
Mumpung ada kesempatan Davina mencoba mencari tau seberapa jauh wanita itu mencampuri kehidupannya.
Shafira tersenyum tipis, "Belum lama. Saat acara amal beberapa waktu lalu, kamu masih ingat kan?" ungkapnya.
"Dan lo suka kan sama Harris?" pancing Davina, ia ingin tau bagaimana perasaan wanita itu pada suaminya.
Mendapat pertanyaan seperti itu wajar saja Shafira merasa kaget. Dia sendiri masih ragu dengan perasaannya sendiri. Shafira hanya menatap lurus ke depan, tak berani menatap wajah lawan bicaranya.
Lama mereka saling terdiam, Davina masih menunggu jawaban dari Shafira.
"Kenapa diem? Lo kaget gue tanya gitu?" ucap Davina meremehkan.
Kemudian, Shafira menatap mata lawan bicaranya dalam. "Kalo aku bilang tidak, apa kamu percaya?" ujarnya.
Tanpa sadar Davina mengepalkan kedua tangan miliknya, wanita itu menantang dirinya.
"Sudah lama aku mengenal Harris, jauh sebelum kamu mengenalnya. Dan itu cukup untuk membuatku jatuh cinta dengannya." ujar Shafira.
Deg
Benar, tebakan Davina selama ini ternyata benar. Shafira diam-diam mencintai suaminya. Pantas saja selama ini dia selalu berusaha mendekati Harris, mencari perhatiannya. Memang benar insting seorang wanita sangatlah kuat.
Davina memejamkan matanya, menahan gejolak kemarahan yang timbul dalam dirinya. Sebisa mungkin ia mengontrol emosi, ya walaupun itu sulit karena menyangkut sesuatu yang penting dalam hidupnya.
"Tetep aja, lo nggak boleh punya cinta untuk laki-laki yang sudah beristri, Shafira." ujar Davina berusaha mempertahankan posisinya dari seorang calon 'pelakor'.
Shafira tersenyum ketika mencium bau-bau kecemburuan dari wanita yang sedang duduk di sampingnya.
"Apa kamu tidak tau, dalam islam seorang laki-laki diperbolehkan untuk melakukan poligami." ucap Shafira serius, namun dalam hatinya ia tertawa.
Davina mengepalkan tangannya lagi, mendengar kata 'poligami' dari mulut Shafira. Apa itu artinya Harris akan mempoligami Davina? Entahlah, rasanya Davina ingin sekali mencabik-cabik mulut wanita itu.
"Gue nggak sudi ya, punya madu kaya lo. Dan gue juga nggak rela kalo nanti anak gue manggil nama lo dengan sebutan mama selain ke gue." ucap Davina kesal.
"Lagian nggak mungkin kan, Harris mau nikah lagi. Toh dia cinta banget sama gue." batin Davina berbicara.
__ADS_1
"Itu semua terserah padamu, Davina. Kita kan tidak tau bagaimana takdir membawa kita." ucap Shafira tersenyum sangat tipis, sehingga Davina pun tak bisa melihat senyumnya.
Davina yang terlanjur kesal kepada Shafira, ia hanya menatap sinis ke arah wanita itu. Kemudian ia pergi dari sana. Niatnya datang ke taman mau memperbaiki mood, eh karena kehadiran seorang Shafira membuat mood nya hancur seketika.
Shafira tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
"Ternyata benar, jika seseorang telah jatuh cinta maka mereka akan berubah dan berbeda." Gumamnya.
"Apa kamu tidak tau, dalam islam seorang laki-laki diperbolehkan untuk melakukan poligami."
Kalimat itu terus saja terngiang-ngiang dalam otak Davina. Ia khawatir jika sampai ucapan wanita itu benar terjadi, Davina tak tahu harus berbuat apa.
Bagaimana nanti jika Harris berpoligami dan menikahi Shafira? Tak bisa di pungkiri jika Shafira memang wanita yang cantik, anggun dan berbudi pekerti baik. Sangat berbeda dengan Davina. Pastilah Harris juga akan tertarik dengannya. Mustahil jika sebuah persahabatan antara laki-laki dan perempuan tanpa didasari rasa suka maupun cinta diantara salah satunya.
***
Malam itu, seorang wanita sedang menangis pilu di sudut kamar. Air matanya luruh bersamaan dengan hujan yang amat deras di luar, membasahi apapun yang ada di bawahnya.
Hatinya hancur di saat menyambut kepulangan sang suami setelah berhari-hari jauh darinya. Senyumnya hilang seketika, ketika terlihat seorang wanita berdiri tepat di belakang tubuh suaminya.
Sebagai istri yang baik, ia tetap berpikiran positif terhadap suaminya. Karena keyakinannya sendiri mengatakan bahwa dia tidak akan pernah menghianati dirinya.
"Maaf," satu kata yang berhasil lolos dari bibir, setelah sadar apa yang ia perbuat menyakiti hati istrinya.
Lalu dia berlutut di depan sang istri dengan mengucapkan permohonan maaf berulang kali.
Melihat apa yang dilakukan sang suami, semakin yakin jika apa yang ia pikirkan benar terjadi. Ia pun menangis sejadi-jadinya, menjauhi laki-laki yang bersimpuh beserta seorang wanita yang sedari tadi melihat tangisannya.
"Kamu jahattt, Mas. Kamu kenapa lakuin ini..."
"Dan kamu... jadi ini arti perkataan mu waktu itu? Aku nggak nyangka." tunjukknya pada wanita itu.
Ia pun pergi meninggalkan mereka berdua, memilih menenangkan diri dalam kesunyian malam. Tangisannya lenyap bersamaan dengan derasnya hujan yang membasahi wilayah yang ada di sana.
Sedangkan seorang wanita berperut buncit itu terlihat gelisah dalam tidurnya. Keringat membanjiri kening dan lehernya. Seolah sedang ada yang mengusik di bawah alam sadarnya.
__ADS_1
Harris yang baru saja keluar dari kamar mandi, melihat keadaan istrinya yang terlihat tidur dalam kegelisahan pun menghampirinya.
"Davina, kamu kenapa?" Harris menepuk pipi istrinya itu guna menyadarkannya, ia yakin pasti Davina mengalami mimpi buruk.
"Harrisss." Davina membuka matanya kemudian duduk, nafasnya tak beraturan. Ia pun melihat ke sekeliling tidak ada wanita lain di sana, yang ada hanyalah Harris.
Davina bernafas lega, mimpinya tadi benar-benar seperti nyata.
"Mimpi buruk, hm?" tanya Harris pada Davina, yang diangguki olehnya.
Kemudian Harris memberikan segelas air minum yang selalu tersedia di atas nakas samping ranjangnya. Davina menerima gelas itu dan langsung meminumnya hingga tandas. Sungguh, mimpi barusan seolah menguras tenaga nya.
"Makanya sebelum tidur berdoa dulu." tegur Harris.
Owh, iya Davina lupa tidak berdoa saat itu. Karena ia sebenarnya ketiduran ketika menunggu Harris pulang. Ditambah ia terus saja kepikiran dengan perkataan Shafira tadi sore. Mungkin hal itu yang memicu Davina bermimpi buruk seperti itu.
Davina memeluk tubuh suaminya, membayangkan jika mimpinya benar terjadi, Harris membawa wanita lain sebagai madunya. Davina tidak akan pernah rela!!
Harris mengernyit ketika Davina melepaskan pelukannya tiba-tiba.
"Tubuhmu dingin, apa kamu habis mandi?" tanya Davina ketika melihat rambut Harris juga basah.
Harris mengangguk, "Aku kehujanan sewaktu pulang tadi, makanya sekalian saja mandi." ungkapnya.
"Kenapa pulang sampai selarut ini?" tanya Davina.
"Kamu kangen ya?" ledek Harris. "Becanda, selain kuliah Mas juga kerja lah buat kamu sama dia." Harris mengelus perut buncit Davina, tempat di mana anaknya berada.
"Owh," balas Davina singkat dan tak ingin tau lebih jauh.
Mereka berdua sudah berbaring saling berhadapan dengan selimut tebal di atas mereka. Ya akhir-akhir ini hujan sering mengguyur wilayah itu.
"Mas, kamu menggigil lho. Aku buatin teh hangat ya biar kamu nggak kedinginan." ucap Davina melihat keadaan Harris.
"Nggak usah sayang, cukup kamu yang menghangatkan Mas di sini."
__ADS_1
Selanjutnya Harris mendekatkan wajahnya pada wajah Davina. Mengecupi kening, pipi, dan berakhir di bibir milik istrinya itu. Kemudian terjadilah proses penghangatan di kala dinginnya hujan.
***