
Davina mengerjapkan matanya ketika mendengar adzan subuh. Davina membuka matanya dan heran ketika melihat Harris masih tidur di sampingnya karena biasanya Harris akan bangun lebih dulu daripada Davina.
Davina memandangi wajah tampan milik Harris yang masih terlelap menghadap dirinya.
"Baru sadar ternyata suamiku ini ganteng juga." Batin Davina. Tunggu, tunggu. Davina barusan mengakui jika Harris adalah suaminya? Sepertinya dia mulai menyukai Harris?
Davina tak mau terpesona dengan ketampanannya lebih dalam, ia langsung membangunkannya.
Davina menepuk lengan Harris supaya ia terbangun, namun yang dibangunkan hanya menggeliat sebentar membuat Davina merasa kesal. Sudah berulang kali Davina mencoba membangunkannya tetap saja Harris tidak bangun. Bahkan sudah memakan waktu hampir 30 menit. Dasar kebo!
"Tumben-tumbenan nih orang susah dibangunin, biasanya juga dia yang bangunin gue, kenapa jadi kebalik gini sih?" Gumam Davina lirih.
"Harris bangun! Kamu nggak malu ya, sebagai seorang ustadz susah banget buat dibangunin!" Teriak Davina di telinga Harris.
Harris yang kaget langsung membuka matanya dan menutup kupingnya serapat mungkin.
"Davina, kamu kenapa teriak sih?" Ucap Harris dengan suara seraknya khas bangun tidur.
"Kamu nggak malu ya, sebagai seorang ustadz susah banget buat dibangunin! Lihat tuh jam berapa," Ucap Davina sambil menunjuk jam yang berada di atas nakas.
Harris melirik kearah jam yang menunjukan pukul 04:45.
"Seorang ustadz juga manusia kan? Jadi wajar saja seperti itu." Balas Harris dengan santainya.
"Bodoamad!" Balas Davina kemudian berlalu menuju kamar mandi.
Sedangkan Harris juga pergi kekamar mandi yang berada di luar kamar Davina bersiap-siap untuk segera melaksanakan sholat subuh. Harris tidak pergi kemasjid karena pasti ia akan terlambat gara-gara tragedi yang barusan terjadi.
Sedangkan di dalam kamar mandi, Davina merasa ada yang basah di ****** ********, ia pun langsung melihatnya. Dan benar saja ternyata terdapat sebercak darah haidnya. Davina tidak jadi berwudhu ia hanya membersihkan dirinya. Tak lama kemudian Davina keluar dari kamar mandi dengan segarnya.
Terlihat Harris sudah siap untuk sholat berjamaah, ia mengernyit ketika melihat Davina yang malah mendudukkan dirinya di sisi ranjang.
__ADS_1
"Kenapa kamu malah duduk, Davina. Ayo kita sholat waktunya hampir habis." Ucap Harris.
"Aku sedang datang bulan." Balas Davina dengan santainya membalas perbuatan Harris.
"Kenapa tidak bilang dari tadi sih, kan aku jadi menunggu." Batinnya.
Harris melanjutkan sholatnya, sedangkan Davina memilih turun untuk membantu Mamahnya membuat sarapan.
"Mah, sini Davina bantu." Ucapnya menghampiri sang Mamah.
Terlihat Yuli sedang memasak nasi goreng.
"Eh, nggak usah nanti malah masakannya jadi asin lagi. Lain kali aja ya Dav, nanti Mamah ajarin lagi." Ucap Yuli.
Davina mengerucutkan bibirnya, tidak apa-apa juga sih.
Davina berjalan menuju tempat Bimo dan sang adik Diandra yang sedang menonton tv sambil memakan beberapa camilan. Sedangkan Harris sedang menemani Papah mertuanya membaca koran di teras.
"Udah biasa kali Kak dari dulu. Tapi nggak tau sekarang kenapa." Ucap Diandra sambil tertawa.
"Siapa juga yang kesiangan, aku tuh bangunnya udah dari subuh tau, emang baru turun aja kali. Dan nggak usah mikir yang aneh-aneh." Omel Davina.
Bimo membalas omelan Davina dengan senyum merekah. Ini adalah hobby nya yang baru untuk menggoda Davina apalagi setelah mengetahui jika dia sudah menikah.
Hening! Mereka fokus menatap tv di depannya.
"Dav," Panggil Bimo.
"Apa Bang?" Jawab Davina menoleh kearahnya.
"Hm, gimana ya aku ngomongnya." Ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
" Ngomong aja Bang, siapa tau gue bisa bantu."
"Mm, kamu punya temen yang namanya Rani?" Tanya Bimo ragu.
Davina mengernyit ketika nama sahabatnya di bawa-bawa. Dari mana Abangnya tau soal Rani. Davina jadi ingat, pasti karena dia yang memberikan nomor Bimo kepada Rani dulu.
"Iya, emang kenapa?" Tanya Davina.
"Gimana menurut kamu, kalo Abang sama dia?" Ucapnya dengan lirih takut di dengar Diandra yang sedang menatap layar tv.
Mendengar hal itu Davina tertawa dengan keras sehingga membuat Diandra, Mamahnya, dan juga Agung bertanya-tanya. Sedangkan Harris? Sepertinya juga kepo tapi lebih memilih diam.
Melihat Davina yang tertawa membuat Bimo menyesal telah mengatakan hal itu kepadanya.
Bimo membekap mulut Davina supaya diam, setelah siempu diam Bimo melepaskan tangannya dari mulut Davina. "Abang yakin? Lagi nggak becanda kan?" Ucapnya masih dengan tertawa kecil.
Davina hanya merasa heran saja dengan saudara sepupunya itu. Yang dulu sikapnya dingin sedingin kulkas terhadap wanita, kini mendekati bucin?
Davina membayangkan jika benar-benar Bimo berpacaran dengan Rani. Hah? Bisa-bisa Bimo memberitahu jika Davina telah menikah dengan Harris.
"Makanya aku tanya kamu dulu." Balas Bimo masih dengan suara pelan.
Dengan cepat Davina menggeleng-gelengkan kepalanya. "Nggak, nggak bisa Bang. Cari yang lain aja, nih aku kasih tau ya. Rani itu kepribadiannya sangat sangat bertolak belakang sama Abang yang angkuh, cuek dan dingin." Ucap Davina.
"Loh, kok kamu jadi ngatain aku?" Balas Bimo.
"Emang kenyataannya kok." Jawab Davina dengan santainya kemudian pergi ke meja makan karena sang mama sudah memanggil untuk sarapan.
Bimo meluapkan kekesalannya dengan menggigit tutup toples yang berada di depannya.
***
__ADS_1