
Setelah mendapatkan panggilan dari seseorang, Harris berpamitan kepada Davina untuk menemuinya. Mereka akan bertemu di sebuah cafe.
Harris melajukan mobilnya menuju lokasi.
Sebenarnya ia tak ingin bertemu dengan wanita masa lalunya lagi, karena kini ia sudah beristri pastilah akan timbul fitnah, apalagi jika sampai ketahuan berduaan dengan seorang wanita yang bukan muhrimnya.
Harris sudah bertekad jika ini adalah pertemuan terakhir di antara mereka.
Sesampainya di tempat lokasi, Harris mencari-cari keberadaan wanita yang akan ditemuinya. Setelah melihat keberadaannya, ia langsung menghampiri wanita tersebut.
"Assalamualaikum," ucap Harris sambil mendudukkan diri di depannya.
"Akhirnya kamu datang juga Dzaki, aku kira kamu nggak bakal datang." ucap wanita tersebut tak lain ialah Bella, mantan kekasih Harris.
Harris tersenyum sekilas mendengar perkataannya.
"Mau makan dulu atau minum?" tanya Bella.
"Tidak usah," balas Harris.
"Baiklah Dzaki, btw gimana kabar Abi sama Umi Khumaira? Udah lama aku nggak ketemu mereka." ucapnya basa-basi.
"Alhamdulillah mereka sehat." balas Harris, ia hanya mangut-mangut.
"Hmm, Dzaki. Aku mau kita balikan lagi kaya dulu." ucap Bella sambil menggenggam tangan Harris.
Harris yang kaget langsung menarik tangannya dari genggaman Bella. Bagaimana tidak, setelah Harris berhijrah ia bahkan tidak pernah bersentuhan lagi dengan wanita yang bukan muhrimnya. Terkecuali Uminya sendiri, dan juga Davina yang kini sudah sah menjadi istrinya.
__ADS_1
"Dzaki kamu kenapa?" tanya Bella bingung, karena Harris tiba-tiba menarik tangannya.
"Maaf Bella, saya bukan lah Dzaki yang dulu. Saya sudah berhijrah dan bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya itu dosa." ucap Harris bangkit dari duduknya.
"Oke, oke. Tapi aku mau kita balikan lagi." ucapnya ikut bangkit dari duduknya.
"Saya tidak mau mendekati zina lagi seperti dulu, saya harap kamu bisa melupakan apa yang telah terjadi di antara kita di masa lalu." ucap Harris.
"Tapi aku nggak bisa Dazki, aku masih cinta banget sama kamu." ucap Bella dengan wajah memelas.
Tak bisa di pungkiri, jika Bella memang masih sangat mencintai Harris seperti dulu.
"Maaf, tapi saya sudah tidak punya perasaan apapun sama kamu." nalas Harris, kemudian pergi meninggalkan Bella yang masih berdiri mematung.
Bagai disambar petir, Bella langsung meneteskan air matanya tatkala mendengar Harris mengatakan hal itu.
Ia tak menyangka jika orang yang dulu mencintai dirinya lebih dari apapun, kini bahkan seperti orang yang tak saling mengenal.
"Tunggu Dzaki!" ucap Bella. Reflek Harris menghentikan langkahnya.
"Alasan yang kamu berikan belum cukup bagiku." terang Bella sambil mengusap sisa-sisa air mata yang masih menempel di pipi.
Harris langsung membalikkan badan menghadap kearah Bella. Ia akan menjelaskan yang sebenarnya jika ia sudah menikah supaya dia tidak lagi mengejarnya.
"Sekali lagi saya minta maaf. Sebenarnya saya sudah menikah, dan saya harap kamu tidak mengganggu kehidupan rumah tangga saya." ucap Harris tegas.
Bella yang mendengar jika Harris sudah menikah langsung terkejut. Air mata yang sudah di tahan sedari tadi akhirnya luruh kembali.
__ADS_1
"Nggak mungkin kan, kamu bercanda kan Dzaki. Kamu bicara seperti itu supaya kita nggak balikan lagi kan?" ucapnya tak percaya.
"Aku tau kamu pasti masih cinta sama aku, nggak mungkin kamu nikah sama orang selain aku Dzaki..." sambungnya.
"Tapi itulah kenyataannya, saya sudah menikah. Jadi jangan ganggu hidup saya lagi. Kamu pasti akan bertemu dengan laki-laki yang lebih baik dariku." ucap Harris lalu pergi meninggalkannya.
Bella hanya bisa menangis menerima kenyataan yang sangat pahit baginya. Ia terduduk di tanah menangis sambil memegangi lututnya.
"Nggak...Nggak mungkin. Dzaki harus jadi milikku. Akan aku rebut dia dari istrinya." gumamnya sambil tersenyum sinis.
***
Sesampainya di apartemen, Harris mendapati istrinya yang tertidur di sofa ruang tamu.
"Apa dari tadi dia menungguku?" gumam Harris.
Harris lalu mengangkat Davina menuju kamarnya dan menidurkannya di atas ranjang. Belum sempat bangkit dari ranjang, Davina tiba-tiba menarik tangan Harris.
Harris berulang kali mencoba melepaskan tangannya dari pelukan Davina. Tapi ia malah semakin mengeratkan dan menarik Harris kedalam pelukannya.
Harris tidak bisa mengubah posisinya. Ia terus memandangi wajah cantik Davina.
"Kamu cantik Davina." ucap Harris pelan sambil menyingkirkan anak rambut yang menutup separuh wajahnya.
"Kamu yang memintanya, jadi jangan salahkan aku jika aku tidur satu ranjang denganmu Davina." ucap Harris lalu mencium kening istrinya.
Harris yang sudah mengantuk, akhirnya memilih memejamkan matanya menyusul Davina yang sedang menyusuri ke alam mimpinya.
__ADS_1
Harris tidur di dalam pelukan Davina.
***