
Rencananya Davina akan pulang siang nanti, karena sang Dokter telah memperbolehkan Davina untuk beristirahat di rumah. Luka pada tubuhnya juga belum sepenuhnya sembuh, sehingga beberapa hari ke depan ia harus kembali ke rumah sakit untuk kontrol.
Di ruangan Davina, suasananya menjadi lebih ramai. Keluarganya telah datang pagi-pagi sekali untuk menjenguknya sekaligus menjemputnya pulang.
"Bagaimana keadaanmu, Davina. Maafkan mamah ya, baru bisa jenguk kamu sekarang. Kemarin ada acara di rumah yang tidak bisa ditinggalkan. Makanya kami baru datang sekarang." ucap Yuli mamahnya Davina sambil membelai pipinya.
"Sudah lebih baik mah. Nggak papa, Davina seneng kok kalian kesini." nawab Davina.
"Nanti kalian pulang ke rumah mamah ya, Davina."
Davina menatap kearah Harris yang duduk di sampingnya guna meminta persetujuan. Lama berfikir, Harris akhirnya menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia setuju.
Tentunya, setelah memikirkan kemungkinan buruk jika Davina tinggal di apartemen bersamanya. Tidak mungkinkan, jika Harris harus meninggalkan Davina sendirian di apartemen dengan keadaannya yang seperti itu, sedangkan dirinya juga harus pergi ke kampus setelah beberapa hari dirinya mengambil cuti.
Davina nampak senang ketika Harris menyetujui keinginan Yuli. Lalu tanpa sadar, Davina memeluk Harris dengan eratnya.
"Terimakasih, Harris." ucapnya.
Harris yang terkejut dengan pelukan yang diberikan Davina secara tiba-tiba hanya diam, tanpa membalasnya. Ia juga sedikit malu dengan ibu mertuanya.
"Khem," deheman Yuli menyadarkan Davina.
"Eh," ucapnya setelah sadar langsung melepaskan pelukannya disertai wajahnya yang memerah menahan malu. Untungnya hanya mamahnya yang melihat hal tersebut, sedangkan papahnya dan Diandra sedang menikmati sarapan yang tadi sempat dibelinya.
"Maaf," ucap Davina lirih sambil menundukkan kepalanya.
Harris hanya tersenyum mendengar Davina meminta maaf. Kenapa harus meminta maaf? Itu semua hak nya bukan? Bahkan jika Davina meminta lebih dari sekedar pelukan, maka dengan senang hati Harris akan memberikannya.
Merasa suasana menjadi canggung, Harris memilih menghampiri papah Davina dan juga adik iparnya, Diandra yang sedang menikmati sarapannya.
"Harris, ayo sarapan bersama kami mumpung masih hangat buburnya." ajak Agung.
"Ayo kakak ipar cobain, rasanya enak banget lho." sahut Diandra.
"Iya Pah, Di."
Mendapat ajakan seperti itu membuat Harris tidak enak jika menolaknya. Apalagi dirinya juga sudah merasa lapar. Harris pun mengambil satu bungkus bubur lalu menyantapnya dengan lahap hingga habis.
__ADS_1
"Owh ya, Harris. Apa pelaku penculikan Davina sudah tertangkap? Lalu apa motif dari penculikan tersebut?" tanya Agung yang memang belum tau kejadian yang sebenarnya seperti apa.
"Alhamdulillah pah, Harris dan teman-teman dapat menemukan Davina walau dalam keadaan tak sadarkan diri akibat dianiaya oleh Bella. Sedangkan pelaku satunya yang bernama Ricko, belum tertangkap dikarenakan dia tidak berada di lokasi kejadian saat itu. Untuk motifnya, Harris belum tahu pasti. Tapi, mungkin karena Bella tidak menerima kenyataan bahwa Harris sudah menikah, pah." ucap Harris menerangkan.
"Apa si Bella itu mantan kekasihmu, Harris?" tanya Agung.
"Iya, pah. Kami sempat berpacaran dulu sebelum Harris berhijrah." jawabnya.
"Ya sudah. Kamu harus lebih berhati-hati lagi, Harris. Di luaran sana pasti Ricko masih mengincar kalian berdua." ucap Agung, kemudian terdengar suara dering ponselnya.
"Iya, pah."
"Sebentar ya, papah angkat telepon dulu." ucapnya kemudian keluar dari ruangan.
Setelah selesai mengangkat telepon, Agung menghampiri kearah ranjang di mana istri dan anaknya sedang berkumpul.
"Maaf ya semuanya, kalian papah tinggal dulu karena mendadak pihak kantor menyuruhku segera ke sana. Davina, tunggu oapah di rumah ya." ucap Agung mengelus kepala putrinya.
"Iya, pah. Hati-hati di jalan." balas Davina.
"Mah, Harris. Papah tinggal dulu." ucapnya kemudian meninggalkan ruangan Davina dan bergegas menuju kantornya.
***
Diandra pun ikut membantu membereskan barang-barang yang akan dibawa pulang. Sedangkan Harris, ia sedang membayar tagihan rumah sakit selama Davina dirawat.
"Mah, kok Davina dikasih gamis gini sih. Pokoknya Davina mau pake baju seperti biasanya." protes Davina ketika sang mamah memberikannya sebuah gamis berwarna navy beserta jilbabnya.
"Ya ampun sayang, kamu ini gimana sih. Apa kamu lupa, jika perutmu jahitannya masih belum mengering. Maka dari itu kamu harus pake gamis, dengan begitu perutmu tidak akan tertekan dengan pakaian ketatmu itu." omel sang Mamah.
"Enggak, Davina nggak mau pake baju kedodoran kayak gitu." tolaknya mentah-mentah.
"Huufft, kalo orangnya keras kepala emang susah ngaturnya, mah." balas Diandra ikut kesal meladeni sikap kakaknya.
"Diem lo anak kecil!" ucap Davina.
"Gini, Davina. Kamu tau kan kalo suamimu itu seorang ustadz. Nah, apa kata mereka jika melihat istri dari ustadz Harris tidak menutup auratnya."
__ADS_1
"Harris tidak mempermasalahkan hal itu, mah." Davina menunduk. Sebenarnya ia juga menyadari jika Harris menginginkannya berhijab, namun dirinya yang belum siap.
Lalu, jika tidak menutup auratmu sekarang. Kapan lagi, menunggu besok? Ya, jika umurmu masih sampai. Jika tidak?
"Mamah tau kok. Tapi, apa kamu tau yang sebenarnya Harris inginkan darimu sebagai istrinya, juga ibu mertuamu Khumaira?" Davina menggeleng.
Yuli tersenyum, "Mereka menginginkan kamu berubah menjadi wanita sholihah, Davina."
Davina menatap wajah sang mamah. Matanya berubah menjadi berkaca-kaca. Yuli yang paham langsung memeluk tubuh putrinya.
"Hiks, hiks. Davina tau Mah. Davina belum bisa jadi istri yang baik buat Harris." ucapnya sedikit terbata.
"Sekarang mau kan belajar jadi istri yang baik?" tanya sang mamah dengan lembutnya.
"Iya, mah. Tapi Davina nggak janji kalo nanti masih lepas pasang."
"Nah, gitu kek dari tadi." gumam Diandra. Diandra sendiri sudah berhijab belum lama ini. Tentunya atas nasihat dari mamah dan papahnya yang sayang kepadanya. Sehingga membuatnya mantap untuk menutup auratnya.
Yuli pun membantu Davina menggunakan gamis beserta hijabnya. Dan, Davina terlihat sangat cantik ketika menggunakannya.
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Menampilkan Harris yang masih berdiri di ambang pintu. Dirinya hanya fokus terhadap satu obyek. Kecantikan istrinya ketika menutup seluruh auratnya. Harris tersenyum melihat Davina mau memakai gamis pemberiannya.
Bahagia itu sederhana, bukan?
Davina yang merasa diperhatikan oleh Harris hanya menundukkan kepalanya, karena malu. Sepersekian detik kemudian, ia merasa seperti ada yang memeluknya. Lalu, "Terimakasih." hanya itu ungkapan yang mewakili rasa bahagianya saat ini.
Davina mendongakkan kepalanya lalu menatap wajah suaminya. Ia ikut bahagia ketika melihat wajah tampan Harris yang bahagia. Mereka tak lagi menghiraukan keberadaan ibu juga adiknya.
"Khem, khem. Mesra-mesraannya nanti aja di rumah. Kasian pasien yang mau nempatin kamar ini, nunggunya kelamaan." ucap Diandra yang mulai jengah ketika melihat kakak juga kakak iparnya selalu uwu-uwuan di depannya.
"Kalo kayak gini terus, jadi pengen cepet nikah. Hihii, astaghfirullah." batinnya menjerit.
Mendapat deheman dari adik iparnya, Harris langsung melepaskan pelukannya.
"Ini sudah semua kan? Kalo begitu biar Harris yang bawa barangnya ke mobil. Diandra tolong ya bantu kakakmu ke mobil." ucap Harris. Tentunya Davina menggunakan kursi roda supaya tidak terlalu banyak gerak.
"Siap, Kak." jawab Diandra semangat.
__ADS_1
Sesampainya di parkiran, Harris langsung memasukkan barang-barangnya ke bagasi mobil. Kemudian membantu mendudukkan Davina di jok samping kemudi. Dan melipat kursi rodanya untuk di masukkan ke bagasi mobil. Setelah Mamah dan Diandra duduk dengan nyaman, Harris langsung melajukan mobilnya menuju kediaman Agung Hermawan.
***