Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Sebuah Nama


__ADS_3

"Jadi kamu mau makan apa, Dav?" ucap Rani sudah sekian kalinya ia bertanya kepada wanita itu, tetapi sang empu masih saja membolak-balikan buku menu di tangannya.


"Hm, aku bingung Ran." ujarnya.


"Udah kamu pesen ini aja, biar bayimu kuat dan sehat." ucap Rani sambil menunjuk sebuah menu dengan bahan utama sayuran.


"Cakepp." Davina mengarahkan jempolnya tanda setuju dengan saran sahabatnya itu.


Rani kemudian menyebutkan dua menu berbeda beserta minumannya, sang waiters pun langsung mencatat pesanan mereka.


"Baik, mba. Mohon tunggu sebentar ya." ucap sang waiters.


"Oke, terimakasih mba."


"Nggak mual lagi kan?" tanya Rani, ia khawatir pada wanita yang duduk di sampingnya itu. Pasalnya sewaktu mereka akan makan di kantin, tiba-tiba saja Davina merasa mual dengan bau-bauan yang ada di sana. Sebut saja aroma peluh yang disebabkan oleh beberapa manusia penghuni kantin. Padahal Davina sudah senang karena rasa mualnya hampir tidak pernah muncul lagi.


"Alhamdulillah, udah enggak. Kamu juga cium baunya kan?" tanya Davina.


Rani nampak mengangguk, "Sebenarnya udah biasa si, emang kamunya lagi sedikit sensitifaja, Dav. Ditambah cuaca lagi panas banget, nyampur deh tuh bau-bauan manusia."


Davina terkekeh, "Untung aja kamu peka, langsung bawa aku ke sini." kemudian keduanya tertawa ringan.


Tak lama kemudian pesanan mereka berdua pun datang.


"Terimakasih, mba."


"Iya sama-sama."


"Cepetan dihabisin, kita nggak punya banyak waktu." ucap Rani memerintahkan.


"Iya-iya, bawel."


Mereka berdua pun memakan makanannya dengan lahap, apalagi Davina. Cara makannya saja sudah seperti orang tidak makan berhari-hari.


"Alhamdulillah," ucap keduanya ketika sudah selesai.


"Akhirnya cacing-cacing di perutku sudah bungkam." ujar Rani terkekeh.


"Pake bungkam segala lagi, emang cacing manusia?"


"Hehe, itu cuma kata kiasan sayang."


" Hm, gimana kalo kita pergi sekarang, cari buku kan nggak sebentar. Nanti aku dimarahin lagi sama suami kamu gara-gara pulangnya telat." sambung gadis itu.


"Bisa jadi."


***


Malam ini hujan tengah mengguyur seluruh kota, dengan cuaca seperti itu memang paling pas sambil meminum secangkir teh panas. Harris terlihat sibuk dengan laptopnya, sedangkan Davina hanya sibuk menonton televisi.


"Davina," Harris memanggil istrinya itu.


Davina yang dipanggil oleh Harris pun langsung menoleh kearah pria itu. "Kenapa, Mas?" tanyanya.


Mau dipanggil nama ataupun sebutan Mas tidak masalah menurutnya. Ia memaklumi hal itu, karena Davina pasti belum terbiasa.

__ADS_1


"Tiba-tiba aku kepikiran." pandangan Harris beralih dari laptopnya. "Kira-kira nanti dedek bayi cewe apa cowo, ya?"


Davina mengendikkan bahunya, "Belum tau juga, emang Mas maunya cewe apa cowo?"


"Apa aja, Mas mau kok. Kan tetep anak Mas." Harris kembali memfokuskan pandangannya kearah laptop miliknya.


"Eh, sayang. Kamu tau kan tetangga sebelah. Pak Rangga anaknya juga kembar." tutur Harris.


Davina mengernyit, menangkap maksud lain dari perkataan suaminya. "Terus?"


Mendapat respon seperti itu, Harris menggaruk tengkuknya takut salah berucap.


"Jadi, kamu mau anak kita kembar gitu?" Harris hanya meringis.


"Aww, sakit Davina." teriak Harris kala Davina tiba-tiba mencubit perutnya.


"Enak aja mau anak kembar, emangnya keluarga kamu ada riwayat gen kembar, hm? Kalo enggak ya jangan ngarep, sayangku." ucap Davina dengan gemas.


"Iya, Mas minta maaf."


"Phufft, mukanya jangan cemberut. Jelek, ah." Davina mengelus wajah suaminya.


Harris menutup laptop miliknya, hasrat kerjanya sudah hilang. Kini ia hanya ingin bermesraan dengan istri cantiknya, Davina Arista.


Harris menarik Davina agar duduknya lebih dekat dengannya.


"Kalo dede bayinya cewe, mau dinamain siapa Mas?" tanya Davina, matanya melihat suami di sampingnya itu.


Harris mendongak, memikirkan nama yang sekiranya cocok untuk calon anaknya jika berjenis kelamin perempuan. Nama yang akan dipilih nantinya harus cantik dan bermakna baik. Karena sebuah nama adalah doa dan harapan orang tua kepada anaknya. Jadi Harris dan Davina diwajibkan untuk memilih nama terbaik bagi calon anak mereka.


"Namanya bagus tuh, bisa deh di simpan dulu buat nanti sambil nyari yang lain."


"Iya cantik."


Blush!


Pipi Davina merona, kini Harris sudah pandai menggombal rupanya.


"Ustadz Harris sekarang pandai menggombal ya! Pasti mahasiswi di kampus iri sama aku."


Harris mengernyit, "Memangnya mereka iri kenapa?" tanya Harris.


"Ya, mereka pasti iri sama aku karena nggak bisa deket-deketan sama ustadz idaman mereka. Sedangkan aku sekarang ada diposisi yang mereka inginkan. Upss!" ucap Davina langsung memeluk lengan suaminya, menutupi rasa malunya.


Harris terkekeh mendengar ucapan sang istri. "Ternyata banyak ya yang suka sama Mas. Nggak perlu nyari lagi, kalo gitu."


Davina menatap tajam kearah Harris, "Tertulis dalam kamus rumah tangga Harris dan Davina, bahwa haram hukumnya ada orang ketiga."


"Mas becanda, sayang." ujarnya membela diri.


"Awas aja sampe nyari yang lain!"


Harris mengangguk, harus cepat-cepat mengganti topik sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi. Harris berdehem, "Mungkin kamu punya usul nama bayi, laki-laki misalnya?" tanya pria itu.


Davina nampak berfikir. "Nama apa ya yang bagus, sebenernya belum kepikiran sih, Mas."

__ADS_1


"Kalo namanya, terinspirasi dari masalalu gimana Mas?"


"Soalnya aku suka banget sama nama itu, keinget terus." sambungnya.


"Boleh saja, asalkan maknanya baik."


Di tengah perbincangan mereka, tiba-tiba ponsel milik Davina berdering. Pertanda panggilan masuk. Wanita itu langsung mengambil ponsel tersebut lalu mengangkat nya.


"Assalamualaikum, kak Dav."


"Iya, waalaikumussalam, Di. Ada apa tumben malam-malam begini telpon."


"Kakak besok bisa kerumah nggak?"


"Kok suara kamu serak gitu, Di. Kamu nangis?" ucap Davina khawatir.


"Enggak, kok. Tenggorokan aku emang lagi nggak enak aja. Bisa kan kak?" tanyanya lagi.


"Yaudah, besok kakak kerumah. Mamah sama Papah sehat kan?"


"Iya, mereka berdua sehat kok. Yaudah kak, sampai bertemu besok. Maaf ganggu malam-malam begini."


Davina mengiyakan keinginan Diandra, setelah itu panggilan pun terputus setelah keduanya sama-sama mengucapkan salam.


"Diandra?" tanya Harris, Davina mengangguk.


"Dia kenapa?"


"Nggak papa, cuma besok aku disuruh kerumah. Bolehkan?"


Harris mengangguk tanda mengizinkan, ia paham pasti kedua orangtua Davina sudah merindukan putri dan calon cucu mereka.


"Susu hamil kamu sudah diminum?"


"Belum, nanti dulu deh aku males bikinnya."


Ya dia sudah terlanjur nyaman duduk di depan televisi.


Harris berdiri dari duduknya, tangan miliknya terulur untuk mengusap perut sang istri. "Mas bikinin aja ya." Pria itu langsung beranjak menuju dapur, untuk membuat susu hamil istrinya.


Laki-laki peka?


Davina tersenyum, asik banget rasanya diperhatiin sama ayang, wkwk.


Beberapa saat kemudian, Harris melangkah menghampiri istrinya lalu memberikan segelas susu tersebut. Tak lupa Davina berterimakasih kasih lalu meminum susu tersebut. Sedangkan Harris sibuk mengelus perut buncit milik Davina.


"Owh, ya Davina. Mas keinget sesuatu." ucap Harris menghentikan aktivitas nya.


"Ada yang titip salam buat kamu." sambungnya.


"Siapa?" balas Davina penasaran.


"Devan."


***

__ADS_1


__ADS_2