
Sesuai rencana kemarin hari ini Harris akan mengajak Davina untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga, sebelum nantinya mereka berdua akan melaksanakan acara empat bulanan bayi mereka yang akan diadakan di rumah orang tua Harris.
"Ayo, aku udah siap." ucap Davina pada Harris.
Harris mengernyitkan dahinya ketika melihat penampilan sang istri.
"Kamu kenapa memakai masker, sayang?" tanya Harris kemudian.
"Hm, nggak tau kenapa tadi di meja rias nyium bau parfum, eh rasanya mau mual. Padahal dari kemarin udah enggak." ujarnya Harris hanya mengangguk memaklumi keadaan istrinya yang sedang hamil.
Davina menatap wajah suaminya dan timbul sebuah ide. Kemudian ia berlalu menuju kamar hendak mengambil sesuatu.
Ia kembali membawa sesuatu untuk diberikan kepada Harris.
"Aku tidak merasa mual, Davina. Jadi tidak perlu memakai masker." protes Harris ketika wanita itu tiba-tiba memasangkan sebuah masker di wajahnya.
"Ini untuk jaga-jaga nanti, pasti banyak perempuan yang memperhatikan kamu ketika di mall." Harris tersenyum, pasti Davina akan cemburu jika hal itu benar terjadi.
"Kamu cemburu ya?" goda Harris.
"Enggak, cuma risih aja sih. Dan aku nggak rela mereka yang bukan siapa-siapa melihat ketampanan wajah suamiku ini." Davina mengusap wajah Harris yang tertutup oleh masker.
"Berangkat sekarang?" tawar Harris ketika Davina terus saja memandangi wajahnya dengan senyum yang mengembang, ia bisa melihat dari sorot matanya.
Entah mengapa hari ini Davina begitu mengagumi suaminya, ketampanannya. Ia merasa setiap hari rasa cintanya pada Harris semakin besar saja. Apalagi dengan sikap Harris yang selalu sabar dan pengertian dengan dirinya.
"Eh, iya."
Davina mengikuti Harris menuju mobil, masih dengan senyum mengembang. Ya, walaupun tidak akan telihat karena ia memakai masker.
***
Kini Harris dan Davina sudah sampai di sebuah pusat perbelanjaan. Sebelumnya juga Umi Khumaira sudah mengirim pesan kepada anaknya untuk membeli beberapa keperluan yang masih kurang saat acara empat bulanan.
"Maaf ya, sayang. Ada tambahan yang harus dibeli." ucap Harris.
Davina mengernyit, "Kenapa minta maaf? Bukankah harusnya semua ini jadi urusan kita, ini acara kita kan. Harusnya kita bersyukur udah dibantu mereka."
Harris mengangguk, kemudian mereka berdua melanjutkan belanjanya.
"Apa kamu mau beli sesuatu, Davina?" tanya Harris ketika semua kebutuhan yang diperlukan sudah masuk kedalam troli belanja.
Davina nampak berfikir, "Owh, iya. Susu kehamilan milikku sudah habis." ujarnya.
"Ya sudah, biar aku yang ambil." Harris menawarkan diri, karena sedari tadi ia tak tega melihat istrinya itu berjalan ke sana kemari untuk mencari produk yang akan dibeli. Pasti Davina akan kecapaian nantinya.
"Nggak usah, biar aku saja. Lagian rak susu tidak jauh dari sini. Mas tunggu aja di sini ya." Ucap Davina, kemudian berjalan menuju rak di mana tempat susu kehamilan berada.
__ADS_1
Davina memahami kekhawatiran suaminya, namun ia merasa baik-baik saja. Sehingga ia pikir dia sendiri yang akan mencari barangnya sedangkan Harris cukup berjalan di belakang dengan mendorong troli belanjaan. Sungguh romantis bukan?
Harris setia menunggu istrinya di tempat.
"Ustadz Harris?" Harris langsung menoleh ketika mendengar seseorang memanggil namanya.
"Ammar." seru Harris ketika melihat orang yang dikenal nya juga berada di sana.
"Sendirian, ustadz?" tanyanya ketika melihat Harris hanya seorang diri.
Harris tersenyum, "Lagi nemenin istri belanja. Nah, itu istri saya." ujar Harris ketika melihat Davina sudah kembali.
"Aku udah selesai." ucap Davina sambil membawa dua buah kotak susu kehamilan dengan berbeda varian di tangannya.
"Davina, perkenalkan dia ustadz Ammar. Ustadz yang akan mengisi acara nanti malam." Harris memperkenalkan temannya.
Davina tersenyum sambil menangkupkan kedua tangan miliknya.
"Panggil saja aku Ammar, toh aku lebih muda dari kalian." ujarnya membuat mereka berdua terkekeh.
"Iya-iya kamu lebih muda dari kami."
"Owh ya, ustadz Harris silahkan dilanjutkan belanjanya. Aku mau membeli pesanan ibu ratu dulu." ucap Ammar berpamitan.
"Iya, silahkan." Ammar pun meninggalkan Davina dan Harris.
Harris yang mendengar ucapan Davina mengernyit, tak paham maksud istrinya. "Berpawang?"
"Iya, apa mas nggak denger Ammar mau membelikan sesuatu buat ibu ratunya. Itu pasti istrinya kan."
Harris tertawa, "Haha, kamu ini suka ya sama Ammar?" goda Harris, yang sebenarnya ia takut jika hal itu benar.
"Hm, enak aja. Lagian laki-laki setampan dia mustahil belum menikah." Davina beranggapan.
Harris merangkul tubuh istrinya, "Di dunia ini tidak ada yang mustahil, Davina. Ibu ratu yang dimaksud olehnya bukan istri, melainkan ibunya sendiri."
Davina terkesiap, "Benarkah? Kalo begitu, Ammar harus jadi adik iparku."
"Emangnya Ammar mau sama gadis manja seperti Diandra." balas Harris terkekeh.
Davina memutar bola matanya malas, tapi memang benar sih. Apakah Ammar itu mau dengan adiknya yang sangat manja? Entahlah, ia tidak tahu.
***
Kesibukan dikediaman Pak Imron sudah berlangsung sejak pagi, di mana kini tenda sudah didirikan begitupun dengan kursi-kursi terlihat berderet rapi. Di ruang tamu dan ruang keluarga pun sudah tidak ada kursi, tinggal di gelar karpet saja.
Kini Davina dan Harris sudah berada di rumah orang-tuanya Harris. Sebelumnya mereka berdua mampir terlebih dahulu ke apartemen untuk menyimpan belanjaan yang sudah dibeli.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum." ucap Davina memasuki rumah. Terlihat luas, karena tidak ada kursi atau meja seperti biasanya. Davina langsung menuju ke dalam, ia yakin pasti orang-orang sedang sibuk memasak.
Davina tersenyum melihat ibu dari suaminya itu. Lalu menghampirinya dan langsung mencium tangannya.
"Akhirnya datang juga, Umi sudah menunggu dari pagi." ujar Khumaira, Davina hanya tersenyum. "Harrisnya mana?" sambungnya.
"Mas Harris lagi ngobrol sama tetangga di depan." Khumaira mengangguk.
"Lho, kenapa pake masker?" tanya Khumaira heran.
Davina langsung melepaskan masker yang ia pakai.
"Ini lho, Umi. Tadi pagi Davina merasa mual setelah mencium bau parfum. Karena mau pergi belanja sekalian deh, takutnya mual di mall kan malu."
"Apa kamu pusing? Wajahmu kok pucat." Umi Khumaira membelai wajah menantunya. Davina menggeleng.
Tak lama Harris datang sambil menenteng sebuah kresek. "Ini Umi pesanannya."
"Bawa saja ke dapur." Harris pun menurut membawanya ke dapur diikuti oleh Davina.
"Maaf Bu, ini pesanannya tadi pagi." ujar Harris menyerahkan kantong kresek tersebut.
"Eh, nak Harris. Kapan datang?" tanya salah satu saudaranya yang sedang memasak.
"Baru saja, bu."
"Owh, ini istrinya Harris. Cantik sekali ya, pinter kamu milih istri." ucap seorang ibu-ibu. Davina yang dipuji hanya tersenyum malu.
"Harris ini gimana, nikah kok nggak ngasih kabar. Tiba-tiba dapat telpon dari Umi mu untuk datang ke acara syukuran empat bulanan. Kaget banget aku, tapi ya alhamdulillah ikut seneng." sahut ibu-ibu yang lain.
Mereka adalah keluarga besar Harris, yang memang baru mengetahui jika Harris telah menikah dan akan segera menjadi seorang ayah. Hal ini membuat mereka ikut senang karena sebentar lagi akan hadir anggota baru.
Setelah menyapa keluarga besarnya, Harris dan Davina masuk ke dalam kamar milik Harris. Keadaan kamarnya masih sama seperti sewaktu terakhir kali mereka menginap di sana.
Setelah mengganti pakaian, Harris dan Davina merebahkan diri di ranjang, dengan posisi Davina berada di dada sang suami. Entah mengapa posisi tersebut posisi ternyaman yang ia sukai.
"Kamu pasti lelah, sayang. Mau aku pijat?" Davina menggeleng.
Kemudian ia menarik tangan suaminya, "Dede bayi pengen dielus sama ayahnya." Harris tersenyum dan menuruti keinginan Davina.
Tak lama kemudian, Davina nampak kehilangan kesadaran. Wanita itu dengan mudah tertidur. Harris membenarkan posisi istrinya. Kemudian ia bangkit, bersiap karena ia akan pergi sebentar.
"Mau kemana kamu, Harris?" tanya Khumaira ketika melihat sang putra mengambil kunci mobil.
"Mau keluar sebentar, Umi. Ada janji dengan Farhan. Titip Davina, dia sedang istirahat." sang Umi mengangguk. Setelah berpamitan Harris pergi menggunakan mobilnya.
***
__ADS_1