
Setelah kepergian Arya, diam-diam Harris dan Farhan mengikutinya. Dan ternyata, laki-laki itu pergi ke basecamp untuk menemui Deon. Akhirnya mereka bertiga menceritakan yang sebenarnya kepada Deon, berharap akan ada jalan keluar.
"Kalian tau siapa yang melakukannya?" Deon menatap satu persatu temannya itu. Ia cukup terkejut ketika tiga temannya itu mendatangi basecamp secara tiba-tiba dan menceritakan telah mendapat sebuah teror.
Tidak ada yang menjawab, baik Harris, Farhan, maupun Arya mereka hanya saling diam. Sudah satu jam sejak pesan misterius itu, tapi mereka belum bisa mengetahui pelaku pengirim pesan tersebut.
"Bella, pasti ulah perempuan itu. Harris, kamu bercerita bertemu dengannya, kan?" kali ini Farhan membuka suaranya.
Harris mengangguk, memang ia bertemu dengan wanita itu. Bahkan Bella sempat mengucapkan kalimat ancaman kepadanya. Bukan tidak mungkin jika dialah pelakunya.
Deon mengernyitkan dahi bingung, "Bella? Siapa wanita itu, dan kenapa kalian mencurigainya?"
"Bella itu mantan Harris, dia juga orang yang telah mencelakai Davina, istrinya Harris." sahut Farhan.
Ah, Deon baru ingat, wanita itu yang selalu lengket bagai perangko dengan Harris dulu. Sudah lama sekali, ditambah dirinya masuk penjara membuatnya melupakan banyak hal.
"Hm, gue mau pergi dulu." ucap Deon setelah mendapat pesan. Ia mengambil jaket serta kunci motor miliknya.
"Deon, gue baru nyampe ya, Lo nggak bisa pergi gitu aja." Arya menatap Deon jengah.
"Jangan khawatir, gue bakal bantu kalian. Tapi, ijinin gue pergi dulu." tanpa menunggu persetujuan Deon pergi dari sana.
Farhan mengacak-acak rambutnya, ia merasa sedikit frustasi. Ini merupakan pertama kali dirinya mendapat teror seperti ini. Ia takut dan cemas sekaligus. "Kita nggak akan mati karena teror ini, kan?" gumamnya. Jika di film-film korban teror akan mengalami hal buruk. Apa itu berarti dirinya juga akan mengalami hal yang buruk?
"Tutup mulut Lo, Han. Persetan sama teror, kita harus menangkap pelakunya."
"Tapi, Ar. Kita belum—" ucapan Farhan terpotong ketika Harris membuka suara.
"Aku tidak yakin dengan ini, tapi aku pikir ada orang lain juga yang dapat teror seperti kita kan? Karena biasanya teror ditujukan untuk perorangan. Kita bahkan tidak tinggal satu rumah?" ucap Harris seakan ragu dengan ucapannya sendiri.
Arya dan Farhan saling pandang, itu bisa saja terjadi. Jadi, siapa lagi yang mendapat pesan misterius itu? Ponsel milik Arya berdering, sontak mereka bertiga saling pandang, sebuah telepon masuk.
"Gue angkat dulu," Arya sedikit menjauh dari kedua temannya itu.
Arya menghela nafas kemudian kembali duduk di samping Harris. "Kamu benar Harris, ada korban lain." ucap Arya ketika panggilannya telah berakhir.
__ADS_1
"Apa? Siapa?" Farhan menyahut cepat.
"Rio, juga yang lain. Menurut Lo, ini aneh kan? Satu kelompok mendapat pesan misterius itu."
"Kamu benar, ini memang agak janggal. Yang terpenting sekarang kita harus lebih waspada. Karena sudah petang, sebaiknya kita pulang ke rumah masing-masing." ucap Harris, jika benar Bella dalang dibalik teror tersebut, ia harus benar-benar menjaga Davina. Bagaimanapun pasti istrinya itu yang akan wanita itu incar.
Farhan mengikuti Harris, sekarang tinggal Arya seorang diri di sana. Ia benar-benar dibuat penasaran akan siapa pelaku pengirim pesan misterius itu.
Satu-satunya pelaku yang bisa dicurigai untuk saat ini ialah Bella, wanita itu baru saja keluar dari penjara. Dan hal pertama yang akan ia lakukan, pasti balas dendam, kan? Tidak mungkin seseorang melupakan begitu saja penyebab dirinya di penjara. Dan itu karena Harris, Bella pasti akan balas dendam kepadanya.
Arya menatap lekat ponselnya, dimana pesan misterius itu dikirim. Pesan yang berisi gambar baground merah dengan tulisan tinta hitam, bertuliskan kartu merah telah dimulai. Ia memikirkan segala kemungkinan, termasuk hubungan antara pesan tersebut dengan Bella. Jika memang dia melakukan teror untuk balas dendam, lalu kenapa bukan Harris saja yang mendapat teror itu? Kenapa dirinya dan yang lain juga kena.
Arya berusaha menghubungi nomor pengirimnya, namun tidak bisa. Kemungkinan setelah mengirim pesan, pelaku langsung membuang kartu tersebut.
"Ck, dasar pengecut." geramnya.
Arya bangkit dari duduknya bersiap untuk meninggalkan basecamp. Tapi langkahnya harus terhenti ketika sesuatu terlintas dalam benaknya.
Ia dan teman-temannya sudah jelas mendapatkan pesan kartu merah itu, tapi ada satu orang yang belum diketahui apakah dia juga mendapatkan pesan yang sama, bukan?
Arya bergegas menggeledah barang-barang yang ada di sana. Mulai dari lemari yang berisi barang kelompok mereka, ada beberapa jaket yang mereka gunakan dulu, dan botol-botol minuman yang sudah sangat lama. Ia beralih pada meja mini yang ada di sudut ruangan. Membuka laci tersebut, matanya membulat sempurna. Ketemu, Arya berhasil menemukannya.
"Gue harap bukan Lo, pelakunya." gumam Arya. Setelah itu ia pergi meninggalkan basecamp.
***
Saat pertama kali memasuki kamar, pemandangan pertama kali yang ia lihat adalah senyuman cerah dari sang istri, Davina. Bukan karena melihat sang suami pulang, melainkan ia tersenyum kepada ponsel yang berada di genggaman tangannya. Bahkan ia belum menyadari jika Harris sudah berdiri memandanginya sejak tadi.
"Khem,"
Davina mendongak, "Mas, kapan kamu pulang?" Davina membuang ponselnya asal, bergegas menghampiri sang suami. Menyalaminya dan memeluknya dengan erat.
"Kamu kenapa, hm?" tanya Harris, sambil membalas pelukannya.
Davina mengurai pelukannya paksa, mundur beberapa langkah. Harris mengernyit, ada apa dengan istrinya itu.
__ADS_1
"Mas mandi dulu deh, aku nggak tahan sama bau kamu."
Harris tertawa, memang tubuhnya terasa sangat lengket. Ia kemudian berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sedangkan Davina kembali menghampiri ponsel miliknya, membalas kembali pesan dari seseorang yang amat ia rindukan keberadaannya.
Harris keluar kamar mandi, tubuhnya terlihat segar dengan rambut basah serta piyama berwarna navy yang pas di tubuhnya. Ia ikut bergabung bersama sang istri di ranjang.
"Pesan dari siapa sih?" Harris berusaha mengintip layar ponsel milik Davina.
"Coba tebak," bukannya menjawab, ia malah mengajak untuk bermain teka-teki.
Lama berfikir, akhirnya sebuah nama muncul di benaknya. "Rani, ya?" ucap Harris.
Davina cemberut, "Kok, Mas tau sih? Jangan-jangan tadi udah liat ponsel aku, ya?" tuduhnya, merasa suaminya tidak bisa diajak kompromi. Seharusnya ia bisa menjawab dengan beberapa kali gagal, kan.
"Jangan cemberut dong, Sayang. Benar Rani, kan? Emangnya dia ngomong apa sampe kamu senyum-senyum sendiri tadi."
"Oh ya, Mas juga udah lama nggak lihat dia. Bahkan Mas nggak pernah lihat lagi kamu ngobrol sama Rani."
Davina mengangguk, "Mas benar, udah lama kita nggak ngobrol. Tapi, sekarang kita berdua udah baikan. Bahkan, minggu depan Rani ngajak aku bertemu."
Harris diam, bahkan selama ini dirinya tidak tahu jika Davina ada masalah dengan sahabatnya. "Benarkah, Mas ikut senang kalau kalian sudah baikan. Semoga pertemanan kalian bukan hanya di dunia, tapi juga sampai akhirat ya, amin."
"Amin, makasih doanya Mas." mereka berpelukan, sambil menyapa bayi yang ada dalam kandungan Davina.
Dilanjutkan dengan sesi Deep talk atau percakapan, istilah yang sering digunakan oleh kaum muda. Ini adalah cara untuk membangun kedekatan yang lebih kuat, memahami perasaan dan pandangan masing-masing, serta membantu mengembangkan ikatan yang lebih dalam antara pasangan.
Lama saling mengobrol, tanpa sadar Davina tertidur dalam pelukan Harris. Dengan sigap Harris membaringkan Davina pada posisi yang nyaman. Menarik selimut sebatas perut, lalu menciumi wajahnya dengan sayang. Harris akan selalu melindungi wanitanya kapanpun dan dimanapun.
Ia kembali teringat dengan pesan misterius itu, Harris bangkit dari ranjang berniat menghirup udara malam di balkon kamarnya. Sebuah kardus kecil di atas sofa menarik perhatiannya. Harris pun menghampiri benda tersebut. Sejak kapan Davina menerima paket dan tidak langsung membukanya? Karena penasaran Harris membuka kotak tersebut.
Harris mengepalkan tangannya ketika melihat isi kotak tersebut. Untung saja dirinya yang membuka dan bukan Davina. Entah apa yang akan terjadi jika Davina yang membukanya terlebih dahulu.
Harris membuang kotak tersebut ke dalam tempat sampah, berharap Davina tidak akan melihatnya.
__ADS_1
"Siapapun pelakunya, kamu nggak akan lolos." gumamnya sambil memandangi gelapnya malam.
***