Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Kembalinya Bella


__ADS_3

Waktu sudah terlalu larut ketika Harris tiba di rumahnya. Beberapa lampu telah padam menandakan bahwa penghuninya telah menuju alam mimpi. Untung saja Harris membawa kunci lain, sehingga dirinya tidak perlu lagi membangunkan orang rumah untuk masuk ke dalam.


Ia melangkah menuju kamarnya, membuka perlahan pintu supaya tidak menimbulkan suara yang mampu mengganggu tidur sang istri. Harris mengernyit ketika melihat Davina tampak tidak nyaman dengan posisi tidurnya. Beberapa kali mengubah posisi untuk mencari rasa nyaman membuat Harris prihatin. Semenjak hamil tua istrinya itu jarang sekali  merasakan yang namanya tidur nyenyak.


Harris melangkah menuju kamar mandi guna membersihkan diri, mengganti pakaiannya dengan piyama tidur. Setelah itu ia menghampiri ranjang, ikut merebahkan diri di samping sang istri. Mencoba untuk memejamkan mata berharap ia akan menyusul Davina ke alam mimpi. Namun, sudah beberapa kali mencoba usahanya berakhir sia-sia. Matanya tidak mau terpejam. Harris menyerah, ia memilih duduk di sofa sembari mengecek pekerjaannya. 


Lalu membuka pesan yang belum sempat ia baca. Harris mengusap wajahnya kasar, masalah di restoran akhir-akhir ini sungguh mengganggunya. Harus dirinya sendiri yang turun tangan, begitu pikirnya.


Terlalu fokus dengan laptop miliknya hingga tak sadar waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Harris menyudahi pekerjaannya, menutup laptop  kemudian ia pergi menuju kamar mandi guna mengambil air wudhu. Ia akan melaksanakan rutinitas sholat tahajud untuk bercengkrama dengan sang pemilik alam semesta. Mengadu kepada-Nya tentang apa-apa yang mengganggu hati dan pikirannya.


Setelah melaksanakan sholat subuh di masjid di sinilah kini Harris berada. Berkutat di dapur untuk membuatkan sesuatu yang spesial bagi sang istri. 


"Hm, harum sekali masakanmu Harris." Yuli nampak menghampiri menantunya yang sedang mengaduk masakan.


"Eh, iya Ma, iseng mau coba bikinin Davina makanan." 


Yuli tersenyum mendengarnya, "Kamu kelihatan jago gitu masaknya, pasti nanti Davina suka." katanya sembari mengamati pergerakan menantunya yang nampak seperti koki handal.


Harris terkekeh mendengar pujian dari mama mertua, memang benar yang ia katakan. Sejak tinggal di apartemen ia memang beberapa kali memasak untuk sang istri dan Davina mengakui jika masakannya memang enak.


"Mama mau apa?" tanya Harris reflek ketika Yuli menyalakan kompor.


Yuli mengernyit, "Mau memanaskan makanan." ujarnya.


"Biar Harris saja, Ma." Harris mengambil alih karena masakan yang ia buat telah matang. Yuli tersenyum kemudian mengangguk, Harris terlihat sangat bersemangat kali ini.


"Yaudah kalo gitu, Mama mau ke depan dulu." ujarnya. Menikmati cahaya matahari yang mulai terbit dari timur sembari menyirami tanaman rasanya menjadi kegiatan yang pas untuk dilakukan pikirnya. Memandangi bunga berwarna-warni yang tampak menyegarkan mata siapa saja yang memandangnya. Ada sebuah taman kecil yang ditanami bunga di depan rumah.


Sedangkan di dalam kamarnya Davina baru saja selesai mandi, terbukti dengan handuk yang masih membungkus kepala. 


Ia celingak-celinguk mencari keberadaan sang suami, pasalnya ia belum melihatnya sepulang dari masjid. 


"Kenapa, cariin Mas ya?" Harris muncul sembari membawa nampan berisi makanan yang telah ia buat dengan penuh cinta, eaaa.

__ADS_1


"Nggak ya, kepedean banget jadi orang." ucapnya sambil melengos, menutupi rasa malunya karena tertangkap basah.


Harris hanya terkekeh, setelah meletakkan nampan ia menghampiri Davina yang sedang mengeringkan rambut miliknya.


"Sini biar Mas bantu," 


Davina tidak menolak ketika Harris mengambil alih hair dryer dari tangannya. Ia justru sedikit mendongakkan kepala serta memejamkan mata menunggu apa yang akan suaminya lakukan.


Dengan telaten Harris mengeringkan rambut hitam panjang milik Davina.


"Selesai," ucapnya.


***


Sesuai rencana siang ini Harris mendatangi restoran miliknya. Ia harus menyelesaikan beberapa masalah yang harus ia tangani sendiri.


Harris keluar dari dalam mobil, melihat banyak pengunjung yang datang ke sana. Cukup ramai mengingat waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Jika restoran selalu ramai pengunjung, bagaimana bisa pemasukannya tidak sesuai? Begitu pikirnya. Ia melangkahkan kaki menuju restoran, belum sempat menggapai pintu masuk ponsel miliknya berbunyi. Sontak Harris memilih mengangkat panggilan tersebut dan sedikit menjauh dari restoran.


Di sisi lain ada seorang perempuan yang keluar dari restoran itu dengan terburu-buru. Ia berusaha mencari kunci mobil miliknya dari dalam tas sembari berbicara dengan seseorang dibalik telepon. Karena terburu-buru dan tidak memperhatikan jalan, tanpa sengaja ia menyenggol bahu laki-laki yang entah mengapa menghalangi jalannya.


"Upss," ucapnya ketika isi tas serta ponsel miliknya terjatuh berserakan di lantai. Ia lantas memunguti barang tanpa memperdulikan siapa orang yang menghalangi jalannya. 


Merasa ada yang menyenggolnya, Harris lantas mengakhiri panggilan teleponnya. "Nanti aku hubungi lagi." 


Harris ikut jongkok hendak membantu wanita tersebut. Karena ia menyadari hal itu juga merupakan kesalahannya yang menghalangi jalan, walaupun sebenarnya bisa saja wanita itu yang menghindar jika memperhatikan jalannya.


"Maaf, gara-gara saya jadi seperti ini." 


"Bukan, ini salah saya yang tidak memperhatikan jalan." ucapnya masih fokus menunduk mengambil barang miliknya.


"Terima—" ucapnya terpotong ketika melihat wajah orang yang sudah menolongnya. 


Harris langsung bangkit begitu saja, ia mundur beberapa langkah serta kedua tangannya mengepal kuat. Ia cukup terkejut melihat keberadaan wanita di depannya.

__ADS_1


Wanita tersebut ikut bangkit, mengalihkan pandanganya sembari tersenyum miring. Tidak menyangka akan bertemu dengan Harris secepat itu. 


"Kenapa wajahmu berubah menjadi merah, Harris? Kamu marah?" ucapnya disertai kekehan kecil.


"Kenapa kamu bisa ada di sini?" berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya. 


"Tidak perlu terkejut seperti itu, kamu mengenal aku dengan baik, Harris. Tidak mungkin aku diam saja ketika di penjara, bukan?" tentu wanita seperti dia akan selalu mencari segala cara untuk memenuhi keinginannya. Licik. Kata yang pas untuk menggambarkan dirinya.


Arabella. Wanita yang sedari tadi berbicara dengan Harris selalu menampakkan senyuman mengejek, seolah dirinya sedang menantang secara terang-terangan. 


"Lalu mau kamu apa?" 


"Aku?" Bella menunjuk dirinya sendiri, "aku cuma mau ngobrol sama kamu, Harris. Sudah lama kan kita nggak ketemu? Sebenarnya aku nggak nyangka bakal ketemu kamu di sini dan secepat ini."


Bella maju selangkah, membuat Harris ikut mundur beberapa langkah. "Bayangkan Harris, sembilan bulan aku mendekam di penjara. Ck, bahkan kamu tidak pernah menjengukku sekalipun. Padahal aku sangat merindukan ka—" 


Harris memalingkan wajahnya sembari tersenyum. Senyuman mengejek itu ia tujukan untuk sikapnya yang berlebihan. "Kamu tidak pernah berubah, Bella." ucapnya. Tak mau berurusan lebih lama dengan wanita itu, Harris melangkahkan kakinya meninggalkan Bella yang masih berdiri di tempatnya.


"Agaknya kamu bersikap sangat tenang sekarang, Harris." ucap Bella sedikit berteriak berhasil membuat Harris menghentikan langkahnya. "Padahal harusnya kamu tau, dengan kembalinya seorang Bella maka sesuatu yang buruk bisa saja terjadi." Bella tersenyum menang dari tempatnya berdiri.


"Oh ya, aku dengar Davina sedang hamil ya?" mendengar nama istrinya disebut Harris mengepalkan tangannya. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Bella. "Jangan pernah kamu mendekati istriku, atau berpikir untuk mencelakainya Bella! Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi." ia menatap tajam wanita di depannya.


Melihat respon dari Harris, Bella pura-pura takut. "Aduh, Harris. Jangan menatapku seperti itu, kamu membuatku sangat takut." ucapnya diakhiri kekehan.


Muak. Rasanya Harris ingin sekali mencakar wajah wanita itu. Merobek mulut berbisa tersebut hingga tak berbentuk. Sayangnya hal itu tidak bisa ia lakukan.


"Aku peringatkan sekali lagi, jangan pernah berpikir untuk mengganggu ketenangan keluargaku Bella, atau kamu akan sangat menyesal." setelah mengatakan hal itu Harris segera memasuki restoran miliknya. 


"Ck, aku jadi tidak sabar bertemu dengan kamu, Davina." melihat respon Harris yang terkejut karena kembalinya Bella, membuat ia penasaran. Akan seterkejut apa jika Davina yang bertemu langsung dengannya? Mengingat pertemuan terakhir mereka sangat mengenaskan.


Bella segera meninggalkan tempat itu dengan berbagai pikiran piciknya.


***

__ADS_1


__ADS_2