Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Belanja


__ADS_3

Berputar di waktu yang sangat panjang dan mengulangi siklus kehidupan. Layaknya bumi mengitari matahari, seperti itulah manusia hidup karena ketetapan-Nya. Pun semantap-mantapnya kita merencanakan masa depan, tetap sisakan ruang untuk ridha bahwa hari esok memang diluar kehendak kita. Dan isilah ruang itu dengan tawakal. Agar kita dapat memahami apa yang terjadi diluar perencanaan kita, adalah yang terbaik menurut ketetapan-Nya.


Waktu terus berjalan hingga tak terasa kehamilan Davina sudah mendekati hari perkiraan lahir. Tinggal dua minggu lagi dirinya dan Harris akan sah bergelar sebagai orang tua. Untuk melengkapi kebahagiaan menanti lahirnya anak mereka, ternyata Harris telah menyiapkan sebuah rumah untuk mereka tinggali setelah lahiran. 


Tiga hari yang lalu, mereka telah mengadakan syukuran sederhana untuk rumah baru. Hanya keluarga, teman dekat, dan beberapa tetangga baru yang ikut menghadiri acara tersebut. 


"Sayang, kamu masih marah?" tanya Harris mendekat kearah sang istri yang sedang sibuk dengan ponselnya.


"Tau ah, pikir aja sendiri." balasnya ketus.


Harris mengusap kasar kepalanya, ia hampir frustasi menghadapi Davina yang marah kepadanya. 


Jangan salahkan Davina kali ini, karena Harris lah pemicu masalah diantara mereka. Tentang rumah baru, Davina baru tau jika Shafira ikut andil dalam pembelian rumah mereka. Ia tau karena Shafira sendiri yang mengatakannya saat acara syukuran kemarin.


"Mas kan udah minta maaf, lagian Farhan juga ikut kok." Harris kembali memasang wajah memelas.


Tau gini aku cari rumah sendiri aja.


Batin Harris menyesal.


Ia lupa jika Davina sangat pencemburu, apalagi jika berkaitan dengan wanita bernama Shafira. Tapi ide tersebut muncul begitu saja, Farhan laki-laki itu memang mempunyai kenalan seorang pemilik properti. Dan Shafira, Harris mengajaknya untuk dimintai pendapat tentang rumah yang mungkin akan Davina suka karena mereka sesama perempuan. Semua itu ia lakukan karena ingin memberikan kejutan untuk sang istri.


"Mas juga udah menjelaskan alasannya kan?" 


Davina menatap kearah sang suami sambil tangan bersedekap di depan dada, "Terlepas apapun alasannya, aku tetap nggak suka kalo melibatkan Shafira. Mas tau kan dari dulu aku nggak suka sama dia." 


Harris mengangguk, ia semakin mendekatkan diri pada Davina. "Mas minta maaf ya udah buat kamu kecewa, bikin kamu nggak nyaman. Mas janji nggak akan melibatkan orang lain lagi." Harris membawa Davina dalam pelukannya.


Davina pun membalas pelukan sang suami. Keputusan Harris yang melibatkan Shafira memang menyinggung perasaannya. Ia hanya merasa tidak dianggap sebagai istri. Padahal dirinya kan juga ingin terlibat dalam proses pembelian rumah yang akan mereka tinggali bersama. Ya walaupun Davina akui, ia sangat suka dengan desain interior rumah yang telah dipilihkan untuknya. 


Setelah melepas pelukan mereka, Harris mencubit hidung Davina gemas. "Biar nggak cemberut, gimana kalo kita belanja barang-barang buat dede bayi?" 


Benar saja setelah mendengar ajakan Harris, wajah milik Davina menjadi sumringah. Belanja merupakan hobi para wanita, bukan?


"Ayo, Mas!" ucapnya bersemangat. 


Setelah mencium pipi Harris, Davina berlalu menuju kamar di rumah baru mereka. Ia akan bersiap-siap untuk pergi bersama sang suami.


Sedangkan Harris masih di tempatnya duduk, tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah sang istri.


"Masyaallah, zaujati." 


Bolehkah Harris terpesona dengan istrinya sendiri? 

__ADS_1


Ia bangkit hendak menyusul Davina untuk bersiap. Namun kegiatannya harus terhenti ketika tiba-tiba ponselnya berdering. Ia meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. 


Alisnya mengernyit ketika terpampang sebuah nama di layar ponsel miliknya.


"Shafira?" 


Ada apa perempuan itu tiba-tiba menghubungi dirinya?


****


Kini Harris dan Davina telah sampai di sebuah pusat perbelanjaan. Mereka tidak hanya berdua, melainkan Diandra juga ikut bersamanya. Harris berinisiatif untuk mengajak adik iparnya itu karena ia pikir Diandra akan sangat membantu Davina nantinya. Banyak barang yang akan mereka beli untuk keperluan bayi.


Kakinya perlahan melangkah menuju tempat dimana menjual perlengkapan bayi lengkap. Setelah masuk ke dalam toko tersebut dirinya dimanjakan dengan berbagai perlengkapan bayi yang sangat lucu dan menggemaskan. Mulai dari pakaian, aksesoris bayi, perlengkapan mandi, alat-alat makan, tempat tidur bayi, stroller dan lain sebagainya.


Pertama, Davina menuju rak pakaian bayi. Ia tersenyum tatkala dirinya menyentuh sebuah baju yang sangat mungil di tangannya.


"Keponakan aku cowok apa cewek nih, Kak? Biar gampang nyari referensinya," tanya Diandra, terdapat dua buah pakaian berwarna pink dan biru di kedua tangannya.


Davina melirik kearah sang adik, lalu mengambil dua pakaian tersebut. Membuat Diandra menyimpulkan secara sepihak.


"Jadi, keponakan aku kembar?" ucapnya terlalu cepat mengambil kesimpulan.


"Apaan sih, Di, emang kita punya gen kembar?" tegasnya.


"Ya siapa tau, kan seru tuh kalo ada keluarga yang kembar." 


"Ya udah, besok kamu yang hamil kembar aja, Di. Semoga suami kamu nanti punya gen kembar ya." Davina terkekeh membayangkan hal tersebut.


"Hih, nggak gitu juga kali. Lagian tubuh mungil kaya aku emang bisa ya punya perut sebesar balon Cappadocia. Duh, jadi ngeri ngebayanginnya." Diandra menggelengkan kepalanya seolah tak mau, Davina hanya tersenyum melihat tingkah sang adik.


Hubungan kakak beradik itu kini semakin dekat. Tidak sejauh sewaktu mereka mementingkan ego masing-masing. Barangkali kedekatan mereka berdua terjalin akibat keadaan yang mampu mendewasakannya. Davina yang sebentar lagi akan melahirkan seorang anak, serta Diandra yang sedari dulu menginginkan seorang adik untuk menemani kesendirian nya ketika di rumah, pun tidak terwujud mengingat usia orang tuanya sudah menginjak kepala lima. Seakan menjadi angin segar ketika Davina dinyatakan hamil.


"Udah selesai belum belanjanya?" ucap Harris menghampiri sepasang saudara yang sedari tadi sibuk mengobrol.


Davina menepuk jidatnya, belum juga apa-apa. Ia melirik ke arah belanjaan yang dibawa oleh suaminya.


"Udah semua?" tanyanya pada Harris yang dibalas anggukan olehnya.


Sebelum belanja mereka berdua memang sudah membagi tugas untuk mempersingkat waktu. Davina bertugas memilih pakaian, bedong, dan segala aksesorisnya. Sedangkan Harris bertugas membeli perlengkapan mandi, tempat tidur, stroller dan sebagainya.


"Mas duduk dulu aja deh ya, aku belum selesai nih." Harris mengangguk.


Sedangkan Davina langsung fokus untuk memilah baju-baju yang sekiranya akan dipakai bayinya nanti. Tidak perlu banyak, jika perlu ia akan menerapkan sistem cuci, kering, pakai. Toh bayi akan cepat tumbuh besar.

__ADS_1


"Di, coba carikan beberapa baju kutung yang cocok buat anak cowok ya." titah Davina yang langsung diangguki oleh sang adik.


Tak berapa lama Diandra sudah mendapatkan beberapa baju kutung yang diminta sang kakak. Tidak hanya berwarna biru ia juga memilih beberapa warna yang lain supaya tidak monoton, pikirnya.


Setelah mendapatkan barang yang diinginkan, Harris segera membayarnya menuju kasir. Setelah selesai mereka berkeliling sebentar.


Davina dan Harris berjalan saling bergandengan tangan, diikuti oleh Diandra di belakangnya. Lihat saja, kini gadis itu sudah seperti bodyguard saja. 


Mereka bertiga memasuki sebuah restoran yang ada di pusat perbelanjaan tersebut. Sebelumnya Diandra mendapat kabar jika Bimo juga sedang berada di sana bersama Askya. Mereka pun singgah sekalian untuk makan siang karena sudah masuk pada waktunya.


"Harris, disini," ucap Bimo sambil melambaikan tangan, memberitahu posisi duduknya.


Setelah melihat instruksi Bimo, mereka segera menuju meja yang ditempati olehnya. Terlihat kondisi Bimo sudah jauh lebih baik. Ya walaupun kemana-mana masih memerlukan bantuan kursi roda.


"Habis belanja apa nih rame-rame," ujarnya setelah mereka bertiga duduk dengan tenang.


"Ini belanja perlengkapan buat dede bayi." balas Davina sambil menunjuk beberapa paper bag.


Bimo mengangguk-anggukkan kepalanya paham.


"Kalian mau pesan apa?" Davina melihat buku menu restoran tersebut. Sampai pilihannya jatuh pada sebuah menu yang kelihatannya sangat menggiurkan.


"Aku mau ini saja," tunjuknya.


"Yaudah samain aja," 


Setelah memesan makanan, mereka pun mengobrol. Mulai dari perkembangan kesehatan Bimo setelah pulang dari rumah sakit.


"Oh ya kira-kira kapan kamu lahiran, Davina?" tanya Askya, gadis itu rupanya sangat antusias.


"Perkiraan hari lahirnya dua minggu lagi. Tapi kata dokternya bisa saja maju atau mundur." 


Askya tersenyum, "Semoga saja lahirannya lancar ya, Davina." 


"Terimakasih doanya, Askya." 


Dari kejauhan, terlihat seseorang sedang memperhatikan gerak-gerik mereka berlima. Tangannya yang sedang bersandar pada sebuah tembok mengepal kuat ketika melihat mereka tertawa bahagia. Amarahnya seakan melambung tinggi melihat pemandangan di depannya itu.


Ia tersenyum sinis, "Ck, lihat saja. Bahagiamu nggak akan lama," ujarnya sambil membenarkan letak kacamata hitam yang dipakainya. Kemudian ia menutup kepalanya dengan hoodie hitam. Memasukkan kedua tangan pada saku lalu berjalan dengan sombongnya. 


Ia pergi dari sana dengan membawa dendam lamanya.


***

__ADS_1


__ADS_2