Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Harris Pakai Cincin?


__ADS_3

Davina masih tertidur dengan tubuh polosnya setelah tadi malam dirinya digempur habis-habisan oleh Harris.


Davina merasa tubuhnya berat dan enggan untuk bangkit, hingga ponsel miliknya berdering dan ia enggan untuk mengangkatnya karena seluruh badannya terasa sakit.


Harris yang mendengar deringan ponsel pun merasa terganggu. "Sayang, itu ponselmu." Ucap Harris.


"Hmm, angkat saja." Balas Davina masih memejamkan matanya.


Harris pun mengangkat telepon dari ponsel Davina tapi dirinya tidak fokus pada layarnya.


"Hallo, assalamualaikum." Ucap Harris.


"Astagfirullah, kamu pasti habis ML ya? Aduh mataku ternodai." Ucap orang disebrang sana.


Harris mengernyit kemudian matanya tertuju pada layar ponsel yang menampilkan wajah Bimo, ternyata dia menggunakan video call pantas saja dia tau.


"Ada apa nelpon sepagi ini?" Ucap Harris sambil melirik jam yang menunjukan pukul empat.


"Aku cuma mau bilang kalo aku udah tau siapa yang memenjarakan Ricko." Ucap Bimo.


Yah, kemarin Harris meminta bantuan pada Bimo untuk membantunya mencari bukti jika Ricko tidak bersalah melainkan diancam oleh Bella.


"Siapa?" Ucap Harris.


"Kartika ibu dari Bella." Harris mengangguk membenarkan informasi yang diberikan oleh Bimo seperti apa yang disampaikan oleh Ricko sendiri.


"Kemarin Ricko pun mengatakan seperti itu," Ucap Harris.


"Aku masih punya satu informasi. Anak buahku sudah mendapatkan sebuah bukti berupa rekaman kalo Ricko tidak sepenuhnya bersalah. Tetapi aku sendiri belum mendengarkannya. Lusa aku akan menemui orang tersebut." Ucap Bimo.


"Owh, ya Harris. Apa kamu tau jika dipenjaranya Ricko ada kaitannya dengan Faras yang sekarang ini berada di rumah Rani?" Tanya Bimo.


"Itu aku juga sudah tau kemarin sewaktu mengantar Davina kerumah Rani." Balas Harris.


"Ck, kalo gitu sia-sia dong aku mencari tau informasi." Bimo nampak berdecak.


"Tidak, tidak begitu Bimo. Terimakasih kamu sudah mau membantuku, jangan lupa kamu harus dapatkan bukti itu." Ucap Harris.


Bimo terdiam menatap Harris yang tidak memakai baju, kemudian ia teringat sesuatu.


"Apa kamu mengeluarkannya di dalam, Harris?" Tanya Bimo dengan santainya.


"Memangnya kenapa?" Ucap Harris bingung.


"Kamu tau sendirikan Davina terobsesi dengan kepopularitasannya di Kampus. Bagaimana jika tiba-tiba dia hamil dan tidak bisa menerima semua itu, aku hanya tidak ingin Davina semakin membencimu akibat kelalaianmu." Ucap Bimo.


Harris kembali mengingat kejadiannya bersama Davina, semalam memang dia mengeluarkan cairannya di dalam. Bahkan tempo hari lalu juga. Tapi Davina nampak tidak marah dan tidak mempermasalahkan hal itu. Harris berpikir mungkin Davina sudah meminum pil kontrasepsi karena dirinya terlihat begitu tenang dan tidak protes saat dirinya mengeluarkan cairan kental miliknya itu di dalam.


"Kamu tenang saja, pasti Davina sudah berjaga-jaga sebelumnya." Balas Harris.


"Ya udah kalo begitu, aku tutup dulu karena dari tadi malam aku belum tidur karena untuk mencari informasi seperti yang kau perintahkan." Ucapnya sambil menguap mengisyaratkan seberapa mengantuknya dirinya.


Harris langsung mematikan teleponnya setelah Bimo mengatakan hal tersebut. Kemudian dirinya melirik sang istri yang masih terlelap dalam tidurnya.


"Sayang bangun," Ucap Harris sambil mencium pipi Davina membuat Davina merasa tidak nyaman dalam tidurnya.


"Mm," Gumamnya dalam tidur.


"Hey, Kita harus mandi wajib dulu. Atau kamu mau melakukannya lagi sampai adzan subuh?" Goda Harris.


Mendengar hal tersebut membuat Davina langsung bangun dari tidurnya menghindari ucapan Harris tadi.


"Mau mandi bareng?" Ucap Harris.


"Enggak," Balas Davina menatap tajam sang suami.


"Becanda," Ucap Harris sambil mengelus rambut Davina yang berantakan akibat ulahnya semalam.


Kemudian Harris melenggang pergi kekamar mandi untuk membersihkan dirinya. Karena jika Davina yang mandi duluan itu akan memakan waktu yang lama, mungkin akan membuatnya menjamur jika harus menunggu lama.

__ADS_1


***


_______


Pagi telah datang, tapi entah kenapa diri ini tak merasa demikian.


Apa karena rindu yang sudah menggebu,


dan belum menemui kata temu


Tak letih tak jemu


Mengenang semua tentangmu


Tentang rasa yang berbekas di kalbu


Dan tak mungkin berbalas rindu


Wahai sang pemilik rindu, ketahuilah


Dia tetap kukuh berdiri


Dia bertahan dengan hati


Yang belum tentu sesuai ekspektasi


Dengan ikhlas membuatnya tabah


Berjalan terseok mencari arah


Bak mentari dan sinarnya


Mencintai tanpa syarat


_______


Davina jadi teringat dengan ucapan Shafira ditelepon kemarin kalau dia selalu membawakan Harris makan.


"Lagi masak kok bengong," Ucap Harris di samping Davina.


"Nggak ada yang bengong tuh," Ucap Davina.


"Apa masih lama?" Tanya Harris.


"Kenapa?"


"Ini udah minta diisi." Jawab Harris sambil mengelus perut laparnya.


"Ya udah kamu kemeja makan, nasi gorengnya udah matang aku ambil piring dulu." Ucap Davina mematikan kompor.


Harris menganggukkan kepalanya, kemudian menghampiri meja makan.


Davina menyendokkan nasi goreng untuk Harris dan juga dirinya.


"Apa Shafira suka membawakan makan untukmu?" Tanya Davina dengan nada tidak suka.


"Hmm," Balas Harris sambil menikmati masakan sang istri.


Davina jadi merasa kesal sendiri karena Shafira yang kecentilan dengan Harris.


"Terus kamu makan pemberiannya?" Ucapnya masih dengan nada tidak suka.


Harris menatap wajah sang istri yang sepertinya sedang terbakar api cemburu. "Tidak, aku tidak memakannya. Aku memberikannya kepada Farhan, karena aku lebih suka masakan istriku tercinta ini." Ucap Harris sembari mencubit hidung Davina.


Pipi milik Davina pun berubah warna seperti kepiting rebus karena ucapan Harris barusan.


"Aduh, itu pipinya kok merah bikin aku gemes aja." Goda Harris.


"Hii, dasar gombal." Ucap Davina.

__ADS_1


***


Harris sekarang sudah ada di kampus, dia duduk sendiri karena Farhan yang belum menampakkan batang hidungnya. Mungkin Farhan masih ada di bengkelnya. Btw, Farhan membangun bengkel akhir-akhir ini.


"Assalamualaikum, Harris." Ucap Shafira yang entah datang dari mana langsung menghampiri Harris yang sedang duduk santai.


"Waalaikumussalam," Balas Harris tanpa melihat kearah Shafira.


"Harris ada yang ingin aku tanyakan, apa kamu sibuk sekarang?" Ucapnya lagi.


Harris nampak berpikir perkataan yang dilontarkan Shafira barusan. Karena Farhan tidak ada di sana, takutnya akan terjadi fitnah.


"Kamu ingin menanyakan soal apa?" Ucap Harris.


"Kemarin ponselmu kenapa bisa ada pada Davina." Ucap Shafira.


Harris kembali mengingat kejadian kemarin dalam mobil. Ia bingung harus menjawab apa karena Davina melarangnya mengatakan yang sebenanarnya.


"Hm,,itu.." Harris nampak bingung harus menjawab apa.


Shafira menunggu jawaban dari Harris, dia harus memastikan kenapa ponsel Harris ada pada Davina jika mereka tidak sedang berdua?


"Eh, ada bidadari surga."


Harris dan Shafira menengok ke asal suara, ternyata Farhan yang datang. Harris jadi merasa lega karena terbebas dari pertanyaan itu.


"Kamu ngapain sih datang kesini," Ketus Shafira pada Farhan.


"Hay, Harris. Wih sekarang kamu pakai cincin." Ucap Farhan.


Shafira langsung menatap kearah jari manis milik Harris yang terpasang sebuah cincin. Apa itu cincin pertunangannya? Tapi dengan siapa, apa Davina? Tapi rasanya tidak mungkin mengingat Davina yang tidak memakai cincin di jarinya.


"Apa kamu sudah bertunangan, Harris?" Tanya Shafira.


Harris bingung, tidak mungkinkan dirinya mengatakan jika sudah menikah. Kemudian ia mengangguk, biarlah Shafira berpikir itu cincin tunangan atau apapun itu.


Shafira merasa lemas seketika mengetahui kenyataan yang ada bahwa Harris sudah menjadi milik orang lain. Haram jadinya jika ia merebut Harris dari sang wanita.


Harris menatap ponselnya miliknya, ada pesan dari Davina.


My wife


[ Harris antarkan aku kerumah Rani, mobilku ada di bengkel Farhan. ]


Harris


[ Iya sayang dengan senang hati, ]


Setelah membalas pesan tersebut, Harris langsung berpamitan untuk pergi.


"Aku pergi dulu ya, ada urusan." Ucap Harris berpamitan kepada dua orang tersebut.


Shafira memandangi punggung milk Harris yang perlahan menjauh darinya. Dia tidak menyangka jika Harris seperti itu.


"Aku sudah bilang sebelumnya bukan, untuk tidak mengharapkan seseorang yang bukan mahrammu. Supaya kamu tidak sakit hati nantinya." Ucap Farhan tiba-tiba.


Nampak Shafira meneteskan airmatanya sejak kepergian Harris barusan. Kemudian Farhan menyodorkan sapu tangan kepadanya.


"Terimakasih," Ucap Shafira.


"Bukalah matamu Shafira, di dunia ini masih banyak laki-laki yang baik selain Harris yang mungkin akan menerima dirimu. Ayolah, jangan sampai kamu dibutakan oleh cinta." Ucap Farhan lagi.


Shafira terdiam mendengarkan perkataan Farhan, dia sendiri membenarkan hal itu. Sekarang ia sadar selama ini terlalu mengharapkan Harris yang memang hatinya untuk orang lain.


Farhan memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut, sampai diambang pintu.


"Apa kamu menyukaiku Farhan?" Ucap Shafira sebelum Farhan benar-benar pergi.


***

__ADS_1


__ADS_2