Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Hari Terakhir


__ADS_3

Kini Davina sedang duduk bersandar di ranjang empuk miliknya. Malam ini dirinya akan tidur sendiri. Jangan tanya kemana perginya sang adik, karena yang ia tau Diandra pergi setelah teman yang bernama Alan menghubunginya ketika baru sampai di apartemen. Alhasil Diandra langsung pergi begitu saja. Entah ada masalah apa, Davina berharap semoga adiknya dimudahkan segala urusannya.


Sambil mengelus perut, ia juga melamun. Entah apa yang sedang ia pikirkan sekarang. Banyak sekali masalah yang datang padanya akhir-akhir ini. Kemudian ia bangkit dari ranjang ketika mengingat sesuatu.


Davina berjalan menuju lemari, mencari sebuah paper bag pemberian seseorang yang sempat ia lupakan keberadaannya. Setelah menemukannya, ia kembali duduk di atas ranjang. Mengamati kotak berbentuk persegi panjang tersebut, ia sudah tau pasti isinya sebuah kalung. Dengan perlahan ia membuka kotak tersebut.


Senyumnya pun merekah, kalung tersebut terlihat sangat indah dipadukan dengan sebuah liontin berinisial huruf 'D'. Tunggu, 'D' untuk Davina atau siapa? Ck, itu tidak penting pikirnya. Dirinya sudah tidak sabar untuk mencoba memakainya.


Davina beralih menuju meja rias untuk melihat pantulan dirinya di depan cermin. Lagi-lagi ia tersenyum, kalung tersebut sangat cocok berada di lehernya. Ia kembali mengamati kalung itu. Entah, Davina sebenarnya bingung harus mengekspresikan diri seperti apa lagi. Mendapatkan sebuah hadiah, kenang-kenangan, atau semacamnya dari masa lalu? Bagaimana sikapmu jika mengalami hal sama seperti yang Davina alami?


Ting


Bunyi notifikasi dari ponsel miliknya.


Davina pun membuka ponsel tersebut, terlihat ada beberapa pesan masuk dari sang mamah. Yuli mengabarkan tentang keadaan Bimo yang akan segera dilakukan tindakan operasi. Deg, separah itukah?


"Ya Allah, lancarkanlah operasi bang Bimo. Selamatkan nyawanya." doanya pada Sang Pencipta.


Davina akhir-akhir ini sedang dilanda rasa takut. Takut akan dirinya, keluarganya, dan kehidupannya. Entah apa yang mendasari rasa takutnya itu.Tidak akan ada yang tau masa depan, kecuali sang pemilik alam. Ia berharap semoga semuanya akan baik-baik saja.


***


Farhan terus saja melirik seorang perempuan dari kejauhan sambil senyum-senyum sendiri.


"Sampe kapan kamu mau ngelirik dia terus?"


Farhan menoleh kemudian terkekeh kecil.


"Ngapain kamu Harris, ganggu aja."


"Kalo berani tuh samperin, bang. Jangan cuma curi pandang gitu." sahut Ammar.


"Aku cuma penasaran kenapa aura perempuan itu beda banget, ya?" Farhan terkagum dengan perempuan yang sedari tadi dipandanginya itu. Ada yang menarik menurutnya.


"Kalo suka bilang." balas Harris.


"Aku—"


"Namanya Beyza, bang. Salah satu panitia dalam acara ini." balas Ammar.

__ADS_1


"Tau dari mana kamu?"


"Itu, panitia memakai seragam yang sama."


Farhan pun mengamati sekelilingnya, benar panitia memakai seragam yang sama. Ia pun jadi malu. "Iya, juga ya. Aku nggak memperhatikannya."


Bagaimana Farhan tidak kagum dengan perempuan tersebut. Sudah cantik, sholihah, cerdas, pandai dalam public speaking, pokoknya paket lengkap.


"MasyaAllah." gumam Farhan berkali-kali.


"Udah nyerah sama, Shafira?" ucap Harris sedikit penasaran. Karena belakangan ini sikap Farhan terhadap Shafira berubah, tidak seperti dulu yang selalu berusaha mendekati dan sekarang seakan cuek jika mereka berdua berhadapan.


Farhan tersenyum getir, sebenarnya dirinya bukan menyerah. Tetapi, lebih kepada berusaha menerima jika yang diinginkan oleh gadis itu bukanlah dirinya tetapi orang lain.


"Aku harus gimana, Harris?" Farhan balik bertanya.


Harris diam, kali ini ia tidak bisa berkata-kata lagi. Karena apa? Karena tanpa sadar dirinya adalah alasan mengapa Shafira dan Farhan berjarak.


Melihat ekspresi wajah temannya, Farhan jadi merasa bersalah. "Udah, ngga usah dipikirin. Nanti malah jadi beban buat kamu." balas Farhan menepuk bahu milik Harris.


"Tenang bang, karena acaranya selesai lebih cepat dari yang seharusnya. Masih ada waktu kok buat pdkt." ujar Ammar meledek Farhan.


"Kamu ya, Mar. Hobi banget ledekin aku."


Farhan mengernyit ketika memperhatikan wajah Harris yang berubah setelah membuka ponsel. Dia terlihat sangat khawatir. "Kamu kenapa, Harris?"


Seharian tidak membuka ponsel membuat Harris kehilangan banyak berita. Puluhan panggilan dan pesan telah masuk. Dari rekan kampus, keluarga, dan sang istri.


"Bimo, Han. Bimo kecelakaan kemarin." ucap Harris sukses membuat kedua temannya itu terkejut.


***


Davina tersenyum memasuki kampus, karena hari ini adalah hari terakhirnya ia masuk kampus sebelum cuti. Ia berjalan menelusuri koridor kampus, menuju kelasnya.


Ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Huftt," ia menghembuskan nafas panjang pada saat berdiri di depan pintu yang sudah tertutup rapat.


Davina terlambat!


Kemudian ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu.

__ADS_1


Tok-tok


Tak berselang lama pintu terbuka. Menampilkan seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap lengkap dengan kacamatanya.


Davina mengernyit, merasa tidak mengenalnya. Ia masuk mengikuti langkah laki-laki tadi. Ia menatap kearah teman-temannya yang sedari tadi hanya diam, seolah meminta penjelasan siapa orang yang ada di depan.


"Dosen baru." ucap salah satu temannya tanpa mengeluarkan suara.


Davina membelalakkan matanya, kenapa dirinya bisa tidak tahu jika ada dosen baru?


"Kamu, kenapa bisa terlambat?" tunjuknya pada Davina.


"Saya, Pak?" Davina seakan linglung.


"Tentu saja, siapa lagi jika bukan kamu!"


"Ck, galak amat ni dosen," batinnya.


"Saya—" Davina menggantungkan ucapannya, ia sedang merangkai kata-kata yang tepat. Karena sebenarnya ia juga tidak tau jika akan terlambat. Ia rasa dirinya terlalu santai saat berkendara. Tapi, apakah logis jika Davina mengatakan seperti itu?


"Ternyata temanmu benar, kamu silahkan duduk. Saya tidak tega melihat wanita hamil berdiri terlalu lama." ucapnya sambil melirik perut buncit milik Davina.


Davina sempat terdiam, apa maksudnya dari ucapan ternyata temanmu benar? "Baik, Pak. Terima kasih." kemudian Davina duduk di salah satu bangku yang masih kosong.Tepat di samping Teresa.


Ia menghembuskan nafasnya lega, karena ia pikir akan mendapatkan hukuman macam-macam dari dosen baru itu.


"Beruntung kamu, Davina." Davina menoleh.


"Kenapa?"


"Ya, kamu nggak dihukum sama Pak Dika. Lagian tadi Rani juga dihukum sama dosen itu, gara-gara—" Teresa menggantungkan ucapannya.


"Mereka debat," sambungnya sambil berbisik.


"Debat, kenapa?"


"Nggak jelas si, soalnya yang aku tau mereka debat di luar kelas dan berlanjut, terus aku denger nama kamu dibawa-bawa." ujarnya.


Davina mengernyit, sambil melirik Rani yang duduk di ujung sebelah kanan. Tapi, kemudian ia merasa bodoamat dengan hal tersebut. Ia hanya ingin menyelesaikan perkuliahan hari ini dengan lancar dan bahagia.

__ADS_1


Tiga mata kuliah terakhirnya pada hari ini sudah selesai. Davina juga sudah berpamitan pada teman-temannya, tak lupa ia juga meminta maaf jika pernah berbuat salah kepada mereka dan meminta doa supaya diberi kelancaran dalam persalinannya nanti. Banyak yang memberikan ucapan selamat karena sebentar lagi Davina akan melahirkan. Dalam perpisahan tersebut air mata Davina pun menetes, ia terharu dengan kehangatan teman-temannya.


***


__ADS_2