Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Melukainya


__ADS_3

Kini Davina dan kedua sahabatnya Faras dan Rani sedang duduk santai sambil membahas materi di dalam kelasnya. Tetapi fokus mereka terganggu kala mendengar suara berisik yang berasal dari arah luar kelas.


"Hm, suara apa sih rame banget. Jadi nggak fokus kan ngerjainnya." Ucap Rani merasa kesal.


Tanpa pikir panjang Davina dan kedua sahabatnya hendak keluar mencari tau penyebab keramaian yang mengganggu ketenangan siapapun orang yang mendengarnya.


Sudah ada beberapa mahasiswa yang berkerumun di tengah lapangan yang biasanya untuk lalu lalang. Entah kenapa mereka berkumpul seperti itu, tetapi sepertinya telah terjadi sesuatu di sana. Davina tidak bisa melihatnya karena tertutup oleh beberapa punggung orang yang menghadangnya.


"Eh, Sindy." Panggil Faras ketika melihatnya keluar dari kerumunan yang ada di sana. Sindy merupakan teman satu fakultas dengan Davina, Faras, dan juga Rani.


Sindy pun mendekat kearahnya, "Ada apa?" Tanyanya.


"Di sana ada apa ya, kok pada ngumpul?" Tanya Faras penasaran.


"Emang lo nggak tau kalo ada mahasiswi fakultas sebelah yang jatuh pingsan di sana." Ucap Sindy.


"Emangnya kenapa dia bisa pingsan?" Sahut Rani ikutan kepo.


"Gue juga nggak paham." Balasnya.


"Owh, ya sudah makasih infonya." Sindy mengangguk lalu pergi dari hadapan ketiga orang tersebut.


Mereka bertiga semakin penasaran dengan yang dikatakan Sindy tadi. Siapa yang pingsan di tengah lapangan seperti ini? Memangnya dia tidak bisa ya pingsan di tempat yang lebih enak dikit, seperti kelas kan lebih baik dari pada lapangan yang panas?


Mereka mencoba mendekat kearah kerumunan tersebut, namun belum sempat mendekat kearah kerumunan Davina bisa melihat seorang laki-laki muncul sedang menggendong seorang perempuan keluar dari kerumunan tersebut.


Jarak antara Davina dan laki-laki tersebut hanya terpaut beberapa meter saja. Davina bisa melihat dengan jelas siapa yang sedang berdiri di depannya. Davina menatap tajam orang tersebut sembari mengepalkan tangannya.


Orang yang menggendong perempuan tersebut tak lain ialah Harris. Dan perempuan yang tengah di gendong ialah Shafira. Harris tak mengira jika Davina akan melihat dirinya sedang menggendong perempuan lain di depannya. Itupun karena terpaksa.


Davina merasa sangat marah bercampur kesal, bagaimana tidak. Suaminya menggendong perempuan lain bahkan di muka umum, apa dia tidak merasa malu? Tak terasa matanya memerah menahan air mata supaya tak menetes.


Harris merasa bingung harus bagaimana. Di satu sisi ada orang yang membutuhkan pertolongannya, di sisi yang lain ada sang istri yang sedang melihat dirinya. Harris tau ini salah tapi harus bagaimana lagi, toh Davina sudah melihatnya. Dia tidak bisa menghindarkan kesalahpahaman ini.


Kenapa harus Harris yang menolongnya? Kan banyak yang lain. Sebenarnya Harris sudah menolak, tetapi semua orang yang di sana bersikeras meminta Harris yang menolongnya. Tak ada pilihan lain Harris pun menolongnya, bukankah sesama manusia harus saling tolong menolong?


Setelah puas melihat pemandangan di depannya Davina segera pergi meninggalkan kerumunan tersebut sambil menghapus air matanya supaya tidak terlihat yang lain.


"Dav, lo mau pergi kemana?" Teriak Rani dan Faras tetapi tidak mendapat jawaban darinya.

__ADS_1


Harris hanya bisa menatap punggung Davina yang semakin lama semakin menjauh. Hatinya terasa sangat sakitttt melihat Davina pergi dengan bercucuran air mata.


Ketika tatapan Harris dan Davina bertemu, juga saat Davina mengepalkan tangannya dan menangis melihat Harris mengendong Shafira, tak luput dari penglihatan seorang Farhan. Ia bertambah yakin jika diantara Davina dan Harris ada sesuatu yang belum diketahuinya.


"Harris, ayo cepat Kita bawa ke UKS." Farhan menepuk bahunya membuat Harris langsung tersadar.


Harris membawa Shafira yang pingsan dalam gendongannya. Ada beberapa mahasiswa yang menyorakinya.


"Sosweetnyaaa," Teriak salah satu mahasiswi.


"Aku mau dong di gendong, ustadz Harris." Teriak mahasiswi yang lain.


"Hmm, aku terharu. Serasa nonton drakor tau nggak sih." Ucap Rani tak kalah heboh.


Begitulah kira-kira tanggapan beberapa Mahasiswi yang ikut senang melihat pasangan yang cocok menurut mereka.


Tetapi sadarkah mereka ada seseorang yang tersakiti dalam hal ini!


***


Davina kini sedang berada di sebuah taman dekat kampus. Setelah melihat Harris menggendong Shafira hatinya terasa begitu sakitt. Walaupun Davina tau Shafira sedang dalam keadaan pingsan. Tetap saja membuatnya merasa tak rela.


Davina langsung membalikkan badannya, terlihat Bimo sudah berdiri di depannya dengan melipat kedua tangannya di depan dada.


Davina langsung menghampiri Abangnya dan memeluknya erat.


"Kamu bolos, Dav? Aku kan sudah bilang jangan pernah bolos." Ucap Bimo seraya mencubit hidung mancung miliknya.


Davina mengerucutkan bibirnya, "Aku lagi kesel banget," Ucapnya.


"Kesel? Capek maksud kamu?" Ucap Bimo terkekeh.


"Huuuh dasar! Gitu aja nggak paham!" Balas Davina ketus.


"Iya, iya. Kamu lagi dongkol kenapa emangnya. Sini cerita, Abang siap jadi pendengar yang baik." Ucapnya seraya menarik Davina supaya duduk di salah satu bangku yang ada di sana.


"Itu loh, musuh Abang udah berani-berani gendong perempuan di depan mataku langsung!" Ucap Davina masih dengan ekspresi cemberutnya.


Bimo mengernyitkan dahinya, musuh? Siapa musuh yang di maksud Davina di sini?

__ADS_1


"Musuh siapa, Davina?"


"Harris! Sebelumnya dia musuhmu bukan."


Bimo tak habis pikir dengan Davina, bisa-bisanya Davina menyebut Harris adalah musuhnya?


Memang benar dulunya mereka saling bermusuhan tetapi setelah ia mengetahui Harris adalah suami dari Davina merekapun berdamai.


Bukankah Davina melihat sendiri jika mereka sudah berbaikan?


"Coba ceritakan bagaimana Harris bisa bersama wanita lain." Bimo juga penasaran.


Davina pun mulai menceritakan di mana ia melihat kerumunan di lapangan kampusnya. Dan ternyata ada seorang mahasiswi yang jatuh pingsan. Ketika Davina hendak mendekati kerumunan tersebut, muncullah Harris dengan seorang perempuan berada dalam gendongannya yang tak lain ialah Shafira. Davina bercerita dengan air mata yang menetes di pipinya.


hiks,,,,hiks,,,


Bimo yang mendengar cerita dari Davina tanpa sadar mengepalkan tangannya. Ia juga bisa merasakan apa yang Davina rasakan.


Bimo menarik Davina kedalam pelukannya.


"Sudah-sudah, jangan nangis lagi dong! Abang tau gimana perasaanmu sekarang, sabar aja. Harris begitu juga karena kasihan pasti. Sudah jangan mikir yang aneh-aneh." Ucap Bimo menenangkan Davina sembari mengelus puncak kepalanya.


"Hm, aku udah merasa lega karena udah cerita. Makasih yah Bang atas waktunya. Aku mau pamit pulang ke apartemen." Ucapnya seraya melepaskan pelukannya.


"Biar aku antar."


"Enggak usah, Bang. Lagian aku bawa mobil kok."


"Yakin? Kamu beneran mau bolos, Dav?" Tanya Bimo.


"Yakin, yaudah aku pulang." Ucapnya kemudian pergi meninggalkan Bimo.


"Davina, aku sayang sama kamu, walaupun Kita hanya sepupu tapi aku sudah menganggapmu seperti adik kandungku sendiri. Maka dari itu, sebagai Abang yang baik aku tidak akan membiarkan siapapun melukai hatimu walaupun orang tersebut Harris sekalipun!" Ucapnya kepada diri sendiri. Setelah itu ia pergi meninggalkan taman dengan menggunakan motornya.


Tak jauh dari tempat Bimo dan Davina tadi, ada seorang wanita yang sedari tadi mendengar semua perbincangan mereka berdua. Dia adalah Bella, tanpa sengaja ia melihat Bimo saat sedang memarkirkan motornya. Tanpa pikir panjang ia mengikutinya hingga membawanya sampai ke taman.


Bella merasa kaget ketika melihat Bimo menemui Davina yang merupakan istri dari mantan kekasihnya, Harris. Rasa penasarannya terjawab sudah ketika Bimo mengatakan bahwa mereka adalah saudara sepupu.


"Aku tidak menyangka akan mengetahui hal sebesar ini. Dan ini sangat menguntungkan bagiku. Tunggu saja pembalasanku Harris! Bimo!" Ucapnya dengan senyum smirk nya.

__ADS_1


***


__ADS_2