Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Di Taman


__ADS_3

Mentari belum tampak batang hidungnya, hari masih gelap. Namun terlihat seorang pria sudah sibuk membangunkan sang istri yang masih pulas dalam tidurnya.


Davina sedikit sulit dibangunkan kali ini, tidak seperti biasanya. Mungkin kemarin dia benar-benar lelah dengan masalah yang menimpanya, ditambah lagi menjadi wanita hamil itu tidak mudah. Sehingga membutuhkan waktu istirahat yang lebih dari waktu normal.


Tetapi tetap saja, Harris tidak akan mentolerir jika istrinya itu melewatkan waktu subuhnya hanya karena tidur.


"Sayang..." tangan kekar milik Harris menggoyangkan bahu milik Davina secara perlahan.


Sudah sekian kalinya ia melakukan hal yang sama.


"Nanti dulu, Mas. Aku masih ngantuk." jawab Davina masih dengan mata terpejam.


"Dari tadi nanti-nanti terus." protes Harris, "Bangun sholat dulu, Davina."


"Eungggh, masih ngantuk." ujarnya lagi.


"Iya nanti setelah subuhan, Mas kelonin lagi." celetuk Harris membuat Davina mendengus.


Sontak saja mendengar itu Davina langsung melotot kan matanya, seketika kantuknya hilang.


"Mulai lagi mesumnya." batin Davina.


Biasanya di waktu pagi, Davina bergegas untuk menyiapkan keperluan Harris beserta urusan dapur, sekali lagi walaupun ia sendiri belum pandai.


Jemari Harris terulur mengelus rambut Davina yang terurai tak beraturan di atas bantal, seraya memperhatikan mata wanita nya yang masih terpejam. Hawa dingin kali ini memang cocok sekali digunakan untuk bermalas-malasan di atas tempat tidur.


"Apa perlu Mas, gendong seperti dulu?" ucap Harris menggoda istrinya.


Tak disangka,


"Boleh, sini gendong." ucap Davina seraya melingkarkan kedua tangannya pada leher Harris.


Harris tersenyum melihat istrinya kini semakin manja kepadanya. Tidak seperti dulu awal menikah, sangat anti berdekatan dengannya.


Harris pun menggendong istrinya ke kamar mandi untuk segera berwudhu.


"Makin manja ya, sekarang." ucap Harris mencium pipi istrinya.


"Biarin." balasnya cuek.


***


"Kamu tidak ke kampus, Davina? Belum siap jam segini." tanya Harris setelah selesai memakan sarapannya, karena jam sudah menunjukkan pukul 07.35. Pasalnya Davina masih memakai pakaian rumahan walaupun dirinya sudah mandi, beda jika ia akan pergi ke kampus selalu rapi.


Yang ditanya hanya diam, takut untuk bersuara.


"Davina?" panggil Harris, melihat istrinya hanya diam saja.


"Mas, aku hari ini izin ya. Aku belum siap ketemu mereka di kampus. Janji besok aku berangkat." ucap Davina serius, Harris bisa melihat di mata istrinya masih ada ketakutan di sana.


Harris tersenyum menanggapi, menggenggam jari-jemari milik Davina.

__ADS_1


"Kalo kamu masih trauma karena kemarin, tidak apa-apa. Jangan dipaksain, Mas tau semua butuh waktu." ujar Harris.


Davina mengangguk, "Makasih ya, udah ngertiin aku Mas. "


"Tapi kamu di rumah sendirian, Mas khawatir sama kamu dan anak kita. Apa perlu Umi suruh ke sini?" tawar Harris.


"Nggak perlu, udah biasa kok di rumah sendiri. Buktinya kemarin waktu Mas pergi aku baik-baik aja kan?"


"Mas, nggak percaya. Pasti hatimu tidak baik-baik saja, karena merindukanku kan."


"Itu nggak perlu ditanya lagi, udah jelas."


"Ya sudah kalo begitu, Mas mau berangkat ke kampus. Takutnya nanti terlambat." ucap Harris berpamitan.


Kemudian ia berlalu menuju pintu. Sebelum itu ia menghentikan langkahnya karena ucapan sang istri.


"Udah lupa ya, sekarang yang dipamitin bukan cuma aku doang."


Mendengar hal itu, tentu ia paham apa maksud istrinya. Ia sendiri lupa karena tergesa-gesa takut terlambat. Harris berbalik menghampiri sang istri dan langsung berjongkok di depannya.


"Assalamualaikum, anak Papah. Papah mau izin pergi untuk menuntut ilmu ya. Baik-baik di sana, jangan rewel, temenin Mamah di rumah ya." setelah mengatakan itu, Harris mengelus dan mencium perut buncit milik istrinya, di mana malaikat kecilnya berada.


Harris berdiri, menatap Davina yang tersenyum melihatnya.


"Kenapa? Mau dicium juga?"


Cup..


"Sekarang segitu dulu ya, Mas buru-buru." Harris mengerlingkan sebelah matanya.


"Apaan sih, udah buruan berangkat. Nanti telat," ucap Davina.


"Mas, berangkat. Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam," Davina mencium tangan suaminya.


Setelah Harris berangkat, Davina menuju dapur untuk mencuci piring yang kotor dan membereskan apartemennya.


"Huh, akhirnya selesai juga." Davina merebahkan dirinya di atas ranjang, hingga perlahan-lahan kesadarannya hilang. Davina ketiduran.


***


Suara adzan dzuhur berkumandang, membuat seorang perempuan mengerjap membuka matanya. Ia tidak sadar jika tidur lebih dari tiga jam lamanya.


"Astaghfirullah, kenapa aku bisa ketiduran." ucapnya.


Ia berpindah posisi menjadi duduk, seolah mengumpulkan separuh nyawa yang belum terkumpul dengan sempurna.


Setelah terasa nyawa terkumpul sepenuhnya, Davina bangkit dari duduknya menuju kamar mandi untuk berwudhu dan menunaikan sholat dzuhur.


Bangun tidur membuat perut Davina seakan ingin segera diisi. Lalu ia mengambil beberapa cemilan yang baru ia beli beberapa hari yang lalu. Memilih duduk di sofa sambil bermain ponsel, tak lupa juga cemilan kesukaannya. Yah, jika sudah begini rasanya dunia milik sendiri! Iya, yang lainnya cuma numpang, hehe.

__ADS_1


Memandang layar ponsel terlalu lama membuat matanya jadi pedih. Ia pun meletakkan ponselnya asal.


Bosan,


Itu yang dirasakan Davina sekarang ketika di rumah sendirian, dan tak melakukan apa-apa. Jika tau begini, Davina lebih baik pergi saja ke kampus. Bodoamat dengan mereka yang mengatainya kemarin. Sekarang ia tidak peduli, pikirnya. Besok ia harus berangkat jika tidak ingin bosan seperti saat ini.


Davina mendapatkan ide, lalu ia masuk ke kamar mengambil hijab serta mengganti pakaiannya. Setelah itu ia akan pergi menuju taman, setidaknya dengan menghirup udara sore seperti ini akan membunuh rasa bosan yang menerpanya.


Kebetulan cuaca hari ini sedikit mendung sehingga akan pas jika berjalan-jalan sebentar di taman. Davina rasa nanti malam akan turun hujan. Davina berjalan kaki menuju taman, tak lama kemudian ia sudah sampai di sana. Davina memilih duduk di bangku panjang yang kosong.


Lumayan ramai, kebanyakan anak-anak yang sedang bermain ayunan dan yang lain bersama orang-tua mereka. Ada juga sepasang muda-mudi yang sedang berpacaran, berpegangan tangan dan sayang-sayangan. Davina ingin muntah melihatnya, lebay sekali pikirnya.


Davina baru sadar sekarang, jika berpacaran hanya membuang-buang waktu saja dan tentunya dosa di dalamnya. Ia sendiri tak habis pikir, kenapa dulu dirinya bisa masuk ke dalam lingkaran dosa yang bernama 'pacaran'. Maklum saja, dulu ia anak yang kurang agamanya.


"Sendirian aja?" ucap seseorang berhasil mengalihkan perhatian Davina.


"Shafira?" Davina kaget tiba-tiba wanita itu bisa ada di sana.


Shafira tersenyum melihat Davina seperti terkejut karena kedatangannya.


"Aku duduk di sini boleh?" ucapnya.


"Duduk aja," balas Davina cuek, ia masih kesal pada wanita yang duduk di sampingnya itu. Selalu berusaha mendekati suaminya, Harris.


"Bagaimana kabarmu, Davina?" tanya Shafira.


"Seperti yang lo liat." balas Davina masih dengan nada cueknya.


Lagi-lagi Shafira hanya tersenyum mendengar jawaban Davina yang ketus padanya. Memang dia murah senyum.


"Hari ini kamu tidak ke kampus kan?" ucap Shafira padanya.


"Dari mana lo tau?" tanya Davina.


"Harris yang memberitahuku."


"Ngapain sih, Harris pake cerita-cerita ke dia." batin Davina dongkol.


"Soal kampus, kamu jangan terlalu ambil pusing ya. Jangan terlalu dipikirkan, mereka berkata seperti itu karena mereka tidak tau yang sebenarnya." ucap Shafira mengingat kejadian yang menimpa Davina.


Dia di sana saat itu, tapi Shafira sendiri tidak bisa berbuat apa-apa, mengingat ia hanya sendiri. Mau menasehati pun rasanya percuma, karena kebanyakan mereka berwatak keras.


"Sejak kapan lo tau pernikahan gue sama Harris?" iris matanya menatap ke arah Shafira. Davina teringat dengan perkataan Pak Hery kemarin.


Mumpung ada kesempatan Davina mencoba mencari tau seberapa jauh wanita itu mencampuri kehidupannya.


Shafira tersenyum tipis, "Belum lama. Saat acara amal beberapa waktu lalu."


"Dan lo suka kan sama Harris?"


***

__ADS_1


__ADS_2