
Setelah selesai menyiapkan sarapan, Yuli meminta semuanya untuk segera berkumpul di meja makan. Mereka sudah duduk di tempat masing-masing.
Terlihat Yuli tengah melayani sang suami dengan mengambilkan nasgor beserta lauk pauknya. Davina terus memperhatikannya, dia jadi teringat waktu dulu dimarahi sang Mamah gara-gara tak melayani suaminya. Davina langsung melakukan hal yang sama seperti yang mamahnya lakukan.
Hal tersebut tak luput dari penglihatan Bimo.
"Aku nggak nyangka kamu udah nikah, Dav. Terlebih lagi dengan Harris, yang dulunya hanya seorang berandalan bahkan mantan napi. Dan kini kalian terlihat sangat cocok, seperti pasangan yang saling mencintai walaupun aku tau kalian menikah lewat perjodohan seperti ini. Aku harap semoga aku bisa mendapatkan pasangan yang lebih baik dari diriku, yang mau menerimaku dengan segala masa laluku." batin Bimo sambil memandangi Davina yang sedang melayani Harris.
"Khemm, Bimo ngapain ngelamun?" ucap Yuli membuatnya langsung tersadar.
"Eh, enggak kok Mah." balasnya.
"Yaudah lanjutin makannya."
Mereka sibuk menghabiskan sarapan masing-masing, setelah selesai Davina membantu sang mamah mencuci piring kotor.
"Owh, ya Mah. Davina izin ya mau pergi sama temen." ucapnya ketika selesai mencuci piring.
"Loh kok izinnya sama Mamah, izin tuh sama suami. Ingat kamu kan sudah menikah, Harris lagi duduk di sofa sama yang lain izin dulu gih sana." balas sang Mamah.
Davina mengerucutkan bibirnya, "Kalo izin sama Harris, pasti nggak dibolehin." gumam Davina menghampiri Harris dan yang lain.
Davina mendudukkan dirinya di samping Harris. Harris yang merasa sebelahnya sedikit bergoyang langsung menengok kesamping dan mendapati istrinya.
Davina menatap Harris hendak meminta izin keluar bersama temannya, karena masih ragu ia kembali menundukkan kepalanya.
Harris mengernyit ketika melihat Davina seperti kebingungan. Tatapan mereka bertemu ketika Davina menatap Harris. Ia meyakinkan dirinya untuk meminta izin.
"Aku mau pergi jalan-jalan sama temen." ucap Davina tanpa suara, supaya tak terdengar Bimo, Diandra maupun Papahnya.
Harris hanya melihat mulut Davina yang bergerak tanpa suara dan tak mengerti ucapannya.
"Apa?" tanya Harris bersuara. Dengan sigap Davina langsung mengisyaratkan Harris untuk diam dengan menempelkan telunjuk ke mulutnya.
"Aku mau pergi jalan-jalan sama temen." ulang Davina tanpa suara lagi.
"Kamu mau jalan-jalan?" balas Harris setelah menganalisa ucapannya, Davina membalasnya dengan anggukan.
Di sinilah kejahilan Harris beraksi.
"Davina mau jalan-jalan nih, apa kalian mau ikut?" ucap Harris kepada yang lain.
Davina menatap tajam kearah Harris. Dia mau pergi bersama sahabatnya kenapa jadi mereka?
Harris sebenarnya paham maksud Davina yang meminta izin kepadanya untuk pergi jalan-jalan bersama temannya. Namun Harris merasa ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengizinkannya keluar, karena jarang-jarang mereka berkumpul seperti ini. Jadi ia mencari cara halus untuk mencegahnya pergi dengan temannya, terkecuali ia pergi dengan keluarga.
"Mau, mumpung lagi libur. Ayo Kak Bimo ikut juga." sahut Diandra bersemangat.
__ADS_1
"Yaudah ayok, udah lama juga aku nggak jalan-jalan." balas Bimo yang membuat Davina tambah kesal rencananya digagalkan oleh Harris.
"Ini ada apa ya kok keliatannya Diandra seneng banget." ucap sang Mamah menghampiri mereka.
"Ini Mah, Kak Davina ngajak kita buat jalan-jalan." balas Diandra.
Yuli mengernyit bingung, bukannya tadi Davina bilang jika dia ingin pergi bersama sahabatnya? Secepat itukah dia berubah pikiran.
"Kamu bener mau ngajak mereka jalan?" tanya sang Mamah mencari kejelasan dari sang anak.
Davina menghela nafasnya berat seraya melirik kearah Harris, " Iya Mah, Davina ngajak mereka buat jalan-jalan." ucapnya dengan menekankan setiap katanya.
Harris sedikit menyunggingkan senyumnya kala Davina menyindir dirinya. Di saat seperti ini dia terlihat sangat menggemaskan.
"Yaudah gih sana kalian siap-siap mumpung masih jam 07.30 nanti kesiangan lagi." ucap Mamah.
"Iya, Mah."
Davina dan Harris kembali ke kamar mereka untuk bersiap-siap.
"Kamu kenapa sih Harris ngomong gitu ke mereka, padahal kan aku cuma mau minta izin ke kamu pergi sama temen." omel Davina kepada Harris.
"Kenapa jadi salahin aku, Davina. Kamu sih ngomongnya nggak pake suara. Emang kamu pikir aku paham maksud kamu itu. Aku juga merasa tidak enak sama Mamah, Papah. Lagi kumpul gini kamu nya malah pergi sendiri. Makanya aku ajak yang lain." balas Harris dengan santainya.
"Kalo gitu aku nggak mau ikut," ucapnya cemberut.
"Ter-se-rah." balas Davina.
***
Pukul 09.00 mereka sudah siap untuk berangkat menggunakan mobil milik Harris. Davina memilih duduk di belakang bersama Diandra karena ia masih kesal dengan Harris. Bimo duduk di samping Harris yang sedang mengemudikan mobilnya.
"Kita mau kemana nih Harris?" ucap Bimo.
"Tanya saja sama yang mengajak." balas Harris sambil melirik kearah kaca spion yang menampilkan wajah Davina.
"Mau kemana ini Davina, kan kamu yang mengajak." ucap Bimo lagi.
"Cari tempat yang enak buat—" belum sempat melanjutkan ucapannya terpotong oleh Diandra.
"Mm romantisan, iya kan Kak?" sahut Diandra sambil nyengir kuda.
"Bukan!" balas Davina.
"Gini aja, mending kita pergi ke pantai?" sahut Bimo menengahi perdebatan tersebut.
"Tidak, jarak dari sini ke pantai akan memakan waktu hingga 4-6 jam. Sebaiknya cari tempat yang dekat saja." balas Harris.
__ADS_1
"Aku kan cuma ngajak jalan-jalan bukan liburan. Jadi ya kita ke Mall aja." Ucap Davina.
Mereka nampak berfikir sejenak.
"Yasudah kita ke Mall saja."
***
Kini mereka sedang memilih beberapa pakaian di salah satu tokoh pakaian yang berada di sana.
"Hm, Kak Davina bagaimana menurutmu?" tanya Diandra menunjukan satu dress selutut berwarna peach.
"Bagus kok, cocok sama tubuhmu yang mungil." balas Davina.
Diandra mengerucutkan bibirnya, "Niat nya memuji apa ngejatohin sih." ucap Diandra.
"Mukanya nggak usah ditekuk kali, Di. Emang bener kok kata Davina, tubuhmu mungil banget." sahut Bimo membuat Davina dan Harris terkekeh.
"Iya, aku kecil udah kayak semut. Puas!"
"Udah dong ngambeknya, nanti cantiknya hilang lagi." bujuk Bimo sambil merangkul pundaknya.
Diandra masih saja cemberut, dia paling tidak suka jika harus dihina fisiknya. Fisik kok dihina, kalo berubah gimana?
"Masih aja ngambekan kaya dulu, manjanya kurangin dikit, Di." ucap Davina kepada sang adik.
"Aku nggak ngambek lagi kalo dibeliin baju, hehe." ucapnya seraya nyengir.
"Yee, kalo ada maunya aja." balas Davina seraya menoyor kepalanya.
"Dibeliin nggak nih, kalo nggak ngambek lagi!" ancam Diandra.
"Udah Dav, turutin aja maunya dia. Taukan kalo dia udah marah?" ucap Bimo sambil melirik Diandra.
"Gue sih ogah, sayang duitnya." balas Davina.
"Pake uang aku aja." sahut Harris membuka suara karena sebelumnya hanya diam.
"Yeah, makasih kakak ipar." ucap Diandra tersenyum lebar,
"Ayo, Bimo."
Harris dan Bimo berjalan mencari baju yang diinginkan oleh Diandra lalu membayarnya. Kenapa tidak Diandra sendiri saja yang membayarnya? Yah, karena sebagai kakak yang baik dan pengertian makanya Bimo dan Harris melakukannya.
"Yang istrinya Harris kamu apa aku sih, Di. Kamu dibeliin sedangkan aku? Enggak!" ucap Davina geleng-geleng kepala.
"Makanya Kak, kalo mau sesuatu pake kode atau nggak pake sedikit drama, biar keinginan kita kesampean." balas Diandra sambil terkekeh.
__ADS_1
***