
Hari ini merupakan acara arisan di rumah Khumaira. Seperti ucapannya kemarin, Davina datang ke acara mertuanya. Jadi kini Davina bersama Yuli sudah berada di kediamannya itu. Tidak banyak teman-teman Khumaira, memang anggota arisan hanya dipilih beberapa saja yang paling dekat dengannya.
"Assalamualaikum, " ucap wanita yang baru masuk.
"Waalaikumsalam, ayo Jeng masuk. Yang lain sudah menunggu." ucap Khumaira mempersilahkan tamunya untuk masuk.
Davina menatap kearah wanita yang baru saja masuk. Dia seperti mengenal wanita itu, tapi siapa? Davina mencoba mengingatnya. Davina baru ingat sekarang, dia wanita yang waktu itu hampir Davina tabrak. Kartika, itu namanya.
"Loh, bukannya kamu yang kemarin mau menabrak saya?" ucapnya tiba-tiba menunjuk kearah Davina.
Davina yang ditunjuk seperti itupun sedikit kaget. Pasalnya di sini sedang ada mama juga mertuanya.
"Eh, iya.. Bu Kartika?" balas Davina seolah baru melihatnya.
"Kok kamu nggak cerita sama mama, Davina?" Yuli menatap tajam ke arah putrinya.
"Hehe, nggak perlukan orang Bu Kartika baik-baik aja." balas Davina.
"Owh, ya jeng. Di mana ustadz Harris katanya mau datang." ucap salah satu wanita yang duduk di samping Khumaira.
"Hm, mana mungkin dia mau datang ke acara yang anggotanya wanita semua. Lagian Harris sekarang masih ada kuliah." balas Khumaira. Yang lain hanya mengangguk mengerti.
"Sebelum dimulai arisannya, saya mau memperkenalkan menantu saya, Davina Arista. Tidak ada Harris, yang penting ada istrinya di sini." ucap Khumaira tersenyum sambil merangkul bahu menantunya itu.
Davina tersenyum malu dengan perlakuan mertuanya. Respon yang diberikan bermacam-macam. Ada yang mengucapkan selamat kepada Khumaira karena anaknya sudah menikah.
"Wah, selamat ya jeng Khumaira udah punya menantu."
"Pantas saja Harris memilihnya, lihat saja wajahnya begitu cantik juga manis. Bagaimana kalo dijadikan menantuku saja jeng?" candaan salah satu wanita yang humoris menatap Yuli dan Khumaira bergantian.
"Hushhh, dia sudah jadi menantuku mana bisa." balas Khumaira, sedangkan Yuli hanya terkekeh melihat kedua wanita yang sedang memperebutkan putrinya.
"Bu, apa benar wanita ini istri dari nak Harris?" tanya Kartika kepada Khumaira.
Davina bisa melihat bagaimana ekspresi dari Kartika yang seperti tak menyukai jika Davina lah yang menikah dengan Harris.
"Iya, benar jeng. Davina istri Harris." jawab Khumaira.
"Cih, bukankah masih lebih baik anak saya jeng. Lihatlah menantu mu itu, dia tidak pantas bersanding dengan Harris yang seorang ustadz. Bahkan dia sendiri tidak menutup auratnya sendiri. Setidaknya jika bukan dengan putri sulungku, maka nikahkan Harris dengan putri bungsuku, dia wanita sholeha kemana-mana selalu berpakaian syar'i. Tidak seperti dia." ucapnya panjang lebar sambil menunjuk kearah Davina.
Davina menatap tak suka kearah Kartika. Bukankah wanita itu kemarin bersikap ramah dan sopan? Tapi kenapa sekarang berubah menjadi kasar dan tidak sopan begini?
Davina yang dihina seperti itu sungguh tak terima. "Maaf tante, tapi maksudnya apa ya?" Davina merasa tak terima.
"Intropeksi diri aja, lihatlah wanita yang berpakaian sepertimu mana pantas menikah dengan seorang Harris."
"Owh, jadi menurut anda, hanya anak anda yang pantas dengan SUAMIKU?"
__ADS_1
"Ya tentu saja," ucap wanita itu dengan santainya.
"Hey, denger jeng. Jika kau pikir anakmu lebih baik dan lebih pantas dengan Harris. Lantas kenapa mereka tetap tidak bersatu! Bahkan anakmu lebih hina dari putriku!" ucap Yuli membela sang putri. Ia merasa tak terima jika harga diri anaknya dihina.
Skakmat!
Kartika hanya diam tak membalas ucapan Yuli. Dia tertunduk, sepertinya merasakan malu yang amat luar biasa.
Untung saja Yuli mengetahui masalalu Harris dengan salah satu anak Kartika itu. Jadi ia bisa mengungkit fakta tersebut.
"Shutt, sudah-sudah bertengkarnya. Tidak baik seperti itu." ucap salah satu wanita menengahi.
"Saya tidak jadi ikut, jeng Khumaira." ucapnya dengan sinis kemudian pergi meninggalkan mereka.
Yuli tersenyum penuh kemenangan karena bisa mempermalukan Kartika di depan Ibu-ibu arisan. Sebenarnya memang banyak yang tidak menyukai Kartika juga keluarganya terkecuali dengan anak bungsu mereka yang memiliki sifat berbanding terbalik dengan ibu dan kakaknya.
Davina masih saja menatap kepergian wanita tadi. Sungguh karena dia, emosinya sekarang sungguh tidak stabil.
"Kamu itu Yul, dari dulu tidak pernah berubah. Selalu saja bersikap pemberani." ucap Khumaira.
"Itu harus, aku tidak terima jika anakku dihina." balas Yuli.
"Maaf, ya."
"Sudahlah, aku paham kamu paling anti dengan keributan."
"Mah, Umi. Davina ijin keluar sebentar mengangkat telpon dulu."
"Iya," jawab Khumaira dan Yuli.
Davina menuju teras samping rumah untuk mengangkat telepon.
"Hallo, assalamualaikum Davina." ucap Rani dari sambungan telepon.
Rani sudah sedikit berubah sekarang, ia sedang mendalami ilmu agama yang dimilikinya. Ia juga sudah mulai merubah semua kebiasaan buruk yang selama ini dia lakukan.
"Waalaikumsalam, ada apa Rani?" balas Davina.
"Begini Davina, bukankah buku mata kuliahku semester lalu ada padamu? Sebenarnya ada adik kelas yang mau meminjamnya. Berhubung bukunya ada padamu, apa kamu mau mengantarnya ke taman yang pernah kita kunjungi? Soalnya aku sedang di tempat kajian."
"Baiklah akan aku antarkan." balas Davina.
"Terimakasih Davina, sudah dulu ya assalamualaikum." ucapnya kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Setelah selesai berbincang dengan Rani, Davina menghampiri Umi juga Mamahnya.
"Maaf, Umi. Davina tidak bisa berlama-lama di sini, kebetulan ada urusan mendadak." ucapnya.
__ADS_1
"Baiklah tidak apa-apa, hati-hati di jalan Davina." Davina hanya menganggukkan kepalanya.
"Loh, kamu tidak di jemput Harris?" tanya Yuli.
"Tidak Mah, kebetulan aku bawa mobil sendiri. Yaudah Davina pamit ya." ucap Davina kemudian menyalami Ibu-ibu di sana.
***
Davina mengemudikan mobilnya menuju lokasi yang dikatakan Rani. Davina turun dari mobil dan mencari keberadaan orang yang mau mengambilnya buku milik Rani.
Karena belum juga menemukannya, Davina duduk di salah satu bangku yang ada di sana sambil menunggu kedatangannya.
"Permisi, Kak Davina ya?" ucapnya seorang perempuan.
"Eh, iya benar. Nih bukunya, balikinnya langsung ke Raninya aja ya."
"Oke, Kak. Terimakasih, sampai jumpa." ucapnya kemudian meninggalkan area taman.
Davina masih duduk di taman menikmati keindahan taman tersebut.
"Sendirian aja, cantik?"
Davina menoleh ke sumber suara, ia terkejut ketika melihat Ricko di sana.
"Ngapain lo di sini?" ucap Davina yang mulai ketakutan dengan aura yang ditunjukkan oleh Ricko.
"Terserah aku dong mau kemanapun. Tapi sebetulnya, sudah lama aku mengikuti mu dan baru kali ini bisa berhadapan langsung denganmu." Ricko tersenyum menyeringai.
"Tangkap dia!" ucap Ricko kemudian muncul lah beberapa anak buahnya mencekal tangan Davina.
"Lepasin gue," Davina berusaha melarikan diri.
Namun, Davina merasakan kepalanya berputar dan lama kelamaan pandangannya kabur. Davina di bekap dengan sebuah sapu tangan yang sudah diberi obat bius terlebih dahulu.
Davina tidak sadarkan diri!
"Cepat bawa dia ke mobil!" Ricko memerintah. Davina dimasukkan kedalam sebuah mobil berwarna hitam.
Ricko terlihat merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Hallo, tenang saja. Dia sudah aman bersamaku." ucap Ricko.
"Bagus, cepat bawa dia kehadapanku. Jangan biarkan dia kabur." ucap seseorang di seberang telepon.
"Baiklah, aku segera ke markas." balas Ricko sebelum mematikan panggilannya.
***
__ADS_1