
Setelah memikirkan solusi terbaik untuk permasalahannya dengan dibantu oleh kedua temannya, kini Harris memutuskan untuk pergi ke rumah sakit menjenguk Bimo sekaligus menjemput sang istri.
Harris bangkit dari duduknya, "Aku pergi dulu ya, makasih solusinya." ucap Harris bersiap untuk pergi.
"Tunggu, kamu mau kemana?" tanya Farhan.
"Aku mau ke rumah sakit menjemput Davina." balasnya.
"Owh kalo gitu aku mau ikut, sekalian mau jenguk Bimo juga." pintanya.
Harris mengangguk.
Ia beralih menatap satu temannya yang juga sedang menatapnya, "Kalo mau ikut juga silakan, kamu bisa bareng sama Farhan." tawar Harris.
Arya hanya mengembuskan nafasnya kasar, kemudian ia mengambil ransel lalu menggendongnya. "Gue langsung pulang, masih ada urusan." ucapnya kemudian meninggalkan Harris dan Farhan yang saling pandang.
"Belum move on dia, masih muak kayaknya lihat wajah Bimo." sahut Farhan melihat tingkah Arya.
"Yaudah, biarin aja. Dia masih butuh waktu sepertinya."
Mereka berdua pun bergegas menuju rumah sakit. Farhan menggunakan mobil milik Harris, sedangkan Harris membawa mobil milik istrinya.
Tak butuh waktu lama, mereka berdua telah sampai di sana.
"Emang siapa aja yang jagain Bimo?" tanya Farhan setelah memarkirkan mobilnya.
"Ganti-gantian, mama mertua, kadang si Diandra, juga satu teman perempuannya. Kalo nggak salah Askya, namanya."
Farhan mengangguk, "Emang pacarnya nggak jagain?" tanyanya.
Harris menggeleng. "Konon katanya, mereka udah putus."
Farhan tak menanggapi lagi, mereka sudah sampai di depan pintu ruang Anggrek.
"Assalamualaikum." ucapnya membuka pintu.
"Waalaikumussalam."
Terlihat di dalam ada Yuli, Davina, dan Diandra. Farhan pun menyalami ibu mertua dari sahabatnya itu.
"Temennya Harris ya?" tanya Yuli karena baru pertama kali ia melihatnya.
"Iya Tante, temennya Bimo juga hehe." ia mendudukkan diri setelah diperintah.
"Emang udah selesai kuliahnya jam segini?" tanyanya.
"Alhamdulillah udah Tante, kebetulan kalo hari Selasa cuma sampe jam 12."
Davina menghampiri sofa sambil membawa minuman dan makanan ringan. "Ini diminum ya." ucap Davina.
"Eh, iya Davina. Nggak usah repot-repot sebenarnya." ucap Farhan merasa tak enak.
"Nggak repot kok, aku tau kamu pasti nahan haus sedari tadi."
Farhan hanya terkekeh memang benar, sudah siang begini sudah masuk jam makan siang.
__ADS_1
"Owh ya, Tante tinggal dulu ya, mau ke mushola belum sholat dhuhur." pamitnya.
"Iya-iya Tante." Harris dan Farhan sudah sholat tadi.
Tinggal mereka berlima yang ada di sana.
Farhan menghampiri Bimo yang baru saja selesai makan di suapi oleh Davina. Bimo sudah bisa duduk bersandar pada bantal yang disusun sedemikian rupa.
"Gimana kabarnya, Bim? Ngenes banget gue lihat badan lo." Farhan meringis melihat tangan dan kaki Bimo yang terbalut dengan biocrepe itu. Pasti rasanya sangat sakit pikirnya.
"Ya seperti yang lo liat, badan gue remuk semua." balas Bimo terkekeh.
"Makanya jangan nekat, galau kok malah mencelakai diri sendiri. Nggak gentle itu namanya." sindirnya.
"Sok tau lo, Han. Gue kecelakaan karena lagi dapet musibah aja." balas Bimo tidak mau dianggap lemah.
"Iya-iya gue percaya sama lo."
"Dia nggak ikut ke sini?" tanyanya pada Farhan, ia melirik Harris yang sedang duduk di sofa bersama Davina.
Farhan yang paham siapa orang yang dimaksud oleh Bimo pun mendesah pelan. "Dia masih marah sama lo kayaknya. Arya selalu ngehindar kalo berhubungan dengan lo. Tadi aja Harris ngajak dia kesini, dianya nolak. Yang sabar aja, pasti lama-kelamaan juga dia bakal maafin lo."
Bimo menunduk, ia menyesal dengan kejadian waktu itu. "Udah lima tahun, Han. Gue niat berubah jadi lebih baik lagi. Gue udah minta maaf sama temen-temen lo. Cuma Arya sama Deon yang belum nerima permintaan maaf gue."
Farhan menepuk bahunya guna memberi semangat, "Nggak papa, Bim. Kalo bukan sekarang pasti nanti, udah gitu aja. Sekarang kamu fokus buat pemulihan, semua berharap lo sehat seperti sedia kala." doa Farhan untuknya.
"Aminn, semoga aja nggak lama sembuhnya." ia merasa tidak percaya diri dengan keadaan tubuhnya. Ya sekarang Bimo merasa lebih ikhlas dengan kondisinya, apapun itu semoga ini bisa menjadi penebus dosa di masa lalunya.
Setelah membantu Bimo untuk meminum obatnya, Farhan membantu Bimo untuk berbaring. Sekarang saatnya Bimo untuk istirahat.
Bimo tersenyum, "Terimakasih, Han." setelah itu ia memejamkan matanya.
"Udah tidur?" tanya Harris melihat Farhan beralih duduk di sofa, yang dibalas anggukan olehnya.
"Kapan Bimo boleh pulang?" tanyanya.
"Belum tau, paling lama dua sampai tiga hari lagi. Semakin kondisinya membaik semakin cepat pula pulangnya, gitu kata dokternya kemarin."
Farhan mengangguk, proses penyembuhan patah tulang memang membutuhkan waktu yang cukup lama.
Sama seperti hati yang rapuh karena ditinggalkan oleh sang kekasih. Perlu obat dan sedikit perawatan untuk menyembuhkannya. Pun bisa saja tidak sembuh, jika belum move on.
Kata orang-orang, move on terbaik itu memperbaiki dan membahagiakan diri sendiri. Perkara dia menyesal atau tidak itu bukan urusanmu lagi. Lalu, bagaimana jika bahagianya saja sudah pergi meninggalkannya?
Sekarang ia ingin menjadi hitam dan gelap saja. Menjadi warna yang kuat dan tidak meminta apresiasi dari yang tidak sanggup melakukannya. Sudah, kalo mau move on ya jadilah hitam dan gelap. Kamu hanya perlu hidup dengan kesabaran, ketulusan, dan keikhlasan.
"Kalo gitu aku mau pamit ya, udah mau sore." ucapnya.
"Eh—nggak nunggu mama dulu?" ucap Davina, ia juga heran kenapa mamanya tidak balik-balik yang katanya tadi mau pergi sholat dhuhur sebentar.
"Titip salam aja kali ya?"
"Iya nggak papa, Farhan. Kamu pasti sibuk, tapi aku minta tolong boleh nggak?" ucap Harris.
Farhan menaikkan satu alisnya, "Ngomong aja."
__ADS_1
"Tolong anterin adik ipar gue ke kampus ya, soalnya aku nggak bisa. Kasihan Davina disini sendirian." ucap Harris sambil melirik Diandra yang juga sedang menatapnya.
"Lho, kok jadi kak Farhan yang suruh nganterin? Kalo kak Harris ngerasa nggak bisa ya bilang aja. Aku kan bisa naik taksi kak. Kasihan kak Farhan, diakan lagi buru-buru." ucap Diandra panjang lebar. Ia tidak enak dengan sahabat kakak iparnya itu.
"Eh— nggak papa Diandra. Aku bisa kok, ayo kalo gitu." ajaknya.
"Beneran nggak papa nih, Kak?" tanya Diandra sekali lagi.
"Yaelah, kaya sama siapa aja. Adik Harris adik aku juga kan?" ujarnya sambil menaik turunkan alisnya.
"Nggak, enak aja. Diandra adik gue doang, lagian gue nggak mau tuh punya saudara kaya kamu, Farhan." sahut Davina membuat yang lain tertawa melihat Farhan diulti oleh bumil yang satu itu.
"Terserah kamu, Davina." ujar Farhan ngambek.
"Ribut amat ngerebutin aku, khusus hari ini aku adiknya kak Farhan. Ayo kak, anterin adik cantikmu ini." ucap Diandra membuat yang lain kaget dengan sikap centil Diandra. Kemudian ia berjalan meninggalkan ruangan Anggrek.
Farhan mengerjap, "Oke, aku duluan ya Harris, Davina."
"Iya, terimakasih udah datang kesini. Terimakasih juga udah mau anterin Diandra." Harris menepuk pundak laki-laki itu.
"Iya sama-sama, owh ya aku anterin mobil kamu nanti malam ya." ujar Farhan.
"Terserah kamu."
Setelah mengucapkan salam ia bergegas pergi, takut adik sementaranya mengomel karena menunggu terlalu lama.
***
Farhan kini sedang mengendarai mobil menuju tempat yang Diandra tuju, mana lagi jika bukan kafe miliknya.
"Kamu nggak kuliah?" tanya Farhan membuka suara, karena sedari hanya kesunyian diantara mereka berdua. Ia heran karena tadi Harris menyuruhnya mengantarkan ke kampus Diandra, tapi gadis itu meminta diantarkan menuju kafe.
Diandra yang sedang fokus pada laptopnya pun menoleh, melihat Farhan yang menatap lurus jalanan di depannya.
"Enggak."
Farhan mengernyit, "Bukannya kamu kuliah ya?"
Diandra terkekeh, "Enggak— maksudnya itu karena aku lagi di sini kak. Jelas nggak kuliah lah."
Farhan yang menyadari itu ikut tersenyum, adik Davina ini ternyata memiliki selera humor juga.
"Terus, kenapa sekarang malah mau ke kafe? Nggak ada jadwal kuliah?" tanyanya lagi.
"Nggak, hari-hariku di kafe." tepat setelah mengatakan hal itu, mereka sudah tiba di sana.
Arista's Cafe, nama yang terpampang di depannya. Farhan mengamati, ramai juga ternyata.
"Pinter bisnis, siapa yang ngajarin?" Farhan menoleh menatap Diandra yang sedang membereskan laptopnya.
Ia hanya menggeleng, "Cuman hobi kak. Owh ya, yuk mampir sekalian." ajaknya.
Farhan menggeleng, "Terimakasih, Di. Lain kali aja ya, aku pasti bakal kesini kok. Sekalian ngajak seseorang." ujarnya.
"Yaudah deh, makasih ya kak Farhan." Diandra melambaikan tangannya hingga mobil yang membawa Farhan menghilang.
__ADS_1
***