
POV Davina
Kedua mataku membuka secara tiba-tiba. Seakan baru dipaksa bangun dari tidur panjang ku. Kedua netraku menatap kosong, bahkan tak berusaha untuk sekedar mengenali lingkungan tempatku berada saat ini yang dirasa asing oleh tubuhku sendiri.
Tubuhku terlalu lemah, hingga tak mampu menggerakkan tanganku. Ku paksa dengan semua sisa tenaga yang masih tersisa untuk bangkit dari tidurku. Tanganku terasa tertahan oleh sesuatu. Kulirik dengan ekor mataku, karena kepalaku terasa berat untuk sekedar menoleh. Tali infus yang terhubung dengan urat nadiku telah menahan pergerakan ku. Saat itulah aku sadar, aku sedang berada di rumah sakit.
"Infus? Sejak kapan aku di rumah sakit?" gumam ku sendiri.
Kuupayakan sekuat tenagaku, untuk mengumpulkan satu persatu ingatanku penyebab keberadaan ku di rumah sakit ini. Semakin ku paksa mengingat, semakin terasa sakit kepalaku seperti baru dihantam oleh benda keras.
"Kamu sudah bangun, Sayang?" suara seseorang yang sangat ku kenal. Yang beberapa bulan ini hadir dalam hidupku. Aku bergegas menoleh kearahnya, entah mengapa mendengar suaranya membuat tenagaku seolah kembali terkumpul.
Dari arah pintu, Harris datang dengan setelan koko juga peci yang melekat di kepalanya. Sepertinya dia habis sholat, tapi aku tidak tau saat ini menunjukan pukul berapa. Wajahnya terlihat begitu khawatir dan begitu lelah. Terdapat lingkaran hitam di sekitar matanya seperti Harris kekurangan tidur beberapa hari ini.
Harris mendekati ranjang tempatku berbaring saat ini. Demi menyambutnya, aku pun berusaha bangkit untuk bisa duduk walaupun kepalaku terasa berat yang sangat menyiksa.
"Aww," ringisku ketika kurasakan nyeri di bagian perutku.
Mendapatiku kesakitan, Harris dengan sigap langsung membantuku.
"Berbaringlah, Davina. Luka di perutmu belum mengering." ucapnya dengan panik mengingatkanku.
Namun, aku tak menghiraukan ucapannya. Aku terus berusaha untuk duduk. Mungkin Harris lupa, jika aku mempunyai watak yang sangat keras kepala.
"Aku mau duduk, Harris." balasku menatapnya tajam. Bagaimanapun juga, jika terus berbaring membuatku sangat bosan.
Harris terlihat menghela nafasnya, "Baiklah, aku kalah. Jika kamu merasa lelah, katakan padaku." Harris membantuku untuk duduk, menahan tubuhku dengan bantal di punggung, agar aku bisa lebih nyaman untuk bersandar.
Kutatap wajahnya yang putih bersih itu juga lingkar matanya yang menghitam. Aku jadi merasa bersalah dengannya, karena ku pasti dia kehilangan banyak waktu tidurnya.
Harris ikut menatapku dalam, ibu jari dan telunjuknya bekerja sama untuk membenarkan anak rambut yang menyerang wajahku. Menyisipkannya di balik telinga, lalu mengelus pipiku dengan lembut. Pandangannya terpaku pada satu titik di pipiku, wajahnya mendadak terlihat sedih.
Aku bergegas menyentuh pipiku untuk mencari tau alasan perubahan raut wajahnya yang begitu tiba-tiba. Kedua mataku ikut membola dengan cepat, saat aku merasakan kain kasa menempel di pipiku. Saat itulah, aku mengingat segala yang telah terjadi, hingga alasan dari luka di beberapa bagian tubuhku. Seolah-olah ingatanku terbuka lebar. Menampilkan deretan kisah yang baru saja ku alami.
"Bella..." ucapku lirih di barengi dengan air mata yang mulai menetes. Aku sendiri tidak menyangka, seorang Bella bisa melakukan hal kejam terhadapku. Tidakkah dia memiliki rasa belas kasihan padaku, setidaknya untuk sesama wanita.
Melihatku menangis, Harris menjadi panik. Lalu ia menarikku kedalam pelukannya guna menenangkan diriku.
"Tenanglah, sayang. Bella sudah di bawa ke kantor polisi. Sekarang kamu aman di sini." ucapnya sambil mengusap puncak kepalaku.
"Aa..aku takut, Harris. Bagaimana jika dia datang lagi kesini? Bagaimana jika mereka benar-benar membunuhku."
Aku sungguh merasa takut sekarang. Aku pun memeluknya dengan sangat erat, entah mengapa aku merasa sangat nyaman dalam pelukannya.
"Aa,,ku sangat takut, Harr,,iss." ucapku terbata bata karena sesenggukan.
Harris meraih kedua pipiku lalu menangkupnya dengan kedua tangannya.
"Tenang ya, kamu sudah aman. Aku Harris, suamimu tidak akan membiarkan siapapun melukaimu sedikitpun. Tapi maaf, aku sudah gagal menjagamu sebelumnya." ucapnya menunduk terlihat sedih.
__ADS_1
Melihatnya sedih, aku mencoba meraih kedua tangannya. "Ini bukan salahmu atau siapapun. Ini memang murni musibah bukan? Justru aku yang minta maaf ke kamu karena selama ini, aku belum bisa menjadi istri yang baik buat kamu. Aku selalu membantah ucapan kamu, aku selalu keras kepala dan aku..."
"Shuut, sudah cukup kamu lanjutkan lain kali saja. Lebih baik sekarang kamu istirahat saja dulu." ucapnya.
Sebenarnya aku hendak menanyakan keberadaan keluarga yang lain di mana. Karena semenjak aku sadar, aku tidak melihat mereka satupun. Namun sepertinya Harris tidak membiarkanku lebih lama karena masih khawatir dengan kondisi ku yang masih sedikit lemas.
Aku pun menurutinya. Harris membantuku untuk berbaring. Belum sempat tubuhku terbaring sempurna, aku mendengar suara pintu terbuka dan sebuah salam. Itu adalah Umi Khumaira dan Abi Imran.
Ceklek.
"Assalamualaikum," ucap Khumaira dan Imran bersamaan memasuki ruangan.
"Waalaikumsalam, Umi, Abi." jawabku dan Harris bersamaan.
Melihatnya datang, aku sungguh merasa sangat senang sekali. Pasalnya, aku dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayangi diriku. Aku pun berusaha untuk bangkit kembali, namun dicegah oleh Umi Khumaira.
"Jangan dulu Davina. Berbaringlah, jangan sampai luka jahitannya kembali terbuka bisa bahaya." ucapnya mengingatkanku.
Sungguh sangat perhatian bukan? Siapa coba yang di sini ingin mempunyai ibu mertua seperti Khumaira? Ayo ngaku.
"Eh, iya Umi." jawabku sambil tersenyum, lalu kembali berbaring.
"Bagaimana keadaanmu, Davina. Apa sudah lebih baik?" tanyanya kepadaku.
"Masih terasa nyeri di bagian perut, Umi. Shhttt." ucapku sambil menahan sedikit nyeri yang menjalar.
Aku hanya melihat perdebatan di antara Ayah dan juga anak yang disebabkan oleh diriku. Senang rasanya melihat Harris dimarahi oleh Abi. Karena kan jarang sekali aku melihat hal seperti ini.
"Iya, Abi. Tadi juga sudah disuruh istirahat sama Harris. Tapi, Davina nya malah minta dicium terus,,"
Aku melototkan mataku, kapan aku bilang begitu? Dan dari tadi juga tidak ada sesi berciuman. Aku menatap Harris dengan tajam, bagaimana bisa dia berkata seperti itu di depan orang tua. Mampuss! Pasti mereka berpikir hal yang negatif tentangku.
Yah, walaupun kami sudah sah secara hukum dan agama. Tetap saja, jika berkata-kata hal vulgar di depan orang yang lebih tua rasanya seperti ambigu.
"Itu hal biasa, Harris. Dulu saja Umi mu itu sangat manja kepada Abi. Sampai-sampai seharian kami berada dalam kamar. Sebagai sepasang suami istri, bermanja-manja sangat dibutuhkan supaya kehidupan rumah tangga menjadi lebih harmonis." tutur Abi Imran. Harris nampak memperhatikan nasihat sang Abi. Sedangkan aku berusaha untuk mencerna setiap perkataannya.
Seharian di dalam kamar? Apa mereka tidak merasa bosan. Aku saja jika berada di dalam rumah sebentar saja sudah sangat bosan. Lalu apa yang mereka lakukan selama itu. Sungguh otakku saat ini sedikit melambat untuk mencerna setiap ucapan mereka. Mungkin gara-gara kepalaku terkena benturan saat di aniaya Bella.
"Seharian di dalam kamar?" ucapku tanpa sadar. Aku merutuki bibirku yang seenaknya mengatakan hal tersebut. Kenapa keceplosan sih.
Nampak ekspresi Abi dan Umi sedikit berubah ketika mendengar ucapanku itu.
"Tunggu-tunggu, Harris jangan bilang kamu belum pernah..." ucapan Abi Imran langsung di potong oleh Harris.
"Shuttt, Abi. Jangan bicarakan hal seperti itu di rumah sakit. Malu jika didengar orang lain." Harris mengalihkan pembicaraannya.
"Hm, baiklah. Tapi ingat pesan Abi sama Umi. Segera beri kami cucu karena tidak hanya Abi yang menunggu hal tersebut. Melainkan keluarga Davina juga menunggu kabar kehamilan Davina sampai ke telinga mereka." ucap Abi Imran sedikit berbisik ketelinga Harris. Namun masih bisa terdengar olehku.
"Insyaallah, Abi. Doakan saja Harris berhasil." ucap Harris tersenyum.
__ADS_1
Apa? Kenapa dia malah menyanggupinya. Aduhhh, bagaimana ini. Apa Harris benar-benar akan melakukannya terhadapku. Tapi tubuhku saja masih sangat lemas, luka ku juga belum mengering. Stoppp! Kenapa aku jadi mikirin itu sih.
"Davina, kenapa kamu melamun?" suara Umi menyadarkan ku.
"Eh,,enggak Umi." balasku.
"Owh, ya Davina. Yuli mengatakan kepada Umi, bahwa mereka belum bisa menjengukmu saat ini. Karena mereka bilang sedang ada acara dadakan di rumah. Kamu nggak papa kan?"
"Davina nggak papa kok. Lagian di sini sudah ada Umi sama Abi yang ngejagain."
"Ya sudah, karena waktu semakin malam Umi sama Abi mau pulang dulu ya, Davina. Kamu istirahat yang banyak biar cepat sembuh." ucapnya lalu mencium keningku. Ini merupakan kebiasaan baru yang di lakukan Umi kepadaku. Jelas saja, aku menantu satu-satunya.
"Abi pamit dulu, Davina. Jaga kesehatan selalu." ucap Abi mengusap kepalaku, aku langsung mengangguk mengiyakan.
"Ingat pesan Abi, Harris." ucap Imran seraya menepuk bahunya Harris, terlihat ia membalasnya dengan tersenyum.
"Assalamualaikum," ucap Abi dan Umi, lalu pergi meninggalkan ruangan menyisakan aku dan Harris.
"Waalaikumussalam." jawabku dan Harris bersamaan.
Setelah kepergian mereka berdua, Harris mendekat kearah ranjang ku dengan ekspresi yang sulit diartikan. Harris terus mendekatkan wajahnya ke arahku, membuatku berusaha menghindar. Namun, dengan kondisiku yang lemah membuatku tak bisa berbuat apa-apa.
"Harris," ucapku membuatnya menghentikan kegiatannya.
Harris menatapku tajam, "Kenapa, Davina?"
"Kamu mau apa, Harris!" ucapku agak was-was. Bagaimana tidak wajahnya seperti bukan Harris.
"Apa kamu tidak mengingat pesan, Abi?"
Aku ingat, sungguh ingat. Tapi aku harus berpura-pura tidak tahu.
"Pesan apa, bukannya Abi menyuruhku untuk istirahat? Kalo gitu, awas minggir. Aku mau tidur." balasku sambil menarik selimut sampai ke dada, namun Harris menghentikan pergerakanku.
"Bukan itu, apa kamu berpura-pura lupa. Abi menyuruh kita memberikan cucu untuk mereka." ucapnya sembari menyeringai.
"Eh, itu. Tapi aku belum siap, Harris. Tubuhku masih sangat lemas." balasku seadanya.
Jujur saat ini jantungku berdetak sangat cepat. Hatiku bergemuruh tak menentu.
"Hm, kalau begitu kita tunggu hingga kamu benar-benar sembuh." aku sedikit merasa lega.
"Ini sudah malam, sebaiknya kamu istirahat."
Harris menarik selimut lebih tinggi hingga ke dadaku. Akupun mulai memejamkan mataku. Tak berselang lama, aku merasakan seseorang mencium keningku dengan sangat lembut.
"Good night, my wife."
****
__ADS_1