
Rani kini sedang berada di dalam kamarnya, ia sedang merenungkan kejadian yang ia alami hari ini. Tentang Bimo dengan segala penjelasannya, dan Endru dengan kata-kata sindirannya.
"Bukankah ketika cinta datang menyapa, semua hal yang berbau dosa akan terlihat menjadi sebuah kebenaran dan kebahagiaan saja, kecuali kita dapat mengendalikannya."
Sebuah kalimat sederhana yang keluar dari mulut seorang laki-laki yang beberapa waktu lalu mengungkapkan perasaan kepada dirinya. Rani sedikit ragu dengan makna dari kalimat itu yang berhasil ia tangkap. Jika benar kalimat itu ditujukan untuk menyindir dirinya yang berpacaran dengan Bimo, lalu apa maksud dari Endru yang menyatakan cinta kepadanya?
Rani kembali tersadar ketika pintu miliknya diketuk dari luar. Ia pun mempersilahkan orang tersebut untuk masuk ke dalam.
"Lagi apa, hm?" tanya nya sambil mendekat ke tempat duduk adiknya.
"Ini lagi merenung, hehe." Rani menampilkan cengiran nya.
Laki-laki yang berusia 26 tahun tersebut tersenyum dengan tingkah adiknya itu.
"Emang lagi mikirin apa?" tanya nya seolah ingin tau.
Rani menggeleng, "Nggak mikirin apa-apa sih, kak."
"Nggak usah bohong deh, tadi sewaktu pulang kenapa mata kamu sembab!" ujarnya, sebagai kakak ia pasti sangat khawatir dengan adiknya yang pulang dengan keadaan habis menangis. Ia takut terjadi sesuatu dengannya.
Rani menunduk, ia takut untuk mengatakan kepada sang kakak.
"Jangan bilang karena laki-laki?" ucapnya membuat Rani terdiam. Hal itu membuatnya semakin yakin dengan praduga yang dimilikinya.
"Dengar ya dek, kakak jauh dari kamu bukan berarti kakak nggak tau apa yang kamu lakukan di sini."
Rani mendongak, menatap wajah laki-laki satu-satunya yang ia miliki setelah kepergian ayahnya. Sayangnya, ia baru dipertemukan kembali setelah beberapa tahun sang kakak jauh di negeri orang untuk menuntut ilmu.
Rani menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, rasanya ia ingin menangis sekarang juga. Tapi ia malu dengan laki-laki di depannya.
"Hiks, hiks." ia sudah tidak bisa menahan lagi untuk tidak menangis.
__ADS_1
Dia yang paham langsung menarik sang adik ke dalam pelukannya. Berusaha untuk menenangkan sang adik. Bagaimanapun sekarang keluarganya adalah tanggung jawab dirinya.
"Maafin Rani yang udah melanggar janji ke kakak." ucapnya semakin terisak.
Laki-laki bernama Aufa Renanda tersebut terdiam, ia paham maksud adiknya itu. Orang yang melanggar janji atau aturan wajib mendapat hukuman bukan?
Pelukan pun terlepas, "Maka tinggalkan dia!" ucap Aufa dengan tegas, kemudian ia pergi dari kamar adiknya. Ada perasaan kecewa ketika mendengar perkataan gadis itu. Berpacaran, sungguh Aufa tidak pernah mengajarkan hal itu kepada sang adik.
***
Di kediaman Agung Hermawan, wanita berperut buncit itu tengah membuat kegaduhan seluruh anggota keluarga di saat semuanya sedang sarapan di meja makan.
"Mas," panggil Davina sedikit berbisik.
Harris hanya menaikkan alisnya seolah meminta kejelasan, karena Harris masih asik mengunyah makanannya, sedang Davina sudah menghabiskan makanan sedari tadi.
"Aku kayaknya lagi ngidam deh." ucapnya masih berbisik.
"Pengen makan donat salju." ucapnya tanpa berbisik lagi, membuat semua orang yang tengah asik melahap makanan memandang ke arah Davina penuh tanya.
"Kamu lagi ngidam, Dav? Kalo gitu Mama tau kok tempat donat yang enak yang ada di sekitar sini, nanti Mama beliin ya." ucap sang Mamah antusias mendengar keinginan ibu hamil satu itu.
Davina menggelengkan kepala, ia sama sekali tidak senang mendengar usulan sang Mamah.
"Tapi aku maunya buatan sendiri bukan beli, Mah." ucap Davina akhirnya, membuat yang lain saling pandang.
Harris menelan ludah kasar mendengar permintaan sang istri, melihat reaksi yang lain sepertinya tidak ada satupun yang bisa memenuhi keinginan Davina untuk membuatkan donat seperti keinginannya.
"Gini aja, sayang. Biar Mas anterin kamu ke tempat yang Mama bilang aja ya?" ucap Harris dengan lembut, siapa tau Davina akan mendengarkan dirinya. Kalo harus membuat sendiri tentu Harris tidak bisa.
Davina menggeleng, ia menatap tajam sang suami. Inikan momen untuk pertama kalinya Davina mengidam, sebagai suami kenapa tidak mau mengabulkan keinginan anaknya sendiri sih! Begitu pikirnya.
__ADS_1
"Tapi Mama nggak bisa sayang, setelah ini sudah ada janji. Mama minta maaf ya." Yuli nampak sedih tidak bisa menuruti keinginan sang anak yang sedang mengidam. Tapi harus bagaimana lagi, janji itu tidak bisa ditinggal begitu saja.
Davina nampak murung, ia sangat ingin makan donat salju sekarang juga. Davina melihat salah satu postingan yang mengunggah tentang makanan, dan itu sangat menggiurkan menurutnya.
"Kalo nggak ada yang bisa nurutin keinginan aku yaudah." ucap Davina bangkit dari duduknya.
"Tapi Dav—" ucap Yuli terlambat, karena Davina sudah pergi menuju kamarnya dengan perasaan kesal.
"Biar Harris yang bicara, Mah, Pah." ucapnya, kemudian menyusul sang istri ke kamar.
"Yaelah, perkara donat doang. Bikin rusuh satu keluarga." ucap Diandra.
"Diam kamu, Di. Kamu tidak tahu rasanya wanita yang sedang mengidam, tetapi keinginannya tidak dituruti." ujar Yuli membuat Diandra bungkam.
Diandra memang sangat senang mengomentari kakaknya, Davina. Ia tidak suka dengan sikap kakaknya yang sering mengambil atensi keluarga.
"Bim, nanti tolong kamu belikan Davina donat ya. Papah mau ke kantor, ada rapat pagi." ujarnya, setelah berpamitan dengan ke 'dua' istrinya ia langsung pergi.
Bimo hanya mengangguk saja.
Semua orang sudah pergi, hanya tersisa Davina dan Diana di rumah itu. Davina yang memang tidak ada jadwal kuliah hari ini memilih berdiam diri di kamar, apalagi dia masih kesal dengan keluarganya.
Sedangkan Diana, istri ke-dua Agung memilih untuk membersihkan dapur serta piring-piring kotor yang telah digunakan untuk sarapan. Mulai sekarang dan seterusnya ia harus bisa beradaptasi dengan keluarga Agung yang tak lain suaminya saat ini.
Menikah dengan laki-laki yang sudah berkeluarga bukan keinginan Diana. Dia sadar bahwa kedatangannya ke dalam rumah itu membuat sebuah rumah tangga yang awalnya harmonis, menjadi hancur berantakan. Ia tau karena dirinya sendiri sering melihat keharmonisan yang ditunjukkan Agung beserta istrinya Yuli ketika berada di kantor.
Pelakor, sebuah julukan yang dilontarkan oleh Davina kepadanya. Cacian dan juga hinaan pun tak luput ditujukan untuknya. Diana tak pantas untuk marah, karena posisinya memang seperti itu. Dirinya telah merebut seorang ayah dari keluarganya.
Di dalam lubuk hati yang terdalam ia merasa sangat bersalah telah hadir di tengah-tengah mereka. Akan tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Mau sekeras apapun menolak semua sudah terjadi.
Yang harus ia lakukan sekarang adalah berusaha memperbaiki semuanya, dengan cara memenangkan hati keluarga Agung serta mendapat maaf dari mereka.
__ADS_1
***