Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Pernyataan Mengejutkan


__ADS_3

Di karenakan sudah lama tidak update, pembaca dimohon membaca part sebelumnya, supaya tidak ada kata lupa tentang jalan cerita ini.




Davina tak menampik jika masalah yang timbul ini juga karena dirinya yang merahasiakan pernikahan antara dirinya dan Harris. Davina sadar, sadar akan hal itu. Tapi bukan seperti ini akhirnya yang ia harapkan.



Menangis!



Hanya itu yang bisa Davina lakukan sekarang ketika tidak ada yang bisa menjadi tempat bersandarnya. Suami maupun sahabatnya kini tak ada di sampingnya.



Kini ia menangis sendirian, menahan pilu menyakitkan itu sendiri. Dengan duduk di bangku perpustakaan, yang sepi di jam segini.



"Omongan mereka nggak ada yang bener!" jerit Davina dalam hati.



Lagi, tangisan Davina semakin deras. Hatinya begitu terluka. Isakannya pun mulai terdengar.



"Kenapa,,,sakit,,begini,,"



Kalau memang Davina melakukan hal-hal yang dituduhkan mereka. Ia baru pantas mendapatkan cemoohan seperti itu. Tapi nyatanya Davina di sini adalah korban, korban perjodohan. Bukan menjual diri, merayu demi materi, maupun hamil diluar nikah. Semua itu terjadi murni karena Davina dan Harris sudah halal.



Davina meringis ketika merasakan perutnya sedikit kram, ia menarik nafas agar dirinya tenang dan janinnya tidak tegang.



Davina mengelus lembut perut buncit miliknya, sambil sesekali bermonolog seolah ia sedang bicara dengan sang bayi.



"Kamu sedih ya? Maafin Mamah belum bisa melindungi kamu dari mulut pedas mereka."



"Mamah yang salah, bukan kamu Sayang."



Davina terus berbicara pada sang bayi dalam perutnya dan melupakan sejenak masalah yang menimpa dirinya.



Harris melihat wanita yang ia cari-cari sejak tadi ternyata berada di perpustakaan. Tidak biasanya wanita itu menginjakkan kaki di sana. Pasti wanitanya sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.



"Khem,"



Suara deheman seseorang berhasil mengalihkan perhatian Davina. Ia mendongak, dan melihat siapa yang tengah berdiri tak jauh dari tempat ia duduk.



"Harris!!" secepat kilat wanita berperut buncit tersebut berlari ke dalam pelukan pria yang begitu ingin ia rengkuh dalam pelukannya itu.



Bersamaan dengan itu, kembali air mata Davina meluncur membasahi kedua pipi mulusnya.



Harris sadar akan bahu Davina yang tiba-tiba bergetar.



"Kamu kenapa?" ditatapnya wajah sang istri, yang beberapa hari ini jauh darinya.



"Semua orang gosipin aku, mereka nuduh aku perempuan nggak bener dan hamil di luar nikah." ujar Davina pada Harris.



"Mereka, siapa maksudmu?"



"Semua orang, mahasiswa di sini ngatain aku."



"Jangan menangis. Mereka tidak tau yang sebenarnya." Harris menenangkan istrinya itu.

__ADS_1



Sebenarnya Harris sudah mendengar sendiri cemoohan yang mereka tujukan untuk Davina juga dirinya, saat ia datang ke kampus untuk memberi kejutan pada Davina, jika ia kembali lebih cepat. Sayangnya, ia sendiri yang terkejut mendengar fakta bahwa selama kepergiannya ke luar kota, Davina sudah dihina seperti itu. Bedanya, jika kemarin mereka hanya berbisik di belakang.



"Gimana nggak nangis, mereka hina harga diriku Mas." panggilan itu berlaku kembali.



"Tenang, segera Mas akan meluruskan masalah ini. Sudah, jangan menangis lagi. Mereka berkata demikian karena tidak tau yang sebenarnya." Ucapnya sambil menangkup kedua pipi sang istri menggunakan kedua tangannya.



Harris menarik tubuh Davina lebih dekat, mendekapnya di dalam pelukan. Namun tangis Davina tak kunjung reda. Lebih parahnya lagi, tiba-tiba ada seorang dosen yang masuk ke sana. Reflek Davina melepaskan pelukan Harris.



"Maaf, saya mengganggu." ucap Pak dosen canggung yang tak lain dan tak bukan ialah Pak Hery yang menyuruh Harris untuk mengikuti acara amal waktu itu.



Melihat siapa yang datang, reflek Harris melepaskan pelukannya pada Davina supaya dosen tersebut tidak berburuk sangka. "Tolong bapak jangan salah paham. Ini tidak seperti yang mereka bicarakan." ucap Harris.



Harris mengatakan hal itu karena ia tau bukan cuma mahasiswa, tapi juga para dosen yang sudah terlanjur kemakan gosip murahan itu.



Pak Hery mengangguk, "Tidak usah cemas, Nak Harris. Saya sudah mengetahui hubungan kalian yang sebenarnya, saya tau berita yang beredar itu hoax semata." ungkapnya.



"Bapak tau dari mana?" kali ini Davina yang membuka suara.



"Dari Shafira," ucapnya.



Baik Harris maupun Davina sama-sama terperangah akan hal itu. Dari mana Shafira tau semua ini??



\*\*\*



Davina sudah merasa lega sekarang, setelah tadi di Kampus. Harris membuat sebuah pernyataan yang mengejutkan, mematahkan gosip yang beredar, membuat mereka-mereka yang mencemarkan nama baiknya dan juga istrinya diam tidak berkutik. Yang bisa mereka lakukan hanya menundukkan kepala, seolah kepalanya sangat berat tak mampu menopang rasa malu yang begitu besar.




Jadi, tidaklah benar jika mereka beranggapan Davina wanita yang tidak benar atau apapun itu. Yang Harris inginkan, jangan sampai ada orang yang menghina istri dan anaknya lagi. Karena jika hal itu sampai terjadi, Harris akan memprosesnya secara hukum dengan dalih pencemaran nama baik.



Yah, setelah kejadian di mana Harris menemukan Davina sedang menangis di perpustakaan. Harris langsung membuat pernyataan yang mengejutkan. Yaitu tentang hubungannya dengan Davina. Di mana hubungan pernikahan yang selama ini mereka rahasiakan, harus segera dibongkar demi kebaikan bersama.



Malam telah tiba, kini Davina sedang duduk bersandar di ranjang, sambil membalas pesan-pesan yang belum sempat ia balas dari pagi karena ia tidak membuka ponsel miliknya sama sekali.



"Assalamualaikum," ucap Harris masuk ke dalam kamar. Ia baru saja pulang dari Masjid.



"Waalaikumussalam, kamu udah pulang Mas." Davina beranjak dari tempat tidur.



"Kamu rebahan aja, Davina." ucap Harris, yang dituruti Davina. Ia kembali duduk bersandar di sana.



Harris ikut menaiki ranjang, duduk bersebelahan dengan sang istri. Tanpa menunggu, Davina menyandarkan kepalanya di dada milik Harris.



"Nyaman, hm?" goda Harris.



Davina tersenyum. "Iya, nyaman banget. Tau gini, kenapa nggak dari dulu aja ya."



"Salah kamu sendiri, dulu sok-sokan nggak mau tidur seranjang. Sekarang nempel terus kayak perangko." sindir Harris.



"Iya-iya, aku ngaku. Kan aku juga nggak tau, kalo ternyata senyaman ini." Davina semakin mengeratkan pelukannya.


__ADS_1


"Kamu lucu deh, Sayang."



Cup...



Harris mencium pipi Davina, membuat Davina merona.



"Terimakasih, Davina." ucap Harris.



"Harusnya aku yang berterimakasih, Mas." balas Davina.



Harris mengernyit, "Untuk ciuman?" tanyanya.



"Bukan, untuk tadi pagi. Mas udah belain aku dari semua tuduhan itu. Coba aja, Mas nggak pulang hari ini. Nggak tau seberapa hancurnya aku tadi pagi."



"Mas juga bersyukur karena bisa pulang lebih cepat, jadi bisa melindungi kamu. Mulai sekarang, kamu jangan takut lagi ya." ucap Harris.



"Aku juga minta maaf. Karena aku, nama baik Mas jadi tercemar."



"Tidak apa, yang penting semuanya sudah jelas. Kita ambil saja hikmah dari masalah ini." balas Harris.



"Tapi kan..."



"Sudahlah, jangan dibahas lagi ya, cantik. Kasian dede bayi jadi tertekan." ucap Harris sambil mengelus keberadaan anaknya.



"Iya deh,"



"Owh, ya. Udah minum susu belum?" tanya Harris.



Davina menggeleng, "Belum."



"Kebiasaan, selalu saja aku ingatkan." ucap Harris, kemudian ia beranjak menuju dapur untuk membuatkan segelas nutrisi untuk bayinya.



Tak lama kemudian ia sudah kembali dengan membawa segelas susu.



"Silahkan diminum, cantik." ujar Harris.



"Apaan sih, dari tadi cantik-cantik mulu." ucap Davina kesal, karena ia merasa Harris hanya meledeknya saja.



"Lho kenapa, emang istriku ini cantik kok. Apalagi ditambah dengan perut yang membuncit. So seksi,,," ucapnya berniat menjaili Davina.



"Hihh, dasar ustadz mesum." Davina mencubit paha milik Harris dengan keras.



"Aww, sakit Davina." ringis Harris mengusap pahanya.



"Rasain tuh!" ucap Davina kesal, setelah menghabiskan susunya ia langsung merebahkan diri membelakangi suaminya.



"Ya Allah, cobaan apa ini. Malam pertama malah dikasih punggung." batin Harris sambil mengusap dada.



Maksudnya malam pertama setelah Harris kembali pulang dari luar kota, ya guyss. Wkwkw.


__ADS_1


\*\*\*


__ADS_2