
Mata Davina mengerjap sedikit terbuka, kemudian tatapannya bertemu dengan tatapan Harris di sana. Bisa Davina rasakan tangan milik Harris yang sedari tadi mengelus rambutnya, kini berpindah pada pipi ketika menyadari istrinya telah terbangun.
"Pagi, istri Mas." sapa Harris pada Davina yang masih mengumpulkan seluruh nyawanya untuk sadar.
Davina masih diam, karena posisinya saat ini sangatlah dekat dengan Harris. Keduanya saling berhadapan hanya dipisahkan oleh perut buncit milik Davina. Wajah mereka berdua sangat dekat.
Davina menarik dirinya sedikit menjauh dari Harris. Ia berulang kali menguap, dirinya masih sangat mengantuk. Salahkan saja Harris yang sedari tadi mengganggu tidurnya. Laki-laki itu mengerjai sang istri supaya cepat bangun dan menunaikan sholat subuh berjamaah.
"Euunghh.." Davina mengulet sambil meregangkan seluruh otot tubuhnya. "Pagi, Papa."
Harris tersenyum mendengar suara Davina yang dibuat seperti anak kecil, gemas. Seolah ia mendengar sapaan bayinya secara langsung. Sungguh, Harris sudah tidak sabar untuk segera melihat anaknya memanggil dirinya dengan sebutan papa. Kemudian tangannya terulur untuk mengusap perut buncit Davina. "Anak Papa yang sehat ya, sebentar lagi kita akan bertemu. Dan disaat itu tiba, Papa akan jadi orang paling bahagia di dunia ini karena kelahiranmu, Sayang." ucapnya diakhiri kecupan.
Davina ikut tersenyum mendengar percakapan antara ayah dan anak. Davina berjanji dalam hati, bahwa dirinya akan mewujudkan impian Harris.
Harris beralih membingkai wajah istrinya itu, "Kamu juga ya, harus sehat. Jangan banyak pikiran, apalagi sebentar lagi kita berdua akan jadi saksi tumbuh kembangnya buah hati kita. Insyaallah, Allah akan mempermudah semuanya. Aaminn." Harris mengecupi seluruh wajah istrinya itu dengan penuh cinta.
"Aaminn, Mas." Kemudian Harris menggenggam tangan istrinya itu untuk bersama-sama menuju kamar mandi mengambil air wudhu.
Davina memandangi tubuh tegap sang suami yang berdiri di depannya. Dalam hati ucapan syukur ia lantunkan berulang kali pada sang pencipta. Dari yang hidupnya tak berarah, kini dirinya mempunyai seorang imam yang dengan sabar menuntun menunjukkan arah yang benar sesuai syariat. Baginya, Harris adalah bukti betapa baiknya Tuhan kepadanya.
"Sudah siap?" ujar Harris menoleh kearah belakang, yang diangguki oleh Davina. Mereka pun memulai sholat subuh diawali dengan sholat sunnah sebelum subuh atau sering disebut qabliyah subuh.
***
Kini Davina duduk di sofa kamarnya, setelah menyelesaikan sholat berjamaah Davina menyempatkan untuk membaca al-quran. Sedangkan Harris, laki-laki itu pergi keluar kamar entah kemana.
Davina mengakhiri bacaannya ketika beberapa kali ponsel miliknya berbunyi, menganggu kegiatan yang sedang ia lakukan. Setelah melepas mukena ia mengambil ponsel yang sejak kemarin ia tinggalkan begitu saja. Tertera nama Rani di sana. Gadis tersebut terus saja mencoba menghubungi Davina sejak kemarin, namun selalu Davina abaikan.
Tentu Davina masih marah dengan sahabatnya itu. Walaupun persahabatan mereka sudah terjalin cukup lama, tapi akibat masalah ini hubungan keduanya menjadi sedikit renggang. Mereka sama-sama mengedepankan ego masing-masing.
__ADS_1
Davina kembali meletakkan ponselnya itu asal, tidak berniat mengangkat ataupun membalas pesannya. Ia lebih memilih mencari keberadaan suaminya yang tidak terlihat batang hidungnya sejak tadi.
Ia menghampiri dapur ketika dirasa mendengar suara berisik dari sana. Benar saja, terlihat Harris dengan lihainya menambahkan beberapa bumbu kedalam masakannya dan mulai mengaduknya dengan irama yang pas.
Grep
Davina memeluk Harris dari belakang. Sekarang gantian, biasanya Harrislah yang melakukan hal tersebut. Davina menenggelamkan wajahnya dibalik punggung tegap sang suami. Kenapa rasanya sangat nyaman?
"Udah selesai ngajinya?" ucap Harris menoleh tanpa merasa terganggu. Justru ia malah tambah semangat dengan kehadiran sang istri didekatnya.
Davina nampak mengangguk, "Udah."
Harris membalikkan tubuhnya, memegang kedua bahu sang istri.
"Kenapa, utun udah lapar ya?" Davina menggeleng. Ia malah langsung memeluk Harris lagi. Harris pun membalasnya, mungkin Davina hanya ingin dimanja pikirnya.
Sedangkan Davina sedang dilanda ketakutan dihatinya. Ia teringat dengan perkataan Shafira kemarin. Bella merupakan saudara kandung dari Shafira. Dan fakta-fakta lain yang membuatnya cukup syok. Apakah Harris sudah tau mengenai hal ini? Jika iya kenapa dia tidak pernah bercerita padanya?
"Hm,"
"Kalo ada dua orang bersaudara, yang satu berhati emas dan yang satunya lagi berhati iblis, gimana?"
"Gimana apanya?" Harris mengernyit, sungguh tak mengerti maksud istrinya itu.
"Ya itu, gimana pandangan Mas Harris tentang dua saudara tersebut?"
Harris tersenyum kecil, "Ya nggak papa kan? Itu wajar saja, Sayang. Karakter diri seseorang itu berbeda-beda. Tidak bisa disamaratakan yang satu dengan yang lainnya, ya karena pada dasarnya mereka berbeda. Anak kembar identik saja, sifat mereka terkadang berbeda drastis. Sebagai contoh kamu sama adik kamu deh, Diandra. Diandra itu tipe orang yang cuek, padahal dia sayang banget sama kamu kan? Sedangkan kamu orangnya bebal, kata orang tua kamu sih dulu, haha." Harris tertawa.
"Hih, Harris. Kok jadi ngatain aku sih!" kesalnya sambil mencubit pinggang suaminya.
__ADS_1
"Aww, maaf Sayang." sesalnya, "intinya kalian itu berbeda satu sama lain."
"Nah, gitu kek ngomongnya kan lebih enak. Sok ngatain lagi, dasar!"
Harris tak lagi mempedulikan sang istri, masakannya sudah matang. Ia akan segera menyajikannya.
"Berhenti dulu, Mas. Aku mau ngomong penting sama kamu." ujar Davina membuat Harris menghentikan kegiatannya.
"Kenapa, hm?"
"Soal Shafira, apa Mas tau kalo dia adalah saudara kandung dari Arabella?"
Harris terkesiap, tapi kemudian ia menormalkan wajahnya.
"Makanannya sudah matang, ayo sekarang kita sarapan dulu." Harris beralih menyajikan makanannya ke dalam wadah dan langsung membawanya ke meja makan.
Davina tak lagi berani mengeluarkan suaranya, ia tau Harris sedang tidak ingin membahas masalah tersebut. Ia pun mengikuti sang suami menuju meja makan.
Ia memilih duduk dihadapan Harris, memperhatikan Harris yang mulai mengisi piring miliknya dan Davina dengan nasi dan lauk pauk yang telah di masaknya. Harris menyodorkan piring tersebut kehadapan sang istri. "Makan dulu, ngobrolnya nanti." ujarnya. Mereka berdua menikmati sarapan dalam keheningan.
Davina yang beberapa bulan ini hidup dengan tenang, kini merasa dirinya kembali diincar oleh bahaya. Ia sungguh takut, bayangan ketika dirinya disiksa dan dianiaya oleh wanita bernama Bella masih tersimpan jelas di memorinya.
Dirinya memang tidak tau kapan wanita itu bebas dari penjara. Tapi bayang-bayang tentangnya mampu membuat diri Davina trauma. Trauma akan luka yang ia dapat. Tanpa sadar ia mengusap bekas luka yang berada di pipinya. Memang tidak terlalu kentara, karena Davina telah menutupinya dengan bedak. Tapi, bekas tusukan pisau di perutnya tidak akan pernah hilang. Itu akan jadi bukti keegoisan seorang Arabella.
"Kamu, kenapa?" tanya Harris ketika melihat mata Davina mengeluarkan air mata. Hanya dibalas gelengan olehnya.
Harris berganti tempat duduk menjadi di samping sang istri. "Kalo ada masalah jangan dipendam sendiri, ya?" Harris memeluk Davina dengan erat. Wanita itu semakin terisak didalam dekapan sang suami. Harris terus berusaha menenangkan Davina. Ia tau ini masih ada hubungannya dengan Bella.
Harris mengusap punggung wanitanya, "Udah jangan nangis lagi ya, ada Mas di sini. Mas nggak akan biarin siapapun mengganggu kehidupan kita."
__ADS_1
Tentu, Harris tidak akan membiarkan hal tersebut terulang untuk yang kedua kalinya. Akibat ulah wanita itu, istrinya sekarang mengalami trauma yang mungkin akan berkepanjangan. Maka dari itu, trauma tidak bisa dianggap remeh.