
Seperti biasanya Davina berangkat ke kampus menggunakan mobilnya sendiri. Hari ini ia berencana akan mengajak kedua sahabatnya untuk berjalan-jalan atau nongkrong. Sudah lama juga mereka jarang berkumpul kecuali saat di kampus.
Sesampainya di kampus Davina tidak mendapati keberadaan kedua sahabatnya, entah belum berangkat atau memang bolos hari ini.
Davina memilih duduk sendirian di dalam kelasnya sambil menunggu teman yang lain datang. Ia kembali teringat akan kejadian kemarin di mana ia diikuti oleh orang yang tak ia kenal.
"Apakah ia harus memberitahukan hal tersebut kepada Harris?" pikir Davina, namun dengan cepat ia menggelengkan kepalanya. Ia akan menceritakan hal tersebut ketika orang misterius itu masih mengikutinya.
Lama menunggu kedua sahabatnya yang tak kunjung terlihat, ia jadi khawatir terhadap mereka. Davina sudah mencoba menghubungi Faras berkali-kali, namun ponsel miliknya sedang tidak aktif. Davina beralih menghubungi Rani. Lama tak mendapat jawaban darinya. Ia kembali mencobanya dan berhasil terhubung.
"Iya, hallo Davina. Ada apa?" jawab Rani dari sambungan telepon.
"Kenapa baru diangkat, berani ya lo mengabaikan panggilan gue. Kok lo sama Faras nggak nongol-nongol sih? Gue udah nungguin lo dari tadi." ucap Davina kesal.
"Maaf ya, Dav. Soalnya gue lagi buru-buru, ini gue lagi di jalan takutnya telatt. Kalo soal Faras gue nggak tau. Coba lo hubungin dia aja." balas Rani sambil menyetir.
"Tadi juga udah gue telpon, tapi ponselnya nggak aktif. Kenapa dah tuh anak." ucap Davina.
"Ya udah bahasnya nanti aja kalo gue udah nyampe. Emang lo mau gue kecelakaan gara-gara menyetir sambil telponan? Bisa bahaya tau." ucap Rani sebelum mematikan sambungan telponnya.
Selang beberapa menit kemudian yang ditunggu akhirnya sampai juga.
"Emang masih nggak bisa dihubungi ya Farasnya?" ucap Rani datang tiba-tiba.
"Eh,, belum gue coba lagi." balas Davina.
"Yaudah biar gue aja." ucap Rani.
Rani pun mencoba menghubungi Faras, namun sudah beberapa kali mencoba hasilnya tetap sama, nihil nomornya tidak aktif.
"Nggak aktif, udah gue coba beberapa kali." ucap Rani.
Davina menghembuskan nafasnya,
"Hufft,,, positive thinking aja mungkin ponselnya mati." ucap Davina.
"Kita tunggu aja, kalo dia nggak nongol berarti dia bolos." balas Rani, Davina mengangguk setuju.
Tak lama kemudian sang dosen datang dan memberikan materi seperti biasanya.
***
Setelah mengikuti beberapa kelas hari ini, Davina dan Rani pergi ke kantin kampus untuk membeli makanan.
"Bu," panggil Davina kepada pemilik kantin.
Sang Ibu kantin menghampiri kedua anak tersebut.
__ADS_1
"Mau pesan apa mbaknya?" ucap Ibu kantin.
"Saya mau pesan batagor sama jus alpukat." ucap Davina.
"Kalo saya mau siomay aja sama es tehnya Bu." sahut Rani.
"Baiklah, tunggu sebentar ya mbak." ucapnya.
Davina maupun Rani sedang tidak bersemangat seperti biasanya, karena tidak ada Faras yang menemani mereka.
"Dav, tau nggak. Tadi pagi gue lihat si Shafira deket banget sama ustadz Harris." Rani memulai bergosip. Dia memang paling suka dengan yang namanya bergosip, apalagi sesuatu hal yang lagi heboh.
" Udahlah, nggak usah dilanjutin. Gue lagi males bahas si munafik itu." omel Davina.
"Si munafik, Shafira? Sejak kapan lo punya panggilan seperti itu, haha." Rani merasa lucu ketika mendengar julukan yang diberikan Davina untuk Shafira.
"Ini mbak pesanannya," ucapnya sambil membawa makanan yang sudah dipesan mereka.
"Makasih, Bu." balas Rani.
" Sama-sama," ucapnya.
Mereka memakan makanan tersebut hingga habis.
"Ran, tadi pagi gue berencana mau ajak kalian buat jalan-jalan, udah lama juga kita nggak ngumpul bareng. Eh, si Faras bolos. Nggak jadi deh." ucap Davina.
"Hmm, tapi gue males kalo cuma berdua."
"Yaudah gue balik duluan kalo gitu." Rani berpamitan.
"Hati-hati di jalan lo jangan nabrak."
"Hehe iya, iya."
Setelah kepergian Rani, Davina segera membayar tagihannya sebelum pulang.
Di dalam perjalanan pulang, Davina merasa ada yang mengikuti mobilnya. Diliriknya melalui kaca spion mobil. Dan benar, ada sebuah mobil yang mengikutinya dari belakang.
"Ck, siapa sih yang ngikutin gue." ucap Davina kesal.
Davina menambah kecepatan mobilnya supaya tidak terkejar olehnya. Ia sudah mengatur strategi untuk mengelabuhi mobil di belakangnya.
Lama mereka saling adu kejar-kejaran di jalanan. Tak jarang banyak pengguna yang memprotes tindakan tersebut.
"Woy!! Jangan ugal-ugalan. Kalian kira ini jalanan nenek moyang lo?" begitulah kurang lebih omelan pengguna jalan lainnya. Tapi Davina tak menghiraukan mereka.
"Di depan sana ada perempatan, lihat saja apa yang akan aku lakukan." ucap Davina pada diri sendiri.
__ADS_1
Sementara Davina semakin menambah kecepatan mobilnya, dan ketika sampai di perempatan Davina langsung membelokkan mobil kerah kiri, alhasil ia terbebas dari sang penguntit.
Sedangkan mobil di belakangnya telah tertipu, melaju dengan cepat melalui jalan yang berbeda.
"Sial, gue gagal lagi." ucap sang pemilik mobil sambil memukul setir ketika tak berhasil menjalankan tugasnya.
Davina merasa senang strateginya telah berhasil mengalahkan sebut saja penjahat.
***
Di tempat lain
Seorang wanita sedang memarahi anak buahnya yang gagal menjalankan tugas yang ia berikan.
"Apa, gagal lagi?" bentak wanita tersebut.
Laki-laki itu hanya bisa menunduk, ketika di marahi oleh bosnya.
"Aku udah bayar kamu ya, dan bukan untuk mendengar kata gagal." sambungnya.
"Iya, maaf Bell. Lain kali aku janji nggak bakal gagal lagi." ucapnya.
Yak, orang yang menyuruh untuk mencelakai Davina ialah Bella. Mantan kekasih Harris.
"Ada apa lagi nih, Bell." ucap seorang laki-laki menghampiri mereka.
"Yaudah sana pergi, aku udah nggak butuh kamu lagi. Dan inget, jangan sampai kamu bocorkan masalah ini." ucap Bella mengancam.
"Oke." jawab orang suruhannya, kemudian meninggalkan mereka berdua.
"Masih tentang Harris?" tanyanya.
"Hmm,"
"Udahlah ikhlasin aja Harris sama dia, lagian nih kayaknya emang Harris udah nggak punya perasaan apa-apa ke lo." balasnya.
"Gue nggak bisa, Ricko. Kan kamu tau kalo aku masih cinta banget sama Dzaki. Dan pasti aku bakal rebut Dzaki dari wanita itu. Apa kamu tau sesuatu tentang istrinya?"
Laki-laki yang sedang bersama Bella adalah Ricko, teman Harris. Ricko mengenal Bella karena dulu waktu masih menjadi kelompok preman Harris sering membawa Bella dan mengenalkannya kepada mereka. Sampai Harris memutuskan untuk berhenti dari kelompok preman dan memutuskan hubungan dengan Bella, dan saat itulah Ricko yang selalu menjadi tempat curhatannya Bella. Akhirnya mereka menjadi dekat sampai sekarang. Jika terjadi sesuatu pada Bella, maka Ricko tak segan-segan membantunya.
"Yang gue tau sih namanya Davina, dia satu kampus sama Harris." jawab Ricko.
"Siapapun dia, pasti aku bakal rebut Dzaki darinya." ucap Bella menahan amarahnya.
"Dan kamu Ricko, kamu harus bantuin aku ngejalanin rencana yang udah aku buat." ucap Bella.
***
__ADS_1