Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Alasan


__ADS_3

Kini waktu telah menunjukkan tengah malam, Davina terbangun dari tidurnya karena merasa kehausan. Ia baru teringat jika ia sedang berada di rumah orangtuanya. Sebenarnya Davina ingin menolak untuk menginap, mengingat Davina masih kesal dengan papahnya. Akan tetapi Bimo menyuruhnya untuk menginap di sana. Alhasil Davina menuruti permintaan abangnya itu.


Davina lupa semalam tidak menyediakan segelas air seperti saat di apartemennya. Ia melirik kearah Harris yang terlelap sambil memeluknya. Perlahan ia menyingkirkan tangan milik Harris dari atas tubuhnya, setelah berhasil ia segera turun ke dapur untuk mengambil air minum.


Davina menangkap sebuah siluet seseorang tengah berdiri di dapur. Dengan lampu yang temaram, terlihat jelas bayangan dan pergerakannya. Davina jadi merinding, mengingat waktu sudah menunjukkan tengah malam. Apa mungkin itu adalah hantu? Davina menggeleng dengan cepat, ia tidak boleh takut.


Ia semakin mendekat kesana.


"Astaghfirullah." pekiknya ketika seseorang tersebut tiba-tiba berbalik badan menghadapnya.


"Papah?" Davina menatap orangtuanya yang juga sedang menyengir kuda kearahnya.


Davina melirik kearah kompor yang masih menyala, ternyata papahnya itu sedang memasak mie. Tumben sekali, pikirnya.


"Kamu mau juga?" Agung menawari putrinya, karena ia berpikir Davina ke dapur pasti karena merasa lapar juga.


Davina berjalan kearah dispenser, mengambil segelas air lalu duduk di meja makan. Ia tidak lapar, tapi mencium aroma khas mie instan kuah rasa soto membuatnya sedikit tergoda.


"Yaudah deh, aku mau juga. Tapi sedikit aja."


Davina duduk manis di tempatnya, seperti seorang anak yang sedang menunggu diberi makan oleh sang ibu.


Agung membawa dua porsi mie kuah soto, satu untuk dirinya dan satu pesanan Davina. Ia tersenyum ketika melihat putrinya begitu bersemangat ketika melihat mie buatannya. Mereka berdua makan saling berhadapan. Davina terlihat sangat lahap, padahal katanya dirinya tidak lapar. Aneh sekali, dasar bumil.


Sedari tadi tatapan miliknya jatuh pada seseorang yang sedang duduk dihadapannya. Davina, sudah lama ia tidak menikmati momen-momen seperti ini dengannya. Tak menyangka sebentar lagi putri sulungnya akan segera memiliki seorang bayi. Seorang anak yang dulunya sangat manja, susah diatur sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Agung yakin Davina pasti akan menjadi orang tua yang hebat bagi anak-anaknya kelak.


"Udah kenyang?"


Davina mengangguk malu, tadi bilang tidak lapar. Sekarang mangkoknya bersih tak bersisa.

__ADS_1


"Kalo gitu langsung ke kamar gih, istirahat. Papah juga mau kembali ke kamar." ujarnya sembari membereskan sisa peralatan yang kotor.


Davina hanya mengangguk, ia masih ingin tahu tentang perceraian papahnya. Banyak hal yang tidak ia ketahui dari Agung dan jalan pikirannya.


"Pah?" panggilnya.


Davina tidak bisa diam, ia harus tau masalah yang sebenarnya.


"Iya Sayang, masih butuh sesuatu? Biar Papah ambilkan." Agung menghampiri putrinya, ia mendudukkan diri di samping Davina.


Mulut Davina mengerucut, bukan karena kesal. Tapi ia sedang berusaha menurunkan egonya sendiri.


"Kenapa kalian bisa pisah?" tanyanya.


Agung mengernyit.


Mendengar pertanyaan tersebut, Agung nampak menghembuskan nafasnya kasar. Berat rasanya untuk menceritakan hubungannya dengan Diana, wanita yang dipermainkan oleh takdirnya sendiri.


"Kami tidak saling mencintai."


Davina melotot, bukannya mereka berdua menikah karena saling mencintai? Kenapa tiba-tiba papahnya berkata seperti itu.


"Jangan bercanda Pah, nanti kalo dia denger bisa sakit hati."


"Papah tidak pernah bercanda dengan apa yang Papah bicarakan, Davina. Itulah kenyataannya. Kami menikah karena suatu kejadian. Tiga tahun yang lalu, Papah tak sengaja menabrak seseorang hingga meninggal. Dan ternyata orang tersebut adalah suami dari Diana."


Davina terkesiap, kenapa papahnya tidak pernah menceritakan mengenai hal tersebut?


Agung menghela nafas ketika akan melanjutkan ceritanya. "Sebelum orang tersebut meninggal, ia berpesan untuk menjaga istrinya yang sedang mengandung. Papah tidak tau harus berbuat apa saat itu." Agung menunduk, masih teringat jelas wajah laki-laki yang ia tabrak.

__ADS_1


"Kenapa Papah tidak menyerahkan diri ke kantor polisi dan malah memilih menikahi istri pria itu? Papah nggak mikirin perasaan Mamah, aku dan Diandra?"


Hatinya panas ada perasaan marah, mungkin jika Agung lebih memilih untuk menyerahkan diri ke kantor polisi dan tidak menikahi Diana pasti tidak akan timbul permasalahan yang hampir memporak-poranda keluarga mereka.


"Papah sudah mencobanya, Davina. Tapi karena kebaikan hati seorang wanita seperti Diana, dia memaafkan Papah. Dan waktu itu, saat polisi mengecek cctv di lokasi kejadian memang kecelakaan terjadi karena ketidaksengajaan dan pria itu dalam keadaan mabuk berat. Papah bebas, tapi tidak dengan pikiran yang selalu menghantui. Beberapa bulan kemudian, Papah dapat kabar kalo Diana melahirkan. Tapi bayinya tidak dapat diselamatkan." Agung kembali menunduk, membayangkan kembali dimana bayi itu meninggal . Untuk melanjutkan ceritanya, terasa berat sekali. Rasanya ia tidak sanggup. Tapi bagaimanapun Davina harus mendengar cerita yang sebenarnya.


"Karena kehilangan bayinya pun, Diana sempat mengalami depresi. Ia sempat mengurung diri berhari-hari di dalam kamar, kondisinya sangat memprihatinkan. Hingga pada akhirnya, Diana mau Papah bawa ke rumah sakit dengan berbagai bujukan. Setelah membaik, Diana melarang Papah untuk menemuinya. Dia bilang kalo ingin sendiri lebih dulu. Papah pun menurutinya. Papah kira setelah itu semuanya membaik, tapi tidak Davina." Agung menoleh kearah putrinya.


Davina mengernyit, menunggu kelanjutan dari cerita tersebut.


"Papah mendapatkan kabar kalo Diana beberapa kali mencoba untuk bunuh diri."


Davina melotot tidak percaya. Wanita seperti Diana itu ternyata mempunyai masa lalu yang menyedihkan.


"Papah mencoba untuk menemuinya, tapi berulang kali dia mengusir Papah. Diana mengatai Papah pembunuh. Setelah beberapa bulan, baru pertama kali Papah mendengar kata pembunuh dari mulutnya secara langsung. Diana terlihat sangat hancur. Papah iba melihatnya. Apalagi Papah merupakan penyebab Diana menjadi seperti itu. Papah semakin bimbang ketika tiba-tiba Diana meminta Papah untuk menikahinya."


"Dan disaat keputusan diambil, Papah tau sudah melukai hati kalian semua."


Agung menunduk, tak lagi sanggup berkata-kata. Ia menangis tergugu. Menyesali apa yang sudah terjadi. Semua masalah berasal dari dirinya. Ia yang menciptakan api itu sendiri. Coba saja waktu itu ia menyupir lebih berhati-hati lagi, tidak ada orang yang akan ia tabrak. Tidak akan ada yang meninggal dunia gara-gara kecerobohannya. Juga tidak akan ada hati lain yang terluka akibat ulahnya.


Davina menatap Agung iba. Mendengar cerita yang sebenarnya membuat ia terbawa dalam suasana disaat kejadian. Tidak dapat ia bayangkan bagaimana perasaan papahnya waktu itu. Dihadapkan pada dua pilihan yang sangat berat.


Tangan miliknya terulur untuk mengusap punggung milik sang papa.


"Papah emang salah udah nyakitin perasaan kita semua. Apalagi Mamah yang tiap hari nangis karena tau Papah nikah lagi. Aku dan Diandra yang merasa dikhianati oleh ayahnya sendiri. Tapi Davina akui kalo Papah orang yang hebat, mau bertanggung jawab terhadap apa yang telah diperbuat. Davina juga udah berusaha untuk lebih menerima apa yang sudah terjadi. Aku mau maafin Papah dan aku juga minta maaf udah berlaku nggak sopan sejauh ini. Tapi plis, Papah harus belajar dari masalah ini. Papah harus lebih terbuka lagi sama kita, terutama Mama." setelah mengatakan panjang lebar Davina memeluknya erat.


Agung terharu mendengar ucapan putrinya, tidak menyangka Davina akan memaafkan perbuatannya. Ia membalas pelukan Davina dengan erat. Sudah lama ia merindukan pelukan seperti ini. Pelukan yang saling menguatkan.


***

__ADS_1


__ADS_2