Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Ditinggal Harris


__ADS_3

Selama dalam perjalanan tidak ada yang membuka suara, baik Harris yang fokus berkendara dan Davina yang menikmati betapa sejuknya kota yang memiliki sebutan kota kembang tersebut, disertai hujan turun membasahi tanaman dan pohon disepanjang jalan yang mereka lewati.


Davina hanya diam ketika Harris mengendarai mobilnya dengan arah berlawanan dari apartemen mereka. Ia tidak tau Harris akan membawanya kemana. Tak mau peduli ia memilih mengelus perutnya yang semakin hari semakin besar, yang artinya semakin dekat dengan hari persalinan. Ia juga sudah mengambil cuti, dan dua hari ke depan adalah hari terakhirnya masuk kuliah.


Ia merasa senang sekaligus sedih. Bagaimana tidak, dia hanya akan berada di rumah tanpa bertemu dengan teman-temannya di kampus. Terutama dengan sahabatnya, Rani. Tapi, juga tidak dapat dipungkiri ia merasa bahagia karena sebentar lagi bayinya akan segera lahir ke dunia.


"Kita mampir sebentar makan siang ya? Mas udah laper." ucap Harris yang diangguki oleh Davina, ia juga sudah lapar sejak berada di toko tadi.


"Mas, kok sepertinya mereka akrab banget sama kamu?" tanya Davina ketika Harris menghampiri Davina selesai memesan makanan.


"Apa karena Mas udah sering makan di sini? Kenapa nggak pernah ajak aku?" tanyanya lagi.


Harris tersenyum, ternyata keingintahuan Davina mendadak tinggi.


"Iya, Mas sering ke sini."


"Jangan bilang restoran ini milik kamu juga!" Davina menatap mata suaminya. Mengingat kejadian di toko tadi, Harris juga tidak memberitahukan yang sebenarnya pada Davina.


"Restoran ini milik Akbar. Mas hanya membantu mengelolanya."


Davina mengernyit, berusaha mengingat nama yang disebutkan oleh suaminya itu.


"Akbar sepupunya, Mas, yang tinggal di Jakarta." balas Harris yang mengerti kebingungan Davina.


Davina kemudian mengangguk paham. Ia sedikit kecewa kepada Harris, karena hal seperti itu disembunyikan darinya. Kenapa tidak terus terang saja sejak awal jika ia memiliki beberapa usaha yang tengah digeluti. Membuat Davina sempat bersuudzon jika Harris adalah seorang pengangguran, yang hanya mengandalkan harta orang tua saja.


"Fakta apa lagi yang nggak aku tau dari kamu, Mas?" ucapnya.


Harris menoleh, merasa tidak mengerti dengan pertanyaan yang dilontarkan sang istri kepadanya.


"Kamu ngomong apa, sayang?" tanyanya dengan raut bingung.


"Ya kamu nggak terus terang tentang pekerjaan kamu, masa lalu kamu." entah mengapa ia ingin mengatakan semuanya. Hanya Bella dan seorang ketua preman yang ia tahu dari masa lalu suaminya.


Harris nampak diam, soal pekerjaannya itu Harris memang belum memberitahu Davina karena ia ingin Davina yang bertanya kepadanya. Namun, sejauh ini istrinya itu tidak pernah menyinggung akan hal itu.


"Mas tanya sama kamu, sejauh ini apa kamu pernah menceritakan masa lalu kamu sama Mas?"


Jleb


Pernyataan yang dilontarkan Harris sangat mencubit hatinya. Davina hanya diam, tidak mau menjawab pertanyaan. Ia akui dirinya memang tidak pernah mengatakan apapun tentang masa lalu sebelum dengan Harris.

__ADS_1


Melihat Davina diam seperti itu membuat Harris merasa bersalah. "Maaf, jika pertanyaan Mas tadi mengganggu kamu, Davina."


***


Harris dan Davina baru saja selesai melaksanakan sholat isya berjamaah di apartemen mereka. Wajah Davina mampu menarik perhatian Harris, karena terlihat murung tak seperti biasanya.


"Baru selesai sholat kok mukanya gitu, jangan cemberut dong. Harus senyum." ujar Harris sambil meletakkan kedua jarinya guna menarik sudut bibir istrinya supaya tersenyum.


Bagaimana Davina tidak cemberut? Ketika tahu jika Harris mengajaknya bersenang-senang hari ini hanya karena Harris akan pergi ke Surabaya untuk menghadiri sebuah seminar keagamaan dan dirinya yang akan menjadi pembicara di sana. Betapa mendadak untuk Davina, karena ia tidak siap ditinggal sendiri.


Davina sempat membujuk Harris supaya dirinya ikut ke sana. Namun, Harris menolak dengan alasan tidak ingin istri tercintanya kelelahan. Padahal kan Davina ingin seperti istri ustadz kebanyakan yang diajak ketika sedang mengisi acara. Sepertinya hal itu tidak terjadi padanya.


"Aku mau ikut." ucapnya.


"Jangan ya? Mas takut kamu cape, apalagi naik mobil perjalanan jauh." Harris memberi pengertian.


Cukup berat sebenarnya meninggalkan istrinya yang tengah mengandung sendirian di rumah. Tapi apa boleh buat, ini menyangkut kewajibannya.


"Sama siapa perginya?"


"Ada Farhan sama Ammar." ucapnya, kemudian Harris membawa Davina ke pangkuannya, mengusap kepala wanitanya sambil membacakan sholawat.


"Nanti kalo mas lagi nggak ada, kamu jangan lupa minum susunya, makan yang banyak, Mas nggak mau liat kamu kurus." ujar Harris setelah selesai bersholawat.


Harris terkekeh geli mendengar ucapan istrinya. "Mana ada, Mas nggak akan seperti itu kok. Mas ini laki-laki yang setia dengan satu wanita."


Davina bangkit dari pangkuan suaminya, "Awas aja kalo di sana ngelirik yang lain." hanya dibalas senyum olehnya.


"Mas, mau siap-siap dulu ya." Harris bangkit untuk mempersiapkan apa-apa yang perlu dibawa. Davina mengikuti Harris, dan membantu suaminya itu karena setengah jam lagi Harris akan berangkat.


Tak lama kemudian Harris sudah siap dengan kopernya. Davina mengantarkan Harris sampai depan. Terlihat Farhan dan Ammar baru saja sampai. Mereka berdua keluar dari mobil.


"Assalamualaikum." ucap mereka bersamaan.


"Waalaikumussalam." jawab Harris dan Davina kompak.


"Apa kabar, Davina?" tanya Farhan berbasa-basi dengan istri sahabatnya itu.


"Baik, seperti yang kamu lihat."


"Ah, yang bener. Muka cemberut gitu di bilang baik?" ledek Farhan membuat Davina tambah cemberut. Ia tau pasti Davina tidak akan bisa jika berjauhan dengan Harris.

__ADS_1


"Dasar rese lo, Farhan!" balas Davina ketus.


"Wajah sama mata emang nggak pernah bohong ya, Harris. Apalagi udah bucin sekarang, haha." Farhan menertawakan kondisi Davina yang dulu membenci Harris versus sekarang yang sangatlah bucin.


Davina sudah bersiap melepaskan sandalnya untuk melempari laki-laki itu, tapi Harris langsung mencegah nya.


"Sudah Farhan, jangan membuat Davina emosi seperti ini." tegur Harris.


"Dengerin tuh suami gue ngomong!" balas Davina dengan ekspresi mengejek balik tentunya.


"Iya-iya maaf." Farhan langsung kicep, diam. Tidak berani jika Harris yang meminta.


"Harris, ayo kita berangkat sekarang nanti kemalaman." sambungnya.


"Sebentar."


Harris mendekat kearah sang istri dan langsung memeluknya dengan erat. "Jaga diri baik-baik ya, ingat semua pesan Mas." bisik Harris yang diangguki oleh Davina. Ia mengecup kening milik istrinya lama.


"Udah dong Harris, jangan biarkan kami melihat keromantisan kalian di sini. Nggak ngertiin jomblo banget, heran." siapa lagi kalo bukan Farhan yang mengatakannya.


Sedangkan Ammar yang sejak tadi diam memperhatikan tingkah mereka tersenyum malu. Sambil membayangkan betapa indahnya momen seperti itu, memiliki seorang istri.


Terakhir Harris beralih ke depan perut sang istri, membisikkan sesuatu yang hanya ia dan bayinya yang tau.


"Assalamualaikum." celetuk seorang perempuan dengan pakaian khas tidurnya mengalihkan atensi.


"Wa'alaikumussalam." jawab mereka.


Perempuan tersebut adalah Diandra, ia datang karena diminta oleh Harris untuk menemani sang istri selama ia pergi ke Surabaya.


"Udah mau berangkat ya, kakak ipar?"


Harris mengangguk, "Tolong jagain kakak kamu ya, Diandra." ujarnya.


"Siap, kak Davina akan aman kalo sama aku." setelah mengatakan hal itu, tatapannya bertemu dengan tatapan milik Ammar. Diandra terkejut karena ada laki-laki itu di sana. Sejak tadi ia hanya fokus dengan kakaknya hingga tidak melihat yang lain. Ia pun memilih menunduk, tak mau melihatnya.


Setelah dirasa semuanya siap, akhirnya mereka bertiga pun berangkat menggunakan mobil milik Ammar.


"Hati-hati, Harris." Davina melambaikan tangannya ketika mobil menjauh.


"Ayo masuk, kak. Orangnya udah pergi, jangan diliatin terus." ledek Diandra.

__ADS_1


"Iya-iya." setelahnya mereka berdua masuk ke dalam apartemen.


***


__ADS_2