arabella! Hentikan semua kegilaan mu ini!"


Lalu pekikan lain menyusul.


"Sayang!"

__ADS_1


***


__ADS_2