
Pagi tadi, telah terjadi sedikit keributan di dalam kamar. Bagaimana tidak, lagi-lagi Davina dibuat terkejut sekaligus khawatir oleh penampakan wajah Harris ketika terbangun.
Dan Davina tau sekarang, mengapa Harris tidak ada kabar dari siang dan juga pulang larut malam. Ya karena dia berkelahi sehingga membuat wajahnya babak belur, sekaligus menghindar dari dirinya supaya Davina tidak menghawatirkannya.
Harris yang akan berangkat ke Kampus pun mendadak mendapat larangan dari sang istri. Berulang kali Harris mengatakan kepada Davina bahwa dirinya baik-baik saja, tetap saja Davina tak menghiraukannya.
"Emangnya kamu nggak malu ya, ketemu sama temen-temen kamu dengan muka babak belur gitu? Mending kamu ijin aja deh, Harris." Ucap Davina.
Harris tersenyum simpul, "Kan ada kamu yang mengobati luka ini." Harris menunjuk lukanya.
"Hm, yaudah aku bantu samarin sama foundation."
Setelah diobati dan disamarkan bekas luka tersebut sehingga tidak terlalu nampak.
Harris tersenyum ketika kembali mengingat kejadian pagi tadi yang cukup seru menurutnya.
"Eh, Harris. Ngapain senyum-senyum sendiri, udah stres ya." Ledek Farhan yang baru saja menghampirinya.
"Aku masih sehat dan waras, jangan khawatir." Balas Harris sedikit kesal karena dikatai olehnya.
"Owh, ya Harris. Bagaimana keadaan Davina, apa dia sudah sembuh?" Tanya Farhan mengalihkan pembicaraan.
"Alhamdulillah, Davina sudah lebih baik, sekarang."
"Syukurlah kalau begitu, gimana kalo nanti aku ikut denganmu."
Harris mengernyit, "Ikut kemana, Farhan?"
"Kerumah Davina lah, sekalian ketemu sama Bimo Kita bicarakan perihal kemarin." Ucap Farhan lalu diangguki oleh Harris.
Di sisi lain ada Rani dan Faras yang sedang nongkrong di kantin kampus seperti biasa.
"Lagi dan lagi, Kita nongkrong tapi cuma berdua." Ucap Faras.
"Iya, nih nggak seru kalo nggak ada Davina. Rasanya kayak ada yang kurang." Balas Rani.
"Gimana kabarnya Davina, lo udah jenguk dia kan?" Tanya Faras.
"Terakhir ketemu sih, waktu dia pulang dari rumah sakit. Sampai sekarang aku belum ketemu lagi."
"Jahat banget tuh orang, nggak punya perasaan banget. Owh, ya lo tau siapa pelakunya?" Tanya Faras kepada Rani.
Rani nampak berfikir, Faras memang belum tau jika pelaku yang mencelakai Davina adalah mantan kekasih Harris, bahkan dia juga belum tau soal pernikahan Davina.
Sebenarnya Rani ingin sekali memberitahu sahabatnya akan hal itu, tapi dirinya juga harus menghargai keputusan Davina untuk menyembunyikan pernikahannya sampai dirinya sendirilah yang mengatakannya.
"Mm, pelakunya perempuan sih. Tapi nggak tau motif dibalik perbuatannya apa." Rani menggaruk tengkuknya menyembunyikan kebenaran.
"Gimana kalo habis ini Kita ke rumahnya, lo mau kan nemenin gue?"
"Oke, bentar aku kirim pesan dulu pada Davina." Ucap Faras dengan tujuan supaya Davina bersiap-siap nanti.
Setelah mengirim pesan kepada Davina, Rani juga mengirim pesan kepada Bimo jika ia akan pergi kesana. Namun lagi-lagi hanya ceklis satu tentu membuatnya kesal.
"Kenapa muka lo kesel gitu, pasti gara-gara Bimo. Iya kan?" Ucap Faras menebak.
Faras memang sudah tau hubungan antara Rani dengan Bimo. Dirinya mengetahui hal itu ketika tanpa sengaja Faras memergokinya sedang kencan berdua dengan Bimo di sebuah kafe. Mau tidak mau Rani pun menceritakan hubungannya kepada Faras. Semenjak saat itu mereka dengan terang-terangan menunjukannya.
"Hm, iya."
"Emang si Bimo melakukan apa, sampai-sampai sahabat cantikku ini cemberut, hm?"
Faras memang sangat perhatian sekarang dengan Rani, ia selalu care dengannya maupun dengan Davina. Dia juga salah satu tipe seorang sahabat yang mudah menyayangi. Tak heran mereka bertiga sudah berteman sejak SMA. Hanya satu kekurangan Faras, dia selalu tiba-tiba menghilang tak ada kabar, entah kenapa dirinya memang sedikit tertutup dari yang lainnya.
__ADS_1
"Yaudah dari pada kamu cemberut terus, mending Kita kerumah Davina sekarang. Siapa tau lo bisa ketemu sama dia." Ucap Faras.
Mendengar ucapan Faras membuatnya kembali bersemangat. Setelah itu mereka pergi untuk menemui Davina.
***
Di rumahnya, Davina sedang merasa kesepian. Bagaimana tidak, dirinya hanya sendirian di rumah. Sedangkan Papahnya sedang berada di Kantor, Mamahnya dan Diandra sedang menghadiri acara kelulusannya di sekolah. Dan Bimo entah di mana dia sekarang, Davina tidak melihatnya semenjak kemarin.
Davina juga sudah berfikir untuk segera kembali ke kampus. Dia tidak ingin lebih lama lagi jika harus tertinggal dalam matkulnya.
Ia juga akan kembali ke apartemennya Harris. Maka dari itu, ia mengemas beberapa barang dan pakaian miliknya serta milik sang suami. Dirinya memang belum membicarakan hal tersebut dengan Harris, tapi Davina tidak terlalu memikirkan hal itu. Davina pikir, Harris pasti akan menyetujuinya.
Saat sedang memasukkan pakaian kedalam tas ranselnya, ponsel miliknya berbunyi tanda notif sebuah pesan. Davina langsung membuka pesan tersebut yang ternyata dari Rani sahabatnya.
"Owh, mereka mau kesini. Kenapa nggak dari tadi aja si." Gumamnya.
Setelah membalas dengan kata "ok" Davina pun melanjutkan pekerjaannya.
Tak lama kemudian ponsel milik Davina kembali berdering tanda panggilan telepon masuk.
"Tunggu sebentar, aku lagi turun tangga ini." Ucap Davina.
Setelah sampai depan pintu, Davina langsung membukanya. Dan terlihat dua orang perempuan yang sudah ditunggu-tunggu kedatangannya oleh Davina.
"Kyaaaa, akhirnya gue bisa ketemu sama lo." Ucap Faras sambil memeluk erat Davina.
"Eh, lepas-lepas. Aku sesak nafas tau." Balas Davina berusaha melepas pelukannya.
"Iya sorry, soalnya gue kangen tau."
"Kamu pikir kalian aja yang kangen, aku juga lah."
"Gimana keadaan lo, maaf ya gue baru bisa jenguk sekarang."
Rani yang merasa tak dianggap pun merasa kesal dan langsung menerobos masuk sambil menghentakkan kakinya keras.
"Owh, ya. Ayo masuk."
Mereka berdua pun duduk di ruang tamu menghampiri Rani yang sudah lebih dulu berada di sana.
"Uwaww, tunggu-tunggu. Gue baru sadar. Lo selama ini sakit atau sekolah akhlak sih?" Ucap Faras.
"Hah?" Balas Davina dan Rani bersamaan.
"Ck, kalian berdua habis sekolah akhlak?" Ucapnya lagi.
Davina dan Rani saling berpandangan. Tak tau apa yang dimaksudkan oleh sahabatnya itu.
"Itu loh, kalian berdua pake pakaian syar'i." Jelas Faras.
"Owh, ini namanya Kita berdua sedang berusaha memperbaiki diri dengan menjalankan salah satu perintah Allah SWT." Jawab Rani.
"Wah, bagus ini. Ingetin gue kalo buat dosa ya." Ucap Faras sambil terkekeh.
"Btw, kalian nggak bawa buah tangan gitu?" Tanya Davina dibalas gelengan kepala oleh Faras.
"Baru kali ini, ada yang jenguk orang sakit tapi tangan kosong. Nggak epik." Sindir Davina.
"Hehe, sorry ya Dav. Nggak kepikiran soalnya, gue udah pengen banget ketemu sama lo. Lain kali aja ya."
"Hm, oke lah."
Saat sedang asik mengobrol, terdengar salam dari arah luar.
__ADS_1
"Assalaamualaaikum." Ucap Harris dan Farhan bersamaan.
"Waalaikumussalam." Jawab ketiga wanita tersebut sambil menatap kearah pintu yang menampilkan dua orang laki-laki yang mereka kenal.
Harris dan Farhan cukup terkejut ketika mendapati ada Faras sahabat Davina. Tapi Harris kembali menormalkan raut wajahnya seperti biasa. Harris dan Farhan berlalu dari ruang tamu meninggalkan tiga orang wanita yang masih diam membeku memandanginya.
Davina dan Rani hanya diam membeku ketika Harris dan Farhan sudah di depan pintu. Mereka berdua bingung harus bersikap seperti apa. Davina berharap Faras tidak akan curiga dengannya.
"Bukankah dia Harris fakultas sebelah ya, kok dia ada di sini." Ucap Faras penasaran.
"Owh, iya-iya dia fakultas sebelah. Mungkin dia mau ketemu sama Bang Bimo, iya kan Ran." Davina dibuat gugup oleh pertanyaan Faras.
"Eh, iya bener. Mereka berdua memang temennya Bimo." Balas Rani.
Faras sebenarnya masih tidak percaya,
"Ada ya, temen yang kalo masuk rumah langsung masuk ke dalam, bukannya nunggu si pemilik rumah keluar." Ucap Faras heran.
Davina hanya nyengir kuda, "Udah terbiasa kayaknya." Faras hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Mm, sorry ya gue harus balik duluan. Masih ada urusan soalnya." Ucap Faras.
"Yah kok buru-buru si Far, baru juga sebentar."
"Iya nih, gue lupa kalo ada urusan. Btw, kapan lo balik ke kampus."
"Aku sih pengennya cepet-cepet balik, tapi belum minta ijin." Ucap Davina.
"Tumben banget lo sekarang pake minta ijin segala. Bukannya dulu lo suka nggak ijin sama ortu lo, bahkan lo juga sering keluyuran."
"Yah nggak tau aja dia, Davina sekarang ijinnya nggak ke ortunya lagi tapi ke suaminya Harris." Batin Rani.
"Lo bener-bener udah berubah ya Dav, gue ikut seneng kok. Do'ain gue siapa tau bisa ketularan kalian berdua." Sambungnya.
"Aaminn." Jawab Davina dan Rani.
"Gue duluan ya, nggak papa kan lo balik sendiri Ran?"
"Nggak papa kok, duluan aja."
"Yaudah, sampai jumpa besok ya." Ucap Faras kemudian pergi menggunakan mobilnya.
Tak berselang lama datanglah Bimo dengan mengendarai sepeda motornya. Rani merasa senang akhirnya bisa bertemu dengan Bimo setelah beberapa hari tanpa kabar, nomornya juga sulit di hubungi.
"Assalaamualaaikum," Ucap Bimo.
"Waalaikumussalam." Jawab keduanya bersamaan.
"Bang Bimo dari mana? Kebetulan ini ada Rani siapa tau mau ngobrol bareng." Ucap Davina.
"Aku ada urusan. Maaf sebaiknya dia suruh pulang saja aku sangat lelah, dan butuh istirahat." Ucap Bimo sambil melirik Rani kemudian ia masuk kedalam meninggalkannya.
Tentu saja hal tersebut membuat hati Rani terasa sakit ketika diacuhkan. Matanya pun sedikit berkaca-kaca.
"Maafin Bang Bimo ya, jangan sedih dong." Ucap Davina sambil merangkul sahabatnya.
"Nggak sedih kok, aku memakluminya karena baru pulang pasti capek. Kalo gitu aku pulang dulu ya. Assalaamualaaikum." Rani berpamitan untuk pulang.
"Waalaikumussalam. Hati-hati di jalan."
Dia pun melajukan mobilnya meninggalkan kediamam milik Davina. Sesampainya di rumah dirinya masih heran dengan sikap Bimo kepadanya. Dia pikir apakah dirinya telah berbuat salah kepadanya sehingga Bimo bersikap seperti itu?
"Ada apa dengan Bimo?"
__ADS_1
***